Sunday , November 19 2017
Home / Agama / KONSEP MUHAMMAD SAW SEBAGAI PENUTUP PARA NABI

KONSEP MUHAMMAD SAW SEBAGAI PENUTUP PARA NABI

KONSEP MUHAMMAD SAW SEBAGAI PENUTUP PARA NABIImplikasinya dalam Kehidupan Sosial serta Keagamaan
 oleh Nurcholish Madjid

Suatu kenyataan sejarah yang amat menarik tentang Nabi Muhammad saw ialah bahwa sejak beliau tampil sekitar lima belas abad yang lalu sampai sekarang tidak pernah muncul tantangan  yang cukup berarti atas klaim bahwa beliau adalah penutup segala Nabi dan Rasul. Di mata beberapa orang sarjana Islam terkemuka, seperti Fazlur Rahman, kenyataan itu merupakan bukti dan dukungan bagi pandangan Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah benar-benar yang terakhir dalam deretan mata rantai para Nabi dan Utusan Allah sepanjang sejarah ummat manusia.

Konsep bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan Rasul adalah cukup sentral dalam sistem kepercayaan Islam. Dan  implikasi konsep itu cukup luas dan penting. Hal itu terbukti antara lain dari adanya beberapa kontroversi yang memakan korban akhir-akhir ini di kalangan ummat Islam, seperti pengkafiran kaum Ahmadiyah oleh Rabithat al-Alam al-Islami dengan dampak pengucilannya di Pakistan. Juga, yang lebih dramatis, sikap permusuhan yang sengit pemerintah Republik Islam Iran terhadap kaum Baha’i (jika memang kaum Baha’i masih dapat dipandang sebagai bagian dari Islam; jika tidak, maka penyebutannya disini menjadi tidak relevan).

Namun  agak mengherankan bahwa meskipun doktrin tentang Nabi Muhammad saw itu begitu penting dan sentral dengan implikasi yang luas dan asasi, sedikit sekali para ahli tafsir al-Qur’an yang memberi perhatian dan ulasan  kepada masalah pokok ini ketika menjabarkan makna firman  Allah yang terkait. Bahkan Sayyid Qutb, seorang ahli tafsir al-Qur’an zaman modern dengan karyanya yang berjilid-jilid, Fi Dhilal al-Qur’an, ternyata membahas masalah ini hanya secara sepintas lalu saja.

Tidak bedanya dengan Sayyid Muhammad dengan al-Thaba’Thaba’i, penulis kitab tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an yang juga berjilid-jilid, juga menyinggung masalah ini secara sekedarnya saja.

Para penafsir al-Qur’an dari zaman modern ini dan yang berlatar  belakang pengalaman dalam budaya modern justru lebih menyadari implikasi penting pandangan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan Rasul. Dengan referensi silang dalam  kitab  tafsirnya, Muhammad Asad, misalnya, menunjukkan makna yang lebih luas dan fundamental dari pandangan itu, dengan implikasi yang juga luas dan fundamental. Makalah ini banyak menggunakan pendekatan Muhammad Asad dalam pengembangan argumennya, disamping sumber-sumber lain yang relevan

Karena pokok pembahasan disini dalam beberapa segi menyangkut masalah aqidah (simpul keimanan) maka tentu tidak dapat diremehkan signifikansinya. Karena itu pengembangan lebih lanjut argumen disini oleh mereka yang berwenang secara ilmiah akan sangat disambut gembira.

CONTOH KLAIM KENABIAN: KASUS GHULAM AHMAD DAN JOSEPH SMITH

Sebagai gambaran nyata, di zaman modern ini terdapat beberapa orang pengaku kenabian. Kehadiran mereka tidak memiliki dampak   seperti yang diharapkan dari yang benar-benar Nabi dan Rasul, namun mereka mempunyai pengikut. Di India pernah muncul Mirza Ghulam Ahmad yang dipandang oleh para pengikutnya (versi Qadianis ,dan bukan bersi Lahore) sebagai seorang Nabi.   Namun dalam beberapa penjelasan terdapat penegasan bahwa kenabian Mirza adalah jenis “kenabian kecil” (minor prophethood), karena ia “hanya” bertugas meneruskan dan menghidupkan  kembali  pesan suci Nabi besar Muhammad saw. Keterangan mengenai hal ini dari seorang tokoh gerakan Ahmadiyah terbaca demikian:

Klaim Hazra Mirza Ghulam Ahmad (salam-sejahtera atasnya), ialah  bahwa Tuhan telah membangkitkan dia untuk membimbing dan memberi petunjuk ummat manusia; bahwa dia adalah al-Masih yang  diramalkan dalam  Hadits-hadits  Nabi Besar (Muhammad saw) dan Mahdi yang dijanjikan dalam  sabda-sabda (Nabi  Muhammad  saw);  bahwa nubuwat (ramalan  suci) yang termuat dalam berbagai kitab suci agama tentang tampilnya seorang utusan Tuhan pada zaman akhir juga telah dipenuhi dalam dirinya; bahwa Tuhan telah membangkitkannya untuk membela dan menyebarluaskan Islam di zaman kita; bahwa Tuhan telah memberinya karunia pemahaman mendalam tentang al-Qur’an, dan mewahyukan kepada dia maknanya  dan kebenarannya yang paling mendalam; bahwa Dia telah mewahyukan kepadanya berbagai rahasia hidup salih. Dengan karyanya, pesannya, dan teladannya, dia mengagungkan Nabi Besar (Muhammad saw) dan membuktikan keunggulan Islam atas agama-agama yang lain.

Di Amerika muncul seorang bernama Joseph  Smith,  yang  oleh para  pengikutnya  dari Kristen sekte “The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saint” (kaum  “Mormon”) juga dianggap sebagai Nabi. Tapi, sama halnya dengan hubungan Mirza dengan Nabi Muhammad saw, Smith pun mengaku “hanya” meneruskan dan menghidupkan  kembali ajaran Isa al-Masih  as,  khususnya berkenaan dengan  kitab sucinya yang “hilang,” yang disampaikan  oleh  Isa  al-Masih kepada penghuni kuno kedua benua Amerika (Utara dan Selatan), yaitu  Buku  Mormon  (The Book of Mormon). Suatu penuturan dalam pengantar Buku Mormon itu terbaca demikian:
 
Buku  Mormon  adalah  suatu  jilid  dari  kitab  suci   yang sebanding  dengan  Bibel.  Ia merupakan catatan urusan Tuhan dengan penghuni kuna kedua benua  Amerika  dan,  sebagaimana Bibel, memuat pemenuhan gospel yang abadi.
 
Buku  itu  ditulis oleh banyak Nabi kuna dengan ruh kenabian dan  wahyu. Kata-kata  mereka, tertulis  pada lempengan- lempengan emas, dikutip dan diringkas oleh seorang nabi dan ahli sejarah, bernama Mormon…
 
Puncak  kejadian  yang  tercatat  dalam  Buku  Mormon  ialah kependetaan  pribadi  Tuhan  Yesus  Kristus di kalangan kaum Nephites segera setelah  kebangkitannya  kembali.  Buku  itu mengemukakan  doktrin-doktrin  gospel,  memberi  garis besar rencana penyelamatan, dan  memberi  tahu  manusia  apa  yang harus mereka kerjakan untuk memperoleh kedamaian dalam hidup ini dan keselamatan abadi dalam hidup yang akan datang.
 
Setelah  Mormon  menyelesaikan  tulisannya,  ia  menyerahkan cerita  itu kepada anaknya Moroni, yang menambahkan beberapa kata dari dirinya sendiri dan menyembunyikan lempengan-lempengan tadi di bukit Cumorah. Pada tanggal 21 September 1323, Moroni itu sendiri, yang saat itu merupakan makhluk yang dimuliakan dan dibangkitkan kembali, menampakkan diri pada Nabi  Joseph  Smith dan  mengajarinya berkenaan dengan catatan kuna itu serta penerjemahannya yang mesti terjadi ke dalam bahasa Inggris.
 
Selanjutnya lempengan-lempengan tersebut diberikan kepada Joseph Smith, yang menerjemahkannya dengan anugerah dan kekuatan dari Tuhan. Catatan itu sekarang diterbitkan dalam banyak bahasa sebagai saksi baru dan tambahan bahwa Yesus Kristus adalah Putera dari Tuhan yang hidup dan semua  orang yang bersedia datang kepadanya serta menaati hukum-hukum dan ajaran-ajaran gospelnya akan terselamatkan.
 
Tapi, seperti telah disinggung, dan sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, kehadiran baik Mirza maupun Smith tidak meninggalkan dampak sosial dan  spiritual dengan keluasan dan kedalaman seperti yang biasanya ditinggalkan oleh para Nabi terdahulu. Karena  itu  bagi  hampir seluruh kaum  Muslim  klaim  Mirza  akan  kenabian itu harus ditolak (atau ditafsirkan kembali seperti  dilakukan  oleh  sebagian pengikutnya sendiri dari versi  Lahore); dan bagi hampir semua kaum Kristen klaim Joseph Smith pun ditolak, dan kaum Mormon diakui  hanya  sebagai  salah satu saja dari puluhan atau ratusan sekte dan denominasi dalam agama Kristen.
 
Klaim kenabian atau, apalagi, kerasulan, akan menimbulkan masalah dalam masyarakat,  karena  logika  setiap  klaim kenabian atau kerasulan tentu menuntut kepada  setiap  orang untuk  menerima,  membenarkan  dan  “beriman” kepada pengaku itu. Ghulam  Ahmad,  misalnya, memperlihatkan  gejala  ini, seperti dengan jelas bisa dipahami dari pernyataan berikut:
 
Setelah secara singkat menggambarkan klaim al-Masih Yang Dijanjikan the Promised Messiah), Pendiri Gerakan Ahmadiyah, saya ingin menerangkan kriteria umum yang dengan itu kebenaran pengaku (kenabian) serupa  itu  bisa  dinilai.Jika  telah  terbukti bahwa pribadi tertentu mendapat tugas Maki sebagai Utusan Tuhan, maka menjadi wajib atas setiap orang untuk menerima pengakuannya itu.
 
Kaum Mormon pun mempunyai sikap yang serupa, sebagai konsekuensi kepercayaan mereka bahwa Joseph Smith adalah seorang Nabi. Dalam pengantar Buku Mormon dikutip perkataan kita sendiri, demikian: Berkenaan dengan  catatan  ini  Nabi Joseph Smith  berkata: “Saya  telah  katakan kepada  para saudara bahwa Buku Mormon adalah buku yang paling benar dari semua buku yang ada di muka bumi, dan batu dasar agama kita, dan seseorang akan menjadi lebih dekat kepada  Tuhan  dengan menaati ajaran-ajaran buku itu daripada dengan buku lain manapun.”
 
Kegawatan muncul karena setiap sikap menerima atau menolak sesuatu dari pesan Ilahi akan dengan sendirinya bersangkutan dengan masalah keselamatan atau  kesengsaraan.Maka logika pengakuan kenabian, lebih sering daripada tidak, mengundang percekcokan tajam, sebab terjadi dalam kerangka kemutlakan (ultimacy). Karena  itu pengaku kenabian tentu menghasilkan sistem  kepengikutan yang eksklusifistik, yang menampik “orang  luar” untuk menyertai mereka dalam panji keselamatan dan kebahagiaan. Dalam penampilannya yang ekstrem, seperti ditunjukkan  oleh  berbagai perkumpulan yang bersifat kultus (cultic) di banyak  negara (terutama Amerika), harapan keselamatan yang dipusatkan dan digantungkan kepada pribadi seorang tokoh akan melahirkan gejala-gejala anti sosial dan penuh permusuhan. Maka agaknya yang diperlukan oleh manusia zaman modern bukanlah tokoh yang mengarah kepada penampilan bergaya cultic, melainkan yang manusiawi biasa, terbuka dan tampil dalam gaya dialogis dengan  anggota masyarakat yang lebih luas dalam semangat persamaan hak dan kewajiban. Dan hal ini memerlukan suatu perangkat kepercayaan yang kukuh bahwa  sekarang  tidak  ada  lagi  yang dibenarkan mengklaim sebagai “petugass” dari Tuhan.
 
NABI MUHAMMAD PENUTUP SEGALA NABI
 
Keterangan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para  nabi dan  Rasul  diberikan dalam al-Qur’an dalam rangkaian firman Allah dan  ajaran-Nya  tentang  pembatalan  praktek  tabanni (mengangkat  anak,  kemudian  anak  itu  diakui seperti anak sendiri, seolah benar-benar mempunyai pertalian darah dengan orang  tua  angkat  bersangkutan,  dengan segala konsekuensi kehukuman atau legalnya).  Praktek  tabanni  itu  dibatalkan karena  tidak sesuai dengan ajaran Islam yang lebih mendalam dan asasi, yaitu ajaran  tentang  fitrah  yang  antara  lain menghendaki  segala sesuatu dinilai, dipandang dan dilakukan berdasarkan kenyataan intrinsiknya, bukan  fakta  formalnya. Karena  tabanni  memberi hak kehukuman kepada seseorang anak angkat hanya  karena  ia  dinyatakan  sebagai  anak  sendiri secara  lisan  (yakni,  secara  formal),  maka  praktek  itu dianggap tidak fithri.

Dalam sangkutannya dengan Nabi, praktek tabanni (yang beliau lakukan untuk bekas budaknya yang dimerdekakan oleh beliau sendiri, Zayd [ibn Haritsah])  mengakibatkan sebutan Nabi sebagai “bapak” seseorang diantara kaum beriman, yaitu Zayd (maka ia disebut Zayd ibn Muhammad), dengan mengesampingkan kaum  beriman yang lain. Maka firman Allah mengenai hal ini terbaca: “Muhammad itu bukanlah bapak seseorang dari  antara kaum lelakimu, melainkan Rasul Allah dan penutup para Nabi.” Kemudian, mendahului firman itu terbaca firman: “Nabi lebih berhak atas kaum beriman daripada diri mereka sendiri, dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu  mereka…” Sudah tentu  yang dimaksud bahwa isteri-isteri Nabi itu adalah ibu-ibu kaum beriman ialah dalam pengertian spiritual. Maka Nabi sendiri, sementara dinyatakan sebagai bukan bapak salah seorang diantara kaum beriman,  adalah bapak (spiritual) seluruh kaum beriman, yakni, panutan mereka semua. Inilah yang dapat kita simpulkan dari rangkaian firman-firman yang relevan.  Muhammad Asad menjabarkan bahwa penegasan itu mengandung arti  penolakan  kepada pandangan bahwa adanya hubungan fisik keturunan) dengan Nabi mempunyai makna spiritual tersendiri; sebaliknya, karena hubungan  kebapakan kepada  Nabi dan keibuan kepada para isteri beliau itu harus dipahami hanya sebagai  hubungan  spiritual  (dan  mustahil sebagai hubungan  fisikal), maka kedudukan seluruh kaum beriman dalam hal ini di hadapan beliau adalah mutlak  sama. Pengertian  ini  lebih-lebih  lagi  sangat logis karena Nabi Muhammad saw adalah Utusan Allah yang terakhir.
 
