Thursday , May 23 2019
Home / Agama / Kebudayaan dan Peradaban Islam; Mengenal Pemikiran Filsafat Ibnu Sina

Kebudayaan dan Peradaban Islam; Mengenal Pemikiran Filsafat Ibnu Sina

Ibnu SinaDi kalangan filsuf muslim, Ibnu Sina yang mempunya nama panjang Abu Ali Hussein Ibn Abdullah Ibn Sina, dikenal sebagai tokoh besar filsuf. Ibnu Sina yang juga berasal dari Iran, sangat piawai dalam berbagai bidang. Kepiawaiannya tak hanya mencakup bidang ilmu fillsafat , tapi juga melingkupi bidang-bidang lainnya seperti kedokteran, perbintangan dan matematika. Ibnu Sina lahir di Bukhara pada tahun 370 Hijriah yang juga bertepatan dengan tahun 980 Masehi.

George Sarton, seorang orientalis asal AS, berpendapat bahwa peradaban Islam merupakan hasil paduan tunas muda Arab atas pohon kokoh peradaban Iran (Ibnu Sina). Menurutnya, Ibnu Sina adalah tokoh dan ilmuwan yang dikenang di segala masa dan tempat. Tak diragukan lagi, Ibnu Sina adalah hasil peradaban Islam dan peran Iran di dunia Islam. Ibnu Sina bukan hanya tercatat sebagai tokoh luar biasa di dunia Arab, tapi juga dikenang di seluruh dunia.
Karena kepiawaiannya di berbagai bidang dan pengaruh luasnya bagi kalangan pemikir setelahnya, Ibnu Sina pun dinobatkan sebagai tokoh muslim yang paling tersohor di dunia. Penjelasannya yang argumentatif menjadikan Ibnu Sina sebagai tokoh yang juga dikenal di dunia Barat dan Timur. Beliau mampu membangun struktur filsafat yang kokoh. Ibnu Sina dikenal sebagai pengikut filsafat Paripatetik atau filsafat Aristotelian. Ibnu Sina mempelajari filsafat Yunani dengan teliti dan menerima poin-poin yang paling layak untuk diterapkan dalam tatanan filsafat Islam. Untuk itu, beliau dikenal sebagai filsuf muslim yang mengaplikasikan pemikiran Aristoteles di dunia Islam.

Ibnu Sina adalah pengikut Aristoteles. Untuk itu, pemikiran Ibnu Sina mirip dengan gurunya, Farabi. Roger Bacon, pakar kimia asal Inggris, menyebut Ibnu Sina sebagai filsuf terbesar dalam sejarah setelah Aristoteles. Karena itu, beliau mendapat gelar Guru Ketiga setelah Aristoteles dan Farabi. Akan tetapi di masa-masa akhir hidupnya, Ibnu Sina menjaga jarak dari pemikiran Aristoteles dan cenderung berkiblat pada Plato dan keirfanan Islam. Cerita-cerita irfan dan buku Mantiq al-Masriqiyyin dapat diketakan sebagai saksi pada kecenderungan terakhir Ibnu Sina di masa hidup terakhirnya.

Ibnu Sina dapat dipastikan sebagai pengganti Farabi, bahkan dapat dikatakan sebagai figur representatif filsafat dalam peradaban Islam. Dengan ungkapan lain, Ibnu Sina dari sisi masa merupakan sosok setelah Farabi. Namun dari sisi-sisi lainnya, Ibnu Sina dapat disebut sebagai figur yang tidak kalah dengan  Farabi, bahkan bisa lebih baik dari pendahulunya. Sebab, Ibnu Sina mampu menjelaskan berbagai pandangan baru seperti perbedaan antara eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah). Sementara itu, Farabi tak mampu menyelesaikannya.

Hingga masa Ibnu Sina, belum ada filsuf yang menjelaskan bahwa semua masalah filsafat termasuk dalam kategori ilmu rasional. Namun Ibnu Sina mampu menjelaskanya dalam berbagai bukunya dengan jelas dan transparan. Ibnu Sina dapat dikatakan sebagai tokoh yang merasionalkan berbagai masalah filsafat. Pengaruh filsafat Ibnu Sina sangat berpengaruh di dunia Barat dan Timur.

Salah satu pandangan Ibnu Sina yang masih punya pengaruh kuat dari Aristoteles adalah masalah hubungan jiwa dan raga. Akan tetapi beliau tetap berseberangan dengan pandangan Aristoteles ketika berkeyakinan dualisme antara jiwa dan badan. Dalam membuktikan pandangannya, Ibnu Sina dari satu sisi berupaya menaruh perhatian khusus pada kesadaran jiwa secara langsung, sedangkan dari sisi lain, beliau juga membuktikan metafisiknya akal atau jiwa.

Hal yang menarik, periode filsafat Aristoteles sempat terputus di dunia Barat. Namun di Iran, karya-karya Aristoteles malah marak. Lebih dari itu, filsafat Aristoteles kembali populer di bawah pengaruh filsuf-filsuf besar seperti Ibnu Sina. Dengan demikian, Ibnu Sina mempunyai peran penting dalam mempertahankan pemikiran filsafat Barat.

Ibnu Sina dalam pandangannya terkait epistemologi membedakan antara pemahaman internal dan eksternal. Berdasarkan pembedaan tersebut, Ibnu Sina berupaya membagi perbuatan berlandaskan pada kualitas. Masalah Wahm (imajinasi) adalah di antara pandangan penting Ibnu Sina dalam Ilmu al-Nafs. Menurut Ibnu Sina, pemahaman empiris dan imajinasi berhubungan dengan kualitas pemahaman akan sesuatu seperti warna dan rasa.
Sejumlah pandangan Ibnu Sina berhubungan dengan kenabian dan risalah Nabi Besar Muhammad Saw. Pandangan kenabiannya juga berlandaskan pada empat tingkat, yakni logika, imajinasi, mukjizat dan sosial-politik. Beliau juga bertumpu pada aspek rasional dan agama. Dua aspek inilah telah membentuk filsafat Yunani dan agama Islam. Menurut keyakinan Ibnu Sina, naluri akal dan jiwa merupakan anugerah terbesar ilahi yang diberikan kepada manusia. Ibnu Sina juga meyakini, Rasulullah Saw dari sisi pemikiran sedemikian mampu menjelaskan berbagai masalah rasional secara nyata dan menyampaikannya sebagai bentuk keimananan kepada masyarakat.

Mengenai Tuhan dan dunia, Ibnu Sina menyebut Tuhan sebagai eksistensi yang wajib adanya. Sedangkan makhluk menurutnya, adalah wujud mumkin yang keberadaannya bergantung kepada Zat Yang Wajib Adanya atau Tuhan. Pada prinsipnya, Ibnu Sina berkeyakinan bahwa alam semesta semenjak awal selalu membutuh eksistensi ilahi. Untuk itu, Ibnu Sina berkeyakinan bahwa materi dan bentuk dalam konteks esensi tetap membutuhkan eksistensi. Tanpa eksistensi, esensi tak akan ada.

Karya monumental Ibnu Sina di dunia filsafat adalah buku al-Syifa, al-Najat, al -Isyaraat wa al-Tanbihaat dan Danesh-Nameh Alai. Buku dan risalah Ibnu Sina mencakup 230 karya. Hingga kini, karya-karya Ibnu Sina masih terus dikaji di Organisasi Karya Nasional Iran.

Salah satu karya luar biasa Ibnu Sina yang kini masih dipelajari di Hauzah atau pendidikan tradisional agama adalah buku al-Syifa. Buku ini mencakup 17 bagian yang mencakup bidang matematika, ilmu alam, metafisika dan ilmu-ilmu agama. William Durant, orientalis asal AS, menulis, “Kitab Syifa dan al-Qanun merupakan karya puncak kesempurnaan.”

Al-Syifa bukan hanya buku yang hanya menafsirkan pendapat mefasika sejumlah filsuf atau menjelaskan pandangan metafisika Aristoteles, tapi juga termasuk buku filsafat yang luar biasa. Dalam buku itu dijelaskan dengan apik hubungan antarmakhluk di dunia. Ibnu Sina dalam buku itu juga mampu menjelaskan hubungan materi dan bentuk dalam konteks esensi. Pada prinsipnya, Buku al-Syifa merupakan karya penting di dunia filsafat yang berperan seperti ensklopedia. Dari sisi lain, al-Syifa dapat dikatakan sebagai ensklopedia filsafat yang mampu mentransfer pemikiran Islam ke Barat melalui pemikiran-pemikiran Ibnu Sina.

Selain karya tulis, Ibnu Sina juga mampu menggembleng murid-murid yang pemikiran mereka diakui di dunia filsafat. Bahkan murid-murid Ibnu Sina mampu menjadi filsuf besar di masanya. Di antara murid Ibnu Sina yang terkenal adalah Abul Hasan Bahmanyar dan Mohammad Boozjani. (IRIB Indonesia)

About admin

Check Also

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang ...