Monday , May 28 2018
Home / Budaya / Pusaka / Kujang; “Gagaman” dan “Pakarang”

Kujang; “Gagaman” dan “Pakarang”


Bulan suci Ramadhan terkadang diidentikan dengan Nuzulul Quran. Beberapa tulisan berkenaan dengan turunnya Alqur’an sudah dimuat di media ini. Salah satunya adalah Alqur’an besar dan buhun ‘kuno’ yang tersimpan di Museum Sri Baduga Maharaja. Di media ini pula, dua tahun lalu penulis pernah mengungkapkan tulisan berkenaan dengan Kitab Alquran Kuno yang berada di Kabuyutan Bayongbong Garut, yang membuat para ulama dan tokoh agama dari kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, serta Garut saat bersilaturahim di Cipanas Garut atas prakarsa Brigjen Pol. Dr. H. Anton Charliyan, MPKN terkagum-kagum dibuatnya.

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dan sangat menggembirakan adalah bahwa Alqur’an buhun dalam ukuran besar itu ternyata tidak hanya satu. Di Pasulukan Loka Gandasasmita yang berada di Cibunar Cibatu Garut, tersimpan sebuah Kitab Suci Alqur’an Buhun dalam ukuran yang cukup besar, yakni 40 cm x 55 cm, dengan ruang tulisan 35 cm x 50 cm, bahan terbuat dari daluang. Ditulis dengan menggunakan tinta hitam, dengan variasi biru serta merah untuk hal-hal yang dianggap penting, yang tertulis pada scolia baik bagian kiri maupun bagian kanannya, dengan luminasi yang sangat indah. Tulisannya besar disesuaikan dengan keadaan Alqur’an itu sendiri. Kondisi Alqur’an ini cukup terawat, demikian pula dengan naskah-naskah lainnya.

Keberadaan Alqur’an buhun dalam ukuran besar tersebut sebenarnya merupakan lahan dan tantangan besar bagi para filolog. Namun untuk mengkaji Alqur’an dimaksud tampaknya memerlukan keberanian dan keahlian yang sangat ‘mumpuni’ dari si pengkaji. Untuk mengkajinya, bukan hanya dibutuhkan seorang filolog yang mahir dalam ilmu agama Islam,  juga harus hapal dan mengerti semua isinya, agar keabsahan dan kemurnian Alqur’an tersebut tetap abadi.

Pasulukan Loka Gandasasmita yang dipimpin oleh Ki. R.H. Mama Derajat Asysyatari Alqadiri, bukan hanya menyimpan Alqur’an buhun dalam ukuran besar tetapi juga naskah-naskah lainnya. Beraneka ragam gagaman dan pakarang berupa keris, kujang, tongkat, pedang, dan pusaka tinggalan karuhun orang Sunda terkumpul di sana dalam jumlah yang sangat melimpah. Pusaka tersebut tersimpan di beberapa bangunan. Ada yang disimpan di Keraton Liman Kencana, Pendopo Limasan Kangjeng Kyai Widoro Kandang, Joglo Kangjeng Kyai Maero Sakeco, maupun Pendopo Kaputren, dan Padikiran Bagawan Sirna Di Rasa, yang baru diresmikan pada saat memperingati Isra Miraj lalu.

Andai kita simak beberapa tulisan yang dimuat di media ini beberapa waktu lalu berkaitan dengan masalah ‘kujang’, tampaknya ada relevansinya dengan keberadaan aneka ragam gagaman atau pakarang yang melimpah di Pasulukan Loka Gandasasmita ini, salah satunya yaitu kujang yang tidak dimiliki oleh keraton lainnya yakni Pusaka Kujang Dewi Rengganis, dan kujang lainnya dalam berbagai bentuk, fungsi, dan ukuran sangat besar.

Kujang sejak zaman bihari ‘masa lalu’ dikenal  sebagai gagaman orang Sunda. Adapun yang dimaksud gagaman, merujuk pengertian yang dikemukakan Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda (2006: 199) adalah rupa-rupa pakarang; parabot perang kaasup—. Sementara itu pada halaman 484 disebutkan bahwa pakarang nyaéta parabot pikeun maéhan, ngajaga diri atawa ngalawan musuh; bedil, bedog, keris, pedang, dll. kaasup golongan—. Orang yang pandai memainkan gagaman atau pakarang disebut santika (kepandaian memainkan kujang, keris, atau senjata lainnya).

Apa perbedaan gagaman atau pakarang dengan pakakas? Kamus yang sama (hlm. 483) mengungkapkan bahwa pakakas nyaéta parabot pikeun barangjieun naon waé; palu — tukang kayu, dulang — ngéjo,— jurutulis nyaéta patlot; koréd, pacul, tatah kaasup—.

Lewat uraian tersebut, jelaslah bahwa kujang sebagaimana diungkapkan dalam Kamus Basa Sunda karya Danadibrata dimaksud termasuk gagaman atau pakarang. Hal ini sejalan dengan arti kujang itu sendiri (2006: 369), yakni pakarang kabaheulaan nu sok disorén ku para raja, para satria jeung para pahlawan Sunda; — baheulana pisan pikeun newek musuh, ka dieunakeun (tapi di  jaman baheula kénéh), minangka jadi lambang kaagungan bangsa Sunda; — bangunna méh saperti balati ngan seuseukeutna henteu lempeng rada barungkak-baréngkok teu diatur saperti seuseukeut keris.

Meskipun begitu, kujang adalah gagaman yang multifungsi disesuaikan dengan kegunaannya. Kujang selain sebagai gagaman atau pakarang, juga termasuk ke dalam pakakas, karena memiliki fungsi sebagai alat, sesuai dengan jenisnya. Ada beberapa jenis kujang berdasarkan fungsinya, seperti: kujang pusaka, kujang pakarang, kujang pangarak, kujang pamangkas, dan kujang sajén. Sementara itu, berdasarkan bentuknya terdiri atas: kujang jago, kujang badak, kujang ciung, kujang bango, kujang naga, kujang geni, kujang bangkong, kujang wayang, kujang buta, kujang lanang, kujang balati, dan kujang daun. Baik berdasarkan fungsi maupun bentuknya, semua itu tidak mengurangi fungsi kujang itu sendiri sebagai gagaman atau pakarang.

Mengacu kepada kujang sebagai gagaman atau pakarang maupun kujang sebagai pakakas, berkelindan erat dengan kujang yang multifungsi. Beberapa naskah Sunda yang pernah penulis baca, banyak diceritakan bahwa jika seorang raja, ksatria, maupun pangagung ‘pejabat Sunda’ masa silam bepergian ke hutan, tiba-tiba di perjalanan yang dilewatinya ada pohon tumbang atau sekedar rintangan yang menghalangi jalannya, tanpa pikir panjang para raja atau ksatria tersebut membersihkan jalan yang menghalanginya tersebut dengan gagaman kujang yang terselip di pinggangnya. Hal itu menyiratkan bahwa ‘kujang’ selain berfungsi sebagai gagaman atau pakarang, juga berfungsi sebagai pakakas ‘alat’.

Apapun yang dipikirkan atau diinterpretasikan orang tentang kujang, pembeberan tulisan ini hanya sekadar ngawanohkeun ‘memperkenalkan’ kearifan lokal budaya Sunda titinggal karuhun orang Sunda, khususnya terhadap nonoman ‘generasi muda’ Sunda, agar tidak pareumeun obor, serta agar nonoman Sunda dan orang yang mengaku ‘Orang Sunda’ ikut serta ngaraksa, ngariksa, tur ngamumulé budaya Sunda. Kita jangan ‘terperangah’ dan baru ‘sadar’ tatkala budaya kita dicaplok oleh bangsa lain. Relakah kita sebagai orang Sunda jika ’kujang’ diaku sebagai ‘kekayaan’ budaya bangsa lain? Mangga emutan!!

Penulis: Elis Suryani NS

Dosen dan Pemerhati Budaya

Pembina Utama Muda

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.


Acuan:

Danadibrata, RA. 2006. Kamus Basa Sunda. Bandung: Panitia PenerbitanKamus    Basa Sunda. Kerjasama antara Kiblat dan UniversitasPadjadjaran.

Suryani NS, Elis. 2011. Ragam Pesona Budaya Sunda. Bogor: Ghalia Indonesia.

Charliyan, Anton. 2011. Kujang: Bentuk, Makna, dan Fungsinya dalamKehidupan Masyarakat Sunda. Bandung: CV. Dananjaya.

About admin

Check Also

Philosophy of Keris

The most famous pusaka or heirloom for Javanese people is Keris (dagger). In the ancient ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *