Sunday , September 24 2017
Home / Lencana

Lencana

plgs1Pasulukan Loka Gandasasmita

Pasulukan berasal dari kata Suluk yang berarti perjalanan mencari ilmu untuk mencapai  Tuhan. Ia berasal dari bahasa Arab “salaka-yasluku” yang artinya berjalan (menuntut ilmu). Dalam hal ini, suluk bermakna sebuah proses dalam mencari ilmu (untuk menuju Tuhan). Dikatakan ilmu, karena nisbatnya adalah pengenalan tentang Allah. Jika perjalanan mencari ilmu tidak dinisbatkan untuk pengenalan Allah, maka ia tidak dikatakan suluk. Subyek atau seseorang yang ber-suluk disebut dengan salik.

Berdasarkan pemaparan di atas, istilah “Pasulukan” adalah sebuah serapan bahasa arab yang sudah di Indonesiakan dengan menambah awalan “Pa” dan akhiran “an” yang menunjukkan pengertian tempatnya atau wadahnya. Jadi, istilah Pasulukan adalah sebuah tempat untuk melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka proses ilmu untuk mencapai atau mengenal Tuhan.

Istilah “Loka” sebenarnya masih berasal dari sumber yang sama dengan penyebutan pasulukan, yakni suluk. Hanya saja, loka itu lebih menunjukkan sebuah prosesnya. Dan istilah loka punya makna yang lebih mempribumi dengan nilai sejarah tradisi budaya nusantara. Karena itu, istilah loka punya makna filosofi yang tinggi.

Sedangkan Gandasasmita adalah gabungan dua kata, yakni “Ganda” dan “Sasmita”. Ganda bermakna mengintensifkan, menguatkan, meninggikan, melipatgandakan atau menajamkan. Ia mengarah pada suatu perbuatan tertentu yang dilipatgandakan kualitasnya. Untuk lebih bermakna, Ganda harus digandeng dengan istilah “sasmita” yang artinya tanda-tanda. Tanda-tanda yang dimaksud mengandung pengertian yang sama dengan istilah “wahyu kedaton”. Ia lebih menekankan pada makna tanda-tanda Ketuhanan yang terhampar pada alam semesta dan menekankan unsur yang berada pada ukuran ruang dan waktu.

Dengan demikian, makna Pasulukan Loka Gandasasmita adalah sebuah wadah atau tempat untuk memupuk atau membangun kepribadian dalam rangka menajamkan pandangan terhadap tanda-tanda ketuhanan.

Logo Pasulukan Loka Gandasasmita

logo plgs mutakhir 2 - copyLogo Pasulukan Loka Gandasasmita pada penampangnya berbentuk dua segi empat yang menumpuk dan memutar sehingga membentuk delapan penjuru mata angin. Warnanya yang hitam menunjukkan ketegasan atas sebuah pandangan pada ketakterbatasan. Karena, dunia ini hanyalah terdiri dari dua gradasi warna; hitam dan putih. Dan list luar yang membungkus warna hitam juga menjadi paduan yang saling berdampingan, meski sebenarnya adalah ketiadaan. Jadi, hitam dan putih adalah keterbatasan manusia pada ketakterbatasan Tuhan.

Di dalam delapan penjuru mata angin itu, ada lingkaran yang paling luar berwarna hijau. Lingkaran hijau itu tetap terhubung pada list berwarna putih yang berasal dari delapan penjuru mata angin. Artinya, hijau adalah kelahiran, pertumbuhan, dan kesucian yang memulai proses untuk mencari eksistensi. Kesuciannya terletak pada warna putih yang mengelilingi lingkaran warna hijau yang paling luar. Ternyata warna hijau itu adalah sebutan untuk sesuatu yang fitrah; ada bintang berjumlah sembilan yang menyimbolkan keluasan. Sembilan adalah keluasan. Bahasa Arab menyebutnya tis’ah dan bahasa Jawa menyebutnya sanga. Padahal tis’ah dan sanga punya etimologi yang sama, yakni sama berasal dari sa’a yang artinya (meluas).

Dari dasar pandangan yang meluas tersebut, ia punya kapasitas untuk berjiwa bijak dan awas dalam memandang segala sesuatu. Begitulah makna dari “Widaksana Natasasmita”. Sebuah semboyan filosofis untuk menyatakan bahwa sasmita (tanda-tanda) itu memang harus ditata dengan bijak agar lebih bermanfaat dan bukan untuk kesaktian atau pamer kekuatan. Hal ini adalah naluri wajar bagi setiap manusia untuk bisa bertahan dan mempertahankan komunitasnya. Begitulah, mengapa Tuhan memberikan petunjuk dalam bentuk wahyu kedaton untuk keselamatan manusia fiddin waddunia wal-aakhirah.

Di dalam lingkaran tengah itu ada warna merah yang menjadi dasar dan melingkupi Sang Prabu Kresna berwarna kuning yang di dadanya tergantung kalung bertuliskan Allah. Kuning melambangkan kematangan dan merah melambangkan keberanian dan gerak aktifitas duniawi. warna merah tetap dilingkari warna list berwarna putih. Artinya, aktifitas duniawi menjadi sesuatu yang wajar ketika ia tetap di dalam spirit kemurnian. Prabu Kresna adalah Sang Pahlawan dan Utusan Tuhan. Simbolisasi dari setiap petunjuk yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia tetap melalui seorang Utusan yang tidak berada di mana-mana, tapi berada di dalam dirinya masing-masing.

Hal yang paling terpenting dari simbol itu adalah bahwa satu titik terkecil yang berada di dada Kresna adalah Allah yang menjadi dasar dari segala gerak dan spirit. Semua struktur berpangkal dari-Nya dan memancarkan cahaya dari singgasana-Nya. Termasuk alam semesta ini.

Dalam perspektif yang lebih sadar, pada akhirnya kita tidak tahu mana yang disebut luar dan  dalam diri, lahir dan bathin, ghaib dan nyata. Bahkan ketika kesadaran kita mencapai satu titik kulminasi, semua menjadi tak terbatas dan tak ada lagi kata. Yang ada hanyalah makna yang dipahami. Begitulah kira-kira simbolisasi dari sebuah cita-cita diri yang ingin mengenal makna cinta dan mencintai akan kebenaran yang sesungguhnya.

al-Haqq mir Rabbikum falaa takuunanna minal mumtariin….

Pasulukan Loka Gandasasmita