Saturday , December 7 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi

Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi

Kisah berguru Nabi Musa kepada Nabi Khidir akan menjadi pedoman dan rujukan bagi segenap manusia yang ingin menempuh jalan kepada Allah SWT lewat bimbingan seorang Guru yang paham Agama secara zahir dan bathin. Ilmu apa lagi yang harus diajarkan Khidir kepada Musa, sedangkan Musa adalah seorang utusan Allah juga, luas pengetahuannya baik tentang agama maupun tentang dunia. Musa tidak akan mungkin bisa menjadi murid Khidir selama dia masih membawa pengetahuan yang pernah dia dapat. Pengetahuan Musa baik tentang agama maupu tentang dunia menjadi penghambat baginya dalam berjalan menuju kepada Hakikat Ilmu.

Tapi Musa memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi murid Khidir dan begitu juga Khidir telah ditakdirkan menjadi Guru Musa, keduanya memang sudah berjodoh. Khidir tidak mengajarkan apapun kepada Musa, tidak memberikan ceramah, wejangan, tidak satu kitab pun diberikan kepada Musa. Khidir hanya menghancurkan “Perahu” pengetahuan Musa agar tidak ada lagi keterikatan dengan lautan, sementara daratan sudah menanti untuk menerima hal yang sama sekali baru.

Khidir juga membunuh “anak kecil” pada diri Musa, tanda-tanda melekat di badan yang akan menyeret Musa kepada pengingkaran dan itu tidak di sadari oleh Musa. “Anak Kecil” itu hanya bisa dilihat oleh Khidir, Sang Guru Sejati yang mengambil ilmu dari Samudera Ilmu Allah SWT. Tindakan Khidir tentu saja tidak bisa diterima oleh Musa, hati Musa bergolak menyaksikan hal tidak lazim itu.

Di akhir perjalanan, Khidir mengajak Musa untuk memperbaiki rumah yang sudah hampir hancur agar isi rumah berupa harta tak ternilai tidak dicuri orang. Perjalanan berguru Musa kepada Khidir yang dikisahkan dalam al Qur’an itu akan terus berlangsung sepanjang zaman dalam kondisi berbeda tanpa menghilangkan cita rasanya.

Jangan pernah berguru setengah perjalanan karena engkau tidak akan mendapatkan apa-apa selain kebenaran semu yang akhirnya hilang di telan angin malam. Kalau berhenti pada fase “Perahu” engkau akan menjadi orang yang suka menyalahkan, bahkan Guru mu pun engkau salahkan. Tetap dalam perahu, mengikuti hembusan angin dan hempasan ombak pada akhirnya seluruh kisah tentang tenangnya daratan akan engkau ingkari.

Jika perjalanan berhenti pada “Membunuh Anak Kecil” maka engkau seolah olah menjadi Tuhan untuk dirimu sendiri. Haram kau sebut halal dan malas kau sebut ibadah. Engkau akan menjadi tukang bantah dan merasa pengetahuanmu lah teramat tinggi. Pada akhir perjalanan nanti seluruh pengetahuan yang kau dapat tidak bermanfaat sama sekali dan saat itu lah engkau menjadi ragu.

Maka, buatlah bangunan itu dengan rapi dan indah bersama Guru, amanah menjaga diberikan kepada murid, jangan pernah sekalipun kau ceritakan tentang harta tersimpan di dalam karena bagi orang kaya dermawan itu tidak diperlukan karena mereka juga mempunyai hal yang sama tapi untuk orang bodoh dan jahat, harta itu nanti akan dipakai untuk merusak.

Jika rumah telah didirikan, engkau tidak akan tersingung jika disebut bodoh, tidak akan marah disebut jahat dan tidak akan terluka jika disebut sebagai penghuni neraka. Junjungan kita Rasulullah SAW diakhir hayat juga memberikan wasiat yang sama, menjaga rumah itu agar harta di dalam tidak hilang. Allah SWT memberikan tanda-tanda bahwa rumah itu telah selesai dengan sempurna, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3).

Jika ada orang mengaku memiliki harta terpendam itu sementara dia tidak memiliki rumah maka sesungguhnya dia adalah pendusta…

sMoga Bermanfaat…

Source: Sufi Muda

About admin

Check Also

Tak Ada Api di Neraka

Oleh : H Derajat Sahabatku, tentu kalian sudah mendengar tentang api neraka yang panasnya ribuan ...