Wednesday , October 23 2019
Home / Ensiklopedia / Politik / Menangkap Aspirasi Otentik Masyarakat Jabar

Menangkap Aspirasi Otentik Masyarakat Jabar

Pilkada JabarHanya dalam hitungan hari, Jawa Barat akan menggelar hajatan politik terbesar lima tahunan berupa pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Para kandidat terus melakukan sosialisasi dengan beragam strategi di berbagai daerah. Salah satunya dengan memanfaatkan saluran media, baik media lini atas (above the line) berupa surat kabar, majalah, radio dan televisi maupun media lini bawah (below the line) seperti poster, spanduk, leaflet, sticker atau event.

Meski belum memasuki masa kampanye terbuka, nyatanya sejumlah kandidat sudah secara terbuka melakukan kampanye dihadapan publik, baik dengan berkunjung ke perkampungan warga, pasar, pabrik dan lokasi-lokasi bencana. Bahkan secara tersurat, para kandidat juga sudah memulai kampanye dengan memanfaatkan saluran media terutama media lini bawah (below the line).

Dari berbagai komentar, pernyataan dan slogan yang disampaikan oleh masing-masing kandidat, belum ada yang secara pasti mampu memberikan program unggulan yang linier dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat Jawa Barat. Aspirasi otentik yang bersumber dari permasalahan yang terjadi di masyarakat belum mampu dibaca oleh hampir seluruh kandidat. Pembacaan dan pengakomodasian terhadap aspirasi yang ada dimasyarakat merupakan modal dasar yang seharusnya dijadikan landasan dalam merumuskan berbagai program yang akan ditawarkan kepada pemilih.

Jawa Barat memiliki ruang lingkup permasalahan yang berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia. Hasil monitoring pemberitaan media yang dilakukan oleh Indonesia Media Monitoring Center (IMMC) memperlihatkan adanya lokalitas permasalahan yang terjadi di Jawa Barat.

Proses monitoring dilakukan selama satu tahun sejak Bulan Desember 2011 hingga November 2012 terhadap tujuh media online yang ada di Jawa Barat yaitu Pikiran Rakyat, Antara Jabar, Kompas, Tribun Jabar, Inilah Jabar, Bisnis Jabar, dan Detik Bandung. Monitoring tersebut menggunakan metode purposive sampling dengan mengumpulkan dan menganalisa seluruh artikel yang ada di tujuh media tersebut yang berjumlah 1.863 artikel.

Dari hasil monitoring yang dilakukan, terlihat ada tiga isu utama yang terpotret oleh ketujuh media tersebut. Yang pertama adalah sosial-budaya-agama yang mendapat porsi pemberitaan sekitar 29,7%. Sementara di posisi kedua adalah isu ekonomi (18%). Dan yang ketiga adalah isu pertanian-peternakan sebesar 11%.

Jika dianalisis secara lebih mendalam, fakta yang muncul di media tersebut sangat merepresentasikan realitas sosial budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat. Inilah realitas otentik yang terjadi di masyarakat Jawa Barat. Tingginya pemberitaan tentang agama dan sosial budaya menandakan bahwa masyarakat Jawa Barat memiliki religiusitas yang tinggi. Pada saat yang sama, apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai budaya lokal juga sangat tinggi. Keduanya bersimbiosis sebagai kesatuan nilai dan praktek hidup yang dipegang selama berabad-abad: agama dan budaya. Dan itulah yang menjadi kekhasan Jawa Barat dibanding beberapa provinsi lainnya.

Dalam bahasa lain, dengan pemberitaan yang dominan diwarnai isu agama-sosial-budaya, hal itu benar-benar merefleksikan realitas ideal masyarakat Jawa Barat. Inilah salah satu fakta yang seharusnya bisa ditangkap oleh kandidat cagub-cawagub Jawa Barat. Sebab ini merepresentasikan aspirasi mendasar dari masyarakat yang kelak akan mereka pimpin. Program maupun kinerja para cagub harusnya menempatkan isu agama dan sosial-budaya sebagai landasan utama. Masyarakat Jawa Barat menunggu tawaran yang menjanjikan dan realistis dari para cagub terkait isu tersebut.

Domain Suprastruktur dan Infrastruktur

Formulasi pemberitaan soal agama, sosial dan budaya tersebut, menjadi semakin proporsional tatkala ekonomi menjadi isu kedua yang mendominasi pemberitaan media massa. Isu agama-sosial-budaya, berada dalam domain suprastruktur. Sementara ekonomi adalah domain infrastruktur. Sederhananya, isu ekonomi mengekpresikan kebutuhan riil sehari-hari masyarakat Jawa Barat: Kebutuhan hidup. Sementara isu agama-sosial-budaya mencerminkan soal paradigma dan spiritualitas. Jadi, lebih mewakili soal non-fisik atau soal eksistensial. Bisa kita lihat, jika dua isu ini berada di posisi teratas pada pemberitaan media massa Jawa Barat, maka itu memang gambaran kondisi yang sangat ideal.

Ada empat isu utama yang disorot di bidang ekonomi meliputi perdagangan (21,3%,), pendapatan daerah (19,6%), UMP/UMK (14,7%), dan investasi (10,7%). Keempat isu tersebut mewakili ‘empat penjuru mata angin’ penopang utama perekonomian Jawa Barat. Perdagangan merupakan sektor utama perekonomian Jawa Barat. Provinsi ini sangat mengandalkan ‘panasnya’ iklim perdagangan sebagai fundamental perekonomiannya. Selain soal perdagangan, perekonomian Jawa Barat di dominasi isu tentang pendapatan daerah.

Sorotan media terhadap dua isu tersebut, cenderung positif. Jawa Barat dinilai cukup berhasil dalam agenda pengembangan sektor perdagangan dan pendapatan daerahnya. Ini paralel dengan pemberitaan soal investasi yang juga cenderung positif. Artinya, sejauh ini Jawa Barat dinilai berhasil mengembangkan ketiga sektor tersebut.

Potensi Jawa Barat dalam bidang perdagangan sangat besar. Sebagai kawasan tetangga Jakarta, optimalisasi posisi strategis ini akan memberikan kontribusi besar bagi peningkatan grafik perdagangan di Jawa Barat. Sehingga, kedepan Jawa Barat bisa semakin meningkatkan capaian perdagangannya, disamping yang sudah dicapai selama ini.

Sementara isu pertanian dan peternakan yang berada di posisi ketiga paling populer di media, merupakan derivasi dari isu ekonomi. Seringnya isu pertanian dan peternakan muncul di pemberitaan memberikan pesan kepada para cagub bahwa dua sektor itu merupakan favorit dalam rangka program pengembangan ekonomi Jawa Barat. Harapan besar dititipkan pada dua sektor itu. Artinya, masyarakat Jawa Barat menanti program jitu pengembangan pertanian dan peternakan Jawa Barat. Ini mewakili aspirasi segmen pemilih para petani dan peternakan, yang jumlahnya tidak dapat diabaikan oleh para cagub Jawa Barat.

Dari berbagai isu yang terungkap dalam pemberitaan media, seharusnya bisa memberikan gambaran peta isu yang berkembang di Jawa Barat. Disinilah, titik pentingnya bagi para cagub untuk membaca sinyal berupa tiga isu yang berkembang di media massa Jawa Barat: agama-sosial-budaya, ekonomi dan pertanian-peternakan. Karena sinyal itu akan sangat membantu mereka untuk menangkap aspirasi otentik yang diinginkan masyarakat Jawa Barat. Hal ini menjadi salah satu poin yang mempermudah para cagub dalam menangkap aspirasi masyarakat secara komprehensif. Juga dalam merancang tawaran program pada masa kampanye nanti. Pesan yang muncul di media cukup jelas.[]

http://www.immcnews.com/Analisa-Pilgub-Jabar/menangkap-aspirasi-otentik-masyarakat-jabar.html

About admin

Check Also

Penjajahan Hening Ala Cina

Telaah Kecil Geopolitik atas Terbitnya Alipay dan WeChat di Indonesia Kepentingan nasional yang paling utama ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *