Thursday , April 19 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Melacak Jejak Dosa Ahmad Fathanah dan PKS dari Perspektif Kolonialisme

Melacak Jejak Dosa Ahmad Fathanah dan PKS dari Perspektif Kolonialisme

Ahmad FhatanahPenulis : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)

Tulisan ini dilatarbelakangi keprihatinan perihal kasus daging impor di Indonesia. Bukan prihatin atas “prahara” yang menerpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS), atau berempati kepada oknum kader yang terlibat, ataupun pro dan kontra pada peristiwa itu sendiri —penulis bukan orang politik— tetapi inti keprihatinan ialah gegap propaganda di berbagai media seperti sudah diluar kelaziman. Telah melebihi kewajaran. Hal ini yang layak dikaji.

Konsekuensi logis berupa “vonis sosial” via media memang telah melekat terhadap pihak-pihak yang terlibat hampir tanpa pembelaan, dan dalam perpolitikan, itu syah-syah saja karena merupakan resiko meski sesungguhnya tidak ada langkah mati dalam politik. Bahkan jamak di dunia politik, setiap tujuan niscaya membawa (ada) korban. Itu yang dinamai ‘tumbal politik’. Meskipun terkadang, terpaksa —atau mau tidak mau— harus mengorbankan kelompok, partai, rakyat bahkan keluarga sendiri.

Membaca arah politik, jangan sampai tertipu dengan apa yang terjadi di atas permukaan, karena sering ia cuma deception, sekedar pengalihan situasi, dan lain-lain untuk memuluskan agenda utama. Entah apa. Namun lazimnya terkait “kekuasaan”. Manakala masuk ke rimba politik tanpa strategi dan taktik, maka ibarat kambing yang dipiara setelah besar harus siap dijual atau disembelih.

Terkait dugaan korupsi impor daging para kader PKS, kini berkembang kegelisahan di masyarakat soal trial by press serta caci maki berbagai elemen bangsa yang marak digebyarkan media. Sepertinya arah (indikasi) makian ingin menyudutkan, atau menjelek-jelekan ‘basis ideologi’ serta bendera landasan partai tersebut. Ini perlu dicermati. Dalam hal ini adalah Islam. Ya. Islam sebagai entitas, ia bukanlah ideologi, bukan pula aliran, ataupun suatu kepercayaan tertentu di masyarakat. Islam itu agama dari langit. Hal ini mutlak digugat jika tendensi cacian mengarah kesana. Dan jika mengikuti gebyar media mainstream, tanpa sadar segenap elemen bangsa hampir-hampir larut atas hiruk–pikuk yang tersurat tanpa mampu melihat hal tersirat di balik semua itu. Bukankah kata Pepe Escobar, wartawan senior Asia Times, politik praktis itu bukan yang tersurat melainkan apa yang tersirat?

Sekali lagi, tulisan ini tak hendak turut campur dalam carut marut politik yang terbukti tidak memiliki arti apa-apa bagi Kepentingan Nasional RI (KENARI). Dinamika politik kita hampir tidak ada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat. Cuma glamour di pesona dan cenderung high cost. Penulis sengaja menjauh dari gaduh kepentingan, berhening pikir sejenak — lalu mengkaji peristiwa secara total dan jernih, mencoba menyelami hal terdalam dari yang paling dalam. Inilah uraian sederhananya.

Benarkah Olong Agen Asing?

Melacak jati diri Ahmad Fathanah alis Olong akan meluas kemana-mana, terkait topik ini sebaiknya dimulai ketika ia ditangkap di Bangkok lalu dideportasi ke Australia (Aussie), oleh sebab terlibat human trafficing sekitar 353 orang ke Christmas Island, Aussie (1999).

Sebetulnya ia terancam 20 tahun penjara, tetapi hukuman dijalani 3 tahun karena dinilai “kooperatif” terhadap pemerintah federal. Entah kenapa. Informasi yang berkembang tentang “kooperatif” yang dimaksud karena Olong dekat dengan lingkaran dalam PKS. Sementara ada fakta bahwa saat itu ekspor sapi Aussie ke Indonesia terkendala akibat kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono menekan angka impor. Retorikanya: adakah deal khusus antara Aussie dengan Olong atas keringanan hukuman sehubungan dengan kendala serta prospek ekspor sapi Aussie ke Indonesia? Fakta lain yang menarik, Pak Suswono, Mentan RI itu dari PKS.

Menyimpang topik sebentar tetapi masih dalam koridor materi, bahwa dokumen Global Future Institute (GFI), Jakarta pimpinan Hendrajit mencatat, ketika mengamankan rencana kolonialisasi, pihak Barat menyiapkan beberapa metode dan modus operandi. Terkait kasus PKS, mungkin modus dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) Membuat Sentimen Agama.

Ini merupakan metode dini atau permulaan, semacam mapping daerah target. Sudah tentu, latar belakang pemilik kekuasaan dipelajari lalu agama mayoritas “tuan penguasa” dijadikan alibi. Misalnya membuat sesuatu yang saat ini tengah dibenci publik. Terkait kasus ini tampaknya isu korupsi, “main” perempuan, isue suap — dianggap tepat; dan

(2) Menciptakan Agitasi.

