Monday , October 15 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Membaca Hidden Agenda Cina di Xinjiang dari Perspektif Geopolitik

Membaca Hidden Agenda Cina di Xinjiang dari Perspektif Geopolitik

Beberapa sumber menyebut, bahwa saat ini tengah terjadi ethnic cleansing terhadap suku Uigur di Xinjiang oleh rezim Cina dengan berbagai modus. Dari diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta, pimpinan Hendrajit (17/8/2018) didapat pointers antara lain sebagai berikut:

1) Jumlah suku Uigur di Xinjiang sekitar 10 juta, dan 10-an persen dipaksa mengikuti indoktrinasi komunis;

2) Bagi Cina, agama Islam dikaitkan dengan subversif, separatisme dan terorisme;

3) Cina melihat Islam sebagai penyakit mental (mental ilness);

4) Ada program merciless objective atau tujuan tanpa ampun dari Beijing guna melenyapkan kaum muslim melalui ethnic cleansing (pelenyapan etnis), salah satunya melalui cara ditempatkan pada kamp-kamp konsentrasi / penahanan massal, karena Cina menganggap Islam sebagai ganjalan bagi atheisme yang disponsori oleh negara;

5) Turkistan Timur (Xinjiang) dulu sempat mendeklarasikan kemerdekaan di abad ke 20 tetapi tahun 1949 dicaplok oleh Cina hingga kini;

6) Ada beberapa kelompok yang ingin merebut kembali kemerdekaan Xinjiang, tetapi Cina melakukan mobilisasi suku Han ke Xinjiang sehingga suku Uigur yang sebelumnya mayoritas berubah menjadi minoritas, dan gilirannya aspirasi kemerdekaan pun meredup;

7) Cina memanfaatkan “War on Terror“-nya George W Bush untuk menindas muslim Uigur bahkan bila ada warga yang tak mau ganti agama, diancam akan dilenyapkan;

8) Sikap anti-Islam beberapa negara Barat menjadi amunisi tambahan bagi Cina untuk menghabisi Uigur;

9) Tahun 2015, Cina memberlakukan larangan puasa, pengusiran guru agama, bahan bacaan disensor, bahkan seleksi iman;

10) Kamp konsentrasi dimulai 2013, warga Uigur yang masuk di kamp disebut re-edukasi atau “dididik kembali”, antara lain dipaksa makan babi, minum alkohol, dll itulah cara mengobati mental ilness, katanya;

11) Dan jangan dilupakan, bahwa Xinjiang merupakan provinsi yang memiliki deposit minyak terbesar di Cina.

Kalau dari perspektif geopolitik, poin ke 11 (geoekonomi) inilah yang menjadi tujuan utama Cina, sedangkan upaya-upaya lain untuk memberangus suku Uigur hanyalah sebuah geostrategi semata. Pertanyaannya sederhana, “Apabila Xinjiang cuma penghasil jambu mente atau ketela rambat, apakah suku Han akan dimobilisir dan muslim Uigur digusur?”

Merujuk teori Deep Stoat, “If you would understand world geopolitic today, follow the oil.” Jika ingin mengetahui situasi geopolitik hari ini, ikuti kemana aliran minyak. Kenapa? Sebab disana simpul-simpul kekuasaan akan saling intip, bersinergi bahkan kerap beradu-kuat.

Kesimpulan sementara, bahwa tidak ada perang agama, suku, ataupun konflik antargolongan melainkan karena faktor geoekonomi.

Nah, bila di era kolonialisme klasik dahulu, geoekonomi itu artinya rempah-rempah, sedang di masa penjajahan modern kini, geoekonomi bermakna air, pangan dan energi (water, food and energy security).

Demikian adanya.

  • Oleh: M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
  • Source: The Global Review

 

About admin

Check Also

Mengurai Agenda Strategis AS di East Asia Summit 2018

November mendatang di Singapura akan digelar forum East Asia Summit (EAS) yang mana baik negara-negara ...