Budaya Beragama, Agama Berbudaya|Tuesday, October 21, 2014
You are here: Home » Ensiklopedia » Kisah Keturunan Raden Saleh yang Hidup Sebagai Tukang Permak Pakaian

Kisah Keturunan Raden Saleh yang Hidup Sebagai Tukang Permak Pakaian 

capture-20130425-170723Di ujung kampung padat penduduk, Kepatihan Semarang, suara mesin jahit kayuh terdengar nyaring dari rumah sederhana bernomor 135. Seorang wanita tua terlihat sibuk mengutak-atik kebaya hijau di mesin jahitnya. Ia adalah Raden Roro Hartati (68) yang memiliki hubungan keluarga dengan pelukis tersohor dari Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880).

Mendengar ada keturunan Raden Saleh yang tinggal di Semarang dan survive dengan kehidupan sederhananya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih mendatangi rumah Rr Hartati yang terletak di ujung gang sempit Kampung Kepatihan. Sesampainya di sana, Rustriningsih langsung akrab dan bertukar cerita dengan Rr Hartati.

Meski memiliki darah ningrat dari keluarga Bustaman, kehidupan Rr Hartati saat ini jauh dari keningratan. Rr Hartati dalam kesederhanaannya berjuang hidup dengan mengayuh mesin jahit merek President yang sudah menemaninya sejak ia masih SMP tahun 1960.

Hubungan Rr Hartati dan Raden Saleh terletak pada Kanjeng Kyai Kertabasa Bustam yang merupakan keluarga Bupati dan Bangsawan terkenal tahun 1600-an. Kanjeng Kyai Kertabasa Bustam memiliki sembilan anak, salah satunya Raden Syarif Husain yang memperistri Syarifah Husain. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Saleh di tahun 1811.

Dalam perjalanan hidupnya, Raden Saleh yang merupakan pelukis sekelas Van Gogh itu ternyata tidak memiliki keturunan meski sudah menikah dua kali. Lalu apa hubungannya Raden Saleh dengan Rr Hartati?

Anak lain dari Raden Syarif Husain dan Syarifah Husain adalah Raden Ngabehi Surodirjo yang setelah tiga generasi menurunkan Raden Moch Ahmad, ayah dari Rr Hartati. Kemudian, semasa hidupnya, Raden Saleh melakukan perjalanan ke Eropa bersama istri dan keponakannya, setelah itu Raden Saleh mengizinkan keponakannya menikah dengan warga Belanda. Dari pernikahan itu secara turun menurun muncul nama Dr Dr Georg Hans Hundeshagen.

Beberapa tahun lalu, Rr Hartati saling surat menyurat dengan Hans. Dalam surat tersebut Hans menanyakan apakah Rr Hartati merupakan keturunan keluarga Bustaman. Benar saja, ternyata sesuai dengan silsilah keluarga yang dimiliki Rr Hartati, ternyata ia dan Hans memiliki pertalian saudara.

“Saya sejak kecil sudah tahu kalau memang memiliki hubungan dengan Raden Saleh. Kemudian saya mendapat surat dari Dr Dr Georg Hans Hundeshagen yang menanyakan apakah benar saya adalah keturunan dari Kanjeng Kyai Kertabasa Bustam,” kata Rr Hartati saat dikunjungi rumahnya, kampung Kepatihan Semarang, Sabtu (20/4/2013).

Wanita tua itu pun mulai panjang lebar bercerita sembari memperlihatkan beberapa lembar kertas ukuran A4 yang saling dihubungkan hingga berukuran besar. Kertas tersebut bergambar pohon silsilah yang cukup panjang.

Sejarawan kota Semarang, Djawahir Muhammad menegaskan bahwa Rr Hartati merupakan satu-satunya orang yang memiliki pertalian darah dengan Raden Saleh yang tinggal di Semarang.

“Hans adalah keturunan dari keponakan Raden Saleh. Kemudian ia mencari Bu Hartati, karena beliau adalah keturunan Kyai Kertabasa Bustam yang berada di Semarang,” terang Jawahir.

“Tapi saya bukan satu-satunya yang memiliki pertalian darah dengan Raden Saleh yang masih hidup,” timpal Rr Hartati.

Setelah mendengar runtutan silsilah dan sejarah yang panjang tersebut, Rustriningsih merasa sangat setuju dengan penganugrahan pahlawan terhadap Raden Saleh yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dua tahun lalu. Meski demikian saat ditanya terkait penganugrahan tersebut kepada Rr Hartati, ternyata tidak ada konfirmasi kepada pihak keluarga.

“Sekarang penghargaan itu kabarnya disimpan pihak Pemkot Semarang sejak sebelum Pak Wali Kota lama (Soemarmo) ditahan KPK. Sampai hari ini bahkan Bu Hartati selaku ahli waris Raden Saleh belum mengetahui wujud penghargaan tersebut,” tandas Djawahir.

Meski keturunan ningrat, sejak masih SMP, Rr Hartati hidup dalam kesederhanaan dengan menjadi tukang permak pakaian. Dengan penghasilan yang tidak pasti antara Rp 2.000 hinga Rp 5.000 untuk permak satu pakaian, Rr Hartati tetap terlihat bersahaja.

“Saya kira tidak jauh dengan event hari Kartini, kisah beliau (Rr Hartati) bisa menggugah perempuan dan memotifasi agar menjadi pahlawan di rumah masing-masing,” kata Rustriningsih.

Terkait penghargaan, Rustri berharap pemerintah pusat atau pun pemerintah kota bertindak. “Perhatian dari pemerintah pusat itu akan saya cek berupa apa. Harus ada tindakan lebih lanjut. Dari data saat ini, beliau dianggap berhak mendapatkan itu,” tegasnya.

Sumber :detik.com

Comments are closed.