Monday , December 10 2018
Home / Budaya / Kontroversi Ramayana I

Kontroversi Ramayana I

Kontroversi Ramayana IBangsa Indonesia sangat mengenal Wiracarita Ramayana, yang sering ditampilkan dalam bentuk kesenian Wayang atau Sendratari. Pertanyaannya adalah apakah Ramayana ini merupakan suatu gubahan epos fiksi dari Rsi Valmiki/Walmiki/Balmiki, atau merupakan kisah nyata yang dituangkan dalam sebuah wiracarita. Tapi yang jelas NASA dengan menggunakan remote sensing camera, telah berhasil mengambil gambar jembatan yang menghubungkan India dan Sri Langka, yang oleh penduduk India dan Sri lanka diyakini sebagai Jembatan yang dibuat oleh Hanoman dan bala tentaranya. Oleh Rsi Walmiki, Ramayana digubah sebagai kisah epos yang akan abadi selama dunia berkembang. 

Kontroversi Ramayana I 1Jembatan Rama

 Wiracarita Ramayana.

Ramayana berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata Rāma dan Ayana yang berarti “Perjalanan Rama” adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya pewayangan di Nusantara, seperti misalnya di Jawa dan Bali. Selain itu di beberapa negara (seperti misalnya Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Philipina, dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.

Di tinjau dari segi kepercayaan, cerita Ramayana merupakan suatu pendidikan rohani yang mengandung falsafah yang sangat dalam artinya. Cerita Ramayana menyinggung pula kebaikan dan kesetiaan Dewi Sri kepada suaminya yaitu Sri Rama, karena Sri Rama adalah titisan Dewa Wisnu, sedangkan Dewi Sri adalah istri Dewa Wisnu. Dari segi sosial masyarakat membuktikan bahwa Rama dan Dewi Sri adalah merupakan tokoh-tokoh sosiawan dan dermawan yang mencintai sesamanya.

Kitab Ramayana merupakan hasil sastra India yang indah dan berani. Menurut perkiraan, di India ada lebih dari 100 juta orang yang pernah membaca kitab Ramayana, artinya bahwa penggemar cerita Ramayana melebihi pembaca Weda. Menurut para budayawan, kitab Ramayana digubah oleh seorang Empu Agung, yaitu Empu Walmiki. Kitab ini terbagi-bagi menjadi 7 bagian atau 7 kandha.

Kontroversi Ramayana I 2Peninggalan   Asokha

Saptakanda Ramayana

Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kanda yang disebut Saptakanda yang terdiri dari:

  1. Balakanda
  2. Ayodhyakanda
  3. Aranyakanda
  4. Kiskindhakanda
  5. Sundarakanda
  6. Yuddhakanda
  7. Uttarakanda

Balakanda

Merupakan awal dari kisah Ramayana. Pada batu karang sunga Sarayu berdiri kota yang indah  Ayodhya, ibukota  Kosala. Di kota terdapat terdapat istana yang megah yang dihias dengan batu mulia  Untuk keperluan keamanan kota dikelilingi dengan parit yang lebar. Rakyatnya aman makmur sejahtera Tak ada seorangpun orang miskin atau orang papa. Setiap orang berbhakti kepada Tuhan dan membaca kitab suci setiap hari. Setiap orang memahami fungsinya di masyarakat. Para Brahmana mengabdikan dirinya untuk mendalami naskah suci. Pejabat dan tentara memerintah dan melindungi Negara. Petani dan pedagang menyediakan bahan makanan dan pakaian kepada penduduk. Tetapi prabu Dasarata tidak merasa bagagia, meskipun beliau sudah tua, beliau tidak memiliki putra sebagai putra mahkota. Beliau mempunyai 3 istri yaitu Dewi Kausalya (Sukasalya) yang berputra Rama, Kekayi yang melahirkan Barata, dan Dewi Sumitra yang berputra Lasmana dan Satrugna (Satrugena).

 Di  negeri bernama Mithila (Wideha) beberapa tahun yang lalu,  dari sebidang tanah yang sedang dibajak, ditemukan seorang bayi wanita. Dia beranjak dewasa dan menjadi  seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi Sitha. Dia seorang puteri raja negeri Mithila yaitu  Prabu Janaka. Suatu hari sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya yaitu Shinta. Yang diinginkan untuk menikahi Sitha, hendaklah seorang laki-laki perkasa  dan hidup dijalan kebenaran. Untuk membuktikan kekuatannya , orang itu harus mampu mengangkat dan menarik busur  dari tangkai panah kuno Dewa Siva. Tak seorangpun yang mampu untuk mengangkatnya.

 Ketika Rama melewati Mithila, Sang Rama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Rama memasuki ruangan yang panjang yang dipenuhi banyak orang . Busur itu sangat berat dan diperlukan 5.000 orang yang kuat-kuat  untuk membawa busur dan sarungnya ke ruangan. Beberapa Pengeran melihat Rama menghampiri Busur dan melihat Busur Siva. Pertama disentuhnya busur yang indah itu. Dengan upaya yang tak begitu keras , dia mengangkat busur dari sarungnya dan membentangkannya. Ketika dia melakukan hal itu busur patah menjadi dua dan jatuh ke lantai, sepertinya sulit untuk dipercaya dan kemudian semua orang berdiri dan meneriakkan “Rama, Rama”. Raja berdiri dan menyatakan “Sita telah menemukan suaminya dan menyampaikan informasi ke Ayodhya mengenai pernikahan Rama dengaan Sitha. Setelah upacara selesai, yang diiringi dengan mantra suci para pendeta, kemudian Raja Janaka membimbing Sita kepada Rama : ”Inilah Sitha putriku, O Rama, yang mulai hari ini akan menjadi partner dalam hidupmu. Terimalah dia, peganglah erat-erat tangannya. Dia akan mengikutimu sebagai bayanganmu.” Rama melihat kearah  Sitha. Dia belum pernah melihat wanita yang lebih cantik dari Sitha  Sitha juga belum pernah melihat pria yang lebih gagah dari Rama. Dengan  membawa Dewi Sitha, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.

Kontroversi Ramayana I 4Rama Mengangkat Busur Siwa

Ayodhyakanda

Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Tetapi alangkah kagetnya sang Raja Dasarata bahwa di malam hari menjelang penobatan Rama, dewi Kekayi mengingatkan pada Dasarata akan janji yang telah diucapkan tentang anaknya  Barata agar bisa naik tahta. Dan selanjutnya agar Barata tenang memerintah Ayodya, Tentu saja sang Prabu Dasarata sedih sekali dan tidak kuasa menolak janji yang telah diucapkan kepada Kekayi. Hampir-hampir sang Dasarata lari akan bunuh diri. Namun Sri Rama tahu akan gelagat itu, dengan rela hati melepaskan haknya dan pergi bersama Sitha  ke hutan selama 14 tahun.  Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Sejak itulah Sang Dasarata menderita sakit dan akhirnya  meninggal.  Barata diangkat sebagai raja. Sesaat menduduki singgasana, selanjutnya Barata tidak mau naik tahta malahan lari mencari Rama di hutan untuk menyerahkan kembali pemerintahan kepada kakaknya, tetapi Sri Rama harus menggenapkan14 tahun di hutan. Untuk itu terompah Sri Rama dibawa kembali ke Ayodya sebagai ganti Sri Rama

Pada suatu hari, Rsi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para rakshasa. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian oleh  Rsi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para rakshasa yang mengganggu upacara para Rsi.

Aranyakakanda

Menceritakan tentang Batara Wisnu yang menitis ke Rama. Rama memang titisan Batara Wisnu yang ke sembilan kalinya. Penitisan ini menjadikan karakter Rama benar-benar bertindak ingin meluruskan perilaku umat yang jahat dengan  kesabaran dan kebenaran. Rama dalam pengasingan di hutan sudah berkali-kali membantu para rohaniwan yang diganggu oleh raksasa. Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk Surpanaka. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada Rawana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana Prabu Rawana, yang juga sedang kasmaran, namun bukan kepada Dewi Sitha tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rawana, Sitha dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Dalam sebuah perjalanan Rama dan Sitha dan disertai Lasmana adiknya yang sedang melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka,  Prabu Rawana mengintai mereka bertiga, khususnya Sitha. Rawana ingin menculik Sitha untuk dibawa ke istananya dan dijadikan istri, dengan siasatnya Rawana mengubah seorang hambanya bernama Marica menjadi seekor kijang kencana. Dengan tujuan memancing Rama pergi memburu kijang ‘jadi-jadian’ itu, karena Dewi Sitha menginginkannya. Dan memang benar setelah melihat keelokan kijang tersebut, Sitha meminta Rama untuk menangkapnya. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri sedangkan  Lasmana menunggui Sitha. 

 Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Sitha mulai mencemaskan Rama, maka meminta Lasmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Sitha seorang diri Lasmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Sitha yaitu dengan membuat lingkaran magis. Sitha tidak diperkenankan mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya. Setelah kepergian Lesmana, Rawana mulai beraksi untuk menculik, namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut. Rawana mulai cari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Sitha untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Sitha mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah. Saat itu juga Rawana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Sitha keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rawana, Sitha dibawa pulang ke istananya di Alengka. Saat dalam perjalanan pulang itu terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Sitha. Jatayu dapat mengenali Sitha sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rawana. Disaat yang sama Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya, namun kijang itu berubah kembali menjadi raksasa, dalam wujud sebenarnya Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lasmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Sitha ditinggal sendirian, namun  Sitha tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang didugamya  menculik Sitha dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Sitha adalah Rawana. Setelah menceritakan semuanya akhirnya si burung garuda ini meninggal.

Kiskindhakanda

Menceritakan Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Diperjalanan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Setelah meraih kemenangan bertahtalah Sugriwa di kerajaan Kiskindha. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Sitha, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman pergi ke istana Alengka mencari tahu tempat  Rawana menyembunyikan Sitha dan mengetahui kekuatan pasukan Rawana. Bersekutulah Sugriwa dengan Rama dan saling berjanji akan tolong-menolong. Selanjutnya Sugriwa memerintahkan prajurit kera berangkat ke Alengka. Setelah sampai di pantai, maka para kera bingung karena tidak mampu menyeberangi laut.

Kontroversi Ramayana I 5Pasukan Wanara membuat Jembatan ke  Alengka

Sundara Kandha

Mengisahkan  tentara Kiskindha yang membangun jembatan Situbanda yang menghubungkan India dengan Alengka.  perjalanan sang Hanuman yang menjadi utusan Sri Rama. Hanuman, kera putih (wanara seta) kepercayaan Rama, si anak dewa Angin menuju ke negara Alengka dengan cara mendaki gunung Mahendra, kemudian meloncati menyeberang samodra dan tibalah di Alengka. Seluruh kota dijelajahinya hingga masuk di istana. Hanuman dan bertemu dengan Sitha. Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Sitha menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Sitha ditemani oleh Trijata kemenakan Rawana, yang juga berusaha membujuk Sitha untuk bersedia menjadi istri Rawana. Karena sudah beberapa kali Rawana meminta dan ‘memaksa’ Sitha menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rawana habis kesabarannya dan ingin membunuh Sitha namun dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Sitha di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Sitha, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rawana dan kemudian dibawa kepada Rawana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Dengan ekornya yang menyala itu mengakibatkan seluruh kota itu terbakar, kemudian kembalilah Hanuman ke Ayodya melaporkan peristiwa itu ke hadapan Sri Rama.

Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.

 Yudha Kandha

Menceritakan tentang Wibisana yang diusir Rahwana dan akhirnya Wibisana bergabung dengan sang Rama. Sebelumnya Wibisana memberikan petunjuk agar kakaknya yaitu Sang Rahwana mau mengembalikan Sitha kehadapan Rama, namun petunjuk tersebut membuat Rahwana marah.  Wibisana disuruh pergi dari Alengka. Ia pergi bergabung dengan Sri Rama.  Dalam peperangan antara bala tentara Sri Rama dan Rawana,  Indrajid gugur, Kumbakarna beserta prajurit dan para senapati gugur dalam perang berebut Sitha. Rahwana yang sakti itu mengamuk, peperanganpun berlanjut dan banyak  prajurit kera yang mati. Hampir saja Rama kewalahan karena kesaktian Rahwana, akhirnya Rahwanapun mati. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman. Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja Alengka.

Selesailah peperangan antara Sri Rama melawan Rahwana. Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja Alengka. Di hati Rama ternyata ada keraguan tentang kesucian Sitha. Untuk membuktikan, maka ia menyuruh membuat api unggun. Masuklah Sitha ke dalam api itu. Ternyata tidak mati, justru dewa Agnilah menyerahkan Sitha untuk Rama sebab Sitha memang masih suci. Kini Sitha bersama Rama pulang ke Ayodya, diiringi oleh tentara kera. Mereka disambut oleh Barata, yang segera menyerahkan tahta kerajaan kepada Sri Rama.

Kontroversi Ramayana I 6

Utara Kandha.

Dua pertiga dari buku Utara kandha ini berisi tentang cerita yang tidak ada kaitannya dengan riwayat Sri Rama. Setelah pertempuran yang dasyat  dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Sitha.  Ketika  Sitha diboyong ke Utara (Ayodya), Sri  Rama mendengar desas-desus rakyat bahwa kehadiran Sitha  sangat disangsikan akan kesuciaannya. Demi memperlihatkan kesempurnaannya, maka Sitha yang pada saat itu dalam keadaan hamil diusir dari Ayodya oleh Rama. Pergilah Sitha dengan tiada tujuan tertentu dengan mengenakan pakaian orang sudra papa dan sampailah di pertapaan Empu Walmiki. Usia kehamilan Sitha semakin besar, maka setelah tiba waktunya lahirlah dua anak yang ternyata lahir kembar, diberi nama Kusa dan Lawa. Keduanya diasuh dan dibesarkan oleh Empu Walmiki dan dididik membaca kakawin. Sang Walmiki juga menulis cerita riwayat Rama dalam kakawin. Suatu saat ketika sang Rama mengadakan aswameda yaitu korban pembebasan kuda, Kusa dan Lawa diajak hadir oleh sang Walmiki. Kedua anak muda inilah yang membawa kakawin gubahan sang Empu.

Setelah pembacaan Kakawin dengan riwayat Sang Rama, barulah tahu bahwa Kusa dan Lawa adalah anaknya sendiri. Maka segera Walmiki diminta untuk mengantar Sitha kembali ke istana. Setiba di istana Sitha bersumpah “janganlah kiranya raganya tidak diterima oleh bumi seandainya tidak suci.” Seketika itu juga bumi terbelah menjadi dua dan muncullah Dewi Pretiwi yang duduk di atas singgasana emas yang didukung oleh ular-ular naga. Sitha dipeluknya dan dibawanya lenyap masuk ke dalam belahan bumi.

Tentu saja Sri Rama sangat menyesal atas semua itu. Perasaan Rama sangat haru melihat sang Dewi Pretiwi yang berkenan untuk muncul menjemput Sitha. Peristiwa tersebut telah membuat Rama mengerti akan kesetiaan Sitha kepadanya. Itulah penyesalan Rama, yang kemudian dinyatakan pada semedinya di pantai samudra dan lepaslah penitisan Wisnu kembali ke Sorgaloka untuk bertemu dengan sang istri yaitu Dewi Pretiwi

Sumber :prabukalianget.wordpress.com

About admin

Check Also

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi Perangan Kang Kapisan Wiwit Jaman Indhu tumekane Rusaking Karajan Majapahit Abad 2 ...