Monday , July 23 2018
Home / Budaya / Kontroversi Ramayana III

Kontroversi Ramayana III

Jembatan Misterius

Informasi mengenai jembatan yang dinamakan “Vanara Sena” / Rama Setu / Jembatan Rama  / Jembatan  Adam,  diterbitkan pada 9 Juli, 2011 , Informasi ini merupakan informasi yang krusial, dalam melihat legenda yang dinamakan Ramayana, yang diperkirakan waktunya pada masa tretha yuga (lebih dari  1.700,000 tahun yang lalu). Jembatan yang baru-baru ini diketemukan yang disebut Adam’s Bridge  (Bahasa Tamil :  ātām pālam), Rama  Setu terbuat dari rangkaian batu karang  sepanjang 30 km, di selat antara India dan Sri Lanka, membuka misteri dibalik semua itu. Struktur dan komposisinya, menunjukkan bahwa jembatan itu dibuat oleh manusia.

Nama Jembatan Rama atau Rama Setu (dari bahasa Sanskerta; Setu berarti jembatan) diberikan kepada bentang alam mirip jembatan ini di Rameshwaram, karena legenda Hindu mengidentifikasikan sebagai jembatan yang dibangun oleh Wanara (manusia kera), tentara Rama, yang digunakan untuk mencapai Alengka

Kontroversi Ramayana IIIJembatan Rama, Foto Satelit NASA

Dalam kitabnya, Walmiki mengungkapkan Sri Rama membutuhkan bantuan jutaan ekor kera untuk mengangkut batu dan mengurug (menimbun) lautan. Bila melihat postur kera seperti sekarang, agak sulit diterima akal bila mahluk itu mampu berkolaborasi dengan manusia yang notabene jumlahnya saat itu masih terbatas. Bantuan pasukan kera itu datang dari Sugriwa, raja kera yang tengah berseteru dengan saudaranya Subali. Setelah ada kesepakatan, Sri Rama membantu merebut tahta Sugriwa dari Subali. Setelah berhasil, bangsa kera membantu Rama membangun jembatan penyebrangan dari Rameswaram (India) ke Sri Lanka.

Ketika itu Sri Rama dan pemimpin wanara lainnya  harus berunding untuk memikirkan cara menyeberang ke Alengka mengingat tidak semua prajuritnya bisa terbang. Keputusannya Rama menggelar suatu upacara di tepi laut untuk memohon bantuan dari Dewa Baruna. Selama tiga hari Rama berdoa namun tidak mendapat jawaban, akhirnya kesabarannya habis, kemudian ia mengambil busur dan panahnya untuk mengeringkan lautan.

Melihat laut akan binasa, Dewa Baruna datang menemui Rama dan meminta maaf atas kesalahannya. Dewa Baruna menyarankan agar para wanara membuat jembatan besar tanpa perlu mengeringkan atau mengurangi kedalaman lautan. Nila pun ditunjuk sebagai arsitek jembatan tersebut.

Kontroversi Ramayana III 1Pasukan Kera Membuat Jembatan

Dibantu panglima kera Hanuman dan jutaan pasukan kera dari Raja Sugriwa, Sri Rama mengurug (menimbun) lautan dengan batu apung dan membangun jembatan. Jembatan ini dibangun dengan menggunakan batu apung dan pasir , namun para Dewa mengatakan dikemudian hari batuan tersebut akan menancap ke dasar laut, yang akhirnya menciptakan rangkaian batu karang. Setelah bekerja dengan giat, jembatan tersebut terselesaikan dalam waktu yang relatif singkat dan diberi nama “Situbanda”. Kemudian berkat jembatan inilah pasukan Rama akhirnya berhasil menyeberang dan menaklukkan kerajaan Alengka serta merebut Dewi Sitha dari Rawana. Meski kisah ini dianggp sebatas karya Valmiki, namun belakangan ini banyak bukti-bukti yang mengarah pada pembenaran akan kisah tersebut, diantaranya telah ditemukannya sebuah jembatan yang sangat unik di selat Palk antara India dan Sri Lanka.

