Monday , December 17 2018
Home / Agama / Ketika Tuhan dan Agama Didegradasi Menjadi Berwajah Buruk

Ketika Tuhan dan Agama Didegradasi Menjadi Berwajah Buruk

Ketika Tuhan dan Agama Didegradasi Menjadi Berwajah Buruk

PASUKAN PERANG SALIB. “Sesungguhnya Islam memerlukan pembaharuan pemikiran dan penafsiran oleh para cendekiawannya….. Tapi sayangnya para cendekiawan muslim itu lebih senang bermain politik demi kekuasaan”. (byzantinum)

MESKIPUN dimulai dengan suasana mendua dalam penentuan awal Ramadhan, akhirnya masyarakat Indonesia yang menganut agama Islam bisa merayakan Idul Fitri di satu hari yang sama, 19 Agustus 2012. Tapi tak urung, selama beberapa hari menjelang Lebaran, sebagian masyarakat tetap diliputi ketidakpastian, apakah mempersiapkan diri untuk merayakan hari besar Islam itu di hari Minggu, atau merayakannya di hari Senin 20 Agustus. Suatu keadaan yang secara psikologis, sebenarnya sangat tak nyaman. Banyak yang berpikir, karena Muhammadiyah sudah jauh hari mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 19 Agustus, pastilah pemerintah, NU dan ormas yang berbeda pendapat dalam penentuan awal Ramadhan, akan menentukan lain, yakni sehari setelahnya.

Bila kita, sebagai sesama umat, harus terbelah dalam pilihan hari merayakan lebaran, seperti yang kita alami beberapa kali pada tahun-tahun sebelum ini, kita juga bisa merasa mengalami keterbelahan kebersamaan. Padahal, kita berada dalam satu naungan agama. Secara lebih luas, dalam konteks kebersamaan sebagai umat beragama, dan bahkan sebagai manusia, bila kita harus mengalami keterbelahan dalam kebersamaan, karena menganut agama yang tak sama, secara batiniah memberi perlukaan. Padahal, kita memiliki fitrah yang sama sebagai insan yang bersumber pada kebenaranNya.

KEGAGALAN berkepanjangan manusia selama berabad-abad –terutama di abad-abad awal– dalam menjalankan agama dengan sebaik-baiknya, tak lain adalah egoisme dalam menafsirkan berbagai ajaran agama yang dianutnya. Beberapa dari penafsiran itu mengendap sebagai kerak pemikiran tradisional, yang menjadi sumber pertentangan terus menerus sepanjang masa. Itu terjadi dalam agama Kristen maupun dalam Islam, sebagai suatu keadaan yang menjadi sumber konflik internal, sekte melawan sekte, maupun konflik eksternal di antara agama-agama, antara Islam dengan Kristen (sejak Perang Salib), Islam dengan Hindu (di Asia Selatan), Islam dengan Budha (yang dianggap sedang terjadi di Myanmar) ataupun antar agama lainnya.

Situasi dengan pertentangan yang lebih tinggi kadarnya daripada kedamaian di antara para pemeluk agama, yang terjadi dari waktu ke waktu, kadangkala menimbulkan skeptisme. Betulkah agama-agama itu berjalan dalam suatu lingkup keilahian, atau jangan-jangan ia telah menjelma sebagai ‘mutan’ rekayasa manusia sendiri, dari abad ke abad, karena ia menyerap dan memberi tempat bagi begitu banyak karakter dan perilaku manusia sampai kepada yang terburuk?

Indonesia juga mewarisi tradisi pertentangan antar agama maupun kehidupan sektarian dalam intra agama-agama besar. Islam dalam konteks ini perlu diberi catatan khusus, terutama karena ia adalah agama dengan jumlah penganut terbesar di sini –sehingga Islam, ternyata, didera persoalan terbesar juga. Dan sepanjang terkait dengan Islam di Indonesia, persoalan terbesar itu terutama adalah tetap masih hidupnya hasrat menjadikan republik ini sebagai satu negara Islam, semata-mata karena fakta kuantitatif bahwa mayoritas rakyat terdaftar sebagai pemeluk agama Islam, seraya mengabaikan fakta bahwa secara kualitatif fundamen negara ini tegak di atas suatu pluralisme –bukan hanya dalam keanekaan agama, tetapi juga kebhinnekaan ras, suku, wilayah dan budaya. Jangan dilupakan, faktor kepentingan dan kebutuhan objektif ekonomi. Pengertian mayoritas jangan hanya kita pandang dari aspek agama saja, karena banyak faktor mayoritas lainnya yang eksis di tengah bangsa ini, termasuk keinginan dalam satu kebersamaan tanpa memandang agama yang menjadi anutan.

Tidak sedikit penggalan wilayah yang luas dengan penghuni bukan mayoritas Islam, sehingga bila Indonesia dirubah menjadi negara Islam, mereka terpaksa memisahkan diri, dan membuat peta negara kesatuan yang kita kenal saat ini retak-retak dan berlubang di sana sini. Kita akan kehilangan sebagian Sumatera Utara, kehilangan sebagian Kalimantan, kehilangan sebagian Maluku, kehilangan Toraja di Sulawesi Selatan, kehilangan sebagian Sulawesi Tengah, bahkan sebagian pulau Jawa. Kitapun akan kehilangan seutuhnya Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

PARA pendiri bangsa –tak terkecuali para pemimpin berlatar belakang pemikiran Islam– yang telah membawa kita menuju Indonesia merdeka, menyadari fakta pluralisme bangsa ini. Bahwa bangsa ini tak mampu berdiri sebagai satu bangsa merdeka, bilamana mengabaikan pluralisme sebagai fakta dan nilai. Maka, mereka mampu menyelesaikan dengan jiwa besar, terutama melalui pendekatan Mohammad Hatta, perbedaan tentang tujuh kata dalam pembukaan UUD (Piagam Jakarta). Ini merupakan catatan sejarah. Meski, sejarah juga mencatat adanya tokoh bernama Sekar Maridjan Kartosoewirjo, yang untuk sebagian karena kekecewaan pribadi, mengobarkan hasrat membentuk Negara Islam Indonesia yang diikuti oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan yang juga menyandang setumpuk kekecewaan pribadi dalam konsolidasi kekuasaan di daerah itu. Hal yang sama terjadi dengan Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan dan Daud Beureueh di Aceh.

Usaha mendirikan Negara Islam Indonesia oleh Kartosoewirjo telah mengalirkan darah rakyat Jawa Barat selama 12 tahun sampai 1962, sementara DI/TII Kahar Muzakkar menyengsarakan rakyat Sulawesi Selatan lahir dan batin selama 14 tahun sampai awal 1965. Dan sungguh mencengangkan, betapa DI/TII telah melakukan kekejaman-kekejaman kemanusiaan luar biasa yang sudah melampaui batas akal –mulai dari penyembelihan, perampasan harta, sampai penculikan perempuan untuk kawin paksa– dengan pretensi dan pengatasnamaan Islam yang sesungguhnya adalah agama yang mulia. Mereka yang hidup di zaman itu, takkan mungkin melupakan semua penodaan agama yang bergelimang darah itu. Dengan demikian, sungguh tak pantas bila pada tahun-tahun belakangan ini, setelah berlalunya waktu, ada yang mencoba memutihkan kejahatan kemanusiaan tokoh-tokoh DII/TII itu seolah-olah suatu perjuangan suci Islam. Apa yang dilakukan DI/TII itu adalah awal dari tampilnya Islam sebagai wajah bengis di dalam Indonesia merdeka.

WAJAH bengis dalam kekerasan masih selalu tampil hingga kini. Dalam aneka perbuatan teror, mulai dari peledakan bom di tempat-tempat umum, sampai penyerbuan dan serangan terhadap kelompok-kelompok lain yang seagama maupun tak seagama karena berbeda pandangan. Paling tidak, bila tak melalui kekerasan fisik, melalui kebengisan dalam kata-kata mengkafirkan orang lain.

Empat puluh lima tahun yang lalu, Mei 1967, seniman grafis T. Sutanto yang kala itu masih seorang mahasiswa, mengeluhkan dalam sebuah tulisannya di sebuah media generasi muda, tentang pemuka-pemuka yang berpretensi sebagai yang paling benar seraya memanipulasi Tuhan sehingga tampil dengan wajah lain. Kita kutip berikut ini.

“Orang-orang saleh, yang tidak pernah meninggalkan sembahyang dan tidak pernah lepas dari ucapan-ucapan Illahi, merasa dirinya paling benar, dan melihat dengan jijik kepada orang-orang yang tidak melakukan seperti yang dilakukannya”. Perasaan paling benar ini,  yang merasa perlu memaksakan kebenarannya kepada orang lain dengan penuh kemarahan, cahaya Tuhan telah membentuk harga diri dan kebenaran yang demikian tinggi, sehingga kesombongan dan kebencian antara manusia tercermin di dalamnya.

