Monday , October 22 2018
Home / Berita / Maraknya Perampokan Bersenjata Toko Emas, Ulah Penjahat atau Teroris?

Maraknya Perampokan Bersenjata Toko Emas, Ulah Penjahat atau Teroris?

Maraknya Perampokan Bersenjata Toko Emas, Ulah Penjahat atau Teroris Setelah peristiwa penembakan terhadap terhadap empat anggota Polri di kawasan Tanggerang Selatan pada akhir Juli sampai dengan Agustus 2013, Polri hingga kini belum berhasil menangkap dua pengeksekusi yang identitasnya telah diketahui. Akan tetapi Densus telah berhasil menangkap delapan orang support agent teroris dalam kasus tersebut.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Ronny Franky Sompie menjelaskan di Mabes Polri, pada Sabtu (24/8/2013), ke delapan orang tersebut adalah pengikut Abu Roban. Dikatakannya, “kelompok Abu Roban ini kami cari, karena kemungkinan dari merekalah sindikasi perbuatan penembakan ini bisa terjadi karena sudah jelas kelompok ini merupakan kelompok Abu Roban. Maka ada beberapa penangkapan yang kami lakukan di Yogyakarta, Kebumen, Tangerang, Bone, NTB. Para tersangka ini sedang kita kembangkan keterlibatannya,”katanya.

Dijelaskan juga oleh Ronny bahwa beberapa orang yang ditangkap Densus 88 Antiteror ternyata pernah melakukan aksi teror sebelumnya. Selain terlibat aksi penembakan, kelompok teroris Abu Roban diketahui juga terlibat perampokan di Medan dan perampokan yang baru-baru ini terjadi di Jakarta Timur. “Apakah ini terkait dengan pendanaan teroris, yang jelas ada pembuktian jika kegiatan mereka ada kaitannya untuk pencarian dana. Untuk menyiapkan kegiatan-kegiatan teror berikutnya,” katanya.

Kegigihan dan semangat Densus dalam menumpas teroris di Indonesia harus dibayar mahal, karena sasaran teror yang awalnya ditujukan terhadap AS dan sekutunya Australia sebagai target utama, kemudian bergeser kearah anggota Polri. Australia pintar, banyak membantu Polri  Dimana alat-alat cyber crime Polri termasuk alat pelacak yang di miliki Densus 88 Polri memang didatangkan dari Australia. Dengan bantuan alat-alat canggih, Densus menjadi bertambah sukses memberantas teroris di tanah air. Kapolri Jenderal Polisi Sutarman mengatakan kerjasama tersebut kini masih dilakukan, “Kerjasama yang dilakukan diantaranya Transnasional Crime, Human Trafiking, pelatihan cyber crime dan sebagainya,” katanya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2013).

Dalam teori terorisme, komposisi personilnya terdiri dari pimpinan,  kader aktif, pendukung aktif, pendukung pasif dan simpatisan. Teroris tidak hanya cukup memiliki semangat untuk meneror, tetapi juga membutuhkan dana operasional. Dana tersebut diantaranya dipergunakan untuk pembelian atau penyewaan senjata api, biaya sewa safe house, biaya pembelian bahan pembuat bom rakitan dan biaya hidup. Nah, pada era penyerangan bom Bali, diketahui ada bantuan dana dari kelompok Al-Qaeda. Kemudian diketahui juga ada dana yang dikumpulkan oleh beberapa simpatisan Ansharud Tauhid. Selain itu dana operasi lain yang mereka yakini adalah dana “fa’i”, yaitu uang yang didapat dari hasil perampokan, lebih diutamakan merampok toko emas atau bank.

Dari beberapa perampokan terkenal dengan menggunakan senjata api terjadi di Medan, kemudian juga di daerah Bogor. Perampokan di Medan terjadi di Toko Emas Suranta, Jalan Pertempuran, Medan, Jumat siang (13/9/2013). Enam pelaku beraksi dengan menembakan senjatanya ke arah etalase toko yang membuat para pegawai merunduk. Aksi yang dilakukan selama 3 menit 15 detik tersebut berhasil membawa kabur lima kilogram emas.

