Monday , March 25 2019
Home / Ensiklopedia / Ekonomi / Mampukah Kapitalisme Modern Bertahan?

Mampukah Kapitalisme Modern Bertahan?

Dalam sejarahnya, segala bentuk kapitalisme sifatnya transisional.

Saya kerap mendapat pertanyaan tentang apakah krisis keuangan  global menandai awal dari runtuhnya kapitalisme modern. Dalam pertanyaan  itu, ada anggapan bahwa sistem baru telah siap menggantikan kapitalisme.  Faktanya, setidaknya hingga hari ini, alternatif terkuat bagi paradigma  Anglo-Amerika mutakhir adalah kapitalisme dalam bentuk-bentuknya yang  lain.

Kapitalisme yang dipraktikkan di Eropa daratan – gabungan antara jaminan  sosial dan kesehatan yang layak dengan jam kerja manusiawi, masa liburan  yang panjang, pensiun dini serta distribusi pendapatan yang setara,  sepertinya telah cukup – kecuali bahwa sistem itu tak berkelanjutan. 

Kapitalisme China yang cenderung Darwinian, dengan kompetisi sengit di  antara para eksportir, jaring pengaman sosial yang lemah, dan intervensi  pemerintah di segala bidang, digadang-gadang sebagai penerus kapitalisme  ala Barat. Alasan utamanya adalah China punya tingkat pertumbuhan yang  stabil serta wilayah geografis luas. Selain itu, sistem ekonomi di China  terus berkembang.

Namun demikian, belum terlampau jelas bagaimana struktur keuangan, ekonomi, dan politik China akan bertransformasi. Tak ada indikasi gamblang pula atas bagaimana China akan menjadi model kapitalisme gaya  baru. Negeri itu juga masih terhambat dengan kerapuhan sosial, ekonomi  serta keuangan, sebagaimana layaknya negeri berpendapatan rendah yang  kemudian berkembang pesat.

Mungkin, poin utamanya adalah dalam sejarahnya segala bentuk kapitalisme  sifatnya transisional. Kapitalisme mutakhir telah mengambil peranannya  yang kuat sejak awal dimulainya Revolusi Industri dua abad lampau. 

Miliaran orang biasa bisa keluar dari kemiskinan. Marxisme dan sosialisme yang opresif di sisi lain punya catatan buruk. Tapi, seiring dengan masuknya industrialisasi dan kemajuan teknologi ke Asia (dan kini  memasuki Afrika), suatu hari nanti perjuangan mencari penghidupan bukan  lagi masalah utama. Lantas, borok-borok kapitalisme mutakhir kian lama  akan kian membesar.

Pertama, bahkan negara-negara utama penganjur kapitalisme belum mampu  mematok harga secara efektif bagi barang-barang milik publik seperti air  dan udara bersih. Kegagalan dalam membuat kesepakatan baru menyangkut  perubahan iklim global adalah salah satu gejalanya. 

Kedua, sejalan dengan meningkatnya kekayaan, kapitalisme berhasil menciptakan ketimpangan yang tajam. Celah yang kini semakin lebar itu  tak lain akibat sampingan dari inovasi dan kewirausahaan. Masyarakat tak  mengeluhkan sukses yang diraih mendiang Steve Job: sumbangannya pada  peradaban memang nyata. Namun, itu tak selalu menjadi masalah utama:  kekayaan memungkinkan banyak kelompok dan pribadi untuk membeli kekuatan  dan pengaruh politik yang diperlukan guna merengkuh lebih banyak  kekayaan. Hanya beberapa negara – seperti Swedia – yang mampu memutus  lingkaran setan ini tanpa mengorbankan tingkat pertumbuhan.

Masalah ketiga menyangkut pengadaan dan penyaluran layanan kesehatan.  Pasar yang gagal memenuhi beberapa kebutuhan dasar yang diperlukan dalam  menentukan mekanisme harga demi efisiensi produksi ekonomi bermula dari  sulitnya konsumen mengakses layanan yang berkualitas baik. 

Problem itu tentunya akan semakin memburuk: ongkos layanan kesehatan secara proporsional akan meningkat seiring dengan bertambahnya golongan masyarakat kaya dan menua. Mungkin, persentasenya melebihi 30% dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto) dalam beberapa dekade mendatang. Dalam bidang kesehatan, lebih dari pasar lain, banyak negara tengah berjuang di tengah dilema moral tentang bagaimana menjaga insentif untuk terus berproduksi dan mengkonsumsi secara efisien tanpa menambah kesenjangan dalam akses layanan kesehatan. 

Ironisnya, masyarakat dalam kapitalisme modern berpartisipasi dalam kampanye publik yang mendorong banyak individu untuk lebih memerhatikan kesehatan. Sementara, di ekstrim lain, konsumen dijerembabkan ke dalam sebuah lingkungan yang penuh makanan tak sehat. Menurut Pusat Kendali Penyakit di Amerika Serikat, 34% dari populasi AS menderita kegemukan. Sungguh jelas. Pertumbuhan ekonomi yang diukur secara tradisional – yang memberi garis bawah pada konsumsi – tak bisa dijadikan patokan. 

Keempat, kapitalisme secara luas meremehkan kesejahteraan generasi mendatang. Dari banyak periode sejak Revolusi Industri, ini bukan masalah. Ini adalah berkah dari kemajuan teknologi, yang mengungguli kebijakan-kebijakan yang tak bervisi ke depan. Secara umum, masing-masing generasi merasa lebih baik dari generasi sebelumnya. Namun, dengan jumlah penduduk dunia yang menyentuh tujuh miliar serta keterbatasan sumber daya, tak ada jaminan bahwa kurva ini akan bertahan. 

Krisis keuangan tentunya jadi masalah kelima. Di dunia keuangan, inovasi teknologi yang tak kenal henti tak kunjung mengurangi risiko. Bahkan, hal itu agaknya mempertebal risiko.

 Pada prinsipnya, tak ada satu pun masalah kapitalisme yang tak mampu diatasi. Para ahli ekonomi telah menawarkan banyak solusi yang berdasarkan pasar. Harga yang tinggi yang ditetapkan atas karbon dunia akan mendorong banyak kelompok dan pribadi untuk menginternalisasi ongkos dari berbagai kegiatan mereka yang memicu polusi. Sistem perpajakan dapat dibangun  untuk memungkinkan redistribusi pendapatan tanpa menjadikannya rawan penyimpangan. Caranya, dengan meminimalisasi belanja pajak tak-transparan dan terus menjaga marginal rate tetap rendah. 

Biaya kesehatan yang rasional, termasuk ongkos menunggu, memungkinkan keseimbangan antara kesetaraan dan efisiensi. Sistem keuangan dapat diregulasi dengan lebih baik dengan memusatkan perhatian pada akumulasi utang yang berlebihan.

Apakah kapitalisme akan menjadi korban dari keberhasilannya sendiri dalam memungkinkan kekayaan yang berlimpah-ruah? Sekarang, kemungkinan itu masih kecil. Namun, seiring dengan meningkatnya tingkat polusi, instabilitas finansial, masalah kesehatan, kesenjangan, serta sistem politik yang lumpuh, masa depan kapitalisme di masa mendatang mungkin akan sesuram sekarang.



Kenneth Rogoff adalah Profesor Economi dan Kebijakan Publik di Harvard  University. Sebelumya, ia menjabat Kepala Ekonom IMF (Dana Moneter Internasional).

Penulis : Kenneth Rogoff adalah Profesor Economi dan Kebijakan Publik di Harvard University

Diterjemahkan dari laman www.project-syndicate.org

Sumber :www.vivanews.com

About admin

Check Also

Jokowi Menggiring Indonesia Masuk Skema Kapitalisme Global WB-IMF

Presiden Republik Indonesia yang ke-7, Jokowi kembali unjuk gigi dalam kemahirannya beretorika. Retorikanya berbunyi seperti ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *