Tuesday , September 25 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Makrifat Suryomentaraman
Pengikut Ki Ageng Suryomentaram di Dusun Balong Yyc (SindoNews)

Makrifat Suryomentaraman

“RUMAOS LERES punika, yen dipun ucapaken utawi dipun serat, temtu kirang candra langkung warna. Awit saking gaibipun, sampun ingkang pacakan manungsa, sanajan malaikat Mukarabin, boten sumerep. … tiyang ingkang wonten ing sak-intiping naraka TANSAH RUMAOS LERES.” (Buku ‘LANGGAR’)

Kejernihan Ki Ageng Suryomentaram dan Rabindranath Tagore

Kejernihan Ki Ageng Suryomentaram dan Rabindranath Tagore dalam sebuah catatan pendek

Sebagaimana pernyataan Tagore dalam My Boyhood Days, bahwa “makanan memperoleh cita rasanya bukan dari bumbu-bumbu melainkan dari tangan-tangan yang memasaknya.” Demikian pula berbagai resep kearifan dari Ki Ageng Suryomentaram menurut saya. Ya, betapapun nyaris tanpa bumbu sastrawi dan jauh dari terminologi ilmiah, namun Kawruh Begja yang beliau ajarkan tidak kalah adiluhungnya dengan yang didedahkan oleh para filsuf dan pujangga termasyhur di dunia, setidaknya menurut saya.

Bagi para sahabat yang sudah mempelajari ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram, melalui diktat yang telah dirangkum oleh para sahabat di Taman Mpu Sendok 12, paling tidak, berikut ini saya kutipkan sebuah aforisma dari Rabindranath Tagore yang saya nukil dari Gitanjali beliau yang legendaris itu. Mudah-mudahan aforisma ini semakin meningkatkan sense of appreciate kita terhadap kekayaan khazanah lokal kita. Amin.

Tinggalkan lagu dan nyanyian ini, juga pembicaraan mengenai penyucian diri (tasbih). Kepada siapa kau tujukan pemujaan dalam sudut sepi dan gelap di kuil ini dengan semua pintu tertutup? Buka matamu dan lihat Tuhan-mu tidak ada di hadapanmu.

Dia ada di sana. Di tempat para peladang yang membajak tanah yang keras, dan di tempat para pembuat jalan setapak yang memecah batu-batu. Dia bersama mereka dalam panas dan hujan, dengan pakain yang berlumur debu. Lepaskan jubah sucimu sebagaimana mereka yang didekati-Nya, dan bergumullah dalam tanah berdebu!


Pembebasan? 


Di mana arti kata pembebasan ini bisa ditemukan? Tuan kita sendiri dengan penuh keriangan menalikan pada diri-Nya ikatan penciptaan; Dia terikat dengan kita semua selamanya.


Keluar dari meditasimu dan singkirkan bunga-bunga dan dupamu! Apa ruginya jika pakaianmu menjadi compang-camping dan kotor? Temui Dia dan berdiri di sebelah-Nya dalam kerja keras dan dalam keringat di keningmu.

Silakan sandingkan dengan frasa yang ditulis oleh Ki Ageng, yang mendedahkan hakikat dengan bahasa “rakyat jelata” berikut ini:

Maka apabila rasa sial dianggap sebagai sifat, anggapan itu benar. Walaupun penjabarannya masih bisa keliru, sehingga orang mencari Yang Kuasa dan melakukan hal yang aneh-aneh yang tak enak rasanya. Kekeliruan itu disebabkan tidak jelasnya rasa berkuasa. Padahal kuasa adalah rasa tidak butuh.

Jadi bila kita mengerti bahwa sifat manusia itu sial karena butuh, lalu tidak mencari kuasa. Dengan sendirinya kita lalu berkuasa karena tidak butuh kuasa. Kemudian kita dapat menertawai kesialan kita sendiri. Demikian itu menyembah yang benar.

Dengan sedikit polesan verbal, frasa Ki Ageng saya tulis:

Maka, apabila inferiority yang melahirkan rasa tidak beruntung dianggap sebagai sifat, anggapan itu bisa dibenarkan. Walaupun penjabarannya masih bisa salah, sehingga manusia dalam mencari Yang Kuasa tidak perlu melakukan hal yang aneh-aneh, yang tidak membawa ketenteraman dan membahagiakan. Kesalahkaprahan itu disebabkan tidak jelasnya—apa yang disebut oleh Nietsche sebagai kehendak bebas (free will) atau dalam bahasa Ki Ageng—rasa berkuasa. Padahal kuasa adalah rasa tidak butuh terhadap apapun dan siapapun.

Jadi, bila kita telah memahami bahwa subyektivitas manusia yang berkecenderungan merasa sial (tidak beruntung) itu terjadi karena rasa butuhnya, maka kitapun tidak lagi perlu mencari kuasa. Dengan sendirinya, kita otomatis menjadi berkuasa karena tidak lagi membutuhkan kuasa yang berada di luar diri kita. Kemudian, kita pun dengan mudah menertawai kesialan (ketidak-beruntungan) kita sendiri. Demikian itulah bentuk penyembahan yang benar.

Dengan gaya bahasanya yang khas, Ki Ageng Suryomentaram menutup pembahasan Menyembah Yang Kuasa dengan kalimat seperti ini:

Rasa kuasa ialah rasa enak, maka wejangan tersebut membikin orang merasa enak. Apabila orang menanggapi wejangan dengan tepat, ia merasa berkuasa, enak, yakni hasil wejangan yang semestinya.

Salam…

Pengulas : Muhaji Fikriono

ilmu-bahagia-ki-suryomentaram

Membumikan Makrifat

Melihat Jawa dari berbagai sisi memang unik dan menggelitik. Namun dibalik keunikannya yang menggelitik tersebut terbentang berbagai hasanah yang akrab dengan sendi-sendi kemanusiaan. Dimana garis-garis humanis masih bersanding erat dengan masyarakatnya.

Jika dirunut, humanisme Jawa ternyata tidak lepas dari daya kreatif serta kegeniusan para leluhurnya. Semisal Sunan Kalijaga, yang mempunyai kemasan tersendiri dalam rangka menyampaikan ajarannya.

Tidak jauh geniusnya dengan Ki Ageng Suryomentaram, putra ke-55 dari 79 keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Kegeniusan beliau tercermin dari pengejewantahannya tentang jiwa. Jiwa yang dalam literatur tasawuf dan psikologi umum terlihat begitu rumit serta jlimet, oleh Ki Ageng disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua makhluk untuk beraktivitas.

Kecerdasan beliau akan lebih nampak jika disandingkan dengan Mulla Shadra, yang mendefinisikan jiwa sebagai subbtansi yang zatnya non materi tetapi sangat terikat dengan materi dalam aktivitasnya. Begitu juga dengan pengklarifikasian jiwa.

Jika Mulla Shadra dan Ibnu Sina menyebut gradasi jiwa dengan jiwa tumbuhan, jiwa hewan baru jiwa manusia, Ki Ageng menyederhanakannya dengan rasa dangkal, rasa dalam serta rasa sangat dalam.

Ketiga level rasa diatas menurut Ki Ageng dapat dipelajari lewat tiga perangkat inheren dalam diri setiap manusia. Pertama adalah panca indera. Kedua melalui rasa hati, yakni rasa yang dapat merasa aku, merasa senang, merasa ada dan sebagainya. Sedang yang ketiga dapat dipelajari lewat pengertian atau pemahaman. Perangkat terakhir ini berfungsi untuk menentukan suatu hal yang berasal dari panca indera dan perasaan.

Oleh Ki Ageng, mempelajari rasa dalam diri sendiri atau pangawikan pribadi sama halnya dengan mempelajari manusia dengan kemanusiaan. Karena bagaimanapun yang mempelajari adalah bagian dari makhluk yang bernama manusia.

Maka jika berhasil mempelajari diri sendiri dengan tepat, secara otomatis juga berhasil mempelajari manusia pada umumnya. Dengan demikian, alangkah eloknya jika pembelajaran pangawikan pribadi dipelajari dari sekarang, disini serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.

Gradasi rasa

Keberadaan kondisi yang bercorak hitam-putih terkadang memang masih membelenggu jiwa manusia. Hal itu disebabkan manusia kurang menyadari keberadaan alam, yang oleh Ki Ageng dibedakan menjadi empat gradasi.

Pertama dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini sebagai analogi untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai rangsangan dari luar dengan panca inderanya. Oleh Mulla Shadra, tingkatan pertama ini disebut dengan jiwa tumbuhan.

Seseorang dapat dikatakan memasuki gradasi kedua jika telah mampu mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari berbagai jenis rekaman di dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada tingkatan kedua ini mulai sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsangan-rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak tersebut tidak berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam menghadapi rangsangan sering melenceng.

Tingkatan kedua ini disebut sebagai benda dua dimensi atau jiwa binatang.

Ketiga, manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia sudah mampu memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami hukum-hukum alam. Namun tidak dengan hatinya.

Dengan demikian, manusia yang bertempat pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang oleh Ki Ageng diistilahkan dengan kramadangsa.

Kramadangsa merupakan abdi dari berbagai tipologi rekaman yang minta diistimewakan. Karena masing-masing rekaman yang tersimpan sejak lahir mulai saling menyikut agar dapat posisi tertinggi diantra rekaman yang lain.

Artinya, hidup pada ukuran ketiga adalah ketika hidup hanya  diabdikan pada semua rekaman dan berbagai kebijakan pikiran yang mengorganisasikanya dalam ruang rasa.

Keempat, manusia empat dimensi. Yakni manusia yang tidak hanya memiliki ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu.

Namun manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi ruang dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada hukum alam, manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari rasa. Rasa inilah yang oleh Ki Ageng disebut sebagai rasa yang dapat berkembang, yakni rasa yang tidak mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi tumbuhan.

Pertarungan dan pembebasan

Dalam buku ini juga terdapat bagan yang mengatakan bahwa, krenteg (gerak hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman ruang rasa memiliki dua potensi.

Pertama, manusia akan kembali pada level ketiga, yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam keadaan marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka kembalilah manusi pada posisi ketiga.

Namun sebaliknya, jika dalam keadaan marah yang terpikir adalah apa itu Marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya, maka manusia menuju ke tigkatan tertinggi.

Gradasi tertinggi ini adalah manusia yang telah terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran terakhir ini oleh Ki Ageng disebut sebagai instrument dalam diri, yang berfungsi khusus untuk memotret diri orang lain.

Keberhasilan seseorang dalam meraih puncak rasa merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan dengan realitas (masyarakat), manusia tanpa ciri akan selalu merasa damai sebab tidak harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu membumi.

Peresensi : Eko Sulistiyo ZA, adalah presiden pada Association of Saber Unfold Fak. Ushuluddin UIN Suka.

About admin

Check Also

Membaca Hidden Agenda Cina di Xinjiang dari Perspektif Geopolitik

Beberapa sumber menyebut, bahwa saat ini tengah terjadi ethnic cleansing terhadap suku Uigur di Xinjiang ...