Thursday , August 22 2019
Home / Berita / Konflik dan Teror menjelang Pemilu 2014

Konflik dan Teror menjelang Pemilu 2014

Konflik dan Teror menjelang Pemilu 2014Bangsa Indonesia 36 hari lagi akan melaksanakan pemilihan umum yang langsung, terbuka, bebas dan jujur, itulah esensi demokrasi. Prinsip demokrasi secara umum dikatakan, jika sebuah negara menyelenggarakan pemilu yang kompetitif dan multi partai. Jika partisipasi publik dalam politik meningkat, misalnya melalui pemberian hak suara kaum perempuan, negara tersebut dianggap telah menjadi semakin demokratis.

Dalam kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya memahami demokrasi, justru yang mengemuka adalah pemikiran kebebasan, dan menangkap pesan orang-orang pintar tentang  “vox populi vox   dei “  (suara rakyat adalah suara Tuhan). Inilah yang kini menjadi beban dan tanggung jawab aparat keamanan dalam mengamankan berlangsungnya pemilu dengan aman.

Kapolri Jenderal Pol Sutarman mengingatkan kemungkinan adanya ancaman teror yang sangat perlu diwaspadai. Sementara Kepala BIN Letjen Marciano Norman mengatakan, ancaman pemilu akan datang dari elemen separatis yang menyuarakan golput dan pemboikotan pemilu, serta ancaman jaringan radikal dan teroris yang menolak pemilu dan mempertanyakan legitimasi pemilu 2014. Ka BIN juga menekankan  bahwa dinamika menjelang pemilu berupa intrik politik, manuver pendanaan politik hingga pencitraan. Sikap itu akan berpengaruh kepada kelancaran pemilu dan diperkirakan akan mengimbas pada stabilitas keamanan.  Mereka yang tidak terakomodasi dalam pemilu bisa berupaya menggagalkan hasil pemilu.

Konflik dan Teror Menjelang Pemilu 2014

Dalam kondisi kurang difahaminya penerapan demokrasi, sejak beberapa tahun terakhir mulai terlihat terjadinya konflik di masyarakat. Konflik horizontal terjadi di lapisan bawah, di kalangan midle class serta kalangan elit. Konflik berupa kekerasan fisik pada umumnya terjadi dikalangan bawah, misalnya dalam masalah pilkada, masalah keyakinan agama (Suni dan Syiah), masih adanya pertentangan segelintir orang masalah Islam-Kristen, Islam-Budha, keributan antar kampung, keributan penduduk dengan pengusaha, konflik masalah korupsi, antara oknum TNI-Polri dan banyak lagi lainnya.

Menurut teori intelijen, konflik yang berkepanjangan akan mendorong timbulnya kebencian dan keinginan untuk balas dendam, membantu munculnya kelompok-kelompok yang tujuan utamanya adalah mengobarkan perang. Kondisi ini menyediakan tanah penyemaian yang ideal bagi jenis orang yang bersedia terlibat dalam teror massal. Sebagai contoh, jaringan teroris yang kini selnya masih berkembang di Indonesia adalah produk dari konflik berkepanjangan dari sekelompok orang yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam.

Dari intelligence estimate yang disampaikan oleh Kepala Badan Intelijen Negara, inti ancaman akan berada di lingkup gerakan separatis, terorisme, pok radikal dan  mereka yang frustrasi, tidak terwadahi. Sementara dilain sisi, intrik politik, money politics serta upaya pencitraan diperkirakan dapat berimbas kepada stabilitas keamanan. Yang paling dikhawatirkan adalah kegagalan pelaksanaan pemilu, oleh karenanya kelangsungan serta legitimasinya perlu dijaga dengan sepenuh tenaga.

Dari beberapa percikan peristiwa, kini mulai muncul dipermukaan rasa dan gangguan keamanan,  antara lain upaya penyadapan terhadap Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai kader PDIP, juga upaya penyusupan orang tak dikenal yang berusaha melakukan infiltrasi ke inner circle Bu Mega. Upaya ini merupakan langkah spionase.

Peristiwa kekerasan bersenjata telah terjadi di Aceh. Posko pemenangan Zubir yang terletak di di Desa Munyee Kunyet, Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh Utara diberondong dua pria bertopeng Minggu (16/2/2014). Zubir HT  maju sebagai calon anggota legistatif Partai NasDem dari daerah pemilihan empat Aceh Utara  Akibatnya, kaca jendela posko pecah dan sejumlah lubang terlihat di bagian dinding kantor ditembus projektil peluru. Tidak ada korban tewas dalam peristiwa trersebut,  hanya pelaku sempat menganiaya dua orang yang berada di dalam posko.

Menurut Kapolri, pelakunya sudah diketahui, “Jadi pelakunya sudah kita ketahui identitasnya. Pelakunya dari Aceh,” kata Sutarman usai melantik Kapolda Aceh yang baru Brigjen Pol Husein Hamidi di Mabes Polri, Jumat (28/2/2014). Terkait motif penembakan,  Kapolri  menjelaskan bahwa tersirat unsur politis di dalam kasus tersebut. “Motifnya politik. Mungkin persaingan antara partai lokal dan nasional,” katanya. Diimbau pelakunya agar segera menyerahkan diri, kalau tidak akan ditangkap.

Faisal (40), Kader Partai Nasional Aceh (PNA) telah ditembak orang tak dikenal hingga tewas pada hari , Minggu (2/3/2014) di kawasan gunung cut, desa Ladang Tuha, kecamatan Meukek,  Aceh Selatan. Saat kejadian, korban  mengendarai sendiri mobil honda Freed  itu  baru saja kembali dari Meulaboh. Polisi di TKP menemukan selongsong peluru sekitar 10 meter dari mobil korban dan terdapat 42 lubang tembakan pada bagian kanan mobil. “Kita belum mengatahui jumlah dan kendaraan yang digunakan pelaku, karena saat pihak kami ke TKP hanya ada korban dalam mobil, kami menduga Pelaku menggunakan senjata otomatis laras panjang,” kata Kapolsek meukek, AKP Subekti.

Kasus penembakan ini merupakan tindak kekerasan dalam dua bulan terakhir di Aceh, termasuk sejumlah kasus penembakan yang menewaskan beberapa politisi PNA. Partai Nasional Aceh merupakan partai lokal di Aceh yang didirikan oleh bekas pimpinan dan anggota Gerakan Aceh Merdeka, GAM, yang berseberangan dengan Partai Aceh  (PA). Ketua Umum PNA, Irwansyah mengatakan, dia menduga kasus penembakan yang menimpa pimpinan PNA di Aceh Selatan, tidak terlepas dari persoalan politik menjelang pemilu.

Dikatakannya kepada BBC Indonesia, Senin (3/3/2014), “Saya tetap berpedoman tiga kasus sebelumnya, yaitu kasus kekerasan yang menewaskan tiga kader kami di Aceh. Kami yakin terkait masalah politik dan Pemilu 2014,” kata Irwansyah. Sebelumnya, pada awal Februari  2014, politisi PNA di Aceh Utara, Yuwaini, tewas setelah dikeroyok dua orang tidak dikenal dan hingga kini belum terungkap siapa pelakunya.

Kelompok bersenjata di Poso. Pada hari Kamis, 6 Februari 2014 sekitar pukul 11.00 Wita, telah terjadi kontak senjata antara kelompok yang diduga teroris bersenjata dan polisi di wilayah hutan kampung baru Dusun 6, Desa Padalembara, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Dalam  insiden tersebut, tercatat dua orang tewas, satu anggota Brimob dan satu teroris dan satu teroris lainnya luka-luka. Kapolres  Poso AKBP Susna mengatakan,  “Kelompok bersenjata tersebut diduga kelompok teroris jaringan Santoso yang bersembunyi di wilayah itu,” katanya.

Kelompok Bersenjata di Papua. Tidak kekerasan bersenjata yang terjadi di Papua merupakan upaya kelompok separatis yang diantaranya menginginkan kemerdekaan, bahkan ada upaya melibatkan oknum serta organisasi tertentu di luar negeri. Dalam beberapa kontak bersenjata, telah jatuh korban dikalangan prajurit TNI dan Polri. Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo di Hotel Diraja, Jakarta, Selasa (4/2), “ Sekarang mereka tidak murni, banyak kelompok yang menculik belasan gadis diperkosa terus minta emas dari ayahnya, sering menembaki masyarakat, membakar perusahaan yang menolak dimintai uang. Oleh karena itu kami menyebutnya sebagai kelompok bersenjata bukan OPM,” jelasnya.

Sulistyo juga menjelaskan bahwa  di Papua ada beberapa kelompok besar yang sering membuat ulah. Mereka ini punya daerah-daerah kekuasaan tersendiri dan ada yang memegang senjata. Menjelang pemilu, Polda Papua tetap mengikutsertakan masyarakat sebagai pembantu Polri dalam melakukan pengamanan. Apalagi dikhawatirkan jika para kelompok bersenjata ini memanfaatkan momen pemilu untuk kepentingannya. Kita melibatkan stakeholder pilkada TNI, KPI, Panwas, untuk mengamankan gerakan kelompok yang sekarang bergeser ke kriminal. Mereka bisa mengacaukan pemilu karena memiliki senjata.

