Saturday , October 20 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Krisis Ketuhanan

Krisis Ketuhanan

Krisis kepercayaan terhadap Tuhan terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, atau malah mungkin juga terjadi pada diri kita, keluarga, lingkungan sekeliling kita, dengan berbagai indikasi, diantaranya:

  • Hilang keikhlasan
  • Sudah luntur sebuah ketulusan
  • Perbuatan baik sudah sulit dideteksi (dikenali), karena yang ada hanya perbuatan yang menguntungkan.
  • Semakin hari semakin sedikit sekali yang mengapresiasi / menghargai kebaikan.
  • Hidup seakan-akan hanya di dunia ini saja,
  • Lebih tertarik dunia dari pada akhirat,
  • Tidak meyakini seyakin-yakinnya adanya kehidupan yang lebih indah dan lebih lama dari kehidupan dunia ini.
  • Cenderung lupa bahkan tidak percaya akan kehidupan akhirat.

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia”,

وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“dan meninggalkan (kehidupan) akhirat”. (Al-Qiyamah : 20-21)

كَلَّا ۖ بَلْ لَا يَخَافُونَ الْآخِرَةَ

“Sekali-kali tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat”. (Al-Muddatstsir : 53)

Itu juga berlaku bagi Nabi Ya’qub ketika berwasiat kepada anak-anaknya tentang pentingnya ketauhidan sepeninggal beliau, yang di abadikan dalam Al Qur’an;

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqoroh : 133)

Disadari ataupun tidak, keberadaan syaithan, tempat- tempat angker, mistik, ramalan bintang (zodiak) dan lain-lain lebih dipercayai daripada keberadaan Tuhan.

Buktinya, kita masih takut di tempat-tempat yang disebut angker. Lebih sedih kehilangan uang dan jabatan dari pada kehilangan waktu untuk mengingatNya. Ketika Tuhan berfirman:

  • Aku lebih dekat dari urat nadimu (Qof : 16)
  • Aku mengkabulkan doa-doamu (Al-Baqoroh : 186)
  • Aku selalu Mengawasimu (An-Nisa’ : 1).
  • Aku Meliputimu (An-Nisa’ : 108).

Kita masih ragu dan masih selalu menganalisa tidak langsung yakin begitu saja, analisa ini dan itu dengan berbagai rentetan analisa yang sangat panjang. Seperti tak percaya dan bahkan meragukan kebesaranNya.

Ini mengindikasikan keberadaan Tuhan masih kita nafikan, kita lupakan dan belum menjadi prioritas sekaligus tujuan kita hidup di dunia ini.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

“Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.” (Nuh : 13-14).

Padahal setiap sholat kita selalu mengikrarkan…

ان صلاتي ونسكي ومحيا ي ومماتي لله رب العالمين . لا شريك له وبذ لك امرت وانا من المسلمين…

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku itu semua karena Allah Tuhan sejagat alam raya, tidak ada sekutu bagiNya, maka dari itu aku diperintahkan termasuk orang-orang yang berserah.

Sudah saatnya upgrade selalu tujuan hidup Kita ini, install ulang tujuan hidup kita menjadi apa yang selalu kita ikrarkan dalam setiap sholat. “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semua karena Allah”.

Bagaimana mungkin seseorang bisa sempurna ibadahnya? Tenteram dalam hidupnya? Ikhlas hatinya?
Kalau belum benar-benar mengenalNya?
Kalau belum mengetahui bahwa semua sistemNya sangat sempurna?
Masih merasa bisa merubah segala hal karena belum menyerah pada sistemNya yang tidak mungkin bisa dirubah?
Masih merasa bisa menentukan “eksistensinya” karena belum redha terhadap ketetapanNya?
Masih khawatir dan sedih karena sering melupakanNya?

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (Al-Kahfi : 68)

Orang-orang yang senantiasa fitri (suci), adalah mereka;

  • Sudah lebur kewujudannya.
  • Ingat Allah senantiasa.
  • Ketika salah minta maaf.
  • Ketika berdosa mohon ampun.
  • Nikmat bersyukur.
  • Kurang meminta.
  • Ada masalah “naik”.
  • Meyakini bahwa setiap keadaan adalah sarana menuju Tuhan.
  • Setiap kondisi situasi adalah anugerah Ilahi sebagai “media” senantiasa rujuk (kembali).
  • Setiap detik berbuat baik karena mereka yakin Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.
  • Setiap saat selalu sabar karena mereka yakin Allah bersama orang-orang yang bersabar.

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali Imron : 193)

Oleh: Taufiqurrahman, S.Pd.I, M.Sy (Al-Hafidz)

About admin

Check Also

Jendela Hati Buat Prajurit Sejati

Bukan Jabatan, Melainkan Jiwa Menjadi tentara tidak sama dengan menjadi Bupati, Gubernur, Menteri atau Presiden. ...