Pada hari, Minggu (15/9/2013), kembali terjadi perampokan toko emas, di Jalan Rakyat, Kelurahan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Medan. Empat orang pelaku dengan membawa senjata api merampok Toko Emas Singapura milik Khairuddin (28). Pada saat perampokan terjadi, salah seorang pelaku sempat menembakkan senjatanya ke udara sehingga membuat Sri Devi (25), saksi sekaligus istri pemilik toko emas, yang sedang berada di toko, melarikan diri. Pelaku kemudian menggasak seluruh emas yang terdapat di etalase toko itu. Jumlah emas yang dibawa kabur pelaku diperkirakan mencapai dua kilogram dengan total kerugian sekitar Rp 700 juta.

Rangkaian perampokan ketiga terjadi pada Selasa (17/9/2013) pagi. Sebanyak tiga toko emas di Pasar Baru, Jalan Pasar VII, Kecamatan Percut Sei Tuan, Medan, digasak oleh enam orang pelaku. Tiga toko emas yang dirampok yaitu Toko Emas Semi J milik Junaedi (39), Toko Emas Permata Indah milik Ali Basir (37), dan Toko Emas P Tarigan milik Munawari (29). Akibat perampokan tersebut, Toko Emas Semi J dan Toko Emas Permata Indah masing-masing kehilangan 1,5 kilogram emas dengan total kerugian  Rp 600 juta. Sedangkan untuk Toko Emas P Tarigan sampai saat ini masih belum diketahui jumlah kerugiannya.

Perampokan yang terjadi di kawasan kota Bogor dalam 6 bulan terakhir tercatat tiga kasus. Terjadi pada Sabtu lalu (23/11/2013), terhadap toko emas Asih Jaya, Pasar Pocong, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Pelaku berjumlah 8 orang dengan emnggunakan empat sepeda motor, berhasil membawa lari 1,3 kg emas dan uang tunai Rp 41 juta. Menurut Kasatserse Polres Bogor AK Didik Purwanto, plaku termasuk nekat karena merampok disiang hari dan melepaskan tembakan ditengah keramaian warga.

Pada bulan Oktober terjadi perampokan toko emas Cahaya Permata Bunda, Jalan Cilebut Kec. Sukaraja, Kabupaten Bogor. Dalam kondisi hujan, para pelaku gagal membawa lari emas. Pemilik toko atas nama Syafizal ditembak dibagian leher hingga perlu dirawat di RS Polri.

Beberapa bulan sebelumnya, Pada bulan Juni 2013, Toko emas Asia di Pasar Gandoang Kec.Cileungsi Kabupaten Bogor dirampok oleh sekawanan orang bersenjata api. Mereka berhasil menggasak 2 kg emas. Sebelumnya pelaku melepaskan tembakan saat akan dikejar.

Nah, dalam enam bulan terakhir, tercatat terjadinya delapan kasus perampokan terhadap toko emas di daerah Medan dan Kabupaten Bogor. Apakah ini ini ulah penjahat biasa atau kegiatan fa’i kelompok teroris? Penulis lebih cenderung mengatakan bahwa ini adalah perampokan dengan latar belakang kelompok teroris. Khusus perampokan di Medan, tercatat ada salah seorang tokoh spesialisasi merampok Bank dan pemain narkoba, yaitu Fadli Sadama yang berhasil merarikan diri dari Lapas Tanjung Gusta pada tanggal 11 Juli 2013. Fadli dikenal sebagai tokoh narcoterrorism.

Oleh karena itu, harus diwaspadai kemungkinan tindak lanjut dari hasil pengumpulan dana operasional yang didapat kelompok teroris tersebut dengan hasil jarahan yang cukup besar. Kejadian perampokan biasanya hanya menjadi bahan pembicaraan selama dua minggu, setelah itu akan dilupakan. Nampaknya mereka sedang melakukan persiapan serangan terhadap obyek khusus. Dalam sebuah negara, target utama yang harus dijaga oleh aparat keamanan dengan ketat adalah pimpinan nasional. Mengapa? Gaungnya akan sangat besar apabila diserang. Mereka membutuhkan gaung tersebut, untuk menunjukkan bahwa mereka masih eksis. Ini hanyalah sebuah perkiraan yang belum tentu juga benar, tetapi apa salahnya untuk diwaspadai bukan? Begitu?

Oleh : Prayitno Ramelan,

Sumber: ramalanintelijen.net

About admin

Check Also

Mengurai Epistemologi Koruptor

Mantan Rektor Universitas Airlangga Surabaya, Fasichul Lisan, kini ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK terkait ...