Wednesday , December 12 2018
Home / Agama / Kajian / Membaca Bencana, antara Ekologis dan Teologis
Kapal Sabuk Nusantra 39 yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani, Pantai Barat Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Membaca Bencana, antara Ekologis dan Teologis

Mungkin tak salah jika kita merenungkan makna dari syair lagu populer penyanyi legendaris Ebiet G Ade yang menyebut soal bencana apakah karena memang “Tuhan telah bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita“.

Paling tidak, syair lagu ini mewakili dua sisi dalam memandang setiap bencana, ada kerusakan ekologis yang sedemikian parah karena memang ulah manusia itu sendiri.

Di sisi lain, manusia malah berlomba-lomba dalam perbuatan dosa dan kerusakan, sehingga secara teologis, banyak di antara mereka yang justru mencampakkan sang Pencipta dan Pengatur alam raya. Dalam soal bencana, dua kutub ini saling tarik-menarik bahkan mungkin saling adu kekuatan, dibicarakan dan diperdebatkan manusia tanpa henti.

Membaca bencana memang tak bisa dilepaskan dari dua kutub yang saling kontradiktif ini, keterpeliharaan ekologis dan kenyataan teologis. Sejauh ini, alam dan seluruh ekosistemnya memang harus dipelihara dengan baik dan benar, karena jika tidak, muncul ketidakseimbangan yang justru seringkali memicu bencana.

Tanah longsor, banjir, kekeringan, atau bahkan gempa bumi dan tsunami, semata-mata merupakan akibat dari ulah manusia sendiri yang secara sadar merusak alam. Bagaimana tidak, alam yang dulunya tenang belakangan justru bergejolak, karena dirusak dan dipaksa agar memberikan keuntungan kepada beberapa gelintir manusia. Pengeboran, penggundulan hutan, penggalian demi mengeruk kekayaan bumi, jelas fenomena perusakan alam yang marak terjadi.

Tepi Pantai Palu Sebelum dan Sesudah Gempa (Foto: Instagram @soalpalu, AFP/JEWEL SAMAD)

 

Secara ekologis, alam mungkin telah kehilangan keseimbangannya, sehingga linier dengan terjadinya bencana demi bencana. Walaupun dalam kacamata teologis, ada saja yang menganggap ini sebagai murka Tuhan akibat ulah kerusakan yang diperbuat manusia itu sendiri.

Pandangan ini umumnya mendasarkan pada korelasi “pemaksaan” Tuhan dan sikap “terpaksa” manusia agar mau tunduk dan patuh kepada segala perintah-Nya. Seolah-olah, teori ini memberikan persangkaan yang buruk terhadap Tuhan, karena Tuhan-lah sesungguhnya yang berkuasa menurunkan atau menahan bencana kepada manusia berdasarkan pertimbangan kebaikan dan keburukan perlakuan manusia terhadap Tuhan.

Saya kira, pandangan atas bentuk “pemaksaan” Tuhan agar manusia mau kembali ke jalan-Nya melalui bencana yang ditimpakan, seringkali muncul sebagai pembenaran atas kebiasaan manusia memelihara dosa-dosa dan kesalahan di muka bumi.

Sulit untuk tidak mengatakan, bahwa relasi teologis dalam membaca bencana, sepertinya lebih kuat dibanding wacana ekologis yang menyebut secara ilmiah bahwa memang terdapat pergerakan dasar bumi yang tak terhindarkan, dan akan lebih cepat terjadi ketika umat manusia secara serakah terus menerus merusak ekosistem lingkungan sekitarnya.

Dalam beberapa kali terjadi bencana alam di Indonesia, seringkali muncul alasan-alasan teologis yang menghubungkan bencana dengan prilaku manusia yang menyimpang, dan meninggalkan kewajiban mereka kepada Tuhannya.

Proses pemakaman masal jenazah korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: AFP/BAY ISMOYO)

 

Lalu, bagaimana sesungguhnya membaca setiap terjadi bencana? Mungkinkah ada korelasi antara kajian ekologis dan pandangan teologis yang mengungkap secara tepat fenomena bencana yang kerap kali terjadi?

Saya sendiri beranggapan, terdapat korelasi yang erat antara persoalan ekologis yang menyuruh manusia menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus keyakinan teologis, di mana dosa-dosa–dalam hal ini tidak saja dosa yang secara vertikal, tetapi juga horizontal antara manusia dan manusia, manusia dan alam sekitarnya– juga memiliki andil dalam memicu terjadinya bencana.

Saya meyakini, dalam kitab suci disebutkan, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. 42:30).

Menarik sesungguhnya ketika menghadirkan wacana teologis dalam memandang suatu musibah atau bencana, karena hal ini paling tidak dapat menurunkan tensi kesombongan manusia yang seringkali berdampak pada kesadaran manusia akan besarnya kekuasaan Tuhan.

Kekuatan teologis dapat secara langsung me-recovery “kondisi pribadi seseorang pasca tertimpa bencana, sebelum kondisi lingkungan dimana ia tinggal selesai di-recovery.

Keyakinan teologis akan mampu memberikan kekuatan baru kepada seseorang untuk pasrah dan menerima bahwa semata-mata ini adalah takdir Tuhan yang tak mungkin bisa ditolak.

Kondisi Kota Palu setelah gempa dan tsunami. (Foto: REUTERS/Stringer)

 

Teologi sesungguhnya mampu menghadirkan suasana keyakinan yang mendasarkan bahwa manusia memiliki kebebasan sepenuhnya untuk melakukan apa saja (free will). Namun di sisi lain terdapat tanggung jawab yang besar terhadap segala tindakan yang dilakukannya.

Membaca bencana, semestinya memang dipandang secara menyeluruh, menyatukan aspek ekologis dan teologis sekaligus, sehingga setiap orang tak mudah mempersalahkan Tuhan yang dengan kuasa-Nya menurunkan bencana, atau terlebih hanya mendasarkan pada dosa-dosa manusia “secara vertikal”.

Bencana timbul sebab ulah manusia yang merusak keseimbangan ekosistem, mengeruk kekayaan alam secara membabi buta sehingga relevan dengan dosa-dosa yang diperbuatnya sendiri.

Dalam hal ini, perbuatan manusia dan kehendak Tuhan seakan menemukan titik temunya, bisa dalam bentuk bencana atau kesengsaraan, atau kenikmatan dan kebahagiaan.

Oleh: Syahirul Alim, Penulis Lepas tentang agama, sosial, dan politik. Tinggal di Tangerang Selatan

Source: Kumparan

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...