‘Pembela-pembela’ Tuhan lalu membuat front untuk mempertahankan kedaulatan Tuhan di dunia ini. “Mereka ikut beragitasi di mimbar-mimbar politik. Ikut berdesak-desak berebutan kursi, dan ikut bernafsu menduduki kursi paling banyak, untuk dapat menentukan orang lain. Agama mengajarkan kepatuhan yang sempurna kepada Tuhan. Mengajarkan bagaimana orang bersedia mati untuk Tuhan. Tuhan lewat agama telah membentuk kader-kader serta pengawal-pengawalnya yang militan. Militansi yang tidak hanya bersedia membela, tetapi juga bersedia membalaskan dendam Tuhan. Bersedia membunuh, atau menyiksa mereka yang telah menyakiti hati Tuhan, yang telah menghina atau dianggap menghina Tuhan. Militansi yang membentuk manusia fanatik, eksklusif dan sanggup berbicara dalam bahasa tinju dan belati. Mereka menjadi lebih peka emosinya, mudah marah, mudah tersinggung”.

“Sang maha belas kasihan telah membunuh kelembutan dan rasa rendah hati manusia, sebaliknya mengobarkan nafsu akan darah dan bencana”.

“Istilah orang ‘kafir’ menandakan bahwa orang orang agama pun mencari-cari alasan untuk membenci dan melampiaskan nafsu pada orang lain. ‘Perang Jihad’ pada hakekatnya hanyalah bunuh membunuh juga, biar dengan alasan yang suci sekali pun”.

“Bila kulihat semua itu, aku merasa betapa mengerikannya Tuhan itu, betapa mengerikannya Sang Maha Penyayang itu! Kulihat bahkan Tuhan pun tidak mampu untuk mengalahkan nafsu manusia, malahan ikut bernafsu untuk menaklukkan kemanusiaan yang baik, dengan kesombongan, kebencian dan pembunuhan-pembunuhan. Apa bedanya dengan cara setan menaklukkan manusia?”. T. Sutanto mengakhiri keluhannya dengan pertanyaan, “Bila agama, Tuhan dan setan, hanya berselisih alasan saja dalam berebutan hak dalam menjajah manusia, maka kepada siapa aku dapat mengharapkan kesejahteraanku ini?”.

SETELAH empat puluh lima tahun, sejumlah manusia Indonesia masih juga meneruskan perilaku memanipulasi Tuhan dan agama dengan retorika-retorika dan penafsiran lama yang tradisional. Penggambaran T. Sutanto menjadi benar. Banyak contohnya.

Seorang pemusik dangdut yang sering ‘berdakwah’ melalui lagu, memberi bagi dirinya sendiri hak dan kompetensi untuk memberi ‘fatwa’ jangan memilih pemimpin yang bukan muslim untuk ibukota negara. Sejumlah pejabat kementerian agama dan politisi menjadikan pengadaan kitab suci Al Qur’an sebagai ladang suap dan korupsi. Ormas semacam FPI memberi dirinya otoritas menghakimi moral orang lain dan sekaligus menjalankan eksekusi dalam berbagai kasus. Tak sedikit da’i, kiai maupun pemuka agama lainnya telah memanfaatkan retorika agama untuk memperkaya diri sendiri, sementara sebagian lainnya memanfaatkannya untuk memenuhi hasrat seksualnya dengan manipulasi nikah mu’thah dan nikah sirih. Belum lagi, perilaku poligami yang dilakukan secara tak bertanggungjawab. Sejumlah pemuka agama menutup mata terhadap para pelaku pedophilia yang menyalahgunakan uang dan nama agama semacam Sjech Puji. Sejumlah lainnya tak segan membela atas nama agama, habib muda yang dituduh melakukan perbuatan sodomi dengan paksaan dan bujuk rayu. Di bawah bendera agama, ketidakadilan gender dengan kaum perempuan sebagai korban, berlangsung terus. Retorika agama menjadi senjata politik dalam konteks perebutan kursi-kursi kekuasaan. Dengan itu semua, wajah Tuhan dan agama, termanipulasikan untuk kepentingan duniawi yang jauh dari kebaikan…..

Sesungguhnya Islam memerlukan pembaharuan pemikiran dan penafsiran oleh para cendekiawannya. Seharusnya tak ada lagi tempat bagi pemikiran dan penafsiran usang yang seringkali serba tidak adil dan otoriter. Tapi sayangnya para cendekiawan muslim itu lebih senang bermain politik demi kekuasaan.

Sumber: socio politica.com

 

About admin

Check Also

MRT Ratangga dan Sejarah Obsesi Pejabat terhadap Dunia Wayang

Sejak zaman Orde Baru, pemerintah sering menamai benda-benda publik berteknologi tinggi dengan nama dari dunia wayang, ...