Friday , February 21 2020
Home / Ensiklopedia / Analisis / Kesalahan Logika (Logical Fallacy)

Kesalahan Logika (Logical Fallacy)

Kesalahan logika yang dalam bahasa Inggris disebut ‘logical fallacy’ -adanya bias secara kognitif- adalah hal yang seharusnya bisa dihindari. Namun justru umum dijumpai dalam setiap perdebatan, mulai dari yang disiarkan di tivi, debat di warung kopi, debat di SMA, sampai pada debat di sosial media. Bahkan oleh kaum intelektual sekalipun.

Logical fallacy yang paling sering dijumpai ada enam, sebagai berikut :

1. Argumentum Ad Hominem

Yakni menyerang pribadi lawan, bukan argumennya. Contoh:

A : “Kita harus senantiasa menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.”

B : “Lho keluarga kamu sendiri berantakan kok, jangan sok ngurusin orang lain deh kalau ngurus anak bini sendiri aja gak bisa!”

Kesalahan:

Alih-alih mematahkan argumen si A, si B justru langsung “menghunus keris” padanya. Jadi, si B shoots the messenger, not the message.

2. Strawman Fallacy

Yakni menciptakan ‘manusia jerami’ (image palsu) untuk diserang, bukan argumen aslinya. Contoh:

A : “Hari ini ada acara sama teman, jadi gak bisa nganterin kamu ke mall.”

B : “Jadi kamu udah males antar jemput aku? Udah gak sayang lagi sama aku? Kamu egois!”

Kesalahan:

Si A hanya bilang demikian, mengapa si B melontarkan argumen (manusia jerami) yang tidak relevan? Biasanya yang menuduh egois itulah yang egois asli.

3. Appeal To Emotion

Yakni menggunakan emosi sebagai dasar sebuah argumen. Contoh:

A : “KPK menangkap tangan hakim MK bernama Afi sebagai penerima suap.”

B : “Tidak mungkin, selama ini dia sangat baik dan bijak. Lihat saja tulisan-tulisannya dan penampilan dia yang sangat agamis itu!”

Kesalahan:

Yang bisa dijadikan tolok ukur sebuah kebenaran adalah data dan bukti empiris, bukan penilaian berdasarkan emosi yang subyektif ataupun agama seseorang.

4. Argumentum Ad Populum/Bandwagon Fallacy

Yakni mendasari kebenaran argumen dengan suara mayoritas. Contoh:

A : “Menurut penelitian, merokok tidak baik bagi kesehatan.”

B : “Orang jaman dulu kebanyakan merokok, tapi mereka sehat-sehat aja tuh!”

Kesalahan:

B tidak otomatis mematahkan kebenaran argumen A hanya karena dia menyimpulkan suatu penilaian dari pandangan terhadap mayoritas.

5. Appeal To Authority

Yakni mendasarkan argumen pada pendapat orang yang berpengaruh/punya otoritas. Contoh:

A : “Ada apa dengan sekolah itu?”

B : “Kata Pak Bupati, sekolah X adalah sekolah yang paling angker di daerah sini. Berarti benar kan dugaanku!”

Kesalahan:

Hanya karena Pak Bupati mengatakan suatu hal, bukan berarti hal itu otomatis jadi kebenaran.

6. False Dilemma

Yakni sering juga disebut dengan ‘argumen hitam-putih’, sederhananya adalah argumen yang “kalau tidak begini pasti begitu”. Contoh:

A : “Dukung KPK atau tidak?”

B : “Tidak”

A : “Jika tidak dukung KPK berarti koruptor!”

Kesalahan:

A melontarkan kesimpulan “koruptor” pada B sebagai satu-satunya opsi, padahal A tidak seharusnya mengesampingkan faktor-faktor lain yang bisa mendasari keputusan B tidak mendukung KPK, dan bisa saja si B pun tidak anti KPK.

Ke-enam macam fallacies tersebut di atas hanya sebagian saja, sisanya bisa Anda cari sendiri. Sejauh yang saya tahu, menggunakan gestur merendahkan lawan saat debat, adalah hal yang tidak etis. Usahakan untuk tetap menjaga kesantunan dan etika dalam debat yang sehat.

Don’t raise your voice, but improve your argument. Menanglah secara elegan dengan menghindari logical fallacy.

Oleh: Farah Sofa

About admin

Check Also

Belitan Naga Digital RRCina

Diskusi seputar Belt and Road Initiative (BRI) cenderung berfokus pada aspek-aspek nyata; terutama terkait dengan ...