Dibuat “peristiwa” yang mampu menimbulkan antipati publik terhadap target sasaran, tetapi sebaliknya menimbulkan simpati bagi organ yang memusuhi atau menangani. Misalnya, “diciptakan” kemudian ditinggalkan jejak buruk kiprah inner circle, atau rekam dosa para kader partai yang ditarget, dan lain-lain. Retorikanya: benarkah masuknya Olong ke lingkaran dalam PKS merupakan implementasi kedua metode di atas?

Berbasis circumstance evidence (bukti keadaan) tadi, berapa hipotesa pun membiak: apakah pihak asing tak suka ekspornya dikurangi kemudian Olong dikirim untuk bargaining ulang masalah kuota; ataukah impor daging hanya pintu masuk sedang tujuan Aussie sebenarnya ialah memperlemah partai ber-“ideologi” Islam; atau ada hipotesa nakal lain, bukankah Aussie merupakan perpanjangan Barat dan kepentingannya di Asia dalam rangka menghancurkan simbol agama mayoritas di Indonesia? (baca: Membongkar Falsafah Perang Barat di Dunia Islam dan Indonesia, di www.theglobal-review.com). Silahkan berhipotesa serta berargumen berbasis fakta, data dan logika.

Dalam diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI) pimpinan Dirgo D. Purbo terkuak fakta, bahwa sekitar 80-an persen APBN Australia tergantung Indonesia. Arti “tergantung” disini dapat dimaknai luas. Barangkali pengiriman berbagai ekspor-impor (raw material) Aussie dari dan menuju berbagai benua mutlak harus melewati perairan Indonesia, atau mungkin republik tercinta ini sekarang dinilai sebagai sumber devisa Aussie dari sisi ekspor, dan lain-lain. Tampaknya data terakhir, Indonesia dianggap buffer zone bagi Australia. Inilah informasi yang nyata. Maka membaca serangan bertubi-tubi melalui media terhadap kasus PKS, boleh dibaca merupakan serangan asimetris asing melalui pintu “impor daging” yang kebetulan dalam Kabinet RI dikomandoi oleh orang PKS selaku Mentan RI.

ISAF dan Pola Kolonialisme

Masih ingat International Security Assistance Force (ISAF)? Itulah koalisi 40-an negara pimpinan Amerika Serikat (AS) yang hendak menghancurkan Islam. Salah satu anggotanya adalah Aussie. Jujur saja, pamor koalisi itu kini memudar. Ya. ISAF itu “amuba”-nya NATO di Asia. Dan Paman Sam sebagai pemegang saham utama bertugas menyiapkan pasukan serta modal yang diperoleh melalui sharing negara anggota. Ia bebas memilih daerah jajahan. Inggris misalnya, memiliki saham di Basra, Belanda mengkapling Uruzgan, Israel memilih Lebanon dan sebagian kota di Irak, sementara AS sendiri di Baghdad, demikian seterusnya. Inilah mapping kapling daerah koloni pasca serbuan militer AS beserta sekutu (NATO dan ISAF) di Irak (2003-2012).

Akan tetapi ketika ada perlawanan super dahsyat oleh tentara lokal di Irak —kapling-kapling itu pun akhirnya bubar— dalam logika perang, berita soal penebalan, atau penambahan pasukan koalisi di Irak dahulu dapat diartikan bahwa tentara asing banyak yang tewas di medan pertempuran. Tentara lokal mampu mengalahkan pasukan AS dan sekutu. Ini tak boleh dipungkiri, kendati media mainstream banyak melakukan edit dan kontra berita. Itu memang bagian metode kolonialisme. Dan kuat disinyalir bahwa Barat tidak mau sejarah berpihak kepada Islam.

Tercatat sebelum muncul perlawanan maha dashyat di Irak, sepertinya mereka ingin berbagi kue (kekuasaan). Bahkan lebih dari sekedar bagi-bagi kekuasaan, ISAF dan sekutunya berencana membuat umat Islam menjadi budak di negeri sendiri dan mengusung kelompoknya menjadi Tuan Tanah Baru. Skenario itu sempat muncul di Negeri 1001 Malam meski akhirnya gagal.

Terkait perspektif catatan ini, akan diurai sekilas perihal pola kolonialisasi di muka bumi. Ya. Membaca peta konflik dari aspek kolonialisme yang dikembangkan Barat, hampir dipastikan satu rute bahkan pararel dengan jalur-jalur (negara) yang memiliki potensi besar atas minyak, emas dan gas alam. Kelaziman pola adalah tebar duluan isu-isu aktual terkait budaya dan karakteristik di wilayah target. Setelah itu dimunculkan “tema” gerakan, dan seterusnya. Tema bisa berujud konflik internal, invasi militer, jajak pendapat, atau aksi massa non kekerasan sebagaimana Arab Spring di Tunisia, Yaman dan Mesir. Timor Timur misalnya, isu yang dilempar soal pelanggaran HAM oleh aparat, kemudian dimunculkan tema “konflik dan jajak pendapat”, dan ujung (skema) yang diraih ternyata minyak di Celah Timor yang kini digarap oleh Australia dan Thailand. Pertanyaannya: jika dulu tak ditemukan potensi besar minyak di Celah Timor apakah bakal ada jajak pendapat di Timor Timur?

Baluchistan pun demikian juga. Isu yang ditebar tentang radikalisme dan separatis, tema yang diangkat soal referendum, sedang skemanya tetap minyak, minyak dan minyak. Apa tidak miskin Pakistan bila Baluchistan kelak memisahkan diri? Dan banyak lagi contoh lain.

Dengan demikian pola kolonialisme yang digelar selalu diawali dengan isu-isu (aktual), kemudian dimunculkan tema (gerakan) dan berakhir pada skema kolonial yang merupakan tujuan pokok. Hingga kapanpun dan dimanapun model kolonialisasi, skema utama hampir tidak berubah yakni penguasaan ekonomi dan pencaplokan sumberdaya alam (SDA). Kendati pada kasuistis tertentu bisa meluas ke sasaran lain, akan tetapi ujungnya dipastikan soal cengkraman ekonomi dan pendudukan SDA di daerah target. Pola ini tidak akan berbeda baik ketika memakai pola simetris (militer) maupun tata cara asimetris (non militer).

Kembali ke prahara PKS, tulisan sederhana ini tidak akan mengurai jauh mengapa PT Indoguna Utama tempat Olong ‘bekerja’ ternyata berpangkal di Paman Sam, tepatnya berada 141 Pierpont Avenue Salt Lake City, UT 84101 USA; atau kenapa PT tersebut membuka pula layanan jasa intelijen. Catatan ini juga tidak akan membahas kenapa perkara korupsi lainnya dengan kualitas dan kuantitas lebih besar justru “dibekukan”. Juga tak akan diurai 40-an wanita yang menjadi “mainan” Olong, dan lain-lain. Terlalu berputar-putar malah bias kemana-mana, sedang itu hanya sekedar isu permulaan dalam tahapan kolonialisasi. Semacam jejak dosa yang sengaja “diciptakan”, ditinggalkan, lalu diungkap sendiri oleh sang agen ke publik.

Kajian ini mencoba membidik, bahwa gegap pemberitaan oleh media-media mainstream terhadap PKS soal korupsi serta perempuan-perempuan di sekeliling Olong sesungguhnya merupakan propaganda di tahapan TEMA kolonialisme, akan tetapi sungguh menyedihkan segenap elemen bangsa malah larut ke dalam “tarian gendang” yang ditabuh asing.

Menyimak kasus PKS dari perspektif kolonialisme, bahwa tebaran isu asimetris perihal korupsi daging impor, itu hanyalah pintu masuk pertama. Sedang tema gerakan bertajuk pelemahan partai berbendera Islam, dalam hal ini adalah PKS itu sendiri. Ini jelas terbaca. Lihat saja, media lebih senang memuat berita para kaum hawa di sekeliling Olong daripada mengurai esensi unsur korupsi PKS. Dari aspek hukum, korupsi itu suatu perbuatan pidana namun blow up media malah menggebyarkan hal-hal di luar esensi korupsi kendati memang mata rantainya. Terkesan ada propaganda dahsyat disana-sini.

Selanjutnya tatkala berkembang argumen bahwa SKEMA kolonialisme cuma meminta tambahan kuota impor daging saja, boleh dan syah-syah saja. Tetapi bagi penulis jika sekedar target kuota terlalu kecil dibanding resiko serta akibat atas ‘kehancuran PKS’ di mata publik sebagai partai Islam yang besar, solid, militan dan memiliki prospek sebagai partai penguasa. Dugaan penulis, SKEMA yang hendak ditancapkan oleh Barat justru pelemahan dan penghancuran Islam di Indonesia melalui modus adu domba sesama umat.

Teori management by objective (MBO) mengajarkan, bahwa meraih tujuan cukup melalui capaian sasaran-sasaran antara saja. Dalam kasus di atas, penghancuran PKS hanya sekedar “sasaran antara” tetapi niscaya berefek pada tujuan pokok, yakni pelemahan Islam. Apakah ini yang tengah berlangsung? Itu loh partai Islam ternyata bejat! Mau juga korupsi, suka main perempuan! Amoral! dan lain-lain. Dan tampaknya, skenario dimaksud terus bergulir liar baik di gedung tinggi, di kampus-kampus, di jalan-jalan, di bangku sekolahan, bahkan di warung-warung kaki lima.

Selamat datang MBO! Selamat bermain metode agitasi dan sentimen agama di Indonesia!

About admin

Check Also

Ghost Fleet versus Ghost Jiangshi

Ghost Fleet dan Ghost Jiangshi, sama-sama hantu. Yang satu dari Barat, satunya lagi dari Timur. ...