Monday , December 10 2018
Home / Ensiklopedia / Sejarah / Kisah Cinta Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar rha

Kisah Cinta Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar rha

Ibrahim membawa jalan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, dari Palestina menuju Mekkah. Keduanya tidak diberi tahu bahwa mereka akan ditinggalkan di sana. Ibrahim hanya diperintahkan oleh Allah membawa istri dan anaknya ke lembah Mekkah.

Apapun yang terjadi di sana Allah tidak memberitahu. Ibrahim hanya pasrah menjalankan perintah, itu saja. Tanpa perbekalan makanan, pakaian dan atribut-atribut traveling lainnya seperti layaknya orang yang hendak pergi jauh.

Sesampainya di lembah Mekkah, berkatalah Ibrahim kepada istrinya, “Dinda sayang…, di sinilah kanda akan melepas kalian berdua untuk menjalani hidup… “

Mendengar ucapan suaminya, Hajar kaget bukan kepalang. Sambil tetap hormat dan patuh pada suaminya, bertanyalah Hajar, ”wahai kanda, ampunilah salah dinda…, dosa apakah yang dinda perbuat hingga kanda tega meninggalkan kami di tempat yang gersang ini?”.

Mendengar pertanyaan itu Ibrahim diam saja. Hingga diulang tiga kali pertanyaan tersebut, Ibrahim tetap diam saja, “Allahu amaruka bihaadzaa (apakah Allah yang perintahkan ini kepada kanda)?” Akhirnya Hajar paham bahwasanya Ibrahim merasa berat meninggalkan keduanya.

Ibrahim adalah seorang Nabi, tidak mungkin beliau tidak mengerti tanggung jawab seorang laki-laki terhadap istri dan anak. Ibrahim sangat mengerti bahwa istri dan anaknya mesti dilindungi, dinafkahi lahir dan bathin, dst. Ibrahim pun pasti lebih mengerti dari seluruh ulama yang ada saat ini dan jauh lebih mengerti dari kita semua. Tapi ini perintah Allah, Hajarpun mengerti bahwa Ibrahim begitu berat menjalankan perintah ini, yakni berpisah dengan istri dan anak satu-satunya yang justru telah lama ditunggu kelahirannya (selama 80 tahun).

Hajarpun bertanya sekali lagi, “Allahu amaruka bihaadzaa (apakah Allah yang perintahkan ini kepada kanda)?” Maka Ibrahim memandang ke langit dan mengucapkan “Allah” dengan perlahan.

Hajar langsung menghibur suaminya, “kalau memang begitu wahai Kanda, Allah tidak akan sia-siakan kami, kanda berangkatlah, jangan pikirkan kami, Allah akan menjaga kami dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kami, berangkatlah wahai Kanda”. Hibur Hajar kepada suaminya, Ibrahim.

Setelah itu, baru Ibrahim mendapatkan kemantapan meninggalkan istri dan anaknya, di satu daerah bernama Hudai. Berangkatlah Ibrahim sambil sesekali melihat dan menengok ke belakang.

Hingga beberapa jarak, Hajar dan Ismail tak nampak lagi karena terhalang gunung batu dan perbukitan. Ibrahim berhenti sejenak, memanjatkan doa sambil berlinang airmata. Doa itu dilestarikan Allah dalam Al-Qur’anul karim,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah tempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang suci. Ya Rabb kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia condong kepada mereka, dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur”. (Q.S Ibrahim : 37).

Kemudian beliau kembali berangkat, meneruskan perjalanan ke Palestina.

Sebagai seorang suami dan seorang ayah, Ibrahim juga ingin tahu keadaan anak dan istrinya. Maka setelah 4 tahun barulah Ibrahim diijinkan oleh Allah swt untuk menengok anak dan istrinya. Namun demikian, Allah perintahkan pada beliau agar jangan terlihat oleh anak dan istrinya. Ibrahim hanya diperbolehkan menengok dari jarak jauh yang tak terlihat.

Sesampainya di Mekkah, setelah 4 tahun ditinggalkan, Ibrahim menyaksikan ternyata Mekkah sudah berubah menjadi kampung kecil. Sudah ada rumah, penduduk, telaga, juga ada kambing-kambing, dan ada pula sumur. Tentunya Ibrahim tidak tahu apa yang terjadi pada Hajar dan Ismail. Beliau sibuk berdakwah selama 4 tahun hingga tak dapat berita tentang keadaan istri dan anaknya. Ibrahim hanya pasrah kepada Allah swt.

Ternyata setelah 4 tahun berlalu, taraf hidup istrinya mengalami peningkatan. Sudah punya rumah, kambing, dan telaga. Orang-orang di sekitarnya sangat menghormatinya. Hidupnya penuh berkah dan berkecukupan.