Untuk pengertian “penutup” itu al-Qur’an menggunakan istilah “khatam,” yang secara harfiah berarti “cincin,” yaitu cincin pengesah dokumen (seal, stempel), sebagaimana Nabi  Muhammad sendiri  juga  memilikinya  (antara  lain  beliau pergunakan mereka yang sahkan surat-surat yang  beliau  kirim ke  para penguasa  sekitar Jazirah Arabia saat itu). Jadi fungsi Nabi Muhammad saw terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau ialah untuk memberi pengesahan kepada kebesaran, kitab-kitab suci, dan ajaran mereka. Hal ini tersimpul  dari  penjelasan tentang  kedudukan  al-Qur’an terhadap kitab-kitab suci yang lalu, yaitu sebagai pembenar (mushaddiq)  dan  penentu  atau penguji  (mahaymin),  disamping  sebagai pengoreksi (furqan) atas  penyimpangan yang  terjadi   oleh para pengikut kitab-kitab itu. Penegasan itu kita dapatkan dalam al-Qur’an dalam deretan keterangan tentang kaum  Yahudi  dan  Kristen, disertai  harapan agar mereka benar-benar menjalankan ajaran agama mereka masing-masing  dengan  baik,  dan  dirangkaikan dengan  penegasan   pluralitas   kenyataan  hidup  manusia, termasuk dan  terutama  hidup  keagamaannya.  Di sini akan dikutip  deretan firman itu, karena amat patut (dan di zaman sekarang cukup mendesak) untuk disimak dan direnungkan  akan makna dan semangatnya:
 
Mereka  (kaum  Yahudi)  itu  suka mendengarkan kedustaan dan memakan  harta  terlarang.  Kalau  mereka  datang  kepadamu (Muhammad)  maka buatlah  keputusan  hukum  antara  mereka (berkenaan dengan  perkara  yang  menyangkut  mereka),  atau berpalinglah dari mereka. Jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidaklah akan merugikan engkau  sedikitpun  juga. Dan jika engkau buat keputusan hukum, maka buatlah keputusan hukum itu antara  mereka dengan  adil.  Sesungguhnya  Allah mencintai orang-orang yang berbuat keadilan.
 
Tetapi bagaimana mereka akan meminta hukum kepadamu, padahal mereka punya Taurat yang didalamnya ada hukum Allah kemudian mereka  berpaling  sesudah itu  (dari  keputusanmu). Mereka bukanlah kaum yang (benar-benar) beriman.
 
Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menurunkan Kitab Taurat yang didalamnya  ada  hidayah  dan cahaya, yang dengan Taurat itu para  Nabi  yang  berserah diri  (kepada   Allah)   membuat keputusan  hukum untuk mereka yang beragama Yunani, demikian pula  mereka  yang  ber-Ketuhanan (rabbaniyyun) dan para pendeta mereka, karena perintah agar mereka memelihara kitab Allah, dan mereka menjadi saksi atas hal itu. Maka janganlah kamu takut kepada manusia, melainkan takutlah kepada-Ku, dan jangan pula kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga  murah. Barangsiapa  tidak menjalankan hukum dengan yang diturunkan Allah maka mereka adalah kaum yang kafir.
 
Dan telah kami tetapkan  bagi  mereka  (kaum  Yahudi)  dalam Taurat bahwa  jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung,  kuping  dengan  kuping,  gigi  dengan gigi,   dan  luka  pun  ada  balasannya.  Namun  barangsiapa melepaskan haknya (untuk membalas),  maka  hal  itu  menjadi penebus  bagi  (dosa)-nya. Dan barangsiapa tidak menjalankan hukum dengan yang diturunkan Allah maka mereka  adalah  kaum yang zalim.
 
Dan Kami susuli atas jejak mereka dengan Isa putera Maryam sebagai pendukung bagi  kitab yang ada sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami karuniakan kepadanya Injil, didalamnya ada hidayah dan cahaya, sebagai mendukung kebenaran  kitab  yang ada, yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk dan nasihat bagi mereka yang bertaqwa.
 
