Sunday , October 21 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Makkah, Craine Jatuh dan Keruntuhan Wahabi

Makkah, Craine Jatuh dan Keruntuhan Wahabi

Udara kota Makkah terasa sejuk ketika saya menginjakkan kaki disana awal Januari lalu, setelah seminggu berada di Madinah. Di Madinah saya memang menunggu momen 12 Rabiul Awal hari kelahiran Nabi yang kebetulan jatuh pada awal Januari. Di Madinah tidak ada perayaan Maulid Nabi seperti di Indonesia, memberikan makanan atau minuman kepada jamaah di mesjid Nabawi pada malam 12 Rabiul Awal bisa ditangkap polisi, dengan tuduhan merayakan Maulid secara terselubung. Begitu bahayanya perayaan Maulid di mata pemerintah Saudi sehingga harus diawasi secara ketat.

Air mata saya tidak bisa tertahan ketika malam itu sekitar jam 11 malam berziarah ke makam Nabi, diantara desak-desakan orang, saya mendengar suara “Assalamu’alaika ya Rasulullah!” kemudian di iringi dengan shawalat oleh orang-orang yang perawakannya mirip India, dilakukan secara bersama-sama dan shalawat Nabi pun bergema malam itu. Polisi yang berusaha menghalangi tidak mampu membendung gelora rindu ummat kepada Rasulnya. Malam itu saya merasakan Rasul benar-benar hadir di hati orang-orang yang sangat mencintai Beliau.

Perjalanan dengan bus dari madinah ke makkah, tidak ada yang istimewa, hanya hamparan padang pasir dan gunung batu. Malam itu jam 11 malam saya sampai di makkah dan langsung ke masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah Umrah. Kekhusyukan ibadah jadi terganggu dengan suara denduman alat berat yang bekerja 24 jam untuk merenovasi Mesjidil Haram, hanya waktu shalat fardhu saja mesin-mesin itu berhenti bekerja. Saat itu dalam hati saya berkata, mudah-mudahan nanti ketika musim haji semua alat-alat berat itu bisa dipindahkan, berhenti total selama minimal 1 bulan untuk menghormati tamu-tamu Allah yang datang melaksakana Haji.

Ketika dapat kabar tentang musibah jatuhnya crane di masjidil haram beberapa hari lalu, saya langsung teringat keinginan saya ketika berada disana 9 bulan lalu, crane dan alat-alat itu dipindahkan sebentar untuk menghormati orang-orang yang beribadah, kerja berhenti total. Pemerintah Saudi dalam hal ini lebih mementingkan aspek zahir dari bathin, lebih mementingkan bangunan megah dari pada nilai-nilai ibadah.

Makkah, tidak seperti yang tergambar dalam pikiran saya, kota suci penuh berkah dengan segala kemulyaannya. Dalam pikiran saya, makkah seperti yang digambarkan oleh Hamka tahun 1938 dalam “Dibawah Lindungan Ka’bah”, tapi sekarang ka’bah berada dibawah bangunan-bangunan besar.

Menarik untuk disimak catatan Gunawan Muhammad berikut tentang kondisi kota Mekkah terkini..

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”?  Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya  yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah.  Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian.  Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam.  Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu  hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy,  adalah kekuatan  di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu.  Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan.  Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan  Rasulullah —  dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca.  Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum. (Goenawanmohammad.com)

Harus diakui bahwa besar jasa penganut paham wahabi dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam, hal yang tidak bernilai harganya. Inilah yang menyebabkan orang semakin yakin bahwa wahabi sebenarnya adalah penyusupan yahudi langsung ke jantung Islam, merusak Islam dari jantungnya yaitu Mekkah dan Madinah.

Beberapa hari sebelum jatuh crane di makkah, di daerah Serambi Mekkah yaitu Aceh diadakan parade Aswaja menolak paham wahabi dan menyerukan kepada pemerintah Aceh untuk mengusir wahabi dari seluruh Aceh. Reaksi kemudian jadi lucu ketika di media sosial orang wahabi pura-pura tidak tahu apa wahabi bahkan balik pertanya apa itu wahabi? Ini memang pola dari zaman dulu, ketika berkuasa menindas ketika diserang menghilangkan jejak. Lebih lucu lagi orang membela wahabi seolah-olah membela Islam, menyerang wahabi seolah-olah menyerang Islam, kemudian dibentuk opini seolah-olah yang menyerang wahabi adalah musuh-musuh Islam, melihat ini saya koq jadi ingat iklan minuman di TV, “Jeruk koq minum Jeruk”.

Kalau kita sepakat wahabi itu resmi menguasai mekkah tahun 1924, maka saya sangat yakin aliran yang telah banyak menelan korban manusia itu akan berakhir setelah 100 tahun kemudian, atau kurang dari itu.

Ketika mengunjungi Mekkah, ada kerinduan saya kepada Jabal Qubais, pusat Tasawuf dan pusat kegiatan Suluk selama 1000 tahun lebih yang kemudian dihancurkan oleh orang Wahabi. Orang mengunjungi Mekkah bukan sekedar melaksanakan ibadah zahir tapi juga melaksanakan ibadah bathin, maka sempurnalah orang melaksanakan Haji, hal yang sudah tidak kita dapati lagi saat ini.

Saya sangat yakin setelah 100 tahun dari munculnya wahabi, Mekkah kembali lagi kepada tradisi sebelum wahabi muncul yang telah terpelihara sejak lama sebagai sumber api Islam yang sangat di takuti oleh orang-orang yang membenci Islam. Kita tidak mungkin mengembalikan bangunan-bangunan bersejarah yang sudah terlanjur di hancurkan dan di atasnya di dirikan hotel, tapi kita bisa mengembalikan spirit Islam dalam bentuk ibadah yang sudah ada sejak zaman Nabi.

Ketika berada di Mekkah, Pandangan saya seperti melihat Guru Sufi terakhir yang memimpin suluk di sana yang dengan berat hati meninggalkan kota tercinta, dan kemudian dia berkata kepada murid-muridnya, “Ibarat Sirih Pulang Ke Tampuknya”. Pesan ini yang kemudian terus hidup di hati murid-muridnya, makna sirih pulang ke tampuknya, Tasawuf yang sekarang tersebar di seluruh dunia akan kembali ke asalnya, yaitu kota Mekkah tercinta…

Sufi Muda

About admin

Check Also

Haidar Bagir: Tasawuf Akal, Toleransi, dan Pembelaan Terhadap Syiah

Mizan—yang dalam bahasa Arab artinya “seimbang”—segera jadi buah bibir tatkala menerbitkan buku pertama sekaligus jadi ...