Setelah mengetahui kondisi istri dan anaknya di Mekkah, Ibrahim kembali ke Palestina untuk berdakwah tanpa sepengetahuan istri dan anaknya sebagaimana diperintahkan Allah swt.

Setelah 4 tahun berlalu, Ibrahim diperbolehkan kembali oleh Allah swt untuk menengok istri dan anaknya. Namun kali ini, hanya boleh mendekat namun tidak boleh turun dari kendaraannya.

Sesampainya di Mekkah, Hajarpun menyambut gembira kedatangan suaminya. Rasa haru dan bahagia telah bercampur karena rindu yang begitu dalam dirasakan oleh Hajar. Bagaimana tidak, berpisah selama 8 tahun tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sepasang insan itu memadu kasih, meluapkan kerinduan dan melepas kekangenan setelah berpisah selama 8 tahun.

Hajar mempersilakan suaminya untuk turun dari kendaraan dan masuk ke rumahnya. Berkatalah Hajar, “Kanda…, sekarang kita sudah punya rumah, punya telaga zam-zam. Silahkan Kanda…, di rumah ada daging dan roti, dinda persilahkan kanda masuk ke rumah”.

Namun Ibrahim tak bergeming, diam saja di atas kendaraannya. Hajar mempersilahkannya berkali-kali tapi tetap Ibrahim hanya diam tak bergeming di atas onta.

Hajarpun tertunduk, sambil menelan kembali rasa harunya seraya berkata, “Mohon maafkan dinda jika bersalah, apakah ini perintah Allah wahai Kanda…?”

Ibrahim menjawab, “Ya, ini perintah Allah, kanda diperintahkan menengok dinda tapi tidak boleh turun dari kendaraan ini”.

Sambil meneteskan air mata haru bercampur rindu yang tertelan, Hajar tetap menunduk dan memadukan kedua tangan di wajahnya seperti orang yang sedang memohon.

Seraya berkata kepada suaminya, “wahai kanda…, maafkanlah dinda jika bersalah. Mohon izinkan dinda membasuh wajah kanda, membasuh kaki dan tangan kanda. Mohon izinkan sekali ini saja, dinda ingin membersihkan tubuh kanda dengan air zam-zam ini?”

Ibrahim berkata, “Dinda sayang…, dinda sama sekali tidak bersalah, Allah mengizinkan dinda membersihkan tubuh kanda yang kotor ini dengan air zam-zam. Kanda persilahkan…”.

Hajarpun bergegas, langsung diambilnya air zam-zam dan segera ia bersihkan tubuh suaminya yang masih duduk di atas onta tersebut.

Ibrahim tak tahan melihat ketulusan istrinya, tanpa sadar air matanya berlinang, tak mampu ia bendung. Lalu Ibrahim berpura-pura meminta istrinya mengambilkan air zam-zam untuk membasuh wajahnya sendiri.

Kemudian Ibrahim membasuh wajahnya sendiri untuk menutupi tumpahan air matanya agar istrinya tidak tahu. Airmata Ibrahim tumpah bersama basuhan air zam-zam yang diusapkan ke wajahnya.

Ibrahim menyembunyikan tangis di depan istrinya. Hal itu beliau lakukan sebagai bentuk dukungan kepada istrinya bahwa Allah telah ridha atas prilakunya dan melimpahkan barakah atas kepatuhannya kepada suami dan keyakinannya pada perintah Tuhan.

Ibrahim tetap pada perintah Allah swt, yakni tidak bergeming dari posisinya di atas onta. Allah memerintahkannya untuk tidak turun dari kendaraannya. Hingga sedetil itulah perintah Allah swt dengan penuh khidmat beliau laksanakan.

Setelah kaki dan tangannya dibersihkan, Ibrahimpun mencukupi istrinya untuk tidak meneruskan membersihkan tubuhnya. Sambil memegang tangan istrinya beliau berkata, “Cukuplah dinda…, Allah telah ridha atas ketulusan prilaku dinda kepada kanda… Sekarang kanda harus kembali pergi untuk memenuhi perintah Allah”.

Dengan hati yang mantap, Ibrahim kembali berangkat meninggalkan istri dan anaknya untuk menjalankan perintah Allah. Beliau akan kembali lagi setelah 4 tahun. Setelah itu, beliau diperbolehkan berkumpul bersama keluarganya di Mekkah. [byHaqq]

About admin

Check Also

Ngalap Barokah dengan 313 Nama Rasul Allah

Telah sama-sama kita ketahui bahwa nama-nama rasul yang wajib kita hafal dan ketahui ada 25. ...