Sunday , April 21 2019
Home / Deep Secret / Waspada / Ketika ISIS Sudah Masuk ke Kamar Kita

Ketika ISIS Sudah Masuk ke Kamar Kita

Dalam sebuah tulisannya, seorang dosen Fikom Unpad mengeluhkan framing media Barat dalam memberitakan aksi terorisme di Paris. Menurutnya, “Belum genap sehari pengeboman dan penembakan Paris terjadi, tapi berbagai media sudah menyebut satu kelompok Muslim sebagai pelaku teror.” Kelompok muslim yang dimaksudnya tentu saja “ISIS”, karena memang ISIS-lah yang disebut-sebut dalam pemberitaan terkait teror Paris.

Analisis model ini sangat mudah ditemukan. Semua salah Barat. Benar, media Barat memang sudah berkali-kali melakukan ‘framing’ yang menyudutkan kaum Muslimin. Bahkan lebih parah lagi, menyebarkan kebohongan yang membuat AS akhirnya mendapatkan persetujuan publik untuk menyerbu dan menduduki Irak. Atau membuat Dewan Keamanan PBB menyetujui serangan NATO ke Libya. Jadi, menyalahkan media Barat sebenarnya cerita basi (dan media Barat pun sepertinya tak peduli). Melihat perkembangan akhir-akhir ini, saya rasa ada yang lebih penting dilakukan kaum Muslimin, yaitu: menengok ke dalam diri sendiri.

Tanpa keberadaan ISIS, Jabhah Al Nusra, FSA, dan berbagai kelompok jihad lainnya yang melakukan perang atas nama Islam, apakah media Barat punya bahan bakar untuk mem-framing?

ISIS adalah kelompok Muslim, anggotanya Muslim. Di Indonesia banyak sekali simpatisan ISIS, mereka terang-terangan berdemo di berbagai kesempatan, mengibar-ngibarkan bendera ISIS. Di Facebook, banyak ditemui akun-akun orang Indonesia pendukung ISIS. Segera setelah teror Paris, mereka berseru girang dan tak lupa berkata ‘Allahu Akbar’ sebagai bentuk kegembiraan karena ‘keberhasilan’ mujahidin melakukan teror di negeri kafir.

Yang banyak dilakukan publik –sejauh yang saya amati—menyikapi teror Paris ini masih setengah-setengah. Sebagian berkata: “Pray for Paris” atau “Terorisme tak Mengenal Agama” atau “ISIS melanggar ajaran Islam”. Sebagian lagi bersikap denial dan memakai teori konspirasi: “Ini pasti kerjaan AS dan Zionis, bukan ISIS atau kelompok Islam manapun!”

Halooo….? ISIS itu kelompok Islam, anggotanya Muslim, membawa simbol-simbol Islam, menjagal sambil berteriak Allahu Akbar (rekamannya sangat banyak tersebar di Youtube). Dan mereka memang melakukan bom bunuh diri, mulai dari Damaskus, Riyadh, Sana’a, sampai Paris. Mereka pun mengakui melakukan aksi teror itu. Tak peduli siapa yang membentuk, mendanai, menyuplai senjatanya, yang jelas anggotaya adalah MUSLIM. Akui itu dengan jujur.

Tidak cukup buat kita berkata “PrayForParis” atau “Mereka yang melakukan teror itu bukan kami. Kami Muslim cinta damai. Mereka bukan kami.”

Menyalah-nyalahkan framing media Barat tidaklah ada manfaatnya, ketika borok besar dalam umat Islam tidak diobati, malah dibiarkan dan dibela. Umat Islam harus mengakui bahwa memang ada ideologi menyimpang dalam tubuh Islam (Wahhabisme) yang doktrin dasarnya purifikasi Islam (siapapun yang ‘beda’ adalah kafir dan wajib dibunuh).Baca tulisan Karen Amstrong: Wahhabism to ISIS: how Saudi Arabia exported the main source of global terrorism

Di Irak dan Suriah, yang menjadi “si kafir” adalah Syiah (meskipun yang jadi korban kebrutalan mereka Sunni, Syiah, Druze, Kurdi, Kristen, dll) . Di Paris, semua warganya (yang non-Muslim) adalah kafir. ISIS sudah mengancam akan melanjutkan aksi terornya di negara-negara kafir lainnya.

Selama kaum Muslimin enggan jujur, dan lebih memilih sebatas cuci-tangan, “Oh, kami tidak sama dengan mereka”, bau amis dalam tubuh Islam akan terus menguar. Dan selama itu pula media Barat akan mendapatkan umpan untuk di-framing. Selama itu pula kapitalis penghasil senjata yang berkolaborasi dengan rezim-rezim adikuasa akan terus mendapatkan pretext (alasan/dalih) untuk melancarkan perang di negeri-negeri kaya minyak, yang sialnya, dihuni mayoritas Muslim.

Jadi, akui dengan jujur: ada masalah besar pada ideologi takfirisme – Wahabisme* yang dianut ISIS dan kelompok teror lainnya. Ideologi ini juga dianut oleh banyak kaum Muslimin. Tingkatannya beda-beda, ISIS sudah sampai ke level ekstrim. Masalahnya, orang-orang sering tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang menganut ideologi sama, hanya belum sampai level ekstrim.

