Friday , June 22 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Love In The World

Love In The World

Sebuah penafsiran yang berasal dari sebagian kalangan terhadap beberapa ayat al-Qur’an mengenai dunia sering kali disalahtafsirkan bahwa dunia itu buruk. Padahal, tidak satu ayat pun dalam al-Qur’an yang mengecam dunia. Dunia itu sendiri tidak lain adalah benda-benda yang ada di bumi dan benda-benda yang ada di langit, dan tidak ada satu pun dari benda-benda yang ada di langit, juga tidak ada benda-benda di bumi ini yang buruk. Seluruh benda yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT ini bias disebut buruk. Kecintaan dan kecenderungan padanyalah yang buruk, bukan dunia itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan alam akhirat, alam dunia adalah alam penyiapan, alam penyempurnaan, dan pembekalan bagi manusia. Alam dunia adalah ibarat tingkat persiapan di sekolah dan perguruan tingi bagi para pelajar atau mahasiswa. Pada hakikatnya, dunia adalah sekolah atau tempat pendidikan.

Seorang laki-laki berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Jelaskan tentang dunia kepada kami!” Ali menjawab dengan diplomatis, “Aku tidak bisa menggambarkan dengan baik tentang dunia ini. Orang yang sehat di dunia ini, pasti tidak akan aman, orang yang sakit di dunia ini, pasti akan menyesal, orang yang merasa butuh dunia ini, pasti akan bersedih, orang yang merasa cukup dengan dunia ini, pasti akan mendapat ujian. Perolehlah halal dari dunia ini pasti akan ada perhitungan amal, sedangkan untuk perolehan yang haram, pasti akan mendapatkan siksa.”

Di waktu yang lain, ada seorang laki-laki datang menemui Ali. Ia sangat mencela dunia. Lelaki itu mengatakan kalau dunia memperdaya manusia. Dunia merusak, menipu, dan berbuat jahat kepadanya.

Lelaki tersebut pernah mendengar orang-orang besar mencela dunia, kemudian ia mengira bahwa yang mereka cela adalah realitas alam ini sehingga alam ini benar-benar dipandang jahat. Lelaki yang lalai tersebut tidak tahu bahwa apa yang dicela mereka adalah penyembahan terhadap dunia, pandangan sempit, dan kesenangan-kesenangan rendah yang tidak sesuai dengan manusia dan kebahagiaan.

Ali menjawab, “Sesungguhnya, engkaulah yang tertipu oleh dunia ini, padahal dunia tidak menipu! Engkaulah yang menganiaya dunia, bukan dunia yang menganiayamu. Dunia adalah sahabat bagi yang berjalan bersamanya. Ia adalah sumber kesembuhan bagi yang mengetahui hakikatnya. Dunia adalah tempat beribadah para pecinta Allah, tempat shalat malaikat Allah, tempat turunnya wahyu Allah, dan tempat berniaga para wali Allah.

Kandungan maknawi ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tersebut diubah oleh Syekh Fariuddin al-Athar dalam bait-bait puisinya :

Seseorang telah datang menemui Singa yang adil
Ia kecam dunia di hadapannya
Singa menjawab, “Dunia tidak jelek, Engkaulah yang jelek”
Karena, engkau tidak mau berpikir
Sungguh, dunia laksana ladang
Kita harus bekerja dan menanaminya siang dan malam
Karena, keteperdayaan dan keluhuran agama
Sama-sama bisa tercapai di dunia
Semaian hari ini membuahkan hari esok
Kalaulah tak disemai, wahai, rugilah yang akan kau petik
Jika tidak kau cari buah dunia
Maka, manfaat yang kau peroleh dari dunia adalah engkau meninggalkannya
Seakan tanpa pernah melaluinya
Sungguh, kau akan tersiksa, sulit berbuat, jalan begitu panjang
Dan, pahala begitu sedikit.

Jadi, dunia tidak jelek, namun ia seperti sekolah kita. Allah SWT sendiri telah berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dan jadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan pada apa-apa yang dia inginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran : 14).

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-negah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warna kuning, kemudian menjadi hancur : di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah SWT serta keridhaanNya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS al-Hadiiid : 20).

Ali ra mengungkapkan, “Aku khawatir dua hal berikut menimpa kalian : ambisi dunia yang berlebihan dan memperturutkan hawa nafsu. Berambisi terlalu berlebihan akan melalaikan akhirat, sedangkan memperturutkan hawa nafsu dapat menghalangi menerima kebenaran. Dunia akan berlalu dan akhirat akan menjelang. Masing-masing keduanya mempunyai pengikut. Karena itu, jadilah kalian sebagai pengikut akhirat, jangan menjadi pengikut dunia. Hari ini adalah waktunya beramal dan tidak ada perhitungan amal, sedangkan besok adalah haro perhitungan amal dan bukan waktunya beramal.

Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang ketika waktu pagi menjadikan dunia sebagai tujuan terbesarnya, maka ia tidak akan mempunyai kedudukan apapun di sisi Allah SWT. Dia juga akan memberikan empat hal dalam hatinya : kesedihan yang tidak pernah berakhir, kesibukan yang tidak pernah ada waktu luang, kefakiran yang tidak pernah mencapai kekayaan, dan angan-angan yang tidak pernah mencapai tujuannya.” (HR. Thabrani).

Syekh Muhammad Amiin al-Kurdi dalam kitabnya Tanwir al-Qulub fil Mu’amalah ‘Allam al-Ghuyub bersyair :

Tinggalkanlah sikap terlalu berambisi dunia
Dan, jangan terlalu rakus dalam hidup ini
Tidak baik terlalu banyak menghimpun harta
Karena, Anda tidak akan tahu
Untuk siapa Anda menghimpun itu semua
Rezeki sendiri telah dibagi
Berburuk sangka tidak akan ada manfaatnya
Semua orang yang berambisi adalah orang yang fakir
Sedang orang kaya adalah orang yang selalu menerima
Bagian yang diterimanya
Wahai orang yang disibukkan oleh kehidupan dunia
Sesungguhnnya ia telah tertipu oleh angan-angan yang tak pernah henti
Ia juga tak pernah henti dalam kelalaian
Hingga, ia mendekati ajalnya
Kematian itu datang mendadak
Sedang kuburan adalah peti mati
Bersabarlah menghadapi segala kegentingan yang ada di kubur
Tidak ada kematian kecuali telah ditentukan ajalnya…

About admin

Check Also

Taubat

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلا ، وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ ...