Wednesday , July 17 2019
Home / Budaya / Filsafat / Mandalajati Niskala; Nusantara Induk Peradaban Dunia

Mandalajati Niskala; Nusantara Induk Peradaban Dunia

“Berartikulasi” tentang macam ragam filsafat sebaiknya kita membuat karya filsafat agar menjadi seorang filsuf, yang bertanggung jawab menghadirkan kebenaran ilmu Sang Maha Pencipta, sebagaimana yang dilakukan oleh filsuf Sunda Mandalajati Niskala, yang sebagian hipotesisnya sbb:

1. Menurut para ahli di seluruh dunia bahwa “gravitasi bumi efek dari rotasi bumi”.

Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala salah besar, bahwa gravitasi bumi tidak ada kaitannya dengan rotasi bumi. Sekalipun bumi berhenti berputar gravitasi bumi tetap ada.

2. Bahkan kesalahan lainnya yaitu semua ahli sepakat bahwa panas di bagian inti matahari mencapai 15 juta derajat celcius.

Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala panas inti matahari “sedingin air pegunungan”. Beliau menambahkan: “Kalau tidak percaya silakan buktikan sendiri”.

3. Filsuf Sunda Mandalajati Niskala sangat logis menjelaskan kepada banyak pihak bahwa matahari adalah gumpalan bola air raksasa yang berada pada ruang hampa bertekanan minus, sehingga di bagian seluruh sisi bola air raksasa tersebut ikatan H2O putus menjadi gas hidrogen dan gas oksigen, yang serta merta akan terbakar di saat terjadi pemutusan ikatan tersebut. Suhu kulit Matahari menjadi sangat panas karena oksigen dan hidrogen terbakar, tapi suhu inti matahari tetap sedingin air pegunungan.

4. Filsuf Sunda Mandalajati Niskala menegaskan: “Catat ya, semua bintang terbuat dari air dan suhu panas inti bintang sedingin air pegunungan. Titik”.

5. Menurut para ahli di seluruh dunia bahwa gravitasi ditimbulkan oleh adanya massa pada suatu Zat.

Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala: “Gaya gravitasi bukan ditimbulkan oleh adanya massa pada sebuah zat atau benda”. Beliau menambahkan: “Silahkan pada mikir dan jangan terlalu doyan mengkonsumsi buku-buku Barat”.

6. Filsuf Sunda Mandalajati Niskala membuat pertanyaan di bawah ini cukup menantang bagi orang-orang yang mau berpikir:

  • a) Bagaimana terjadinya gaya gravitasi di planet bumi?
  • b) Bagaimana menghilangkan gaya gravitasi di planet bumi?
  • c) Bagaimana membuat gaya gravitasi di planet lain yang tidak memiliki gaya gravitasi?

7. Menurut para ahli di seluruh dunia bahwa matahari memiliki gaya gravitasi yang sangat besar.

Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala, matahari tidak memiliki gaya gravitasi tapi memiliki gaya anti gravitasi.

8. Pernyataan yang paling menarik dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala yaitu:

“Semua orang termasuk para ahli di seluruh dunia tidak ada yang tahu jumlah bintang dan jumlah galaksi di jagat raya, maka aku beri tahu, sbb:

  1. a) Jumlah bintang di alam semesta adalah 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000
  2. b) Jumlah galaksi di alam semesta adalah 80.000.000.000.000
  3. c) Jumlah bintang di setiap galaksi adalah sekitar 13.000.000.000.000

9. Dan lain-lain hipotesis dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala yang mencengangkan dunia.

Mandalajati Niskala seorang Filsuf Sunda abad 21 menjelaskan dalam buku “Sang Pembaharu Dunia di Abad 21” mengenai hakekat diri.

Salah seorang peneliti Sunda yang sedang menulis buku “Sang Pembaharu Dunia di Abad 21”, bertanya kepada Mandalajati Niskala: “Apa yang anda ketahui satu saja rahasia penting mengenai apa diri itu? Dari mana dan mau kemana?”

Jawaban Mandalajati Niskala: “Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa pertanyaan ini satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dibanding dari ratusan pertanyaan yang anda lontarkan kepada saya selama anda menyusun buku ini”.

Memang pertanyaan ini sepertinya bukan pertanyaan yang istimewa karena kata “diri” bukan kata asing dan sering diucapkan, terlebih kita beranggapan diri dimiliki oleh setiap manusia, sehingga mudah dijawab terutama oleh para ahli.

Kesimpulan para ahli yang berstandar akademis mengatakan bahwa diri adalah unsur dalam dari tubuh manusia.

Pernyataan semacam ini hingga abad 21 tidak berubah dan tak ada yang sanggup menyangkalnya. Para akademis dunia barat maupun dunia timur banyak mengeluarkan teori dan argumentasi bahwa diri adalah unsur dalam dari tubuh manusia. Argumentasi dan teori mereka bertebaran dalam ribuan buku tebal. Kesimpulan akademis telah melahirkan argumentasi rasional yaitu argumentasi yang muncul berdasarkan “nilai rasio” atau nilai rata-rata pemahaman dunia pendidikan.

Saya yakin Andapun sama punya jawaban rasional seperti di atas. Tentu anda akan kaget jika mendengar jawaban saya yang kebalikan dari teori mereka.

Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya ingin mengajak siapapun untuk menjadi cerdas dan itu dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.

Coba kita mulai belajar melacak dengan memunculkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kata diri, jiwa dan badan, agar kita dapat memahami apa diri itu sebenarnya. Beberapa contoh pertanyaan saya susun seperti hal dibawah ini:

  1. Apa bedanya antara membersihkan badan, membersihkan jiwa dan membersihkan diri?
  2. Apa bedanya kekuatan badan, kekuatan jiwa dan kekuatan diri?
  3. Kenapa ada istilah kesadaran jiwa dan kesadaran diri sedangkan istilah kesadaran badan tidak ada?
  4. Kenapa ada istilah seorang diri tetapi tidak ada istilah seorang badan dan seorang jiwa?
  5. Kenapa ada istilah diri pribadi sedangkan istilah badan pribadi tidak ada, demikian pula istilah jiwa pribadi menjadi rancu?
  6. Kenapa ada istilah ketetapan diri dan ketetapan jiwa tetapi tidak ada istilah ketetapan badan?
  7. Kenapa ada istilah berat badan tetapi tidak ada istilah berat jiwa dan berat diri?
  8. Kenapa ada istilah bela diri sedangkan istilah bela jiwa dan bela badan tidak ada?
  9. Kenapa ada istilah tahu diri tetapi tidak ada istilah tahu badan dan tahu jiwa?
  10. Kenapa ada istilah jati diri sedangkan istilah jati badan dan jati jiwa tidak ada?
  11. Apa bedanya antara kata ber-badan, ber-jiwa dan ber-diri?
  12. Kenapa ada istilah ber-diri dengan sendirinya tetapi tidak ada istilah ber-badan dengan sebadannya dan berjiwa dengan sejiwanya?
  13. Kenapa ada istilah anggota badan tetapi tidak ada istilah anggota jiwa dan anggota diri?

Beribu pertanyaan seperti di atas bisa anda munculkan kemudian anda renungkan. Saya jamin anda akan menjadi faham dan cerdas dengan sendirinya, apalagi jika anda hubungkan dengan kata yang lainnya seperti; sukma, raga, hati, perasaan, dsb.

Kembali kepada pemahaman Ahli Filsafat, Ahli Budaya, Ahli Spiritual, Ahli Agama, Para Ulama, Para Kyai dan masyarakat umum bahwa diri adalah unsur dalam dari tubuh manusia. Munculnya pemahaman para ahli seperti ini dapat saya maklumi karena mereka semua adalah kaum akademis yang menggunakan standar kebenaran akademis.

Saya berani mengetasnamakan Sunda, bahwa pemikiran di atas adalah salah.

Dalam Filsafat Sunda yang saya gali, saya temukan kesimpulan yang berbeda dengan pemahaman umum dalam dunia ilmu pengetahuan.

Setelah saya konfirmasi dengan cara tenggelam dalam “alam diri”, menemukan kesimpulan bahwa diri adalah unsur luar dari tubuh manusia. Pendapat saya yang bertentangan 180 derajat ini, tentu menjadi sebuah resiko yang sangat berat karena harus bertubrukan dengan pendapat para ahli di tataran akademik.

Saya katakan dengan sadar “Demi Allah. Demi Allah. Demi Allah” saya bersaksi bahwa diri adalah unsur luar dari tubuh manusia yang masuk menyeruak, kemudian bersemayam di alam bawah sadar. Diri adalah energi gaib yang tidak bisa terpisahkan dengan Sang Maha Tunggal. Diri menyeruak ke tiap tubuh manusia untuk dikenali siapa Dia sebenarnya. Ketahuilah, jika diri telah dikenali, maka diri itu diserahterimakan kepada kita dan hilanglah apa yang dinamakan alam bawah sadar pada setiap diri manusia.

Perbedaan pandangan antara saya dengan seluruh para ahli di permukaan bumi tentu akan dipandang sangat ekstrim. Ini sangat beresiko, karena akan menghancurkan teori ilmu pengetahuan mengenai keberadaan diri.

Aneh sekali bahwa yang lebih memahami mengenai diri adalah Dajjal, namun sengaja diselewengkan oleh Dajjal agar manusia sesat, kemudian Dajjal menebarkan kesesatan tersebut pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ‘di ufuk barat’ maupun ‘di ufuk timur’.

Sebenarnya sampai saat ini Dajjal sangat memahami bahwa diri adalah unsur luar yang masuk menyeruak pada seluruh tubuh manusia. Diri merupakan energi kemanunggalan dari Tuhan Sang Maha Tunggal. Oleh karena pemahaman tersebut, Dajjal menjadi sangat mudah mengakses ilmu pengetahuan. Salah satu ilmu yang dia pahami secara fasih adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Ilmu ini dibongkar dan dipraktekan hingga dia menjadi sakti. Dengan kesaktiannya itu dia menjadi manusia “abadi” dan mampu melakukan apapun yang dia kehendaki dari dulu hingga kini. Dia merancang tafsir-tafsir ilmu dan menyusupkannya pada dunia pendidikan agar manusia tersesat. Dia tidak menginginkan manusia mamahami rahasia ini. Dajjal dengan sangat hebatnya menyusun berbagai cerita kebohongan yang disusupkan pada dunia ilmu pengetahuan, bahwa cerita Dajjal yang paling hebat agar dapat bersembunyi dengan tenang, yaitu menghembuskan isu bahwa Dajjal akan muncul di akhir zaman, padahal dia telah eksis mencengkram dan merusak manusia beratus-ratus tahun lamanya hingga kini.

Ketahuilah bahwa Dajjal bukan akan datang tapi Dajjal akan berakhir, karena manusia saat ini ke depan akan banyak yang memahami bahwa diri merupakan unsur luar dari tubuh manusia yang datang merupakan sibghatullah dari Tuhan Sang Maha Tunggal. Sang Maha Tunggal keberadaanNya lebih dekat dari pada urat leher siapapun, karena Sang Maha Tunggal meliputi seluruh jagat raya dan kita semua berada tenggelam “berenang-renang” dalam liputanNya.

Inilah Filsafat Sunda yang sangat menakjubkan.

Perlu saya sampaikan agar kita memahami bahwa Sunda tidak bertubrukan dengan Islam, saya temukan beberapa Firman Alloh Rabbul ’alamiin dalam al-Qur’an yang bisa dijadikan pijakan untuk bertafakkur, mudah-mudahan semua menjadi faham bahwa “Diri” adalah “Unsur Ketuhanan” yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk dikenali dan diserah-terimakan dari Sang Maha Tunggal sebagai Jati Diri, sbb:

  1. “Bila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, katakan Aku lebih dekat” (al-Baqarah [2] : 186)
  2. “Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf [50] : 16)
  3. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada nafasmu sendiri” (Fushshilat [41] : 53)
  4. “Dzat Allah meliputi segala sesuatu” (Fushshilat [41] : 54)
  5. “Dia (Allah) bersamamu dimanapun kamu berada” (al-Hadid [57] : 4)
  6. “Kami telah mengutus seorang Utusan dalam nafasmu” (at-Taubah [9] : 128)
  7. “Di dalam nafasmu apakah engkau tidak memperhatikan” (Adzdzaariyaat [51] : 21)
  8. “Tuhan menempatkan Diri antara manusia dengan qalbuNya (al-Anfaal [8] : 24)
  9. “Aku menciptakan manusia dengan cara yang sempurna” (at-Tiin [95] : 4)

Jawaban mengenai apa diri itu, dari mana dan mau kemana (sangkan paraning dumadi), akan saya jelaskan secara rinci dan tuntas pada sebuah buku.

Di masa kini dan ke depan Sunda akan melahirkan Para Filsuf Handal yang siap menghancurkan kesalahan cara berpikir, manipulasi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh para filsuf dunia.

Source: Sunda Saputra

 

About admin

Check Also

Mengapa Manusia Cenderung Kepada Duniawi?

Sebagaimana di alam natural, gerak menurun (nuzuli) lebih mudah daripada gerak menaik (shu’udi). Hukum ini ...