 Kemudian dari kisah tersebut maka yang menjadi bahan pertanyaan para ahli antropologi Sri Lanka dan Unicef adalah, benarkah sosok raja Sri Rama yang brilian itu pernah lahir di muka bumi dan membuat sebuah karya yang spektakuler? Kalau pernah ada, dari bangsa mana dan pada masa apa kehadirannya. Karena dalam kitab Valmiki itu diungkapkan, bahwa Rama dibantu jutaan kera membangun jembatan penyebrangan ke Alengka. Dari hasil penelitian lanjutan terungkap, yang pasti Sri Rama bukan dari ras Homo Sapiens (bangsa kera), tapi diduga kuat dari peralihan homo Sapeinsis ke Australiensis. Ras ini memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, yang mampu membuat sebuah mahakarya dunia yang tahan oleh hempasan waktu, dan gelombang laut yang cukup ganas selama ribuan tahun.

Bagi para arkeolog, informasi ini tidaklah begitu penting. Mereka  lebih tertarik untuk membuka tabir asal muasal manusia, tapi hal ini bermanfaat untuk membuka gerbang spiritual orang-orang di dunia,  untuk mengetahui sejarah masa lampau, yang terkait dengan mitologi  masyarakat India. Beberapa batu karang dalam keadaan kering  karena lautnya dangkal antara 1 m sampai 10 m dalamnya, yang menghalangi navigasi laut. Batu karang itu biasa dilalui sampai abad ke 15 (tahun 1480).

Kontroversi Ramayana III 2Rama Bridge, gambar Landsat 5

 Mahakarya Jembatan Misterius

Pulau Pamban  (Tamil Nadu, India) dengan pelabuhan kecil Rameswaram terletak sekitar  2 km dari daratan  India. Jembatan Pambanmelintasi selat Pamban yang menghubungkan Pulau  Pamban dengan daratan  India. Perahu-perahu kecil  berlayar dibawah jalan jembatan sepanjang 2065 m.

Masalah dalam pelayaran muncul karena kapal yang besar tidak bisa melewati perairan yang dangkal di selat Pamban.  Pengerukan selat ini akan menelan biaya lebih besar dibandingkan dengan melakukan pengerukan di  areal Rama Setu., dimana air lebih dangkal dan lebih sedikit tanah yang harus dikeruk. Karena itu pada 2001, pemerintah India  menyetujui Proyek Terusan Sethusamudram  yang bernilai jutaan dolar. Yang dimaksudkan untuk membuat penyeberangan kapal melintasi teluk Palk  memotong menuju Rama Setu. Beberapa organisasi menentang proyek ini  berdasarkan pertimbangan keagamaan, ekonomi, dan lingkungan. 

 Berdasarkan perbedaan pendapat mengenai keaslian dari struktur ini, pada abad 19 muncul dua teori mengenai struktur ini Yang satunya menyatakan struktur itu akibat dari proses meningginya suatu kawasan, sementara yang lainnya menyimpulkan struktur itu terbentuk karena terpisahnya Sri Lanka dari daratan India.  jutaan tahun silam. Ini bertujuan sebagai mobilitas migrasinya manusia ketimbang menggunakan jalur laut yang ombaknya ganas. Selama ribuan tahun, mereka bermigrasi ke seluruh daratan Asia terus sampai ke Timur jauh, sebelum kemudian jembatan itu ditenggelamkan oleh air laut akibat mencairnya es di Kutub Utara. Menurut V. Ram Mohan dari  the Centre of Natural Hazards and Disaster Studies,  University of Madras “, rekonstruksi evolusi geologis dari rangkaian kepulauan merupakan tantangan dan mestilah didasarkan kepada suatu kejadian tertentu “.

Konstruksi jembatan  terdiri dari tumpukan batu karang berbentuk balok  tak beraturan. Namun satu sama lain berdiri kokoh seperti dalam satu ikatan, yang tidak ada tanda-tanda bekas kerusakan Sampai sekarang para ahli arkeologi Sri Langka, tidak mengetahui berapa bobot tumpukan-tumpukan konstruksi batu itu. Hubungan antara batu karang yang satu dengan yang lain sulit dibongkar, persis seperti ikatan batuan di piramid Mesir atau Tembok Cina. Kendati belum diketahui bobot timbangnya, namun ditaksir tidak kurang antara 10 ton s.d. 20 ton setiap baloknya.

Peneliti banyak yang menjelaskan bahwa struktur  tersebut merupakan rangkaian batu karang,  Menurut laporan bahwa jembatan ini dahulunya  merupakan tombolo terbesar  sebelum terpisah-pisah menjadi batu karang karena meningkatnya ketinggian laut berribu-ribu tahun yang lalu. Dirjen Arkeologi Sr Lanka, SV. Deraniyagala, mengungkapkan perhatian dunia terhadap Sri Rama Bridge tahun 2009 berkembang lebih serius. Hal ini terlihat setelah pemerintahnya dengan bantuan PBB (UNESCO yang memberikan bantuan berupa tenaga ahli dan dana untuk meneliti keberadaan jembatan tersebut lebih mendalam. UNESCO mempertimbangkan penelitian Sri Rama Bridge ini sebagai mahakarya “purba”, yang tiada duanya di dunia dan masih dapat dinikmati oleh masyarakat hingga kini. Bahkan PBB memasukkannya ke dalam kelompok penelitian khusus, yang harus diteliti lebih mendetail sebagai salah satu maha karya dunia yang masih ada.

Sejak awal, PBB (UNESCO) telah mengucurkan dana tidak kurang dari 100 juta dolar Amerika untuk melanjutkan penelitian lebih mendalam karya misterius ini. Pada tahap awal ini, pusat perhatian penelitian tertuju pada aspek-aspek yang lebih luas.

  1. Pertama, menelusuri aspek arkeologis, sambil menelusuri berapa tahun usia jembatan batu karang itu. Diduga kuat usianya lebih tua dari piramid-piramid Mesir yang dibangun oleh Fir`aun.
  2. Kedua, meneliti perkembangan antropologis jutaan tahun silam dan perkembangan kebudayaannya akan mengungkap tabir pengetahuan terhadap masa lalu secara gamblang dan mengungkap lebih jauh seluruh aspek yang secara baku sudah ada pada masanya. Secara lebih luas aspek tersebut, kini menjadi bahan dasar acuan komprehensif, penelitian-penelitian para ahli dari berbagai disiplin ilmu di dunia.
  3. Ketiga segi antropologis, para peneliti mencari tahu siapa sebenarnya arsitek yang membangun jembatan tersebut. Sebab dengan teknologi sekarang, pembangunan itu masih belum terjangkau oleh akal manusia. Tak terbayangkan bagaimana orang-orang dahulu membangun sebuah jembatan yang kokoh sepanjang  30 km di atas permukaan laut yang cukup ganas ombaknya. Sebagaimana gambaran pembangunannya yang terekam dalam kitab suci umat Hindu ribuan tahun lalu. Batuan karang yang rata-rata beratnya antara 10-20 ton itu tersusun rapi dan cukup kokoh hingga terbukti mampu menahan gelombang laut yang ganas selama berabad-abad.

 Kontroversi Ramayana III 4Jembatan Rama, Foto Satelit NASA

Berdasarkan data pengamatan satelit jarak jauh, Marine and Water Resources Group of Space Application Centre (SAC) of Indian Space Research Organisation (ISRO) menyatakan bahwa  Jembatan Shri Rama terdiri dari 103 jalur karang yang kecil-kecil yang terletak pada posisi yang lurus. Geological Survey of India (GSI) melaksanakan program khusus  yag disebut “Project Rameswaram” yang menyimpulkan bahwa berdasrkan umur batu karang  menunjukkan bahwa  Pulau Rameswaram berevolusi sejak 125,000 tahun yang lalu. Penelusuran contoh  benda dengan menggunakan Radiokarbon  pada studi ini menyatakan bahwa domain antara  Rameswaram dan  Talaimannar kemungkinan baru muncul sekitar 18,000 tahun yang lalu. Penghitungan umur benda menggunakan Thermoluminescence oleh  GSI menyimpulkan bahwa pasir disekitar Dhanushkodi sampai  Rama Sethu mulai terbentuk sekitar 500–600 tahun yang lalu.

Investigasi yang dilakukan oleh  Centre for Remote Sensing (CRS) dari  Bharathidasan University, Tiruchi, yang dipimpin oleh  Professor S.M. Ramasamy menentukan struktur ini berumur  3,500 tahun. Pada studi yang sama, penentuan tahun berdasarkan radiokarbon disepanjang pantai antara Thiruthuraipoondi dan  Kodiyakarai menunjukkan pantai Thiruthuraipoondi mundur ke 6,000 tahun dan   Kodiyakarai sekitar 1,100 tahun yang lalu. Studi yang lainnya menyarankan penampilan  dari karang dan hal-hal yang lain  menunjukkan bahwa contoh batu karang mengindikasikan umurnya sesuai radiokarbon adalah  4020.

 (Dari Berbagai Sumber)

About admin

Check Also

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi Perangan Kang Kapisan Wiwit Jaman Indhu tumekane Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 ...