Tuesday , June 19 2018
Home / Agama / Konsep Tajjali dalam Pemikiran Ibnu Arabi

Konsep Tajjali dalam Pemikiran Ibnu Arabi

Ibnu ArabiKonsep tajjali, menurut Ibnu Arabi, merupakan keinginan dari Tuhan yang ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Kemudian Ia menciptakan alam semesta sebagai manifestasi (tajjali) atas eksistensinya dalam tiga martabat.

Kesatu, martabat ahadiyah. Pada martabat ini wujud (eksistensi) Tuhan merupakan ‘dzat-murni’ yang tunggal dan mutlak, tidak bernama dan tidak bersifat. Karena itu, Tuhan tidak dapat dipahami dan disimbolkan, bahkan tidak dapat diketahui─saking tidak ada yang sederajat atau tidak ada yang sama dengan-Nya (QS Al-Hasyr: 23; Asy-Syura: 11; Thaha: 14; Al-Ikhlas: 1; Al-Baqarah: 163, 255; Ali Imran: 2, 18, 51; Al-Anbiya: 22; dan Al-Mu’minun: 116). Kedua, martabat wahidiyah, yaitu penampakkan (tajalli) pertama dan paling suci; atau manifestasi dzat pada sifat dan asma (nama)-Nya. Dengan tajalli ini dzat tersebut dinamakan Allah sebagai pengumpul dan pengikat sifat-sifat dan asma-asma-Nya (QS Thaha: 8; Al-A’raaf: 180; Al-Isra: 110; dan Al-Hasyr: 23).

Ketiga, martabat (tajjali) syuhudiyah, yaitu limpahan suci dari martabat wahidiyah. Pada martabat ini Allah memanifestasikan diri-Nya melalui asma dan sifat-Nya dalam bentuk kenyataan faktual (semesta) berupa aneka ciptaan-Nya. Semua ciptaan termasuk manusia dan alam semesta beserta isinya adalah wadah (mazhar) dan semuanya (yang dicipta Allah) bergantung kepada-Nya. Artinya, selama masih ada Tuhan dan masih berkehendak maka alam semesta dan aneka ciptaan-Nya akan tetap ada.

Menurut Ibnu Arabi, tajalli ilahi yang paling sempurna adalah diciptakannya manusia dengan peran dan tugasnya sebagai khalifah di bumi (QS Al-Baqarah: 30). Sosok manusia sempurna di dunia ini hanya ada seorang, yaitu Nabi Muhammad saw. Selainnya, dapat dikatakan kurang sempurna. Mengapa Rasulullah saw paling sempurna? Karena beliau merupakan pancaran (nur-Muhammad) yang berasal dari Allah; yang pertama kali diciptakan sekaligus tempat berasalnya ruh segala makhluk dan menjadi sumber dari ajaran agama-agama. Karena itu, Ibnu Arabi berkeyakinan bahwa semua umat yang beragama (meskipun berbeda-beda agamanya) sebenarnya menyembah Yang Maha Tunggal, yang menampakkan dalam bentuk-bentuk yang mereka yakini dan sembah. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk-bentuk luar semata. Ada pun substansi dalamnya tetap Yang Maha Tunggal, yang berdiri mandiri dengan wujud-Nya.

Jalaluddin Rumi, seorang sufi dari Persia, mempunyai analogi yang (saya kira) tepat tentang “wujud” hakikiyah (Tuhan). Rumi bercerita bahwa ada orang India membawa seekor gajah ke suatu negeri yang penduduknya belum pernah melihatnya. Mereka tempatkan gajah itu di sebuah rumah yang gelap tanpa cahaya. Lalu, orang-orang pun masuk ke rumah itu satu demi satu untuk merabanya. Begitu mereka keluar dari rumah itu, masing-masing pun bercerita tentang apa yang ditangkap indera perabanya. Salah seorang yang tangannya meraba belalai mengatakan: gajah itu seperti terompet! Yang meraba telinganya mengatakan: gajah itu seperti kipas! Orang tinggi yang bisa meraba punggungnya mengatakan: gajah itu seperti kasur! Sedang si pendek yang hanya bisa meraba kaki-kakinya mengatakan: gajah itu seperti tiang!

Mereka semua tidak bersepakat. Masing-masing meyakini bahwa apa yang dirabanya itu benar-benar mewakili makhluk gajah tersebut. Mereka pun saling klaim dan saling gugat.

Dari cerita Rumi tersebut tampak bahwa pemahaman setiap orang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh “penangkapan” yang bersifat parsial sehingga wujud-mutlak yang ada dalam ruang dan waktu terbatasi dengan “tabir-gelap” yang melingkupi para penafsir (peraba). Faktor kegelapan ruang dan waktu inilah yang mengakibatkan mereka saling memunculkan temuan dan pemahamannya yang beragam. Padahal, kalau saja ada “pelita” (di dalam ruang dan waktu yang gelap itu) pasti mereka akan paham dan mengerti bahwa “wujud-mutlak” (gajah di atas) adalah kesatuan dari temuan-temuan mereka. Pendeknya, “realitas-hakikiyah” dapat diketahui dan dipahami ketika ada “cahaya” yang menerangi dan membuka “tabir-gelap” yang membatasi panca indera dan akal pikiran kita.

Untuk melengkapi bahasan, ada sebuah riwayat bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah ditanya: ”Apakah ia telah melihat Tuhan?” Ia menjawab: “Aku tidak menyembah Tuhan yang terlihat mata maupun yang berada di satu arah. Tetapi, aku hanya menyembah kepada Tuhan yang terlihat dengan ‘hati’ (iman) yang hadir di semua arah.”

Karena itu, “realitas-hakikiyah” Tuhan tidak dapat didefinisikan dan dijelaskan dengan bahasa maupun simbol-simbol. Ia hanya mampu dirasakan dan dipahami melalui ‘kesadaran’ yang terang karena cahaya. Selama kita belum diterangi ‘cahaya’ maka yang ada dan tampak adalah “temuan-temuan” yang parsial dan terbatas. Allah berfirman, “Dia tidak bisa dicapai oleh penglihatan mata, tetapi Dia bisa melihat segala yang kelihatan.” (QS Al-Anam: 103)

Dari pembahasan yang cukup jlimet di atas, dapat ditarik sebuah simpulan sementara bahwa istilah dan nama-nama “Tuhan” (yang berbeda pada setiap agama) adalah manifestasi (penampakan) dari “wujud-mutlak” yang disimbolkan melalui cara dan tingkat pemahaman para penganut serta lokalitas (ruang dan waktu) budaya atau agama setempat dan utusan-Nya.

albanduni.wordpress.com

About admin

Check Also

Taubat

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلا ، وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ ...