Monday , September 16 2019
Home / Relaksasi / Lifestyle / Kehangatan Rumah Tangga

Kehangatan Rumah Tangga

Kehangatan Rumah TanggaKalimat Thayyibah atau Lembaga Suci

Rumah tangga adalah Kalimat Thayyibah (QS. Ibrahim: 24). Ciri khas Kalimat Thayyibah adalah saat muncul di suatu tempat, ia senantiasa mengeluarkan keberkahan dan kebaikan dan menularkannya ke semua yang ada di sekitarnya. Kalimat Thayyibah adalah hal-hal yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia dengan dasar yang benar. Semua ini adalah Kalimat Thayyibah baik secara spiritual maupun materi. (Khutbah Nikah, 15/12/1379)

Sel Asli Kehidupan Masyarakat

Sebagaimana badan manusia tersusun dari sel-sel dan kehancuran, kerusakan serta kesakitannya baik secara terpaksa maupun secara alami berarti sakitnya badan dan bila penyakit ini menjalar  maka akan membahayakan seluruh badan manusia, Kehidupan masyarakat juga tersusun dari sel-sel yang bernama rumah tangga. Setiap rumah tangga adalah sel-sel kehidupan masyarakat. ketika rumah tangga ini sehat, ketika perilaku mereka benar, maka tubuh atau kehidupan masyarakat juga akan sehat. (Khutbah Nikah, 8/3/1381)

Rumah Tangga Sehat, Kehidupan Masyarakat Sehat

Bila sebuah masyarakat memiliki rumah tangga yang kokoh, suami-istri saling menjaga hak pasangannya, sama-sama berakhlak baik dan harmonis, keduanya bersama-sama menyelesaikan setiap permasalahan yang ada dan mendidik anak-anak dengan baik, maka masyarakat semacam ini akan damai dan sehat. Bila ada seorang muballig ingin memperbaikinya, maka ia akan berhasil memperbaiki kehidupan masyarakat semacam ini. Bila tidak ada rumah tangga yang sehat, maka muballig sehebat apapun tidak akan bisa memperbaikinya. (Khutbah Nikah, 14/36/1372)

Setiap negara yang pilar-pilar rumah tangganya kokoh, maka banyak masalah yang akan terselesaikan terutama masalah moral dan spiritual. Hal ini karena berkah rumah tangga yang sehat dan kokoh, bahkan tidak akan muncul masalah. (Khutbah Nikah, 2/9/1376)

Ikatan pernikahan dan perkawinan ini merupakan salah satu nikmat ilahi yang besar, salah satu rahasia penciptaan, salah satu faktor kekekalan dan keabadian, keselamatan dan kebaikan masyarakat. (Khutbah Nikah, 23/12/1379)

Bila rumah tangga dibentuk dengan baik dan akhlak mendominasi pasangan suami istri, benar, logis dan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam dan yang ditetapkan oleh Allah, maka rumah tangga semacam ini akan menjadi dasar perbaikan masyarakat dan dasar kebahagiaan semua anggota masyarakat. (Khutbah Nikah, 8/3/1381)

Membentuk rumah tangga merupakan sebuah kebutuhan sosial. Bila dalam sebuah masyarakat semua rumah tangga baik, sehat dan kokoh, tidak goyah, batas-batas dan ketentuan rumah tangga terjaga, maka masyarakat seperti ini dengan mudah bisa diperbaiki. Anggota masyarakatnya dengan mudah mencapai pertumbuhan pemikiran, sehat dari sisi kejiwaan dan mereka bisa menjadi manusia tanpa memiliki rasa dendam. (Khutbah Nikah, 11/5/1374)

Masyarakat Tanpa Rumah Tangga, Sumber Masalah Kejiwaan

Sebuah masyarakat yang tidak memiliki rumah tangga adalah masyarakat yang kacau dan tidak bisa tenang. Masyarakat ini tidak dapat mewariskan budaya, pemikiran dan keyakinan kepada generasi akan datang dengan mudah. Pendidikan manusia tidak bisa dilakukan dengan mudah. Bila sebuah masyarakat tidak punya rumah tangga atau rumah tangga yang ada mengalami kegoyahan, maka manusia tidak akan bisa terdidik dengan baik sekalipun berada di dalam tempat pendidikan yang paling baik. (Khutbah Nikah, 29/10/1377)

Bila tidak ada rumah tangga, maka tidak ada remaja, tidak ada anak, tidak ada manusia, laki-laki dan perempuan tidak akan menjadi orang saleh, tidak ada akhlak, tidak ada peralihan pengalaman-pengalaman positif dan baik serta bernilai dari generasi lama ke generasi berikutnya. (Khutbah Nikah, 30/3/1379)

Ketika tidak ada rumah tangga, maka tidak akan ada pusat pengajaran keimanan dan kepercayaan agama. (Khutbah Nikah, 12/11/1372)

Masyarakat yang di dalamnya terdiri dari rumah tangga yang goyah dan tidak kokoh atau tidak ada sama sekali pembentukan rumah tangga atau hanya sedikit atau sekalipun ada pembentukan rumah tangga tapi rumah tangga yang goyah dan terancam kehancuran, maka masyarakat semacam ini lebih banyak menderita masalah kejiwaan dan cepat marah dibanding masyarakat yang di sana rumah tangganya kokoh, laki-laki dan perempuan berada dalam sebuah lembaga rumah tangga. (Khutbah Nikah, 21/12/1379)

Generasi Tanpa Penjaga

Rumah tangga adalah istitusi yang betul-betul penting. Faedah rumah tangga dalam mendidik generasi manusia dan mewujudkan manusia-manusia yang sehat dari sisi spiritual, pemikiran dan kejiwaan merupakan faedah yang tidak ada bandingannya. Tidak ada sesuatu apapun yang bisa menduduki posisi rumah tangga. Ketika ada sistem rumah tangga, milyaran manusia masing-masing memiliki perawat khusus dan tidak ada sesuatupun yang bisa menduduki posisi dua perawat ini. (Khutbah Nikah, 4/10/1381)

Rumah tangga merupakan sebuah lingkungan yang aman. Di sana, baik anak-anak maupun ayah dan ibu bisa menjaga dan mengembangkan jiwa dan pemikirannya dengan baik di dalam lingkungan yang aman dan bisa dipercaya ini. Ketika rumah tangga goyah, maka generasi yang silih berganti datang tanpa memiliki penjaga. (Khutbah Nikah, 18/12/1376)

Manusia untuk pendidikan.Manusia untuk hidayah, ketinggian dan kesempurnaan. Hal ini tidak bisa diraih kecuali dalam lingkungan yang aman. Lingkungan yang jangan sampai muncul rasa dendam, manusia harus mendapatkan kepuasan. Di dalam lingkungan rumah tangga terjadi peralihan pengajaran setiap generasi ke generasi berikutnya. Dari sejak kecil manusia berada di bawah pengajaran yang benar, mudah, alami dan fitri dua orang guru yang lebih menyayanginya dibanding manusia-manusia lain di dunia yakni ayah dan ibu. (Khutbah Nikah, 20/5/1376)

Bila tidak ada rumah tangga dalam masyarakat, maka semua pendidikan manusia dan kebutuhan jiwanya akan mengalami kegagalan. Karena dari sisi karakter dan strukturnya, manusia tidak akan bisa mencapai ketinggian jiwa dan mendapatkan pendidikan yang baik, sempurna, tanpa cacat, tanpa rasa dendam kecuali dalam lingkungan rumah tangga dan asuhan ayah ibunya. Manusia akan memiliki jiwa yang sehat dan sempurna bila ia terdidik dalam rumah tangga. Bila lingkungan hidup rumah tangga dipenuhi dengan ketenangan dan kebaikan bisa dijamin bahwa dari sisi kejiwaan anak-anak pasti sehat. (Khutbah Nikah, 11/5/1374)

Dalam rumah tangga ada tiga golongan manusia yang akan menjadi baik, pertama laki-laki yang menjadi ayah bagi rumah tangga ini. Kedua, perempuan yang menjadi ibu bagi rumah tangga ini  dan yang ketiga adalah anak-anak yang menjadi generasi baru masyarakat ini. (Khutbah Nikah, 19/2/74)

Ciri-ciri Rumah Tangga yang Baik

Rumah tangga yang baik artinya suami-istri harus saling menyayangi. Harus setia dan akrab. Saling mencintai. Satu sama lain saling menjaga perasaan. Saling menghargai dan menganggap penting kemaslahatan pasangannya. Ini yang paling penting.

Kemudian, bertanggung jawab terhadap anak-anak yang dilahirkan di dalam rumah tangga tersebut. Berkeinginan membesarkannya dengan baik dari sisi materi dan spiritual. Mengajarinya, memerintahkannya untuk mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan dan melarangnya dari sesuatu yang harus dijauhi. Mengajarkan sifat-sifat yang baik kepadanya. Rumah tangga semacam ini adalah pondasi segala reformasi hakiki dalam sebuah negara. Karena manusia akan terdidik dengan baik dalam rumah tangga semacam ini. Ia akan besar dengan sifat-sifat yang baik, pemberani, memiliki kebebasan berpikir, memiliki ide, memiliki rasa tanggung jawab, memiliki rasa kasih sayang, memiliki keberanian, berani mengambil keputusan, selalu menginginkan kebaikan bukan ketidakbaikan, menjaga kesucian. Ketika warga sebuah masyarakat memiliki ciri-ciri seperti ini, yakni menginginkan kebaikan, menjaga kesucian, pemberani, berakal dan pemikir serta mampu bertindak, masyarakat semacam ini tidak akan mengalami penderitaan. (Khutbah Nikah, 12/9/1377)

Rumah Tangga yang Sehat, Peralihan Kebudayaan

Peralihan kebudayaan dan peradaban, menjaga prinsip-prinsip sebuah peradaban dan kebudayaan dalam sebuah masyarakat dan peralihannya kepada generasi selanjutnya terjadi karena berkah rumah tangga. (Khutbah Nikah, 26/1/1377)

Dasar pernikahan dan maslahatnya yang terpenting adalah membentuk rumah tangga. Alasannya adalah bila dalam sebuah masyarakat ada rumah tangga yang sehat, maka masyarakatnya akan sehat juga dan warisan-warisan budayanya akan diturunkan secara benar. Di dalam masyarakat itu pendidikan anak-anak dilakukan dengan cara yang terbaik. Oleh karenanya, di negara-negara dan masyarakat yang rumah tangganya mengalami kekacauan biasanya terjadi kekacauan budaya dan moral. (Khutbah Nikah, 16/1/1378)

Bila para generasi manusia ingin mengalihkan hasil karya pemikirannya kepada generasi berikutnya dan masyarakat ingin memanfaatkan masa lalunya, ini hanya bisa terjadi melalui rumah tangga. Di dalam rumah tanggalah pertama kalinya terbentuk semua identifikasi dan kepribadian seseorang berdasarkan budaya masyarakatnya. Ayah dan ibulah yang mengalihkan kandungan pikiran, pemikiran, perbuatan, pengetahuan, keyakinan dan hal-hal yang dianggap suci kepada generasi berikutnya secara tidak langsung, tanpa paksaan dan tanpa dibuat-buat dan alami. (Khutbah Nikah, 15/10/1379)

Rumah Tangga yang Sehat, Penghuninya akan Tenang

Islam memandang rumah tangga dengan pandangan yang benar dan penuh perhatian serta menjadikan rumah tangga sebagai prinsip. Merusak pondasi rumah tangga atau mengacaukannya merupakan pekerjaan yang paling buruk. (Khutbah Nikah, 15/10/1379)

Rumah tangga dalam Islam yakni tempat tinggal dua orang manusia. Tempat ketenangan jiwa dua orang manusia. Tempat keakraban dua orang manusia satu sama lainnya. Tempat mencapai kesempurnaan seorang manusia dengan perantara seorang manusia lainnya. Lingkungan rumah tangga adalah tempat dimana seseorang menemukan kesenangan, tempat dimana seseorang menemukan ketenangan jiwa. Lingkungan rumah tangga dalam Islam benar-benar penting. (Khutbah Nikah, 4/10/1374)

Dalam al-Quran, dalam bebebapa tempat, penciptaan perempuan dan laki-laki dan kehidupan bersama mereka yang puncaknya adalah pasangan keduanya sebagai suami dan istri adalah untuk ketenangan dan ketentraman suami dan istri. (Khutbah Nikah, 6/9/1376)

Dalam al-Quran disebutkan, “Waja’ala Minha Zaujaha Liyaskuna Ilaihaa…Dia menciptakan istrinya, agar ia merasa tenang kepadanya. (QS. A’raf: 189). Seingat saya, di dalam al-Quran disebutkan kata ‘Sakana’ di dua tempat, “Wa Min Aayaatihii An Khalaqa Lakum Min Anfusikum Azwaajan Litaskunuu Ilaihaa… Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenang kepadanya…” (QS. Rum: 21)

Allah menjadikan pasangan seseorang dari jenisnya sendiri, menjadikan istrinya dari jenisnya sendiri, menjadikan suaminya dari jenisnya sendiri ‘Liyaskuna Ilaihaa’ supaya seseorang merasakan ketenangan, baik laki-laki maupun perempuan di samping suami atau istrinya. (Khutbah Nikah, 5/10/1375)

Ketenangan ini merupakan ketenangan dan keselamatan dari luapan dan depresi kehidupan. Kehidupan adalah kancah perjuangan. Seseorang senantiasa dalam kondisi depresi dan ini sangat penting. Bila ketenangan dan ketentraman ini bisa dicapai dengan cara yang baik, kehidupan akan diliputi kebahagiaan. Istri akan bahagia. Suami akan bahagia. Anak-anak yang dilahirkan dan di asuh di dalam rumah ini akan tumbuh dan berkembang tanpa ada rasa dendam dan akan bahagia. Yakni, dari sisi ini sarana untuk kebahagiaan mereka semua tersedia.

Manusia bukan Sebuah Mesin

Saat suami dan istri berjumpa setelah selesai mengerjakan pekerjaan sehari-hari atau di pertengahan hari, keduanya saling berharap pasangannya bisa menciptakan lingkungan yang ceria, nyaman dan menghilangkan rasa lelah. Ini adalah harapan yang pada tempatnya. Bila kalian bisa melakukan hal ini, maka kehidupan akan menjadi indah. (Khutbah Nikah 24/1/1378)

Dalam kehidupan penuh kegelisahan, manusia senantiasa mencari kesempatan untuk berlindung. Bila mereka adalah pasangan suami istri, maka dalam kegelisahan kehidupan ini masing-masing dari mereka akan berlindung kepada pasangannya. Istri berlindung kepada suami dan suami berlindung kepada istri. Seorang lelaki dalam tarik ulur kehidupan kelelakiannya memerlukan masa ketenangan untuk bisa melanjutkan perjalanannya. Kapankah masa ketenangan itu? Yaitu ketika ia berada dalam lingkungan penuh kasih sayang rumah tangganya. Ia merasa menyatu dengan istrinya yang mencintainya. Dengan dia, di samping dia dan bersama dia. Ketika ia berhadapan dengan istrinya, itulah masa ketenangan dan ketentraman. (Khutbah Nikah, 6/6/1381)

Seorang istri dalam tarik ulur kehidupan kewanitaannya menghadapi beragam krisis dan kegelisahan kehidupan baik saat sibuk melakukan pelbagai aktivitas politik dan sosial di lingkungan luar rumah dan lain-lain maupun saat sibuk di dalam rumah yang jerih payah dan nilainya tidak lebih kurang dari pekerjaan di luar rumah. Ketika seorang wanita mengalami kegelisahan dalam kehidupan, ia lebih banyak memerlukan ketenangan, ketentraman dan sandaran kepada orang yang bisa dipercaya karena jiwanya lebih lembut. Siapakah dia? Dia adalah suami. (Khutbah Nikah, 6/6/1381)

Manusia bukan sebuah mesin. Manusia adalah jiwa. Manusia adalah spiritual. Manusia adalah kasih sayang dan perasaan. Sekarang dia memerlukan ketenangan. Di manakah ketenangan ini? ketenangan ini ada dalam lingkungan rumah tangga. (Khutbah Nikah, 16/11/1379)

Lingkungan rumah tangga adalah lingkungan ketenangan. Lingkungan harus tenang. Kasih sayang yang ada antara suami dan istri inilah yang akan membantu ketenangan jiwa ini. ketenangan dan ketentraman ini bukan berarti ketenangan di hadapan gerakan. Gerakan itu baik. Ketenangan ini berarti ketenangan di hadapan kegelisahan. Manusia dalam kehidupannya terkadang mengalami kegelisahan. Pasangan hidup akan memberikan ketenangan pada pasangannya sehingga jangan sampai gelisah. Hal ini terjadi bila suasana rumah, tidak dalam kondisi kacau. (Khutbah Nikah, 8/3/1381)    

Rumah Tangga Lebih Tenang, Manfaatnya Lebih Besar

Setiap orang baik istri maupun suami dalam sehari semalam menghadapi beragam masalah, kejadian dan peristiwa. Peristiwa-peristiwa ini akan mengganggu jiwa dan melelahkan. Membuat seseorang merasa tidak tenang dan tergesa-gesa. Ketika ia memasuki lingkungan rumah tangga, lingkungan yang aman dan tentram ini akan memperbarui tenaganya lagi. Membuat dia siap menghadapi hari berikutnya dan malam selanjutnya. Rumah tangga sangat penting untuk mengatur kehidupan manusia. Tentunya rumah tangga harus dikelola dengan baik. Harus dikelola secara sehat. ( Khutbah Nikah, 29/10/1377)

Manfaat yang didapatkan oleh suami dan istri dari rumah tangga yang tenang ini akan meningkatkan manfaat pekerjaan mereka di luar rumah tangga. Menjadikannya penting, bernilai dan berkualitas. (Khutbah Nikah, 15/12/1379)

Kesempatan menikah dan hidup tenang  dalam sebuah rumah tangga merupakan sebuah kesempatan penting dalam kehidupan bagi seorang lelaki dan perempuan. Hal ini merupakan sebuah perantara ketenangan, ketentraman jiwa, perantara kesibukan untuk melanjutkan aktivitas kehidupan, perantara untuk keluar dari kesedihan, perantara untuk menemukan teman dekat dalam menghadapi kesedihan yang benar-benar diperlukan oleh seseorang sepanjang hidupnya. (Khutbah Nikah, 9/12/1380)

Kesempatan untuk Memperbarui Tenaga

Di dalam rumah tanggalah pasangan suami istri bisa memperbarui tenaganya. Bisa menyiapkan semangatnya untuk melanjutkan hidup. Kalian tahu bahwa kehidupan adalah perjuangan. Seluruh kehidupan adalah sebuah perjuangan jangka panjang. Perjuangan melawan faktor alami. Perjuangan melawan tantangan sosial. Perjuangan melawan hawa nafsu manusia sendiri. Manusia senantiasa dalam perjuangan. Tubuh manusia juga dalam kondisi berjuang. Jasmani manusia senantiasa berjuang melawan faktor-faktor yang membahayakan. Badan akan sehat selama kekuatan untuk berjuang ini ada dalam tubuh. Pada manusia, perjuangan ini harus benar, logis, di jalan yang benar. Dengan perilaku yang benar dan alat-alat yang benar.

Perjuangan ini terkadang membutuhkan istirahat dan pengosongan beban. Ini adalah sebuah perjalanan dan gerakan. Titik istirahat ini ada di dalam rumah tangga. (Khutbah Nikah, 8/3/1381)

Menghormati Perjanjian Pernikahan

Rumah tangga adalah sebuah perjanjian. Ia bukan perkara alami yang menggabungkan dua sesuatu. Bukan! Ia adalah sebuah perjanjian. Ia merupakan sebuah kesepakatan. Kelanggengannya bergantung pada apakah kedua belah pihak mau menghormati masalah rumah tangga, sosial dan undang-undangnya. Bila tidak mempedulikannya, maka ia tidak akan langgeng. (Khutbah Nikah, 19/1/1377)

Kebutuhan Seksual adalah Kebutuhan Dua Pihak

Islam menjadikan kebutuhan seksual sebagai sebagai jaminan bangunan rumah tangga. Maksudnya apa? Yakni ketika seorang istri dan suami adalah orang-orang yang mulia, agamis, bertakwa dan berdasarkan aturan Islam menjauhi dosa khususnya dalam masalah seksual, otomatis kecenderungan suami istri kepada yang lainnya terkait masalah ini lebih besar. Ketika keduanya saling membutuhkan, rumah tangga yang pondasinya adalah suami dan istri akan menjadi lebih kokoh. (Khutbah Nikah, 9/12/1380)

Islam tidak ingin mencabut jaminan ini dari rumah tangga. Islam menginginkan jangan sampai manusia-manusia ini memenuhi kebutuhan seksualnya di luar lingkungan rumah tangga. Sehingga tidak menjaga aturan, tidak peduli dan sembarangan terhadap rumah tangganya. Oleh karena itulah Islam mencegah penyimpangan ini. (Khutbah Nikah, 18/12/1376)

Keberagamaan Rahasia Kelanggengan Rumah Tangga

Yang perlu dilakukan dalam membangun, membentuk dan menjaga rumah tangga adalah menjaga hukum Islam supaya rumah tangga tetap langgeng. Karenanya, kalian menyaksikan bahwa dalam rumah tangga orang-orang yang beragama dimana suami-istri menganggap penting batas-batas dan aturan ini, mereka selama bertahun-tahun hidup bersama. Kasih sayang suami-istri satu sama lainnya tetap kekal. Berpisah dari pasangannya sulit bagi mereka. Hati mereka saling terikat satu sama lainnya. Kebaikan dan kasih sayang inilah yang melanggengkan rumah tangga. Oleh karena itulah Islam menganggap penting masalah ini. (Khutbah Nikah, 23/12/1379)

Bila gaya hidup islami ini menyebar, maka rumah tangga-rumah tangga akan menjadi kokoh. Sebagaimana pada zama dahulu kita -bukan pada zaman celakanya Pahlevi- pada masa itu iman masyarakat masih lebih sehat dan lebih sempurna dan masih belum tercemar. Pada zaman dulu, rumah tangga lebih kokoh. Suami dan istri lebih saling mencintai. Anak-anak terasuh di dalam lingkungan yang aman. Sekarang juga demikian adanya. Rumah tangga-rumah tangga yang menjaga aturan-aturan Islam mayoritas rumah tangga mereka lebih kokoh, lebih baik, lebih kuat dan lingkungannya lebih aman bagi anak-anak. (Khutbah Nikah, 15/1/1378)

Peran Suami-Istri

Suami dan istri harus berusaha menjaga ikatan ini. Kewajiban salah satu dari mereka bukannya lantas kita katakan bahwa ketika yang satu melakukan sesuatu maka yang lainnya harus bersabar. Tidak. Keduanya harus saling tolong menolong supaya pekerjaan ini terjadi. (Khutbah Nikah, 30/7/1376)

Tidak bisa kita katakan bahwa suami bagiannya lebih lebih banyak atau istri bagiannya lebih banyak. Keduanya memiliki peran dalam menjaga pilar-pilar ini dan dalam menjaga komunitas yang teridiri dari dua orang ini yang selanjutnya secara bertahap peran keduanya semakin bertambah. (Khutbah Nikah, 16/5/1379)

Jauhilah segala hal yang menyebabkan kekacauan rumah tangga, depresi dan emosi yang tidak jelas. Baik suami maupun istri harus mengutamakan perdamaian dan kebersamaan. Kebaikan-kebaikan yang ada dalam rumah tangga adalah milik suami dan istri dan akhirnya adalah milik anak-anak. Bukan milik sepihak. Bila (jangan sampai terjadi) dalam rumah tangga tidak ada rasa kasih sayang, tidak ada kepercayaan dan keakraban, maka kesusahannya akan dirasakan oleh kedua pasangan suami-istri. (Khutbah Nikah, 6/9/1376)

Suami dan istrilah yang lebih banyak memiliki peran dalam mengokohkan pilar-pilar rumah tangga. Dengan berkorban, kerjasama, kasih sayang dan akhlak yang baik mereka bisa menciptakan kelanggengan ini dan senantiasa menjaga kesepahaman ini. (Khutbah Nikah, 17/11/1379)

Rumah Tangga di Tengah-Tengah Masyarakat Islam

Dalam lingkungan islami, suami-istri ada bersama-sama. Ada keterkaitan satu sama lainnya. Keduanya adalah penanggung jawab. Di hadapan anak-anak mereka adalah penanggung jawab. Di hadapan lingkungan rumah tangga mereka adalah penanggung jawab. Lihatlah betapa pentingnya rumah tangga dalam pandangan Islam. (Khutbah Nikah, 18/6/1376)

Dalam lingkungan islami, rumah tangga sedemikian kokohnya sehingga terkadang sampai pada dua generasi dimana kalian melihat kakek, ayah dan cucu hidup dalam satu rumah. Betapa tinggi nilai kehidupan seperti ini. Tidak satupun dari mereka merasa bosan dari yang lainnya dan juga tidak ada masalah buruk dengan yang lainnya bahkan satu sama lainnya saling tolong menolong. (Khutbah Nikah,20/10/1372)

Di tengah-tengah masyarakat Islam yakni masyarakat beragama, kita menyaksikan dua orang manusia bertahun-tahun hidup bersama. Masing-masing dari keduanya tidak merasa bosan, bahkan keterikatan hati mereka semakin kuat. Keakraban, kasih sayang dan kesetiaan mereka semakin kuat. Inilah khasiat keberagamaan dan menjaga hukum-hukum ilahi. (Khutbah Nikah, 2/1/1380)

Di dalam Islam dan budaya Islam, rumah tangga benar-benar kokoh. Dalam sebuah rumah tangga ada kakek, nenek, ayah, ibu. Mereka melihat para cucu dan cicitnya. Mereka saling mengalihkan peradaban yang ada. Generasi sebelumnya mengalihkan peradaban yang didapatnya ke generasi berikutnya. Mereka tidak terbentuk sebagai orang yang tidak punya asal usul dan sendirian serta tidak punya kasih sayang. (Khutbah Nikah, 24/5/1374)

Rumah Tangga Iran, Teladan Dunia

Alhamdulillah, di negara kita dan mayoritas masyarakat Timur, khususnya masyarakat Islam sampai saat ini pilar-pilar rumah tangga masih terjaga. Ikatan rumah tangga Alhamdulillah masih ada. Keakraban, keceriaan dan kasih sayang masih ada. Istri masih memikirkan suaminya. Suami juga masih memikirkan istrinya. Satu sama lainnya dari lubuk hati saling mencintai dan memiliki kehidupan yang akrab. Di tempat lain hal-hal seperti ini sudah sangat sedikit. Di negara kita khususnya di Iran sangat banyak. Penuhilah hal-hal seperti ini. (Khutbah Nikah, 31/4/1376) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: Matla-e Eshq; Gozideh-i az Rahnemoudha-ye Hazrate Ayatollah Sayid Ali Khamenei Beh Zaujha-ye Javan, Mohammad Javad Haj Ali Akbari, Tehran, Daftare Nashre Farhanggi, 1387 HS, Cet 17.

About admin

Check Also

Khalifah Aja Dibilang Gila

Oleh : H Derajat Ini sebuah kisah nyata di kala seorang Khalifah (Pemimpin Negara) dibilang ...