“Dari dulu saya sudah bilang soal ISIS, cegah dulu, kelompok-kelompok Islam keras Wahabi. Kelompok Wahabi memang bukan teroris tapi satu digit lagi jadi teroris. Semua teroris di Indonesia yang melakukan aksi teror di beberapa tempat bermula dari wahabi dulu.” KH Said Aqil Siradj (antaranews).

Lalu, setelah mendeteksi akar masalah, lakukan langkah-langkah pencegahan agar ideologi ini tidak merasuk di anggota keluarga kita masing-masing.

Waspadalah, ISIS (dan organisasi teror sejenis) sudah sampai di halaman rumah kita, bahkan sudah masuk ke kamar kita. Jangan kira mereka cuma ada di Timur Tengah. Data Badan Penanggulangan Nasional Anti Terorisme (BNPT) menyebutkan bahwa pengikut ISIS di Indonesia sudah tersebar di 10 kota. Mereka yang bergabung dengan ISIS memiliki beragam profesi. Awal November ini, BNPT mengungkapkan bahwa salah satu direktur di Badan Pengelola Batam, bernama Dwi Djoko Widodo, diduga bergabung dengan ISIS sejak beberapa bulan lalu.

Ideologi ini merasuki pikiran masyarakat melalui “dakwah” di media sosial, yang sangat gencar dilakukan. Bahan bakarnya kebencian. Musuh utamanya: Syiah dan kaum kafir Barat (meskipun yang jadi korban bom bunuh diri pada akhirnya sangat acak, dari berbagai agama/etnis). Setelah kebencian yang menyala-nyala dalam diri seseorang, ia pun direkrut menjadi anggota ISIS (atau kelompok teror lain; nama beda, ideologi sama).

Sebuah riset menunjukan bahwa perilaku online dan penggunaan sosial media di kalangan ekstrimis di Indonesia membuat propaganda ISIS mencapai cakupan yang lebih luas.

“Propaganda ISIS disebarluaskan melalui media sosial dan dapat mendoktrin para penonton agar tertarik dengan ISIS,” tutur Direktur IPAC Sidney Jones dalam rilisnya.

“Namun yang paling memengaruhi seseorang adalah saat mereka mulai bergabung dengan kelompok diskusi radikal.”

Data Gedung Putih, yang tahun lalu mengadakan seminar anti-terorisme, menunjukkan bahwa setiap hari setidaknya 90 ribu konten bermuatan kekerasan dan ekstrimisme dimuat ke ranah Internet, oleh ISIS, dan afiliasinya.

“Hati-hati jika punya anak yang gemar menutup diri di kamar, atau menyendiri dalam mengakses Internet. Kalau dia mengakses konten porno, masih mendingan. Jika yang diakses adalah situs radikal, itu artinya musibah besar bagi keluarga,” kata Abdul Rahman Ayub (mantan anggota Jamaah Islamiyah) dalam diskusi mengenai ancaman ISIS yang diadakan perkumpulan Eisenhower Fellowships, Maret 2015.  [copas dari tulisan wartawan, Uni Lubis]

Lalu, apa yang bisa dilakukan para ayah-bunda?

Pertama, ajarkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah ajaran yang welas asih. Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat welas asih. Kalaupun beliau berperang, selalu atas dasar alasan yang valid (bukan tuduhan membabi-buta) dan dengan etika perang yang ketat (bukannya membantai rakyat sipil secara membabi-buta ala ISIS dkk).

Kedua, waspadai pemakaian internet (terutama smartphone) anak-anak. Seorang teman menceritakan bahwa grup WA keponakannya (masih SMP, di sekolah Islam), sudah biasa menyebarkan foto-foto kepala terpenggal dan ujaran-ujaran kebencian.

Ketiga, mulailah dari diri sendiri. Jangan menyebarkan kebencian pada sesama muslim, apalagi didasarkan pada isu atau ‘katanya’. Atau, kalau ditemukan ada akun-akun yang secara provokatif menunjukkan kesesatan, jangan langsung terpengaruh. Sangat mungkin justru memang yang dituju akun-akun itu memang upaya adu domba. Dan lebih baik lagi: lawanlah! Bila ada ibu ustazah yang gemar mengkafir-kafirkan, atau facebooker yang hobi men-share berita fitnah, proteslah (dengan cara santun tentu saja).

Ingatlah selalu data di atas, bahwa rekrutmen teroris terbanyak melalui jejaring sosial. Artinya, kita harus melawannya pun lewat jejaring sosial. Lawanlah konten negatif yang mereka sebarkan, dengan konten positif dari kita, sebanyak-banyaknya.
Takfirisme adalah ideologi dasar segala bentuk terorisme atas nama agama. Katakan TIDAK pada TAKFIRISME.

*takfirisme: mengkafirkan pihak lain yang tidak ‘segolongan’; dalam Islam, paham takfirisme dikembangkan oleh aliran Wahabisme; dalam agama lain juga ditemui paham-paham takfirisme.

https://bundakiranareza.wordpress.com/

About admin

Check Also

Penjajahan Hening Ala Cina

Telaah Kecil Geopolitik atas Terbitnya Alipay dan WeChat di Indonesia Kepentingan nasional yang paling utama ...