Wednesday , December 12 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Mendekonstruksi Agama Lewat Politik Kebencian

Mendekonstruksi Agama Lewat Politik Kebencian

Hiruk pikuk jagat politik jelang Pilpres 2019 hampir tak pernah sepi, dari soal narasi nyinyir yang saling serang, saling menjatuhkan citra lawan politik dan membongkar keburukan-keburukannya, dan yang lebih parah muculnya sederet tokoh agama yang juga ikut terjerumus dalam kubangan politik kebencian.

Politik tampaknya tak sebatas soal perebutan kekuasaan, namun banyak orang yang tak paham politik, justru ingin tampil lebih dikenal di atas panggung. Politik juga tak sekadar soal menang-kalah, karena itu hal lumrah.

Ekspektasi publik terhadap situasi politik, kerap dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk kepentingan popularitas pribadi, tak peduli walaupun harus menabrak berbagai macam aturan, nilai-nilai sosial-keagamaan, atau bahkan mereduksi nilai-nilai kebaikan politik itu sendiri.

Fenomena politik belakangan cenderung lebih sensitif, bahkan jika sensitivitas itu dapat diukur, tampaknya sudah melewati batas kewajaran yang biasa terjadi dalam ranah politik di negara manapun.

Mungkin baru pertama terjadi dalam sejarah Indonesia, ada orang yang berduel di jalanan hingga salah satunya tewas, hanya gara-gara soal perbedaan pandangan pilihan politik. Gelaran kontestasi itu belum juga dimulai, namun getaran dan daya tariknya sudah sangat dirasakan, bahkan sudah sejak lama.

Kampanye Damai pilpres 2019

 

Getaran itu berupa rasa tidak suka, kebencian, atau kekhawatiran yang sering kali diaktualisasikan lewat narasi-narasi negatif yang kadang sekadar bentuk reaktif atau spontanitas atas bentuk keterhinaan, kesombongan, ketidaksukaan, atau apapun yang dianggap kontraproduktif dalam suatu realitas sosial-politik.

Kemunculan dua kandidat yang akan maju meramaikan kontestasi, hampir selalu dicitrakan negatif oleh masing-masing kubu rivalnya. Bukan tidak mungkin, media sebagai agen politik dalam hal memberikan informasi berimbang kepada khalayak, sering kali tunduk pada kenyataan politik: menjadi pendukung atau penolak salah satu kandidat.

Netralitas hampir diragukan adanya dalam era kontestasi kali ini, kecuali “bias” yang semakin tampak sehingga memperparah kondisi kepolitikan belakangan ini.

Lebih menggelikan lagi, ketika tiba-tiba ekspresi keagamaan menyeruak menjadi alasan keyakinan yang memberangus segala kebaikan politik, seolah-olah mendukung atau menolak salah satu kandidat berdampak pada nilai-nilai keagamaan yang dianut masyarakat.

Politik yang semestinya dapat lebih menyederhanakan nilai etika dan estetika dalam berdemokrasi, justru semakin diperumit oleh faktor keyakinan agama yang semakin mempertentangkannya.

Anehnya, mereka yang dianggap para begawan keagamaan rupanya tak nyaman berada di menara gading, turun gunung dan ikut dalam berbagai atraksi politik yang kadang menakutkan. Jika sebelumnya para begawan ini dikenal sebagai penyampai nilai-nilai sosial dan moral, justru berubah total hanya karena ingin dikenal sebagai pejuang politik-kekuasaan.

Mereka tunduk pada kenyataan politik dan harus secara total menghambakan dirinya pada kekuasaan. Nilai-nilai agama yang penuh dengan kebajikan, dimanipulasi hanya sekadar meluapkan keinginannya eksis di dunia politik.

Soal kalah-menang dalam kontestasi politik memang harus diperjuangkan dengan segala macam cara, termasuk bagaimana memanfaatkan narasi agama atau isu-isu keagamaan tertentu agar mampu menarik simpati banyak pihak.

Politik sering kali tanpa disadari menjatuhkan martabat siapapun, terlebih mereka-mereka yang dianggap sebagai tokoh agama. Identitas “keulamaan” atau “kehabiban” mungkin saja luntur dari diri seseorang, hanya karena terlampau jauh mengikuti alur “keras” ekspektasi politik.

Sayang, jika gelar keulamaan atau kehabiban yang lebih tinggi martabatnya ditengah masyarakat karena itu gelar sosial, lalu harus terjun ke titik terendah, menjadi bahan hinaan dan cacian masyarakat bawah.

Saat ini, politik kebencian telah mendekonstruksi agama bahkan tak berlebihan jika sesungguhnya merekalah yang disebut kitab suci sebagai “para pendusta agama”.

Bagaimana tidak, ketika agama mengajarkan harus berkasih sayang dengan sesama, saling menasihati dalam soal kebajikan, peduli kepada yang lemah dan kurang beruntung untuk membantu menaikkan derajatnya, justru sengaja dilupakan dan dibutakan oleh kenyataan perebutan kekuasaan.

Ara-aital-ladzii yukadzdzibu biddin?” (Tahukan engkau siapa yang mendustakan agama?). Ayat pertama dari surat al-Ma’un dalam al-Quran ini seakan menyindir mereka yang mengaku tahu agama, tetapi justru mendustakannya.

Beberapa kondisi disebutkan dalam surat di atas yang termasuk kategori pendusta agama, dan salah satunya adalah “mereka yang gemar berbuat riya (ingin dilihat hebat oleh orang lain)”.

Saya kira, publik dapat lebih jeli menilai, siapa saja orang yang memang selalu ingin dilihat hebat, dikelilingi banyak pengikut, otoriter, sehingga mereka bangga dan justru kebanggaannya melampaui batas, dengan mencaci, menghina, dan merendahkan orang lain.

Mereka lupa, bahwa agama yang semestinya masuk ke dalam jiwa menjadi ajaran-ajaran moral, teladan untuk kebaikan umat, malah dipertontonkan sedemikian buruk karena terobsesi kenyataan politik. Agama dalam hal ini didustakan, bahkan diposisikan sangat rendah karena digadaikan demi kepentingan politik.

Tak pantas rasanya, ketika mereka yang mengaku memegang teguh prinsip adat ketimuran, terlebih dianggap sebagai “begawan” keagamaan dengan memikul sederet identitas sosial-keagamaan yang diakui masyarakat, lalu mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakiti perasaan orang lain.

Yang lebih mengerikan, pernyataan-pernyataan negatif ini justru terlontar di sebuah kegiatan keagamaan yang semestinya dapat membuat suasana lebih sejuk karena kegiatan seperti ini jelas membawa nilai-nilai kedamaian bagi para pendengarnya.

Politik kebencian yang belakangan merasuki banyak orang, justru sering kali mendekonstruksi nilai-nilai agama yang sekadar diperjuangkan demi nafsu kepentingan politik, bukan memperjuangkan kemaslahatan dan kebaikan bersama demi tujuan-tujuan politik yang lebih bermartabat dan berwibawa.

  • Oleh: Syahirul Alim, Penulis lepas tentang agama, sosial, dan politik, tinggal di Tangerang Selatan.
  • Source: Kumparan

 

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...