Monday , November 18 2019
Home / Ensiklopedia / Analisis / Krisis Ekonomi dan Pudarnya Keutuhan Uni Eropa

2012, tampaknya akan menjadi tahun sulit bagi negara-negara Uni Eropa terutama Zona Euro yang sedang dilanda krisis ekonomi. Belum genap sebulan, pada pertengahan Januari ini, lembaga pemeringkat dunia menurunkan ranking kredit sejumlah negara Eropa. Pasalnya, baru-baru ini lembaga Standard and Poor's (S&P) menurunkan peringkat kredit sembilan negara zona euro. Perancis dan Austria harus turun dari triple A. Sementara peringkat kredit Jerman tidak berubah.

Krisis Ekonomi dan Pudarnya Keutuhan Uni Eropa

S&P dalam siaran persnya menyatakan bahwa penurunan rating ini terutama didorong oleh penilaian mengenai inisiatif kebijakan yang telah diambil oleh pembuat kebijakan Eropa dalam beberapa pekan terakhir yang tidak cukup untuk sepenuhnya mengatasi tekanan sistemik yang sedang berlangsung di zona euro.

Lembaga pemeringkat ini menurunkan rating utang jangka panjang untuk Siprus, Italia, Portugal dan Spanyol sebesar dua level, dan memangkas rating Austria, Perancis, Malta, Slowakia dan Slovenia sebesar satu level. 

Krisis utang terburuk di Zona Euro telah memaksa pemerintah Eropa mengadopsi langkah-langkah penghematan ketat dan reformasi ekonomi. Kini muncul kekhawatiran bahwa penundaan lebih lanjut dalam mengatasi krisis utang zona euro bisa menyeret terjadinya resesi ekonomi yang melanda tidak hanya Eropa, tetapi juga seluruh dunia.

Sebelumnya, S&P dan Moody’s and Fitch dalam berbagai laporannya di penghujung tahun 2011 menyinggung anjloknya rating kredit negara-negara Zona Euro. Pada Rabu, (22/12) rating kredit Hongaria diturunkan oleh Standar & Poor ke tingkat “sampah”. S & P menyebut tingkat utang Hongaria merupakan yang tertinggi di Uni Eropa. Pertumbuhan ekonomi yang rendah dianggap sebagai alasan untuk jangka panjang dan jangka pendek termasuk rendahnya nilai mata uang negara itu membuat mereka terjungkal di peringkat BB+.

Kementerian Ekonomi Hongaria menyesalkan downgrade peringkat rating yang dialami negaranya. Mereka menyebut Hongaria telah menjadi kambing hitam dari krisis euro dan menjadi korban tidak langsung dari “serangan keuangan” kepada Uni Eropa. Dalam pernyataannya kepada media, kementerian itu mengatakan downgrade  itu tidak didasarkan pada analisis keadaan ekonomi dan keuangan terkini Hungaria. Tapi, dipaksa oleh tekanan dari pelaku pasar yang kepentingannya adalah menguatkan dolar dan melemahkan euro.

Kini setiap negara di zona Euro mulai saling menyalahkan antarsesama mereka. Lembaga pemeringkat Fitch Rating mengumumkan bahwa perekonomian bermasalah Italia menimbulkan ancaman terbesar bagi krisis keuangan Eropa. Menurut David Riley, analis utama Fitch Rating untuk Amerika Serikat mengatakan, Italia berada di urutan terdepan krisis utang Eropa, mengingat program pinjaman raksasa negara itu dapat menyebabkan situasi berbahaya.

Lembaga pemeringkat ini juga menyatakan rating kredit Italia mungkin akan menurun pada akhir Januari. Negara ekonomi zona euro terbesar ketiga itu mungkin harus meninggalkan blok euro tahun ini. Riley juga memperingatkan bahwa 17 negara zona euro harus meningkatkan pendapatannya sebesar 2 triliun euro pada tahun 2012  demi mengatasi krisis ekonomi mereka masing-masing. 

Naiknya Yield obligasi menjadi momok yang menakutkan. Menjelang akhir tahun 2011, Imbal hasil obligasi negara Eropa kembali melonjak sebagai efek dari peringatan lembaga pemeringkat rating S&P. Rating kredit 15 negara divonis dalam pengamatan negatif. Hanya dua negara yang steril dari observasi S&P, yakni Siprus dan Yunani. Kedua negara sudah berada dalam daftar rekomendasi negatif, sedangkan Yunani bahkan telah menerima predikat rating CC atau berisiko tinggi default. 

Sementara itu, Perdana Menteri Italia Mario Monti memperingatkan bahwa negara itu bisa ambruk seperti Yunani tanpa langkah-langkah penghematan baru. Dikatakannya, paket pengetatan yang disahkan oleh Senat akan membantu memecahkan krisis utang zona euro. Utang Italia yang diumumkan sekitar 1,9 triliun euro, setara dengan 120 persen dari Produk Domestik Bruto negara itu. Pemerintah Roma menyatakan akan memenuhi target penyeimbangan anggaran hingga tahun 2013, tetapi memperingatkan perekonomian Italia akan tergelincir kembali ke dalam resesi tahun 2012.

Sementara itu Jerman dan Perancis berusaha keras mencari solusi menangani krisis Euro. Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pembentukan kesatuan fiskal Eropa, dan mengatakan tidak ada cara lain untuk menyelesaikan krisis utang Zona Euro. Ia menandaskan,”Krisis utang Eropa tidak akan berakhir dalam tabuhan gendang. Itu butuh proses dan proses ini akan memakan waktu bertahun-tahun.” Merkel telah mencoba membujuk Uni Eropa dan mitra Zona Euro untuk menegosiasikan perubahan perjanjian Uni Eropa guna menegakkan disiplin anggaran dan kontrol utang di Zona Euro. Menurutnya, masa depan Euro tidak dapat dipisahkan dari kesatuan Eropa.

Pemerintah Jerman menegaskan perubahan untuk membangun kekuatan guna memveto anggaran nasional di Zona Euro yang melanggar aturan bersama dan menghukum negara pelanggar aturan itu. Dia menolak tuduhan bahwa Jerman sedang mencari mitra untuk mendominasi Eropa dan menilainya sebagai tudingan yang aneh. Ditambahkannya, kesatuan fiskal Eropa dan sanksi otomatis diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan di pasar.

Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi dalam laporannya kepada anggota parlemen Eropa memperingatkan kebangkrutan bank-bank besar Eropa di tahun 2012. Draghi menyebut stabilitas ekonomi Zona Euro dalam bahaya yang mengancam kelanggengan ekonomi Zona Euro yang semakin memburuk.

Tanpa tedeng aling-aling, Draghi memperingatkan terjadinya perpecahan di tubuh zona Eropa. Dalam sebuah wawancaranya sejak menjabat sebagai gubernur ECB pada 1 November 2011, Draghi mengatakan bahwa negara-negara yang sedang berjuang mengatasi krisis utangnya dengan menghentikan keanggotaannya di Uni Eropa akan menghadap masalah yang lebih besar. Sementara untuk negara-negara anggota yang masih bertahan, tutur Draghi, peraturan Uni Eropa mungkin telah dilanggar. Gubernur ECB itu menegaskan, negara-negara yang telah meninggalkan keanggotaannya dan melakukan devaluasi mata uang mereka akan menimbulkan inflasi yang tinggi dan gagal untuk lari dari reformasi struktural yang mungkin masih akan diterapkan.

Zona Euro semakin ditinggalkan anggota Uni Eropa. Dua anggota Uni Eropa Republik Ceko dan Hungaria tidak berencana untuk mengadopsi euro dalam waktu dekat. Padahal Republik Ceko punya kemampuan meraih dana dari pasar dan sektor perbankannyapun bermodal kuat dan dilindungi oleh simpanan domestik yang besar.

Ketika dahulu negara-negara Eropa berbondong-bondong minta diakui sebagai bagian dari zona euro, kini para anggotanya pun berpikir untuk meninggalkan euro dan kembali memperkokoh mata uangnya sendiri. Seperti kata Perdana Menteri Republik Ceko, Petr Nečas, “Kami setuju bergabung dengan zona euro, tapi bukan persatuan utang.” Dan memburuk perekonomian Zona euro meruntuhkan solidaritas Uni Eropa yang pernah digadang-gadang sebagai blok ekonomi dan politik terkuat di dunia. Pekik  yang kini bergema di Eropa adalah menyelamatkan perekonomian negara masing-masing.(IRIB Indonesia/PH)

 

 

About admin

Check Also

Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik

Geopolitik modern mengisyaratkan bahwa tidak ada perang agama, atau tak ada konflik antarmazhab, perang suku, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *