Tuesday , December 11 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Mari Saling Memaafkan

Mari Saling Memaafkan

Sudah lama saya tidak menyapa saudara semua disini karena sudah hampir setahun saya tidak menulis apa2 disini. Kalaupun ada tulisan dalam setahun ini tidak seperti dua tahun lalu saat dengan semangat membuat blog ini. Semangat yang aku miliki berasal dari Dia dan hanya Dia pula yang bisa mengembalikan semangat itu. Saya selalu berdoa kepada Sang Pemilik Semangat agar memberikan semangat dan ilham kepada saya untuk terus bisa menulis disini, berbagi dengan saudara tercinta.

Kepada semua yang membaca blog ini saya mengistilahkan “surau online” baik anda senang dengan tasauf maupun yang membenci, baik anda kenal saya sebagai orang baik maupun anda kenal saya sebagai orang tidak baik dan jahat, meski anda tidak mengenal saya sama sekali, saya ingin mengatakan kepada saudaraku semua yang aku kasihi, bahwa seluruh tulisan yang ada di sufi muda saya niatkan agar yang membaca bisa bergairah mencari kebenaran, mencari pembimbing rohani agar bisa menemukan sang pemilik kebenaran.

Banyak jalan menuju Roma, demikian pepatah lama sudah sering kita dengar dan banyak jalan menuju Tuhan, namun carilah jalan yang benar-benar memberikan anda ketenangan, memberikan anda suatu pencerahan sehingga apabila telah tiba waktunya anda tidak pernah ragu sedikitpun yang anda sembah itu adalah Allah.

Saya bukanlah orang yang sangat paham tentang Tuhan, dan bukan juga seorang Guru pembimbing untuk membimbing anda kepada Allah SWT. Saya hanyalah orang biasa, seorang murid yang sedang belajar kepada Seorang Guru yang Luar Biasa, yang setiap saat menuntun dan membimbing saya yang bodoh ini agar terus menerus mengingat Allah. Saya ingin sekali berbagi rasa yang saya miliki kepada kita semua agar juga bisa merasakan apa yang saya rasakan.

Di dunia ini semua ada permulaan dan permulaan jalan menuju Allah adalah dengan Taubat, merasa bersalah atas dosa-dosa yang kita perbuat. Dia Yang Maha Bersih dan Maha Suci harus didekatkan dengan cara bersih dan suci pula. Setiap sesuatu juga ada prosesnya, mustahil bagi kita untuk bisa langsung sempurna Taubatnya, memerlukan proses bahkan ada sebuah riwayat seorang melakukan 99x dosa yang sama sampai dia benar-benar Taubat (Taubat Nasuha).

Siapapun kita, suatu saat pasti akan diberi cobaan oleh Allah, bisa cobaan dalam bentuk kesenangan, bisa dalam bentuk derita, bisa dalam bentuk pujian maupun dalam bentuk caci maki dan tentu saja semua pemberian Allah itu sebagai bagian dari wujud cinta Dia kepada kita.

Manusia, fitrahnya adalah makhluk yang tidak bisa menghindari yang namanya salah dan dosa, tidak terkecuali saya dan anda juga. Terbaik dari manusia adalah menyadari kesalahannya dan segera bertaubat. Kita juga paling mudah melihat kotoran yang menempel di wajah sudara kita dan sangat sulit melihat kotoran yang melewakt di wajah sendiri. Menerima kritikan dari orang lain adalah cara agar kita bisa melihat kotoran diwajah sendiri dan sering2 bercermin agar kita bisa melihat kekurangan dan kealfaan kita.

Kepada saudaraku yang berbeda paham dengan saya (membenci tarekat/tasawuf), anda belajar Al-Qur’an/Hadist dengan tujuan mulia yaitu ingin mendapat ridho dari Allah, demikian juga saya belajar itu semua untuk mendapat Ridho-Nya. Karena tujuan yang sama hendaknya satu sama lain memberikan semangat agar tetap bergairah dalam menggapai rihdo-Nya.

Kebencian kepada suatu kaum atau kepada seseorang justru akan membuat hati semakin kotor dan kalau itu dibiarkan dalam jangka waktu lama bisa mendatangkan penyakit pada fisik kita. Penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin.

Akhir tulisan singkat ini, saya mengajak kita semua untuk belajar saling memaafkan, betapapun sulitnya, maafkanlah siapapun yang pernah menyakiti anda karena kalau kita menyadari segala sesuatu hanya bisa terjadi atas kuasa Allah tidak terkecuali kesalahan yang dia buat, dari titik itulah kita belajar untuk memaafkan. Tuhan Sang Maha Pengampun telah mengutus kekasih-Nya yaitu junjungan kita Rasulullah SAW sebagai seorang pribadi yang pemaaf walau terhadap musuh sekalipun dan itu menjadi teladan kita semua, belajar dari sifat pemaaf Rasulullah SAW agar kita benar-benar bisa dekat dengan Beliau dan selalu bersama Beliau.

Salam Untuk semua…

About admin

Check Also

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (5)

Tablig Tablig (al-tablîgh)[1] adalah sifat ketiga yang dimiliki para anbiya. Jika Anda ingin memperluas pengertian ...