Tuesday , January 26 2021
Home / Budaya / Kearifan Klasik / Membahagiakan Orang Lain dengan Kekayaan

Membahagiakan Orang Lain dengan Kekayaan

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

“Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana.”

Ciri khas orang mulia yakni, perbuatan dan sikap batinnya halus, tutur kata yang santun, lapang dada, dan mempunyai sikap wibawa, luhur budi pekertinya.

Ada seorang yang miskin bertanya pada Sang Guru Bijak, “Mengapa aku menjadi orang yang sangat miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup…?”.

Sang Guru menjawab, “Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi pada orang lain.”

“Tapi saya tidak punya apapun untuk di berikan pada orang lain,” jawab si miskin.

Sang Guru Bijak berkata; “Sebenarnya engkau masih punya banyak untuk engkau berikan pada orang lain.”

“Apakah itu, guru….?”

Sang guru menjawab;

1. Dengan Mulut yang engkau punya, engkau bisa berikan senyuman dan pujian.
2. Dengan Mata yang engkau punya, engkau bisa memberikan tatapan yang lembut.
3. Dengan Telinga yang engkau punya, engkau bisa memberikan perhatian untuk mendengar keluh kesah orang di sekitar mu.
4. Dengan Wajah yang engkau punya, engkau bisa memberikan keramahan.
5. Dengan Tangan yang engkau punya, engkau bisa memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain yang membutuhkan dan masih banyak lagi.

Jadi, sesungguhnya kamu bukanlah miskin, hanya saja engkau tidak pernah mau memberi pada orang lain. Itulah yang menyebabkan orang lain juga tidak pernah mau memberikan apapun pada dirimu. Engkau akan terus seperti ini, jika engkau tidak mau memberi dan berbagi pada orang lain atau siapapun.

Pulang dan berbagilah pada orang lain dari apa yang masih engkau punya, agar orang lain juga mau berbagi denganmu.

Memberi tidak di tentukan oleh seberapa besar atau kecil, tapi berdasarkan kebutuhan;

– Ada yang butuh didengarkan;
– Ada yang butuh dikuatkan;
– Ada yang butuh diperhatikan;
– Ada yang butuh disemangati;
– Ada yang butuh diberi Pengharapan.

Sahabatku, selalu lakukan yang terbaik. Apa yang kita tanam sekarang akan kita tuai di kemudian hari. Ketika kita menanam padi mungkin rumput ikut tumbuh. Ketika kita menanam rumput tidak mungkin padi ikut tumbuh.

Jadi, ketika kita melakukan kebaikan mungkin hal buruk bisa terjadi. Akan tetapi, ketika kita melakukan keburukan tidak mungkin muncul kebaikan.

Mari, tetaplah berbuat kebaikan sekecil apapun yang bisa kita lakukan; walaupun hanya berupa doa, senyuman, atau sekedar sapaan ringan yang baik.

“Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran. Pangucap uga dadi jalaraning wirang.”

Ucapan itu dapat menjadi sarana kebaikan. Sebaliknya, ucapan bisa pula menyebabkan kematian dan kesengsaraan. Ucapan bisa menjadi penyebab menanggung malu.

About admin

Check Also

Rahasia Perjalanan Ruhani Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا ...