Monday , May 28 2018
Home / Agama / Ketika Tuhan menjadi Konsumsi DOKTRIN SANGKAR Keagamaan

Ketika Tuhan menjadi Konsumsi DOKTRIN SANGKAR Keagamaan

Ketika Tuhan menjadi Konsumsi DOKTRIN SANGKAR KeagamaanTerjadi dialog di dalam SARUNG antara Guru Sejati vs Santri Gundhul tentang hakekat ketuhanan, dan doktrin sangkar keagamaan. Dialog ini dapat terjadi kapan saja, di mana saja, pada setiap pribadi tanpa sadar maupun benar-benar disadari. Dari hasil dialog berikut, tidak akan mencari siapa pemenangnya, karena hal itu tidaklah penting. Yang lebih utama adalah bagaimana kita belajar berdialog dengan tema yang sangat sensitif dan krussial. Siapapun bila sering melakukan dialog dengan diri sendiri (kontemplasi) paling tidak akan mendapat hasil minimal berupa mental yang lebih matang dan emosi yang lebih stabil. Maka semakin sering kita melakukan kontemplasi terutama hal-hal yang sangat kontradiktif akan membawa sikap mental kita lebih arif dan bijak dalam memahami dan memandang kehidupan yang teramat kompleks ini.

Santri Gundhul : agama adalah jalan kebenaran.
Guru Sejati : menurutku agama adalah jalan menggapai kebaikan, kearifan, dan kebijaksanaan dalam hidup.
Santri Gundhul : berarti kebenaran menjadi tidak penting ?
Guru Sejati : memang apa pentingnya berbicara kebenaran, jika hasilnya membuat kerusakan di muka bumi dan bencana kemanusiaan ? Jika kita bicara kebenaran, terlalu repot melakukan verifikasi kebenaran itu sendiri. Sebab kebenaran bukan hanya sekedar jargon, tembung omongane, jarene, kata ini dan kata itu. Tapi buktikan sendiri. Kebenaran bukan ada dalam kulit yang penuh keberagaman. Itulah sebabnya, kamu baru menyaksikan kebenaran dengan mudahnya pada saat memasuki dimensi HAKEKAT. Hakekat, adalah nilai yg merambah universalitas universe, dapat dirasakan oleh seluruh makhluk, oleh manusia segala macam bangsa, suku, dan semua umat berbagai agama. Jika hanya dirasakan oleh salah satu suku, ras, agama, golongan, hal itu belumlah merupakan nilai hakekat. Artinya, nilai-nilai masih terkait dengan cara pandang subyektif, dan sarat demi kepentingan pribadi.
Santri Gundhul : contohnya ?
Guru Sejati : gula pasir itu manis, merupakan sesuatu yang pasti, dan lidah semua orang bisa merasakan bahwa gula itu manis. Gula adalah unsur ragawi atau “kulit” (sembah raga), sementara rasa manis adalah hakekatnya (sembah rasa). Nah, rasa manis tidak hanya dimiliki oleh gula pasir, ada gula jawa, gula merah, gula aren, gula-gula, sakarin, madu, sari bunga, getah pohon, jagung, sari buah, dan sebagainya. Itulah agama atau keyakinan, yang sepadan dengan berbagai materi yang manis tersebut. Kamu ingin merasakan rasa manis, kamu bebas memilih mau pake gula merah, gula pasir, gula aren, sakarin atau pemanis buatan, sari buah, madu, jagung (tropicana), atau yang lainnya semua terserah pilihan kamu, mana yang paling kamu sukai dan pas dengan selera lidah kamu. Nah…apa yang terjadi dengan umat beragama di dunia ini ? Yaitu tadi…berebut saling mengklaim bahwa rasa manis hanya bersumber dari gula pasir, umat yg lain bilang salah itu keliru dan sesat, karena yang bener sumber rasa manis adalah berasal dari sakarin. Hahaha….seperti org buta yg pegang gajah. Tapi orang buta tersebut suka menuduh orang lain sebagai orang buta yg pegang gajah.
Santri Gundhul : loh..bukankah agama mempunyai misi menyebarkan kebenaran di muka bumi..?!
Guru Sejati : waaaahh, daya pikir rasio kamu kok terbatas banget ya Ndhul ?. Kok ramudheng-mudheng to !. Yah..begitulah misi agama, bahkan banyak agama misinya ya demikian itu…menyebar dan mengkampanyekan kebenaran, tapi itu tidak menjamin dunia ini tenteram dan damai ?
Santri Gundhul : loh kok kontradiksi dengan misinya ?
Guru Sejati : sudah jelaskan … apa hasilnya? masing-masing agama saling berebut dirinyalah yang paling benar, bahkan terkesan memaksakan diri mbener-benerke ajarane dewe-dewe !
Santri Gundhul : tapi bukankah hanya ada satu agama yang benar ?!
Guru Sejati : semua agama bisa mengklaim demikian, dirinyalah yg paling benar.
Santri Gundhul : ahh…jadi bingung saya !
Guru Sejati : agar tidak bikin bingung, … hormati saja agama yang menebarkan kebaikan. Bukan agama yang cari benere dewe !
Santri Gundhul : agama yang menebarkan kebaikan belum tentu benar !
Guru Sejati : juga belum tentu TIDAK benar !
Santri Gundhul : lantas bagaimana kita harus mensikapi agama supaya lebih arif dan bijak ??
Guru Sejati : agama hanya perlu keyakinan kamu !
Santri Gundhul : berarti saya cukup yakin saja ?
Guru Sejati : semua agama hanya berdasarkan keyakinan. Rasakan saja…jangan pake nalar, agama yang paling pas dengan jiwa dan membuat nurani kamu tenteram.
Santri Gundhul : tidak semua agama hanya berdasarkan keyakinan saja, artinya, agama atas dasar kebenaran !
Guru Sejati : mana buktinya ?!
Santri Gundhul : agamaku !
Guru Sejati : itulah contoh orang yg barusan kita bahas, merasa diri paling bener !
Santri Gundhul : lalu bagaimana idealnya sikap saya terhadap agama saya ?
Guru Sejati : saya ulangi, cukup dengan yakin, dan jadilah orang yang bijak dan arif kepada siapa saja, jangan menyakiti hati dan mencelakai orang lain, dan seluruh makhluk. Tak usah membeda-bedakan apa agama yang dianutnya. Lihat saja perbuatannya yang bisa kamu lihat. Jangan menebak-nebak isi hatinya untuk memvonis apakah seseorang baik atau buruk. Kamu menebak hati sendiri saja susahnya bukan main, apalagi menebak hati orang lain !
Santri Gundhul : kan… seseorang yang tidak punya agama dinamakan kafir, orang kafir pasti celaka hidupnya dan masuk neraka.
Guru Sejati : binatang dan tumbuhan adalah “makhluk” hidup, mereka kafir semua, tetapi hidupnya bukan hanya mendapatkan berkah ilahi, justru lebih mulia menjadi berkah bagi alam semesta termasuk berkah bagi manusia !
Santri Gundhul : hmmm…??
Guru Sejati : mereka itulah “ umat ” yg paling taat pada perintah tuhan, paling setia pada kodrat alam, paling patuh terhadap rumus-rumus alam semesta. Mereka tak pernah menganiaya manusia dan lingkungan alamnya. Tidak seperti manusia.
Santri Gundhul : lalu…?
Guru Sejati : saya balik tanya… lebih tepat mana, agama yg menyiarkan kebenaran, atau agama yang menyiarkan kebaikan, bagaimana manusia harus berperilaku baik..?
Santri Gundhul : ya jelas…agama yg menyiarkan kebenaran.
Guru Sejati : berarti kamu terlalu telmi (telat mikir) atas apa yg dibahas di atas. Carilah agama yang paling ikhlas dan jujur !!
Santri Gundhul : bagaimana agama yg ikhlas dan jujur ?
Guru Sejati : Agama yg paling ikhlas adalah agama yang hanya mengajak seluruh manusia berbuat arif dan bijak, berperilaku terpuji dan budi pekertinya luhur (akhlakul karim) tanpa perlu mengajak-ajak, bahkan setengah memaksa orang lain untuk bergabung ke dalam institusi agama tersebut. Mau bergabung silahkan mau enggak juga enggak apa-apa. Itulah agama paling ikhlas dan fairplay (jujur).
Santri Gundhul : kalau agama yang selalu berusaha mencari pengikut yang sebanyaknya ?
Guru Sejati : itu tak ubahnya “agama” PARPOL. Kegiatannya adalah agitasi, propaganda, kampanye, dirinyalah partai yang paling baik dan benar. Diam-diam institusi agama sudah berubah misi menjadi institusi politik. Mencari pengikut sebanyaknya supaya menjadi kuat dan semakin kuat untuk menyerang dan melawan keberadaan keyakinan orang lain yang tidak seagama dianggapnya sebagai musuh.
Santri Gundhul : kalau nggak ada musuh ?
Guru Sejati : ya..dibuatlah musuh imajiner, musuh yang dibuat-buat dan diada-adakan.
Santri Gundhul : kan musuh agama biasanya agama lainnya?.
Guru Sejati : itu merupakan kecurigaan kamu pribadi, bahkan rasa curiga kamu akan meretas kecurigaan umat lain pada kamu, begitulah kecurigaan dan sentimen antar agama sudah menjadi “lingkaran iblis” yang sulit dimusnahkan. Jadinya kerjaan umat hanyalah saling curiga-mencurigai. Bahkan di antara umat dalam satu agama pun terjadi perilaku saling mencurigai. Agama menjadi bahan peledak yg setiap saat akan menghancurkan bumi, alias membuat “kiamat” planet bumi ini. Tak ubahnya agama lah yg menciptakan “neraka” bagi manusia.
Santri Gundhul : kenapa bisa begitu ?
Guru Sejati : karena agama keluar dari misi sucinya, yakni menebarkan kedamaian, ketentraman dan kebaikan bagi alam semesta seisinya. Agama juga lebih mengutamakan kampanye dirinyalah yg paling benar.
Santri Gundhul : apa salahnya ?
Guru Sejati : salahnya, bukankah kebenaran itu perlu kepastian, seperti ilmu pasti, dan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan sains. Itu barulah kebenaran pasti, yg real. Sementara agama merupakan sistem kepercayaan, atau keyakinan.
Santri Gundhul : lho…dalam ajaran agama kan ada beberapa kejadian dan sinyalemen atau gejala akan suatu kebenaran dalam realitas alam semesta.
Guru Sejati : sejak abad keberapa kitab-kitab suci semua agama itu ada ? umurnya masih muda bukan ? sementara itu manusia sudah ada sejak (paling tidak) 2 juta tahun silam. Bumi ini ada sejak bermilyar tahun silam. Sebelum agama-agama dengan kitab-sucinya ada, manusia pun telah menemukan berbagai kebenaran tak terbantahkan dalam menjalani kehidupan. Itu juga karena welas asih dan keadilan tuhan. Isi ajaran agama tidak termasuk kebenaran pasti, tetapi berisi ajaran kebaikan, semacam aksioma yang runut dan logis. Namun bisa ditafsirkan dengan multi interpretasi sesuai kepentingan dan kemauan pembacanya. Maka dikatakan kitab itu fleksibel sesuai perkembangan zaman. Ini pengertian yang bias sekali. Alias, isi kitab selamanya tak akan pernah bertentangan dengan penafsiran manusia. Karena sadar atau tidak manusialah yg selalu berusaha (baca; memaksakan diri) utk menundukkan pola pikir dan persepsinya sendiri agar sesuai dengan isi kitab. Itulah kebiasaan manusia selama ini, membiarkan kesadaran dirinya di dalam sangkar emas. Sementara agama banyak mengajarkan tentang kegaiban, lalu manusia buru-buru menyimpulkan bahwa akal manusia sangat terbatas utk memahami kegaiban. Bagi saya kegaiban itu sangat masuk akal, jika tak masuk akal berarti belum tahu rumus-rumus yg berlaku di alam gaib. Jika mengkamulkan isi kitab pun kenyataannya sudah mengalami perluasan dan penyempitan makna setelah ditranslate ke dalam berbagai bahasa oleh banyak orang yg memiliki penafsiran beragam corak dan warnanya.
Santri Gundhul : apa buktinya … ?
Guru Sejati : lihat saja, begitu banyaknya aliran dan faham dalam satu agama saja. Tidak hanya puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Semua itu sudah menjadi hukum alam, bahwa aliran dan faham (mazab) akan selalu bermunculan dan kian banyak seiring perjalanan waktu, sesuai dengan kompleksitas rasio manusia, dan daya nalar yg menimbulkan persepsi dan penafsiran beragam. Apa jadinya kalau mereka saling mengklaim dirinya paling benar ?
Santri Gundhul : yaaah…berebut kebenaran atau golek benere dewe. Yang menimbulkan perpecahan, perselisihan, permusuhan, saling curiga, saling menjatuhkan, saling bunuh, saling fitnah.
Guru Sejati : akar segala macam fragmentasi dan kehancuran di dalam satu agama, tidak lain disebabkan oleh penafsiran, persepsi dan pemahaman setiap individu, pengikutnya, dan akhirnya menjadi kelompok besar yg siap bersimbah darah demi kesadaran palsunya.
Santri Gundhul : hmmmm…jadi..? agar supaya agama turut andil menciptakan ketenangan batin, ketentraman, dan kedamaian dunia ini, idealnya tak usah menekankan akan kebenaran dirinya, tetapi lebih mengutamakan kampanye untuk selalu berbuat baik kepada seluruh makhluk. Nah kebaikan kan relatif, masing2 org punya penafsiran pula yg berbeda-beda akan nilai kebaikan itu… ? apa patokannya ? sama saja kan…harus kembali “pemurnian diri” ke kitab dan sunah thok thil. Makin bingung saya !
Guru Sejati : pandaganmu itu terlalu menyempitkan realitas kemaha luasan hakekat Tuhan Yang Maha luas tiada batas. Idealnya, suatu perbuatan barulah menjadi kebaikan, dengan syarat, tidak menerjang kodrat universe. Kodrat alam semesta. Nilai yang paling universal dan tidak menabrak kodrat alam, adalah setiap perbuatan yang kita lakukan selalu didasari dengan rasa KASIH SAYANG yang tiada bertepi, “ rasa welas-asih kadya samudra tanpa tepi, welas tanpa alis “ , kasih sayang yangg TULUS, tanpa pamrih. Kecuali berharap saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk dalam jagad raya ini.

Sumber: kariyan.wordpress.com

About admin

Check Also

Al-Qur’an dan Tafsir Sufi

أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ لِلْقُرْآنِ بَاطِنٌ وَلِلْبَاطِنِ بَاطِنٌ إِلَى سَبْعَةِ أَبْطُنٍ Sesungguhnya Al-Qur’an itu ada [makna] ...