Friday , December 4 2020
Home / Relaksasi / Renungan / Mayat di Tempat Sampah itu Ternyata Orang Yang Dicintai Allah

Mayat di Tempat Sampah itu Ternyata Orang Yang Dicintai Allah

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allaahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad

Saudaraku yang budiman,

Membaca judul dari artikel ini tentunya sangat menggugah pertanyaan mendalam bagi kita. Seseorang yang mungkin dianggap tercela, rendah, bahkan mungkin kita menganggapnya sebagai mati suu-ul khaatimah (berakhir buruk) ternyata adalah orang yang dicintai Allah karena sesuatu perbuatannya.

Kisah ini tentunya akan membuat kita tidak sombong atas amal ibadah yang kita lakukan sehari-hari. Dan kita juga bisa berkesimpulan bahwa buruk dalam pandangan manusia belum lah tentu buruk dalam pandangan Allah.

Tentang hal ini ada sebuah kisah bahwa ada seorang yang mati pada masa Nabi Musa AS, orang-orang tidak suka memandikannya dan menguburkannya karena kefasikannya, maka mereka membawanya dengan kaki dan membuangnya di tempat sampah, kemudian Allah Ta’aalaa mewahyukan kepada Nabi Musa AS dan berfirman;

“Wahai Musa ada seseorang yang mati di daerah fulan pada tempat sampah, dia adalah seorang wali dari para wali-Ku, mereka belum memandikannya, belum mengkafaninya dan belum menguburkannya, maka engkau pergilah, mandikanlah, kafanilah, shalatilah, dan kuburkan dia”.

Kemudian Nabi Musa AS datang ke tempat tersebut dan menanyai mereka tentang mayit tersebut, mereka berkata kepada beliau, “Telah mati seseorang dengan sifat begini dan begitu, dan sesungguhnya dia adalah seorang fasiq yang nyata”. Kemudian Nabi Musa bertanya, “di mana tempatnya? Karena sesungguhnya Allah Ta’aalaa telah mewahyukan kepadaku karena dia”. Nabi Musa berkata, “Beritahukan kepadaku tempatnya”. Lantas mereka pergi.

Ketika Nabi Musa AS melihatnya dalam keadaan terbuang di tempat sampah dan orang-orang mengabarinya tentang kelakuannya yang buruk, Nabi Musa bermunajat kepada Tuhannya, Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau menyuruhku menguburkan dan menshalatinya sedangkan kaumnya bersaksi atas keburukannya, maka Engkau lebih mengetahui daripada mereka dengan segenap pujian dan celaan”. Maka Allah Ta’aalaa mewahyukan kepada beliau,

“Wahai Musa, kaumnya benar pada apa yang telah mereka ceritakan tentang keburukan kelakuannya, hanya saja dia memohon pertolongan kepada-Ku saat kematiannya dengan tiga hal yang andaikata (tiga hal tersebut) digunakan untuk memohon pertolongan kepada-Ku oleh seluruh orang-orang yang berdosa dari ciptaan-Ku pastilah Aku akan mengkabulkannya, maka bagaimana Aku tidak menyayanginya sedangkan dia telah memohon sendiri, dan Aku adalah Maha Penyayang dari para penyayang”.

Musa bertanya, “Wahai Tuhan, apa tiga hal itu?” Allah Ta’aalaa menjawab, “Ketika kematiannya dekat, dia berkata “Wahai Tuhan, Engkau lebih mengetahui diriku bahwa sesungguhnya aku telah melakukan banyak maksiat sedangkan aku membenci maksiat tersebut dalam hatiku tetapi ada tiga hal yang membuat aku melakukan maksiat dengan membenci maksiat tersebut di dalam hatiku, pertama hawa nafsu, teman yang buruk dan iblis yang dilaknat Allah. Tiga hal ini menjatuhkanku dalam kemaksiatan, maka sesungguhnya Engkau lebih mengetahui daripada aku tentang apa yang aku katakan, maka ampunilah aku”.

Kedua, dia berkata, “Wahai Tuhan, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah melakukan banyak maksiat dan tempatku bersama orang-orang fasik namun aku suka berteman dengan orang soleh, kezuhudan mereka dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada bersama orang-orang fasik”.

Ketiga, dia berkata, “Wahai Tuhan, sesungguhnya Engkau mengetahui diriku bahwasanya orang-orang soleh lebih aku sukai daripada orang-orang fasik, hingga andaikata aku dihadapkan dua orang; baik dan buruk pastilah aku mendahulukan kebutuhan orang yang baik daripada orang yang buruk”.

Dalam riwayat Wahab bin Munabbih dia berkata, “Wahai Tuhanku, andaikata Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku maka bergembiralah para wali-Mu dan para nabi-Mu, dan bersedihlah syaitan musuhku dan musuh-Mu, dan andaikata Engkau mengadzabku sebab dosaku maka syaitan dan teman-temannya akan bergembira, dan bersedihlah para nabi dan para wali, dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa kegembiraan para wali menurut-Mu lebih disukai daripada kegembiraan syaitan dan teman-temannya, maka ampunilah aku. Wahai Allah, sesungguhnya engkau lebih mengetahui dariku akan apa yang aku katakan maka sayangilah aku dan maafkan aku”.

Allah menjawab, “Aku sayangi, Aku ampuni dan Aku maafkan, karena sesungguhnya Aku Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, khususnya kepada orang yang mengakui dosa-dosanya kepada-Ku, dan orang ini mengakui dosa maka Aku mengampuninya dan memaafkannya. Wahai Musa lakukan apa yang Aku perintahkan, karena Aku mengampuni dengan kehormatannya untuk orang yang menshalati jenazahnya dan menghadiri pemakamannya”.

Aku akhiri risalah ini dengan do’a:

اَللَّهُمَّ اَسْئَلُكَ التَّوْفِيْقَ لِمَحَابِّكَ مِنَ اْلاَعْمَالِ وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ

Allaahumma as-alukat taufiiqa li mahaabbika minal a’maali wa shidqat tawakkuli ‘alaika wa husnadz-dzanni bika.

“Ya Allah, aku memohon pertolongan kepada-Mu untuk mengerjakan amal-amal yang Engkau cintai, (aku memohon) kepasrahan yang benar kepada-Mu, dan berperasangka yang baik kepada-Mu.”

Semoga Allah merahmati, memberkati dan melindungimu beserta keluargamu dari fitnah zaman. Aamiin…

About admin

Check Also

Cara Berzikir, Bertarekat, Bermursyid dan Bersuluk (Pembahasan Kitab Sabilus Salikin Hal. 186)

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا ...