Monday , October 22 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Media Massa Dalam Kapitalisme

Media Massa Dalam Kapitalisme

capture-20130707-104930Oleh Ignatius Mahendra Kusumawardhana, Aktivis Perburuhan

Dalam tingkatan internasional maupun nasional tidak dipungkiri bagaimana media massa mainstream dikuasai oleh para pemilik modal dan digunakan untuk kepentingan para pemilik modal. Ditingkatan internasional media massa dikuasai oleh 6 koorporasi media yaitu AOL-Time Warner, The Walt Disney Co, Bertelsmann AG, Viacom, News Corporation, VivendiUniversal.[1]

Kesemua media massa tersebut adalah pendukung loyal bagi kepentingan-kepentingan para pemilik modal internasional. Mereka ikut sertadalam propaganda hitam untuk membenarkan invasi negara-negara Imperialis keIrak, kemudian setelahnya ke Afganistan, membenarkan penindasan Israel terhadap rakyat Palestina, ataupun serangan-serangan negara-negara Imperialis terhadap Venezuela dan Kuba.

Contoh bagaimana media massa mendukung kepentingan para pemilik modal adalah pada kudeta terhadap Hugo Chavez, Presiden Venezuela pada tahun 2002. Kudeta yang sering disebut juga sebagai kudeta media. Dimana media massa mainstream menyiarkan berita yang dimanipulasi sehingga seolah-olah pendukung Chavez menembaki dan membunuhdemonstran anti Chavez.

Berita tersebut diputar berulang-ulang yang kemudianditambahkan dengan pernyataan dari beberapa jendral bahwa Chavez ikut bertanggungjawab dan meminta Chavez mengundurkan diri.

Sementara itu di dalam negeri media massa dikuasai oleh 12 kelompok media besar.[2] Mereka adalah MNC Group, Kelompok Kompas Gramedia, Elang Mahkota Teknologi, Visi Media Asia, Grup Jawa Pos, Mahaka Media, CT Group, BeritaSatu Media Holdings, Grup Media, MRA Media, Femina Group dan Tempo Inti Media. Ditambah dengan Bisnis Indonesia Group (Harian BisnisIndonesia, Majalah Business Weekly), Solopos/ Radio, Bali TV (Bali TV dan 10 TV Lokal), Pos Kota Grup (Jakarta dan Koran Rakyat), Pikiran Rakyat Group (penguasa Jawa Barat), termasuk group online baru: Kapanlagi.com dan merdeka.com.

MNC Group di bawah Hary Tanoe memiliki tiga kanal televisi juga 20 jaringan televisi lokal dan 22 jaringan radio dibawah SindoRadio. Grup Jawa Pos dibawah Dahlan Iskan memiliki 171 perusahaan media cetak termasuk Radar Group.

KOMPAS, surat kabar paling berpengaruh ini sekarang ekspansi dengan mendirikan penyedia konten yaitu KompasTV, disamping 12 penyiaran radio di bawah Radio Sonora, dan 89 perusahaan media cetak lainnya. Visi Media Asia telah memiliki dua saluran televisi (ANTVdan tvOne) serta media online yang berkembang dengan pesat vivanews.com. Sebuah perusahaan media di bawah Grup Lippo yakni Berita Satu Media Holding, telah mendirikan Internet Protocol Television (IPTV). BeritaSatuTV, kanal media online beritasatu.com dan juga memiliki sejumlah surat kabar dan majalah.

Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana sebagai contoh, HT memanfaatkan MNC Group, ARB dengan Viva Groupnya serta Surya Paloh dengan Media Group menggunakan media massa milik mereka untuk menaikan profil dan propaganda politik mereka dalamrangka Pemilu 2014 besok. Demikian juga bagaimana media massa saling menghajardengan membongkar berbagai borok (korupsi, skandal ataupun kebodohan) lawan politik mereka sementara menyembunyikan kebobrokannya sendiri. Elit-elit politik yang tidak punya media massa merengek-rengek karena mereka tidak memilikinya.