Daerah Hot Spot Yang Perlu Diwaspadai

Dari beberapa fakta diatas terlihat bahwa kekerasan bersenjata telah terjadi di tiga daerah yang dapat dikatakan sebagai hot spot, yaitu Papua, Poso dan Aceh. Sejarah panjang konflik Aceh nampaknya belum juga selesai, senjata yang dahulu berkeliaran banyak yang masih disembunyikan, nah kini dalam kondisi persaingan perebutan kekuasaan melalui mekanisme pemilu, kekerasan dengan senjata api nampaknya tidak terhindarkan. Persaingan dua kelompok  Partai Aceh (PA) dengan Partai Nasional Aceh (PNA) terus menuai konflik.

PA semula bernama Partai GAM dan menjadi kepanjangan Partai Gerakan Aceh Mandiri (GAM), yang awalnya  didirikan oleh Pimpinan Politik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud, yang memberikan surat mandat kepada Tgk Yahya Mu’ad, SH atau disebut juga Muhammad Yahya Mu’ad, SH untuk terbentuknya partai politik lokal. Sementara Partai Nasional Aceh didirikan oleh  Gubernur Aceh saat itu, Irwandi Yusuf serta Irwansyah alias Teungku Mukhsalmina (Mantan Panglima GAM Aceh Rayeuk). Persaingan kedua kelompok yang sama-sama berasal dari GAM berupa konflik panjang dan kini terbukti terjadinya aksi teror pembunuhan. Dapat diperkirakan kekerasan bersenjata akan dapat terus terjadi di Aceh, dan dapat mengganggu berlangsungnya pemilu dengan aman.

Masih berkeliarannya DPO Polisi Santoso do kawasan hutan Poso merupakan ancaman tersendiri bagi kelangsungan pemilu yang aman di hot spot Poso dan sekitarnya. Kelompok teroris masih memiliki potensi melakukan pengacauan dengan teror.

Untuk daerah hot spot ketiga di Papua, merupakasn daerah yang sangat perlu di waspadai. Kelompok KKB di Papua jelas tidak menginginkan pemilu berlangsung dengan aman, mereka bisa diperkirakan mengacau dengan penyerangan berbentuk tindak teror dan upaya menakuti rakyat serta menyerang aparat keamanan.

Selain ketiga hot spot tadi, daerah-daerah lain juga memungkinkan terjadinya konflik kekerasan, baik dari kelompok teroris maupun radikal yang diperalat, disamping kemungkinan terjadinya bentrok antara pendukung parpol yang fanatis. Dan yang tidak boleh diabaikan, adalah keamanan DKI Jakarta sebagai ibukota negara. Jakarta adalah barometer Indonesia, karena itu gangguan keamanan pemilu di Jakarta gaungnya akan jauh lebih keras dibandingkan daerah lainnya.

Merujuk kepada apa yang disampaikan oleh Presiden SBY saat memberikan pengarahan kepada peserta Rapim TNI dan Polri Tahun 2014 di Auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) PTIK, Jakarta Selatan, pada Kamis, (9/1/2014), presiden meminta Polri dan TNI tidak menganggap enteng perhelatan Pemilu 2014 nanti.  Dikatakannya, “Ada yang berpendapat, karena Pemilu 2004 dan 2009 berjalan relatif aman, pastilah Pemilu 2014 berjalan aman. Saya harus mengingatkan militer dan kepolisian harus mengetahui, janganlah melihat pemilu sebagai sesuatu yang rutin,” ujar Presiden.

Menurut Presiden SBY, gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di tiap Pemilu bisa berbeda-beda. “Kita tidak boleh menganggap enteng, walaupun kita juga tidak boleh berlebihan over estimated,” katanya.

Dari pengamatan penulis, para teroris yang selama ini beroperasi di dalam negeri, mereka tidak pernah menyerang target publik luas, hanya target khusus mulai dari AS dan sekutunya, simbol negara (presiden), Gereja, Vihara dan  aparat keamanan (Polisi).  Teroris selalu menghindari menyerang target publik, karena mereka menghindari dijadikan musuh bersama oleh rakyat, dimana disitulah mereka selalu bersembunyi.  Demikian ulasan tentang  konflik dan teror menjelang Pemilu 2014.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

About admin

Check Also

Perang Dagang Trump di Persimpangan Jalan

Artikel singkat ini sedikit akan mengurai agenda besar di balik perang dagang yang disuarakan oleh ...