Monday , September 24 2018
Home / Berita / Kemarahan dunia atas spionase AS memuncak

Kemarahan dunia atas spionase AS memuncak

Kemarahan dunia atas spionase AS memuncakKemarahan dunia internasional atas dugaan spionase yang dilakukan Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat (AS) memuncak. Jerman dan Brazil, sebagian dari negara yang merasa jadi korban spionase NSA, merancang resolusi PBB untuk mengakhiri kegiatan spionase yang berlebihan itu.
 
Presiden Brazil, Dilma Rousseff dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, kompak mengutuk spionase NSA yang berlebihan, karena sampai menyadap ponsel kepala negara. Dilma Roussef beberapa waktu lalu, membatalkan kunjungannya ke AS, karena ada laporan ponselnya telah disadap. Dalam pekan ini, laporan serupa juga menyasar Angela Merkel.
 
Ulah NSA telah membuat para pemimpin Uni Eropa marah besar. Mereka, kemarin bertemu untuk menyatakan sikap tegas kepada AS, dan menuntut diakhirinya kegiatan spionase yang berlebihan itu. Laporan dugaan spionase NSA itu, tak lain bersumber dari bocoran whistleblower NSA, Edward Snowden yang kini bersembunyi di Rusia, setelah mendapat suaka satu tahun dari Pemerintah Vladimir Putin.
 
Di Eropa, selain Jerman, Perancis juga berang atas ulah NSA. Sebuah laporan dari media Perancis, Le Monde, mengungkap, 70 juta lebih komunikasi telepon rakyat Perancis disadap NSA. Belum reda kemarahan Perancis, media itu kembali melansir laporan, komunikasi diplomat Perancis di PBB dan Washington juga disadap.
 
Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius, langsung meminta penjelasan dari Menteri Luar Negeri AS, John Kerry. ”Spionase dalam skala besar yang dilakukan Amerika kepada sekutunya adalah sesuatu hal yang tidak bisa diterima,” kata Fabius. Tak cukup, Duta Besar AS di Paris juga jadi bulan-bulanan Pemerintah Perancis untuk memberikan penjelasan laporan dugaan spionase itu.
 
Spanyol, yang belum memiliki bukti telah dimata-matai AS, juga berniat memanggil Duta Besar AS yang berada di Spanyol. “Kami tidak memiliki bukti, bahwa Spanyol telah dimata-matai. Tapi, kita memanggil Dubes AS untuk mendapatkan informasi,” kata Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy.
 
Di Amerika Latin, selain Brazil, Meksiko juga jadi korban spionase AS. Pemerintah Meksiko marah setelah laporan NSA memata-matai presiden mereka pada tahun 2010 terbongkar. E-mail Felipe Calderon yang pada 2010 menjabat sebagai Presiden Meksiko, disadap oleh NSA. ”Tindakan mata-mata tidak bisa diterima, ilegal, dan dan bertentangan dengan norma hubungan negara,” bunyi kecaman Kementerian Luar Negeri Meksiko.
 
“Tamparan” untuk AS
 
Rancangan resolusi PBB yang dibuat Jerman dan Brazil, yang akan menjadi “tamparan” untuk AS itu, akan disampaikan di hadapan Mejelis Umum PBB yang berganggotakan 193 negara.
 
”Resolusi ini mungkin akan memiliki dukungan besar dari semua kalangan diplomat di PBB, karena tidak ada yang suka NSA memata-matai mereka,” kata seorang diplomat Barat untuk PBB, yang diwawancarai Reuters dengan syarat anonim.
 
Resolusi PBB itu tidak mengikat, tidak seperti resolusi Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara. Tapi, kata diplomat Barat itu, resolusi yang diyakini akan menuai dukungan internasional, akan membawa dampak moral dan politik yang akan membebani AS.
 
Merkel, Kamis kemarin menuntut Washington untuk mengakhiri kegiatan mata-mata dengan cara seperti itu. Menurutnya, Jerman dan Perancis—yang juga jadi korban spionase AS–, menuntut AS mengakhiri spionade. Mereka minta Obama tidak hanya sekadar meminta maaf, tapi ulah penyadapan NSA dihentikan.
 
Seruan PBB bertindak atas ulah NSA AS, juga disampaikan Pemerintah China, kemarin. China menyerukan masyarakat internasional untuk mempercepat perumusan pedoman kode etik cyber (dunia maya).
 
”Kami telah memperhatikan sejumlah laporan dan pernyataan yang disampaikan sejumlah pemimpin negara. Ini menjadi sebuah kesaksian baru, bahwa keamanan cyber telah menjadi fokus umum bagi banyak negara di dunia,” kata Hua Chunying, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.
 
AS sendiri, selama ini hanya mengklaim akan mengevaluasi cara kerja intelijennya. Tanpa ada pembuktian, akan menghentikan aksi penyadapan. Presiden Barack Obama juga terus berkilah, bahwa intelijennya tidak menyadap ponsel para pemimpin negara, termasuk Kanselir Jerman, Angela Merkel. “AS tidak memantau, dan tidak akan memantau komunikasinya,” ujar Obama.

Sumber: international.sindonews.com

About admin

Check Also

Efektifkah Politisasi Asian Games untuk Memenangkan Pilpres?

Kubu Prabowo mengklaim keberhasilan pencak silat bukti kepemimpinan Prabowo. Sebaliknya, kubu Jokowi merasa ini bukti ...