Friday , May 24 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Ketika Ulama Besar Berhenti Menyalahkan dan Membid’ahkan Orang Lain
Buya Hamka

Ketika Ulama Besar Berhenti Menyalahkan dan Membid’ahkan Orang Lain

Oleh: H. Derajat

Di Akhir Zaman, Manusia Mudah Menyalahkan Orang Lain

Dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

“Jika ada seseorang berkata, ‘Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak’, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka,” (HR. Muslim).

Keterangan Imam Nawawi ketika menulis Hadits ini dalam kitab Riyadhus-Shalihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: “Larangan semacam di atas itu (larangan mengatakan orang banyak telah rusak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rusak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram. Adapun orang yang berkata seperti ini karena ia melihat kurangnya perhatian orang banyak terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasib yang dialami oleh mereka, dan timbul dari perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya. Hadits ini sengaja diletakkan di permulaan buku ini supaya menjadi suatu peringatan kepada Umat Islam bila menerangkan Hadits-hadits akhir zaman seperti apa yang dituliskan di sini yang banyak menyingkap tentang kemunduran umat Islam dan kemerosotan moral mereka.

Sewaktu baru kepulangannya dari Timur Tengah guna menuntut ilmu, Prof. DR. Hamka, seorang tokoh Muhammadiyyah menyatakan bahwa Maulidan haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi Muhammad SAW. Orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah dan itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi Saw.

Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi Saw saat ada yang mengundangnya. Orang-orang sedang asyik membaca Maulid al-Barzanji dan bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya.

Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti itu namun setelah tua kok berubah?”

Dijawab oleh Buya Hamka:  “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas.”

Di riwayat yang lain menceritakan bahwa, dulu sewaktu mudanya Buya Hamka dengan tegas menyatakan bahwa Qunut dalam shalat Shubuh termasuk bid’ah! Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Saw. Sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam shalat Shubuhnya.

Namun setelah Buya Hamka menginjak usia tua, beliau tiba-tiba membaca doa Qunut dalam shalat Shubuhnya. Selesai shalat, jamaahnya pun bertanya heran:  “Buya Hamka, sebelum ini tak pernah terlihat satu kalipun Anda mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh. Namun mengapa sekarang justru Anda mengamalkannya?”

Dijawab oleh Buya Hamka:  “Iya. Dulu saya baru baca satu kitab. Namun sekarang saya sudah baca seribu kitab.”

KH. Zuhrul Anam yang akrab dipanggil Gus Anam mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al-Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani yang mengatakan:

اِذَا زَادَ نَظَرُ الرَّجُلِ وَاتَّسَعَ فِكْرُهُ قَلَّ إِنْكَارُهُ عَلَى النَّاسِ

“Idzaa zaada nadzarur rajuli wattasa’a fikruhuu qalla inkaaruhuu ‘alan naasi.”

“Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain”.

Begitulah gambaran bijaknya seorang buya Hamka yang semuanya berproses, beda Hamka kala muda dan kala tuanya yang semakin sabar dan santun dan wajarlah kalau kita dapat bercermin kepadanya.

Wallahu a’lam

About admin

Check Also

Isra Mi’raj; Peristiwa Metamorfosa Akal

Isra Dari sebagian definisi pada umumnya, barangkali sedikit bisa kita “raba” tentang pengertian umum dari ...