Tuesday , December 11 2018
Home / Agama / Kematian seorang Pangeran

Kematian seorang Pangeran

Oleh :
KH Abdurrahman Wahid

Kematian Seorang PangeranPernah saya memperoleh permintaan untuk bertemu. Seorang teman menyatakan bahwa gurunya ingin berjumpa saya sebelum ia meninggalkan dunia fana ini. Orang itu adalah seorang guru kebatinan, yakni yang percaya kepada Tuhan dalam konteks kejawen, bukan konteks agama saya sendiri.

Tokoh itu adalah seorang Pangeran, yang oleh masyarakat setempat sudah tidak dikenal lagi dengan nama demikian. Ia dipanggil embah, alias kakek. Dahulunya Pangeran Papak, kini Mbah Papak, di Banyuwangi. Tinggalnya di kawasan hutan sepi pantai ujung timur pulau Jawa, lebih sejam berkendaraan mobil dari Kota Banyuwangi.

Sesampai di sana, yang saya jumpai adalah seorang tua yang sudah mersik kulitnya karena ketuaan. Mata sudah tidak melihat lagi. Sisa umur dihabiskan di atas bale-bale. Saya sampai ketika ia masih tertidur, karena demikianlah adanya. Sudah tidak merencanakan lagi antara bangun dan tidur, sewaktu-waktu bisa bangun, sewaktu-waktu bisa tidur pula.

Ketika masa tidurnya selesai, sepuluh menitan setelah kedatangan saya, ia langsung bertanya, “Siapa kamu?” Saya jawab bahwa nama saya adalah Abdurrahman Wahid. Dalam bahasa Jawa tentu. “Wakid?” Tanyanya dalam logat yang medok. “Kamu Islam ya?” Lanjut pertanyaannya. Setelah saya benarkan, ia langsung mengajukan pertanyaan yang membuat saya terpana: “Mengapa kamu tidak mau mengakui saya sebagai saudara sebangsa? Saya ini hongwilaheng, orang Budha”. Saya jawab, bahwa saya bersedia mengakuinya sebagai saudara sebangsa. “Berani jamin?” Tanyanya. “Saya jamin”, kata saya. Dan iapun menyatakan kebahagiannya dengan ucapan pendek saja: “Bahagialah kita semua kalau begitu”.

Beberapa waktu kemudian saya mendengar ia meninggalkan dunia fana ini, dan oleh murid-muridnya dinyatakan bahwa ia ‘mengundurkan’ saat kematiannya hanya untuk menunggu pertemuan dengan saya… (?)

Mengapakah saya terpana dengan pernyataan Pangeran Papak ? Karena disitulah saya menyadari, bahwa masih cukup banyak warga bangsa ini yang ketakutan dengan agama saya. Konon, agama saya datang dengan damai, melalui perdagangan dan perkawinan, melalui tasawuf, melalui pendidikan, dan seterusnya. Semuanya cara-cara damai.

Kalau memang klaim itu benar, mengapakah masih ada yang ketakutan kepada umat Islam di sini ?

(Tulisan di atas telah melalui proses editing agar lebih ringkas)

About admin

Check Also

Mendekonstruksi Agama Lewat Politik Kebencian

Hiruk pikuk jagat politik jelang Pilpres 2019 hampir tak pernah sepi, dari soal narasi nyinyir ...