Monday , May 28 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Memaknai Serangan Militer Barat ke Suriah

Memaknai Serangan Militer Barat ke Suriah

Dari perspektif geopolitik, konflik antarmazhab dalam agama (terutama pasca Perang Dingin) dinilai efektif bahkan dianggap menu terlezat dalam rangka memporak-porandakan dan/atau melemahkan daya tahan kedaulatan negara-negara melalui civil war (perang sipil) di Timur Tengah, selain paket DHL (demokrasi, HAM dan lingkungan hidup) misalnya, atau isu pemimpin tirani, isu korupsi, senjata kimia dan lain-lain. Kontra narasi atas hal tersebut sebenarnya sederhana, bahwa tak ada lagi perang agama di dunia modern melainkan karena faktor (geo) ekonomi. Itu clue geopolitik. Bahwa konflik agama, isu sektarian dan isu-isu hilir lainnya, sejatinya cuma dalih, atau bahasa kerennya: geostrategi belaka!

Dan serangan militer secara terbuka terhadap Suriah oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutu pada 14 April 2018 merupakan bukti keadaan (circumstance evidence) bahwa geostrategi Barat selama ini —semenjak 2011— melalui modus proxy war (perang perwalian), terbukti gagal.

Ketika medan tempur di Suriah sudah menginjak ke peperangan terbuka, pertanyaannya adalah, apa lagi peran Jabhat al Nusra, atau ISIS, dan lain-lain dalam konflik Suriah kini dan kedepan? Jawabannya: “Nihil.” Sekali lagi, nihil. Dengan kata lain, peran yang dimainkan (role playing) selama ini dianggap selesai karena fungsi dan tugasnya telah diambil-alih oleh sang “Tuan,” pemilik hajatan.

Jadi, apakah yang diperebutkan dan dicari selama ini? Tesis Deep Stoad yang bisa dijadikan clue adalah: “If you would understand world geopolitic today, follow the oil” (Bila ingin memahami geopolitik, ikuti aliran minyak). Kenapa? Karena disitulah simpul-simpul para adidaya bertemu, bersinergi bahkan kerap beradu-kuat. Itulah kontribusi strategis Stoad terhadap dunia geopolitik. Dan hingga kini, tesis tersebut belum ada antitesanya. Asumsi Henry Kissinger pun sifatnya menebalkan tesis Stoad, yaitu control oil and you control nation, control food and you control the people (kuasai minyak anda akan mengendalikan negara, kendalikan pangan anda akan menguasai rakyat). Inilah inti geoekonomi yang menjadi titik target geopolitik dimanapun, sampai kapanpun.

Suriah Punya Apa?

Tak boleh dipungkiri, berlarutnya konflik Suriah hampir delapan tahunan akibat kegagalan Arab Spring, yakni modus kolonialisme Barat melalui pintu perang asimetris (nirmiliter) yang melanda Tunisia, Yaman, Mesir, dan lain-lain termasuk Libya beberapa tahun lalu. Dan perlu disadari bahwa negara-negara dimaksud (target Arab Spring) sesungguhnya berada di lintasan Jalur Sutra (Silk Road), rute perdagangan/ekonomi sekaligus jalur militer dunia yang melegenda sejak Abad ke-3 dimana terbentang antara perbatasan Cina dan Rusia hingga ke Maroko. The silk road, selain dinilai “jalur basah” bagi kaum kapitalis global karena melimpahnya hydro carbon terutama emas, minyak dan gas, ia juga dianggap jalur strategis dunia karena membentang di antara Dunia Barat dan Dunia Timur. Siapa menguasai jalur tersebut maka identik menguasai dunia.

Selanjutnya, kenapa Suriah menjadi ajang rebutan antara para adidaya Barat (AS cs) versus adidaya Timur (Rusia – Cina, dkk), antara lain disebabkan:

Pertama, faktor geoposisi Suriah berada di pertengaham simpul Jalur Sutra. Ke utara menuju Eropa, ke selatan menuju Afrika Utara. Dengan kata lain, menguasai Suriah identik telah menguasai separuhnya. Separuh dari Jalur Sutra;

Kedua, faktor geopolitics pipeline. Tak boleh disangkal, bahwa akibat geoposisi yang strategis tersebut, Suriah itu dilalui banyak pipa minyak dan gas yang sifatnya lintas negara bahkan antarbenua. Setiap hari, berapa juta barel dari berbagai negara menuju negara lain yang melintasi Suriah? Menurut salah satu sumber Global Future Institute (GFI) di Jakarta, pemerintah Suriah mengutip sekitar $5/barel. “Uang jago” atau fee. Berapa juta barel setiap harinya melintas Suriah? Dan boleh jadi, APBN Suriah selama ini barangkali didominasi dari kontributor sektor fee pipanisasi.

Beberapa sesi diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI), Jakarta, dimentori oleh Dirgo D. Purbo, pakar perminyakan, tercatat pointer bahwa conflict is protection oil flow and blockade somebody else oil flow. Singkat kata, konflik hanya untuk melindungi aliran minyak (dan gas). Hal ini sejalan dengan asumsi yang dibangun oleh Global Future Institute (GFI), Jakarta, pimpinan Hendrajit, “Bahwa mapping konflik dari model kolonisasi yang dikembangkan oleh Barat, hampir dipastikan segaris/satu rute bahkan pararel dengan jalur SDA terutama bagi wilayah yang memiliki potensi besar atas minyak, emas dan gas alam.”

Menyoal lebih dalam tentang geopolitic of pipeline di Suriah, menurut Dirgo, meski ada fee $5/barel untuk aliran minyak pada pipanisasi, akan tetapi fee tadi tidak dinikmati oleh Suriah sendiri. Kenapa? Karena outlet pipanisasi yang ke Afrika Utara berada di Israel dan outlet jalur pipa ke Eropa ada di Ceyhan, Turki. Artinya ada sharing ketiganya.

Banyak faktor mengkaji motif serangan militer AS dan sekutu ke Suriah. Beberapa analisa mengatakan bahwa kronologi acaranya mirip Taliban yang disingkirkan karena menuntut terlalu banyak atas pipanisasi Unocal di Afghanistan. Maka simpulan prematurnya adalah, bahwa sepertinya Bashar al Assad hendak disamakan “nasib”-nya dengan Taliban yang harus dilenyapkan karena bandel, dan Assad dianggap rezim yang tidak mau didekte oleh Barat.

Lebih detail perihal pipanisasi minyak dan gas di Suriah, dari mana – kemana, berapa kilometer, besarnya investasi serta sejak kapan beroperasi, silahkan baca buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru pada Bab V halaman 195 – 210. Untuk menyingkat catatan ini, ada analogi yang bisa dijadikan clue guna memaknai serangan militer Barat ke Suriah, yaitu ketika AS diterjang krisis akut (great depression) dekade 1930-an tempo doeloe maka ketika diletuskan Perang Dunia ke-2, ekonomi Paman Sam kembali pulih. Hipotesanya adalah, apakah serangan militer Barat ke Suriah merupakan indikasi bahwa sesungguhnya AS tengah dirundung krisis ekonomi teramat akut?

Mengakhiri catatan ini, saya teringat tesis Bung Karno (1959), “Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan penghabisan para monopolis kapitalis yang terancam bangkrut”. Terima kasih

  • Oleh: M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
  • Source: The Global Review

 

About admin

Check Also

Ghost Fleet versus Ghost Jiangshi

Ghost Fleet dan Ghost Jiangshi, sama-sama hantu. Yang satu dari Barat, satunya lagi dari Timur. ...