Karena itu hendaknyalah para penganut Injil itu  menjalankan hukum dengan apa yang diturunkan  Allah  didalamnya. Barangsiapa tidak menjalankan hukum dengan yang  diturunkan Allah maka mereka adalah kaum yang fasik.
 
Dan Kami turunkan kepada engkau (Muhammad) dengan benar, sebagai pendukung   bagi  yang  ada sebelumnya, yaitu kitab-kitab suci (terdahulu) dan sebagai penentu (kebenaran kitab yang  lalu  itu).  Maka  jalankan  hukum  dengan  yang diturunkan Allah, dan jangan mengikuti keinginan mereka sehingga menyimpang dari yang datang  kepada  engkau,  yaitu kebenaran.  Untuk  masing-masing  dari  kamu (ummat manusia) telah Kami tetapkan tatanan hukum  (syir’ah,  syari’ah)  dan jalan  hidup  (minhaj).  Jika  seandainya Allah menghendaki, maka  tentu  akan  dijadikannya  kamu sekalian  ummat yang tunggal. Tetapi  Dia  hendak  menguji kamu berkenaan dengan hal-hal yang telah dikaruniakan   kepada   kamu. Maka berlombalah  kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah tempat kembalimu  semua, maka Dia akan menjelaskan kepadamu tentang  perkara  yang  pernah kamu perselisihkan.

Penafsiran  terhadap  ayat-ayat  Ilahi  ini  amat  baku   di kalangan  para  ahli  dan  ‘ulama. Pertama, dalam firman itu terdapat penegasan bahwa para penganut agama, dalam hal  ini Yahudi  dan Kristen, harus menjalankan ajaran kebenaran yang diberikan Allah kepada mereka  melalui  kitab-kitab  mereka, berturut-turut   Taurat   dan   Injil.  Kalau  mereka  tidak melakukan hal itu,  maka  mereka  adalah  kafir  dan  zalim. Kedua,  al-Qur’an  mendukung  kebenaran  dasar ajaran-ajaran dalam  kitab-kitab  suci  itu,  tapi  juga  mengujinya  dari kemungkinan   pengimpangan   oleh   para  pengikutnya.  Jadi al-Qur’an mengajarkan tentang kontinuitas agama-agama  Tuhan -sebagaimana banyak ditegaskan di berbagai tempat lain dalam al-Qur’an- sekaligus ajaran tentang perkembangan agama-agama Tuhan itu dari masa ke masa.
 
Segi  kebenaran  yang didukung dan dilindungi oleh al-Qur’an ialah kebenaran asasi yang menjadi inti semua  agama  Allah, khususnya  Tawhid  atau  paham Ketuhanan Yang Maha Esa. Inti agama yang umum itu dinyatakan dalam  istilah  Arab  al-din, yang  seperti dijelaskan oleh Muhammad Asad mengandung makna kebenaran-kebenaran agama/spiritual  yang  asasi  dan  tidak berubah-ubah, yang menurut al-Qur’an diajarkan kepada setiap Utusan Allah. Jadi semua Nabi dan Rasul membawa ajaran  inti keagamaan  (din)  yang sama, kecuali jika diselewengkan atau diubah oleh para pengikutnya.  Namun  para  Nabi  dan  Rasul tidak  membawa sistem hukum (syir’ah, syari’ah) ataupun cara hidup (minhaj, way of life) yang sama. Perbedaan dalam  segi ini membawa kepada adanya kenyataan plural agama-agama, yang sepanjang ajaran  al-Qur’an  tidak  perlu  kita  persoalkan, karena   itu   sudah   menjadi  kehendak  Allah  (Dia  tidak menghendaki masyarakat tunggal manusia), dan Allah pula yang akan menjelaskan adanya perbedaan ini.

Dari  urutan  dan  logika ajaran al-Qur’an itu dapat dilihat letak pandangan bahwa al-Qur’an adalah kulminasi semua kitab suci,  dan bahwa penerimanya, yaitu Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan Rasul. Sebab ajaran yang  dibawakannya adalah   perkembangan   akhir   dari   semua  agama,  menuju kesempurnaan. Maka Nabi Muhammad sebagai penutup segala Nabi juga  berarti  bahwa  beliau  diutus  untuk  sekalian  ummat manusia:
 
Katakan olehmu (Muhammad): “Wahai  sekalian  ummat  manusia! Sesungguhnya  aku  adalah Utusan Allah kepada kamu sekalian, yang bagi-Nya kekuasaan seluruh langit dan bumi; tiada Tuhan selain  Dia  yang menghidupkan dan mematikan.” Maka sekarang berimanlah kamu sekalian kepada Allah dan  kepada  Rasul-Nya yang   tak  pandai  baca  tulis  itu,  yang  beriman  kepada firman-firmanNya.  Ikutilah  dia,  agar   kamu   mendapatkan petunjuk.
 
Firman  ini,  dilihat  dari  letaknya, merupakan interpolasi atas deretan keterangan  tentang  Nabi  Musa dan keturunan Israel. Maksudnya ialah menjelaskan  bahwa  sementara Nabi-nabi terdahulu dan ajaran-ajaran yang dibawanya tertuju khusus  kepada bangsa, tempat dan zaman tertentu, namun Nabi Muhammad dan al-Qur’an tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa  terikat oleh bangsa, tempat maupun zaman tertentu. Sebab sesudah Nabi Muhammad saw tidak akan  lagi  ada  Nabi, dan sesudah al-Qur’an tidak diturunkan lagi kitab suci.

Oleh karena itu Nabi Muhammad saw juga disebut sebagai bukti rahmat atau  kasih  Allah  kepada  seluruh  alam, khususnya seluruh ummat manusia:
 
Dan tidaklah Kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan sebagai  rahmat   untuk sekalian alam. Katakan (olehmu, Muhammad), “Sesungguhnya diwahyukan kepadaku  bahwa  Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Apakah kamu bersedia tunduk (Islam) kepada-Nya?” Kalau mereka  berpaling, maka  katakan olehmu,  “Ku telah sampaikan hal ini kepada kamu semua tanpa perbedaan. Dan aku tidak tahu  apakah  dekat  (segera)  atau jauh  (terjadinya)  apa  yang  dijanjikan  kepada kamu (oleh Tuhan) itu.
 
Jadi paham Tawhid atau Ketuhanan Yang Maha Esa  adalah  inti ajaran  al-Qur’an,  sebagaimana juga  inti ajaran para Nabi yang lain. Kita diperintahkan untuk  tunduk  (Islam) kepada Tuhan Yang  Maha Esa itu.  Dan  ajaran  inti  ini  telah disampaikan  Nabi  kepada  ummat  manusia  tanpa  perbedaan.

Dengan  kata-kata  lain,  ajaran  adalah universal. Muhammad Asad  menjelaskan  segi-segi  yang  mendukung universalitas al-Qur’an, yaitu, pertama, seruan al-Qur’an tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa mempedulikan keturunan, ras dan lingkungan budayanya: kedua, fakta bahwa al-Qur’an menyeru semata-mata  kepada amal manusia  dan karenanya, tidak merumuskan dengan yang bisa diterima atas dasar kepercayaan buta semata; dan akhirnya, fakta bahwa -berbeda  dari  semua kitab  suci  yang  diketahui  dalam sejarah- al-Qur’an tetap seluruhnya  tak  berubah   dalam   kata-katanya sejak  ia diturunkan  dalam belasan abad yang lalu dan akan selamanya demikian keadaannya, karena ia diantara sedemikian  luas, sesuai dengan janji Illahi. “Dan Kami-(Tuhan)-lah yang pasti menjaganya” (QS. al-Hijr/15:9). Berdasarkan tiga daftar  isi muka al-Qur’an  merupakan tahap akhir wahyu Tuhan, dan Nabi Muhammad adalah penutup segala Nabi.

Implikasi bahwa al-Qur’an menyeru kepada akal, dan karenanya tidak  ada  dogma  yang  harus  diterima tanpa sikap kritis, ialah bahwa al-Qur’an terbuka bagi setiap  orang  yang  akan mencoba  untuk  menangkap  pesan-pesan  Ilahi  di  dalamnya. Keterbukaannya bagi setiap  orang  itu  benar-benar  sejalan dengan  tekanan  atas  adanya  tanggung jawab pribadi setiap orang kepada Allah kelak di akhirat, yang ajaran ini sendiri membawa  konsekuensi  tidak dibenarkannya sistem perantaraan bagi  seseorang   kepada   Allah   melalui   lembaga-lembaga keagamaan  seperti  kependetaan. Setiap orang adalah pendeta untuk dirinya sendiri, dalam arti bahwa dia sendirilah  yang mampu  membawa  jiwanya  untuk  mendekat kepada Allah, bukan orang lain.
 
Kemudian, implikasi dari prinsip  ini  ialah  bahwa  manusia tidak  lagi  perlu  kepada  pembimbing  keruhanian melainkan dirinya sendiri setingkat dengan  usahanya  memahami  ajaran Kitab  Suci  yang terbuka itu. Mungkin ia memerlukan bantuan dari seorang atau para sarjana (ulama), atau  pemikir,  atau pembaharu, namun tidak kepada seorang atau para tokoh dengan kekuasaan spiritual. Ini ditegaskan, misalnya, oleh A. Yusuf Ali dalam  tafsirnya  uraiannya atas ayat “penutup (khatam) pada Nabi:”
 
Jika sebuah dokumen telah distempel, ia telah  lengkap, dan tidak  boleh  ada  tambahan.  Nabi Besar Muhammad mengakhiri garis panjang para rasul. Ajaran Tuhan tetap berlanjut,  dan akan  tetap terus demikian, namun tidak pernah ada dan tidak akan ada lagi Nabi sesudah Muhammad. Zaman akhir memerlukan para  pemikir  dan  pembaharu  bukan Nabi-nabi. Ini bukanlah perkara sewenang-wenang. Ia merupakan keputusan dengan penuh pengetahuan   dan  kebijaksanaan:  “sebab  Allah  mengetahui sepenuhnya akan segala sesuatu.”
 
Maka kesimpulannya ialah sungguh banyak  implikasi  positif, baik sosial  maupun keagamaan,  dari  ajaran  bahwa Nabi Muhammad  s.a.w. adalah penutup segala Nabi. Dengan berakhirnya  kemungkinan ada Nabi dan Kitab suci serta agama sesudah Nabi Muhammad,  al-Qur’an  dan  agama  Islam,  maka manusia  tinggal harus mengembangkan apa  yang telah diwariskan itu, dalam semangat persamaan hak dan  kewajiban, dan dengan penuh rasa tanggung jawab pribadi kepada Allah di akhirat. Dan dengan begitu pula maka manusia  terbebas dari keharusan  tunduk tidak  semestinya  kepada  sesamanya, dan terbebas pula dari godaan cultic dan mitologi. Jalan lurus terbentang di hadapannya, dan tinggallah ia harus menempuhnya sesuai dengan  kemampuannya. Maka  konsep  Nabi Muhammad  sebagai  penutup  segala  Nabi terkait erat dengan semangat ajaran Tauhid.

About admin

Check Also

Surat Fathir 27, Gunung Berwarna Warni

Seperti halnya Surat Ar-Rahman 19-20 yang menyebutkan fenomena alam berupa pertemuan dua lautan yang tidak ...