Saturday , September 22 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Kenali Mitos Seputar Daging Kambing dan Hipertensi Jelang Idul Adha

Kenali Mitos Seputar Daging Kambing dan Hipertensi Jelang Idul Adha

Beberapa hari lagi umat Islam di Indonesia akan merayakan hari raya Idul Adha. Dan pertanyaan yang sama setiap tahun pun berulang: bolehkah penderita hipertensi makan daging kambing kurban atau apakah makan daging kambing menyebabkan tekanan darah tinggi?

Tidak sedikit masyarakat yang khawatir jika mengonsumsi daging kambing dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi atau hipertensi. Tapi, hal itu dibantah oleh dokter spesialis penyakit dalam dr. Tunggul D. Situmorang.

“Itu harus diluruskan. Tidak ada di buku mana pun yang mengatakan makan daging kambing menyebabkan hipertensi,” tegasnya.

Meski demikiann, dia mengingatkan agar para penggemar daging membatasi konsumsi agar tidak berlebihan. Pasalnya, daging merah memiliki jumlah kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi dan dikenal dapat meningkatkan kolesterol serta memicu penyakit jantung.

“Biasanya penyakit itu suka datang secara bersamaan. Hipertensi, kolesterol, diabetes mellitus, dan asam urat. Jadi tetap harus dibatasi,” tuturnya.

Mitos yang mengatakan bahwa konsumsi daging kambing menyebabkan darah tinggi dipicu oleh proses pengolahan dan penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak daging kambing.

Bumbu penyedap makanan seperti garam dan mecin memiliki jumlah sodium dan natrium yang sangat tinggi. Apalagi dengan semakin banyak proses pengolahan maka akan semakin tinggi juga kandungan sodiumnya.

Dokter yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia ini mengatakan kandungan yang ada di dalam garam inilah menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Faktor penyebab hipertensi jelas garam. Ketika ada orang yang terkena hipertensi dan tidak diketahui penyebabnya apa, itu pasti karena konsumsi garam berlebih. Apalagi jika ada riwayat keluarga terkena hipertensi, ini dikatakan hipertensi primer, 90 persen penderita hipertensi karena hipertensi primer,” jelasnya.

Meski demikian, bukan berarti masyarakat tidak boleh mengonsumsi garam sama sekali. Boleh saja, asalkan takarannya lebih dibatasi. Pasalnya, bagaimana pun kandungan sodium dan natrium pada garam masih dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Badan kesehatan dunia atau WHO menganjurkan untuk membatasi konsumsi sodium 2.400 miligram atau sekitar 1 sendok teh garam per hari.

Pasien hipertensi berat dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam dengan hanya mengonsumsi 200-400 miligram natrium atau garam setiap hari. Sementara pasien hipertensi tidak berat dianjurkan melakukan diet rendah garam II dengan mengonsumsi hanya 600-800 miligram atau sekitar setengah sendok teh garam setiap hari.

Source: Islam Indonesia

Video Tanya Jawab Seputar Daging Kambing :

About admin

Check Also

Pengobatan dalam Naskah-Naskah Kuno

Ilmu pengobatan merupakan tradisi warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Selain diturunkan secara lisan, metode pengobatan ...