Wednesday , September 26 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Ketika “Pribumi” Menjadi Sebuah Masalah

Ketika “Pribumi” Menjadi Sebuah Masalah

Pada sebuah diskusi tentang unilateral action dalam hubungan internasional di kantor Luar Negeri Jerman, sahabat saya Mohammad Iqbal dari Pakistan bertanya; mengapa Jerman mengirimkan pasukan ke Pakistan dan Afghanistan.

Pemudi Jerman dari biro Asia Tengah menjawab singkat.

“Kami bagian dari NATO”.

Iqbal melanjutkan apakah tindakan Jerman tadi sudah dipersiapkan dengan konsekuensi retaliasi, tindakan balasan dari the so called teroris yang mereka perangi di Pakistan dan Afghanistan.

Si pemudi, menjawab singkat lagi bahwa itu konsekuensi perang melawan terorisme.

Iqbal melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya dan si gadis hanya menjawab dengan tujuan menghabiskan waktu.

Saya katakan kepada si gadis, apakah dia merasa satu dari banyak generasi Jerman yang keliru.

Menjelang kehancuran Nazi, Sekutu menghabiskan persediaan amunisi mereka dengan menjalankan kampanye karpet bom.Membom semua kota-kota Jerman sampai rata dengan tanah. Serangan non diskriminatif yang membunuh penduduk sipil dengan dalih menghancurkan infrastruktur Nazi dan ini adalah pelanggaran berat HAM.

“Sekarang anda melakukan kampanye yang sama atas nama perang melawan teror. Menghancurkan kota dan desa-desa di Pakistan.”

Ya, di tengah kebanggaan sebagai orang Jerman kebanyakan mereka malu mengaku sebagai orang Jerman. Ini karena perasaan takut bahwa lawan bicara akan mengaitkannya dengan Hitler dan Nazi. Sehingga anda akan sangat sulit menemukan orang Jerman memasang bendera pada perayaan kemerdekaan atau unifikasi di jendela-jendela apartemen mereka.

Media massa dan film-film, mengulang-ulang terus peristiwa holacaust. Bahwa seolah-olah semua orang Jerman bertanggungjawab atas kematian Yahudi. Mereka dipaksa menerima jika satu-satunya korban dari perang dunia kedua adalah orang Yahudi. Meskipun ada lebih dari 5 juta orang Jerman mati tetapi mereka tetap harus menerima klaim ada lebih banyak orang yahudi mati daripada korban seluruh Jerman sendiri.

Pada Christian Korda, pemuda Berlin yang ramah saya mempertanyakan hal ini. Ia katakan bahwa pada satu ketika dia merayakan perasaan bangga menjadi orang Jerman ketika Jerman menang di piala dunia.

“Orang-orang menempelkan bendera di spion-spion mobil, dan jendela-jendela.”

Tetapi besoknya, ia melanjutkan; media massa menulis bahwa kelompok skin head pro Nazi adalah pendukung klub Jerman dan mereka mengibarkan bendera Jerman. Lalu orang menjadi kembali malu menampilkan semangat kebersamaan menjadi warga pribumi.

Saya ingat kembali percakapan kami di kedai makanan Italia dan bir di Poppenberg Alle, Berlin.

Hari ini, di Jakarta juga begitu. Tiba-tiba menjadi pribumi adalah sebuah masalah. Menjadi pribumi artinya anda membenci Cina, mendukung pemerkosaan massa tahun 1998 dan kolaborator Arab. Bahwa pemerkosaan etnis Cina selama 2 hari kerusuhan itu sendiri sampai hari ini kita tidak pernah mendapatkan otentisitasnya. Siapa korban, siapa pelaku, karena pada akhirnya ia mirip kisah pembunuhan holacaust Yahudi bahwa satu-satunya korban reformasi adalah Cina dan semua non-Cina sebagai pihak yang bertanggungjawab. Seakan-akan seluruh kejahatan orde baru itu hanya terjadi pada dua hari itu saja dan berdampak kepada satu etnis.

Seperti di Jerman, kita tidak pernah benar-benar mendapatkan data akurat kecuali bahwa menolak holacaust di Jerman adalah pelanggaran hukum. Meski anda mengumpulkan data-data akademik untuk membantahnya dan mengatakan jika korban etnis Bavaria dan Poland jauh lebih banyak daripada orang Yahudi. Sehingga menjadi aneh jika, satu-satunya korban dari Nazi adalah hanya orang yahudi dan karenanya mereka memiliki hak previlegenya.

Ini tentu menggelikan, tetapi dengan apa yang terjadi dengan orang-orang di Jerman yang minder sebagai pribumi maka framing seperti ini atas pribumi di Indonesia juga harus terus dilawan dengan akal sehat.

Jangan sampai, kita membenci apa yang ada pada diri kita, keyakinan, kebudayaan, dan kepribumian karena satu hal yang tidak pernah kita langgar. Seperti misalnya menuntut hak atas kemakmuran dan kesejahteraan di tanah air kita sendiri.

  • Andi Hakim, Pegiat Media Sosial
  • The Global Review

About admin

Check Also

Menelaah Konflik antara Ali dan Muawiyah

Konflik politik dan perebutan kekuasaan kerap kita jumpai dalam catatan peradaban manusia. Tidak terkecuali dalam ...