Sunday , October 20 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Konflik Batin antara Dua Kekuatan

Konflik Batin antara Dua Kekuatan

Hakikat kehidupan adalah pergulatan antara dua kekuatan, yaitu al haq (kebenaran) dan al bathil (kejahatan), dua kekuatan ini tidak akan pernah sirna selama dunia ini masih ada. Al haq sebagai kekuatan yang datang dari Sang Maha Perkasa akan selalu unggul walaupun pendukungnya sedikit. Sebaliknya, al bathil tidak akan pernah bisa mengungguli al haq walaupun pendukungnya jauh lebih banyak. Manusia sebagai obyek kehidupan akan dihadapkan kepada dua kekuatan ini, bahkan Allah telah mempersiapkan pada diri manusia satu potensi yang mampu menerima dorongan dua kekuatan ini. Allah Swt. berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨)

Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Qs. asy Syams, 7-8).

Sedangkan Allah Swt. memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, apakah memilih al haq atau al bathil. Karena dalam kehidupan ini laksana ujian dengan soal dua kekuatan itu, dipengaruhi oleh dua pengaruh, dihadapkan pada dua jalan, ditarik oleh naluri kebaikan menuju ketinggian derajat, dan diseret oleh insting kejahatan agar tercebur dalam kehinaan. Contoh, mata dan akal kita tahu, telinga kita pun mendengar, bahwa masjid sedang mengumpulkan dana untuk merampungkan bangunan. Akal kita tahu bahwa berinfaq untuk masjid sangat dianjurkan agama dan akan mendapat pahala. Kemudian hati kita kepengin berinfaq, tetapi nafsu kita nggandholi. ”Oh, nggah usah infaq, bukankah keluarga kita masih banyak kebutuhan”. ”Oh, nggak usah jangan-jangan nanti dikorupsi oleh panitia”. Kemudian akal kita menjadi bimbang, berinfaq atau tidak ya? Kalau berinfaq berapa ya? Kalau kita tidak berinfaq kita malu dengan kawan, dan seterusnya. Inilah contoh konflik internal antara dua kekuatan, dua dorongan yang saling berlawanan. Dan inilah perjuangan yang amat berat.

Oleh karena itu manusia harus selalu memohon hidayah taufiq kepada Tuhannya, meminta fatwa kepada hatinuraninya, menggunakan pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran, serta menjadikan al Qur’an dan as Sunnah sebagai panduan agar mendapatkan kemenangan di medan perjuangan. Allah berfirman:

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. al-‘Ankabut : 6).

Dalam al Qur’an pun banyak disebutkan bahwa kecenderungan manusia kepada kejahatan lebih kuat dan tarikan insting keburukan lebih menarik ketimbang dorongan menuju kebaikan. Allah Swt. juga mengingatkan,

إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasehati untuk  mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran” (QS. al-’Ashr : 2-3).

Peringatan ini menunjukkan betapa pentingnya nasehat al haq dan kesabaran. Karena di zaman ini sangat susah membedakan antara yang benar dan salah, antara yang baik dan buruk. Sayangnya, para pemimpin dan tokoh panutan kita telah banyak memberikan contoh yang tidak baik dan tidak benar. Sebaliknya para pengikut cenderung taklid, tanpa koreksi, meniru begitu saja ucapan dan perilaku tokoh panutannya. Mereka menganggap yang banyak diikuti atau banyak pendukungnya itulah yang benar, meski sesungguhnya tidak benar. Inilah yang di dalam ushul fiqih disebut “mafhum mukhaalafah” atau yang dalam bahasa Jawa disebut “salah kaprah”. Artinya, walaupun salah tetapi sudah kaprah atau umum dilakukan, sehingga tidak tahu bahwa itu salah, apalagi tokoh panutannya pun juga membenarkan. Bahkan yang demikian itu masih diperparah ketika merasa lebih tua, pangkat/jabatan lebih tinggi, atau merasa lebih pinter, atau merasa hanya ’golongan’-nyalah yang paling benar, sehingga sulit menerima kebenaran dari pihak lain yang tidak selevel.

Padahal Rasulullah Saw. adalah sosok manusia yang tiada bandingannya, beliau masih bersedia menerima kebenaran dari budak sekalipun. Contoh, adzan dan iqamah yang dikumandangkan ummat Islam sampai sekarang ini adalah gubahan Bilal, sang budak hitam kelam, yang diakui kebenarannya oleh Rasulullah. Beliau juga sering menyatakan “antum a`lamu biumuuri dun-yakum” (engkau lebih tahu akan duniamu) dalam menyikapi kebenaran dari orang lain dalam hal selain syari’at agama.

Kalau Muhammad, Rasulullah Saw, saja masih bersedia menerima kebenaran dari orang lain, maka sungguh sombong, bahkan sangat tolol, jika ummat muslim apalagi tokoh agama enggan menerima kebenaran dari orang lain, karena Allah telah mengingatkan dengan surat yang sangat pendek, al ’Ashr, yang banyak dihafal oleh murid-murid TPQ.

Mengapa kondisi umat muslim sedemikian parah? Barangkali benarlah Imam al Ghozali yang mengelompokkan manusia ke dalam 4 kelompok, yaitu pertama adalah orang yang pinter tahu pinternya, sehingga suka menerima kebenaran dari orang lain. Kedua adalah orang pinter yang tidak tahu pinternya, sehingga merasa sudah pinter dan bahkan merasa paling pinter. Padahal kepinteran itu terbatas dalam bidang yang dipelajari. Mereka tidak tahu hal ini sehingga ia enggan menerima kebenaran dari orang lain. Kelompok ini hakikatnya tidaklah pinter, karena ia tidak tahun akan kepinterannya. Ketiga adalah orang yang tidak pinter tetapi ia sadar bahwa dirinya tidak pinter, sehingga ia suka menerima kebenaran dari orang lain. Dan keempat adalah orang yang tidak pinter tetapi ia tidak tahu bahwa dirinya tidak pinter, sehingga ia selalu menolak kebenaran dari orang lain karena ketidaktahuannya.

Dari keempat kelompok tersebut, yang pertama dan ketigalah yang akan beruntung. Sedangkan kelompok kedua dan keempat adalah kelompok yang merugi.Tetapi anehnya di zaman akhir ini justru kelompok yang kedua dan keempat inilah yang lebih banyak dibanding kelompok pertama dan ketiga sebagaimana yang disinyalir Allah dalam surat al-`ashr tersebut. Semoga kita mendapat hidayah taufiq dari Allah untuk selalu memilih yang haq agar kita nantinya tergolong orang-orang yang beruntung. Amin ***

Oleh : H. Asmuni Syukir

  • Jombang, 13 Desember 2011, Majelis Ta’lim & Bengkel Hati Al-Qolam
  • Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Al-Qolam

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...