Disisi lain ada pula mereka yang mengeluh harusnya media massa objektif dan berimbang,ataupun mengeluhkan tidak adanya ‘keragaman kepemilikan’ dan ‘keragaman informasi’ di media. Ataupun mereka yang menganggap bahwa media massa sekarang sudah begitu terdiversifikasikan, sudah ada media online dan media sosialsehingga tidak lagi didominasi oleh para pemilik modal. Kesalahan mendasar dari analisa tersebut adalah tidak adanya analisa klas.

Kesemuanya menganggap bahwa media massa adalah sesuatu yang netral dimana semua orang (apakah itu buruh, petani, mahasiswa, pemilik modal, elit politik, jendral, menteri, dsb) bisa dengan mudah mempengaruhi dan membentuknya media massa tersebut.

Ernest Mandel menyatakan bahwa “Meskipun,dalam analisa terakhir, negara adalah badan-badan khusus orang bersenjata, dan kekuatan klas berkuasa didasarkan oleh pemaksaan dengan kekerasan, negara tidakdapat membatasi dirinya sendiri hanya pada hal tersebut. Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa kau tidak dapat melakukan apapun dengan bayonet kecuali mendudukinya. Sebuah masyarakat berklas yang bertahan hanya dengan menggunakan kekerasan bersenjata akan menemukan dirinya sendiri dalam kondisi perang sipil terus menerus – dengan kata lain, dalam kondisi krisis yang ekstrim.”

Oleh karena itu menjadi penting fungsi hegemoni ideologi dari klas berkuasa atau bagaimana agar klas yangditindas dibuat menerima penindasan oleh klas berkuasa dan menganggapnyasebagai sebuah hal yang wajar dan normal.

Mereka yang menguasai media massa tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa mereka juga memiliki kekuatan ekonomi dan atau bahkan kekuatan politik yang besar, seperti perusahaan retail (ChairulTanjung), asuransi (HT), partai politik (HT, ARB dan Suryo Paloh), dsb.

Demikian juga mereka yang bekerja di media massa mendapatkan upah dari para pemilik media massa. Dengan begitu maka kepentingan ekonomi politik mereka sebagai pemilik modal disebarkan melalui media massa yang mereka miliki agar tetap dan terus menjadi hegemoni ideologi yang dominan.

Kekuatan Rakyat Melawan Hegemoni Ideologi Para Pemilik Modal

Sebuah analisa mengungkapkan bahwa media massa berpengaruh membentuk opini publik sesuai dengan kepentingan para pemilik modal dalam kebijakan luar negeri, terutama dalam kebijakan perang, pada saat permulaannya, agresi atau tindakan militer.

Namun pembentukan opini publik tersebut hancur setelah kerugian ekonomi dan korban jiwa bermunculan dari rakyat Amerika Serikat sendiri. Di sisi yang lain media massa secara relatif tidak efektif ketika membentuk opini publik terkait kebijakan-kebijakan domestik di Amerika Serikat. Kebijakan yang mempengaruhi kehidupan sosio-ekonomi sehari-hari rakyat Amerika.[3]

Secara sederhana hegemoni ideologi para pemilik modal tersebut akan juga bergantung pada kondisi objektif yang ada. Para pemilik modal tidak bisa terus-terusan menipu ataupun membangun pencitraan bahwa kesejahteraan telah dihasilkan di mana-mana sementara masih banyak terjadi busung lapar dan gizi buruk. Hal ini juga ditunjukan dalam poling terbaru di Amerika Serikat paska Bom Boston.

Enam puluh lima persen rakyat Amerika lebih khawatir terhadap kebebasan sipil yang akan semakin terkekang paska Bom Boston ketimbang dengan ancaman terorisme itu sendiri.[4] Tampaknya rakyat Amerika sudah belajar dari bagaimana media massa menyetir mereka setelahPeristiwa 11 September untuk membenarkan invasi ke Irak dan Afganistan.

Demikian bagaimanapun kebijakan-kebijakan para pemilik modal yang hanya menguntungkan dirinya sendiri di atas eksploitasi kaum buruh dan rakyat pasti akan menghasilkan perlawanan. Perlawanan yang kemudian akan memperlemah hegemoni ideologi dari media massa mainstream. Perlawanan dan membesarnya kekuatan kaum buruh dan rakyat tersebut akan menciptakan saringan terhadap propaganda media massa. Dan bahkan memunculkan penolakan terhadap media-mediamassa yang mengambil posisi mendukung kebijakan para pemilik modal.

Media Massa Alternatif Bagi Kaum Buruh dan Rakyat

Semakin berkembangnya kekuatan rakyat, yang mensyaratkan juga berkembangnya organisasi kaum buruh dan rakyat akan menyediakan media alternatif bagi kaum buruh dan rakyat. Yang menyediakanpemahaman dan analisa alternatif terhadap kesengsaraan yang dialami oleh kaum buruh dan rakyat. Hal ini pun sudah terjadi di Jakarta dengan munculnya RadioMarsinah FM yang dikelola oleh kaum buruh sendiri, secara khusus yang tergabung dalam FBLP (Forum Buruh Lintas Pabrik). Demikian juga sekarang banyak bermunculan website, blog ataupun terbitan-terbitan alternatif khususnya dari gerakan buruh yang akan melawan hegemoni para pemilik modal.

Di Venezuela sendiri selama sepuluh tahun terakhir telah muncul ratusan stasiun radio dan televisi yang dibangun oleh kelompok atau organisasi rakyat. Berbeda dengan media massa mainstream, media massa alternative tersebut tidak didasarkan atas kepentingan mendapatkan keuntungan dan 70 persensiaran mereka fokus pada isu-isu rakyat dan lokal.

Dalam perang hegemoni melawan ideologi kapitalisme tujuan utamanya adalah menggulingkan tatanan kapitalisme itu sendiri. Untuk membangun tatanan masyarakat baru yang berdasarkan atas keadilan, solidaritas, perdamaian, demokrasi dan kesejahteraan. Namun hal itu hanya bisa dilakukan oleh tindakan sadar dari kaum buruh dan rakyat.

Oleh karena itu tidak sekalipun media massa alternatif dari kaum buruh dan rakyat akan bersikap sok-sok netral,“objektif”, tidak berpihak atau berimbang. Media massa alternatif tersebut justru harus tegas berpihak kepada kaum buruh dan rakyat. Fungsi utamanya adalah membangun kesadaran kaum buruh dan rakyat atas kepentingan mendasarnya.Oleh karena itu media massa alternatif harus mampu menganalisa kondisi kaum buruh dan rakyat, memberikan arahan apa yang harus dilakukan dan terutama menjadi alat untuk mengorganisasikan dan mengkonsolidasikan kekuatan sadar dari kaum buruh dan rakyat.

Referensi:

[1] http://goo.gl/z9dB2
[2] Banyak diambil dari (Nugroho, Putri, dan Laksmi, 2012)- Nugroho, Y., Putri, DA., Laksmi, S. 2012. Memetakan Lansekap Industri Media Kontemporer di Indonesia (Edisi Bahasa Indonesia). Laporan. Bermedia, MemberdayakanMasyarakat: Memahami kebijakan dan tatakelola media di Indonesia melaluikacamata hak warga negara. Riset kerjasama antara Centre for InnovationPolicy and Governance dan HIVOS Kantor Regional Asia Tenggara, didanai olehFord Foundation. Jakarta: CIPG dan HIVOS. Serta http://goo.gl/7ORPA
[3] http://goo.gl/AlafR
[4] http://goo.gl/ESfBQ

Sumber: www.theglobal-review.com

About admin

Check Also

“Dunia Baru”-nya Jokowi di Luar IMF-Bank Dunia itu adalah Tiongkok

Ada banyak jalan untuk berutang demi mengongkosi ambisi Jokowi dalam proyek infrastruktur, dan jawaban utamanya ...