Wednesday , December 12 2018
Home / Agama / Kajian / Kisah Muhadits Tobat Karena Anggap Dha’if Sebuah Hadits

Kisah Muhadits Tobat Karena Anggap Dha’if Sebuah Hadits

Ketika ada sebuah hadits shahih yang dinilai dha’if oleh sebagian pihak, sebaiknya tidak langsung ikut serta men-dha’if-kannya dengan sembarangan, karena bisa jadi hadits tersebut memang masuk kategori hadits shahih.

Mengenai hal ini ada sebuah kisah yang ditulis oleh Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali dalam kitab Jawahir Al-Qur’an halaman 73.

Suatu ketika ada seorang ulama ahli hadits (muhaddits) meragukan keshahihan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

من احتجم يوم السبت والأربعآء فأصابه برص فلا يلومن إﻻ نفسه

Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang berbekam di hari Sabtu dan Rabu kemudian terkena penyakit barash (lepra) maka janganlah mencela dan menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Imam Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ahmad bin Hanbal)

Hadits ini dinilai Imam Hakim sebagai hadits shahih, namun Imam Al-Dzahabi membantahnya dalam kitab Al-Talkhish dengan menyatakan bahwa hadits tersebut dha’if (lemah) karena dalam periwayatannya terdapat seorang rawi bernama Sulaiman bin Arqam yang ditinggalkan haditsnya atau disebut matruk karena ke-dha’ifan-nya.

Suatu hari ada seorang muhaddits yang tidak percaya keshahihan hadits tersebut dan menganggapnya sebagai hadits dha’if, ia pun dengan sengaja berbekam di hari Sabtu. Tidak lama kemudian, pada hari Sabtu itu juga dia terkena penyakit lepra akut sehingga membuatnya susah dan bingung.

Suatu malam muhaddits ini mimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpinya tersebut ia mengadu kepada Baginda Rasul tentang penyakitnya, kemudian Rasulullah pun berkata kepadanya:

“Mengapa engkau berbekam di hari Sabtu?”

“Karena perawi hadits itu dha’if wahai Rasul,” jawab muhaddits itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun langsung menjawab;

“Hadits itu shahih karena hadits itu diambil dari saya sendiri”.

“Saya bertobat, wahai Rasulallah. Tolong doakan saya,” ikrar muhaddits tersebut penuh penyesalan.

Rasulullah pun kemudian mendoakan untuk kesembuhannya dan pada hari itu juga sang muhaddits langsung sembuh dari penyakit lepra. (Aiz Luthfi)

Kisah ini disampaikan oleh KH. Tb Ahmad Rifqi Chowas dalam pengajian pasaran kitab Jawahir Al-Qur’an di Pesantren Daarussalam, Buntet Pesantren Cirebon.

Source: NU Online

 

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...