Tuesday , June 25 2019
Home / Sains / Teknologi / Cyber / Kelemahan Israel Hadapi Serangan Cyber

Kelemahan Israel Hadapi Serangan Cyber

capture-20130424-095425Ahmad al-Mudallal, anggota senior Jihad Islam dalam wawancaranya dengan televisi al-Alam menandaskan, “Serangan cyber merupakan reaksi atas kejahatan rezim Zionis dan pada dasarnya aksi ini reaksi bangsa Palestina terhadap rezim penjajah. Kondisi internet dan dunia maya saat ini berbeda dengan masa lalu. Dewasa ini bangsa Palestina dengan mudah dapat menghadapi Israel dan salah satu medannya adalah dunia cyber.”

Ruang maya atau Cyber Space adalah istilah yang pertama kalinya dicetuskan oleh William Gibson dalam novel fantasi ilmiahnya Neuromancer yang terbit pada tahun 1984 dan berakar dari kata latin Kubernan yang artinya menguasai atau menjangkau. Dewasa ini cyber space diartikan sebagai berikut, “Kumpulan dari interaksi internal manusia melalui komputer dan alat-alat telekomunikasi tanpa terbatas oleh tempat dan geografi.” Ada juga yang mendefinisikan Cyber Space sebagai berikut, “Ruang cyber adalah dunia elektronik sejati di mana interaksi sesama manusia dilakukan dengan sangat cepat melampaui batas teritorial dan dengan menggunakan alat khusus serta langsung.”

Ruang maya sejatinya adalah sebuah lingkungan di mana komunikasi dan interaksi berlangsung. Meski interaksi ini tidak dilakukan melalui Line On, namun komunikasi tersebut tetap secara langsung. Ruang maya terbesar di mana jutaan pengguna saling berhubungan adalah dunia maya internet. Namun demikian dunia maya ini juga memiliki kesulitan, pergesekan dan perang.

Perang cyber merupakan salah satu bentuk perang di mana kedua pihak yang terlibat melalui komputer dan jaringan internet mengarahkan peperangan mereka. Serangan di perang cyber memiliki banyak ragam dan medan yang luas, mulai dari canda yang biasa hingga pengiriman virus atau worm yang merusak. Bahkan perang cyber dapat membahayakan sebuah negara. Di antara serangan cyber terbesar dalam beberapa tahun terakhir adalah seragan virus stuxnet, operasi Aurora, serangan cyber ke situs departemen pertahanan AS (Pentagon) serta serangan cyber ke infrastruktur Estonia.

Baru-baru ini Rezim Zionis Israel mendapat serangan cyber besar-besaran. Reporter kanal 2 televisi rezim Zionis mengatakan, pusat kontrol komputer dan informasi internet di cabang jaringan komunikasi komputer yang bermarkas di bawah gedung departemen pertahanan Israel terus memantau serangan-serangan cyber. Demikian televisi Alalam melaporkan, Rabu (10/4).

Menurut reporter televisi Zionis itu, para hacker berusaha merusak berbagai sistem komputer yang berhubungan dengan militer Israel. Ia menandaskan, segala bentuk gangguan dalam sistem-sistem itu akan merusak berbagai sistem komputer di wilayah-wilayah perbatasan Palestina pendudukan (Israel). “Hingga kini 83 program komputer telah rusak akibat serangan hacker,” ujarnya.

Reporter kanal 2 televisi Zionis mengklaim bahwa Iran dan Cina adalah pelaku utama di balik serangan cyber ke berbagai sistem kemputer Israel, sebab kedua negara itu selalu berusaha mengumpulkan informasi komputer Israel. Menurutnya, mayoritas kelompok yang mengancam akan melakukan serangan cyber terhadap Israel adalah para pemuda yang berasal dari negara-negara Arab dan Islam.

Israel menuai kebencian dari banyak kelompok dan simpatisan di seluruh dunia pendukung Palestina. salah satunya adalah serangan yang tengah disiapkan para peretas (hacker) yang berada dalam misi OpIsrael (kelompok anti Israel), yang berafiliasi dengan kelompok ‘hacktivist’ terkemuka, Anonymous.

Adapun misi yang dijalankan oleh OpIsrael ini adalah serangkaian serangan cyber yang disebut DDoS (Distributed Denial of Service), dengan menggunakan jaringan komputer yang sangat besar untuk bekerja sama mendorong traffic ke server hosting dari situs yang menjadi target yakni Israel. Rencananya, kata “Israel ” akan dihapuskan oleh kelompok OpIsrael sehubungan dengan peringatan Holocaust di bulan April.

OpIsrael mengancam akan melakukan serangan cyber pada jaringan internet pemerintah, bank, lembaga akademik, keamanan dan situs bisnis di Israel yang berupa database yang masih berlaku maupun yang sudah expired (yang sudah dihapus). Sebagai catatan, serangan seperti ini pernah menimpa database pemerintahan Israel pada November 2012.

Pihak Israel ternyata tidak kalah sigap menyiapkan serangan cyber seperti ini. November 2012 , Yuval Steinitz (Menteri Luar Negeri Israel) mengakui bahwa Israel telah menghadapi 44 juta serangan cyber sejak awal operasi militernya di Gaza. OpIsrael ternyata tidak gentar dengan pernyataan Yuval, karena ternyata para hacker ini menyiapkan strategi lain selain DDoS. Operasi serangan dengan nama OpIsrael itu terakhir dikabarkan berhasil membajak 19 ribu akun Facebook milik warga Israel,menjebol pertahanan cyber dari Mossad, dan mencuri data dari 30 ribu agen rahasianya.

Sementara itu, Koran Haaretz menulis, situs perdana menteri, bursa Tel Aviv dan departemen peperangan menjadi target serangan cyber dan para hacker. Berbagai sumber lain menyebutkan serangan cyber ini sangat besar dan ratusan situs Israel rusak atau dihack oleh para hacker serta ribuan email rahasia dibobol. Situs televisi al-Manar melaporkan bahwa hacker Palestina dan Yordania menghack 40 ribu halaman situs milik Israel di Facebook. Disebutkan pula bahwa serangan hacker ini sebagai protes atas kebijakan arogan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tak hanya itu, para hacker juga mengancam akan menghapus rezim ilegal Israel dari internet dan dunia maya.

Koordinator serangan cyber ke Israel menandaskan, “Kalian (Israel) tidak berhenti melakukan pelanggaran HAM, juga tidak menghentikan pembangunan distrik Zionis serta tidak patuh terhadap perjanjian gencatan senjata. Kalian sama sekali tidak menghormati konvensi internasional.” Para hacker juga menayangkan foto para tahanan Palestina di halaman situs yang mereka hack. Tak hanya itu, sekitar 1500 nama dan email agen Mossad dicantumkan di situs Google Doc. Sejumlah laporan bahkan menyebutkan serangan cyber ini sangat besar sehingga Israel terpaksa meminta bantuan Amerika dan Perancis. Kerugian dari serangan cyber ini ditaksir sekitar tiga miliar dolar.

Sementara itu, para analis mengatakan serangan cyber ini menjadi opsi lain bagi perlawanan bangsa Palestina anti Israel dan bentuk baru dari muqawama. Serangan cyber ini telah memicu kemarahan para petinggi Rezim Zionis Israel. Matan Vilnai, wakil menteri peperangan Israel mengakui sejak Israel memulai model perang baru yakni cyber war, keamanan rezim ini menjadi sangat rentan dan aksi spionase terhadap sistem dan data base Israel pun semakin besar.

Namun Ahmad al-Mudallal, anggota senior Jihad Islam Palestina menandaskan, serangan cyber ini hanya sebagai reaksi dari kebijakan arogan Israel. Kepada al-Alam ia mengatakan, “Melemahkan Israel dan meningkatkan kemampuan militer Palestina untuk mempertahankan diri dan munculnya intifada ketiga bangsa Palestina kian hari semakin kuat.” Ia menambahkan, sejumlah dalih lain yang mendorong serangan cyber ini adalah kebijakan judaisasi di Baitul Maqdis, perampasan tanah rakyat Palestina dan pembangunan distrik Zionis baru di Tepi Barat.

Al-Mudallal menambahkan, “Alat-alat kuno yang digunakan bangsa Palestina untuk melawan Israel seperti batu kian hari mengalami banyak perubahan kemudian disusul dengan aksi gugur syahid. Dan kini bangsa Palestina memiliki senjata canggih termasuk roket Fajr dan M-75. Realita menunjukkan bahwa dewasa ini bangsa Palestina dengan mudah dapat menyerang Israel dan salah satu medan yang penting adalah dunia maya.”

Meski kerusakan dan kerugian dari serangan cyber ke Israel belum dapat diprediksikan secara pasti, namun metode ini kini menjadi alternatif untuk memberi peringatan kepada rezim penjajah Palestina ini. Hasan Abdu, seorang pengamat Palestina mengatakan, “Sampai saat ini kerugian dari serangan cyber kepada Israel belum pasti, namun serangan cyber merupakan metode paling efektif untuk menyerang rezim Zionis dan menghadapi kejahatan Tel Aviv.”(IRIB Indonesia)

About admin

Check Also

Telehealth Menjadi Bagian Berharga Dari Program Perawatan Preventif

Telehealth akan menjadi suatu kebutuhan dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan tindakan perawatan preventif bagi ...