Wednesday , October 17 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Kebenaran Rasulullah; Antara Petir dan Malaikat

Kebenaran Rasulullah; Antara Petir dan Malaikat

Dengan menyebut keagungan Asma’ul Husna, Al-Mutakabbir, pemilik segala kekuasaan hanyalah Allah Yang Maha Besar lagi Maha Perkasa. Sesungguhnya malam-siang yang telah menjelang dan siang-malam yang telah berlalu adalah milik-Nya. Dan ketika suara penyeru Allah Yang Maha Mendengar bersahut-sahutan menyeru, bergantian sesuai perbedaan waktu di seluruh dunia, maka semua itu hanya milik Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Bijaksana.

Dan Rasulullah SAW, adalah utusan-Nya yang dimuliakan oleh Allah Yang Maha Mulia. Nuur Allah SWT telah dianugerahkan kepada Rasulullah SAW beserta pengikutnya untuk menerangi seluruh dunia. Dan Rasulullah SAW adalah manusia yang Fathanah (Cerdas). Beliau SAW menggambarkan apa yang sulit dijelaskan kepada kaum Quraisy, kaum Arab, dan pengikutnya. Kebijaksanaan beliau SAW dalam memilih perumpamaan tidak menyisihkan kebenaran. Maha Suci Allah yang telah menciptakan beliau SAW.

“Petir adalah pekerjaannya malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya cambuk dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.” (H.R Tirmidzi)

Maha Benar Allah yang telah mengutus Rasulullah SAW dengan sifat Shiddiq (Benar) serta hikmah Al-Qur’an. Apa yang disampaikan Rasulullah SAW dalam Hadits Riwayat Tirmidzi tersebut adalah suatu perumpamaan. Rasulullah SAW mengikuti apa yang diajarkan oleh Allah Azza Wa Jalla dalam Al-Qur’an, yakni menjelaskan menggunakan pendekatan dengan sebuah perumpamaan. Dan tiadalah yang dapat mengambil hikmah, kecuali orang yang menyingkirkan nafsunya dan menggunakan akalnya untuk memahaminya.

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut [29]: 43)

Telah kita ketahui bahwa Malaikat adalah salah satu makhluk ciptaan Allah Azza Wa Jalla. Namun dari apakah malaikat diciptakan? Rasulullah SAW pernah bersabda:

Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua.” (H.R. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Itu merupakan sumber dari hadits bahwa malaikat diciptakan dari cahaya oleh Allah Sang Maha Pencipta. Rasulullah SAW adalah insan yang paling amanah, sehingga oleh musuhnya sendiri dipercaya sebagai orang yang paling amanah (jujur). Dan apapun yang disampaikan oleh beliau SAW adalah benar, sehingga sifat Rasulullah SAW teramat mulia, yakni jujur dalam menyampaikan sesuatu dan benar apa yang disampaikannya.

Mari kita berpikir lebih dalam. Mengapa penciptaan malaikat dari cahaya tidak dicantumkan dalam Al-Qur’an oleh Allah Azza Wa Jalla? Mengapa hanya ada di dalam Al-Hadits? Hal tersebut dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah, utusan Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah SAW adalah benar.

Pembuktian pertama

Pertama-tama kita buktikan bahwa hadits tentang ‘Malaikat terbuat dari cahaya’ adalah benar. Caranya adalah merujuk pada Al-Qur’an. Salah satu ayat yang menceritakan karakteristik Malaikat sebagai cahaya adalah pada QS. Al-Maarij ayat 4,

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”(QS. Al-Maarij [69]: 4)

Ayat ini menjelaskan bahwa 1 hari bagi malaikat adalah 50.000 tahun bagi manusia. Ada dua interval waktu yang berbeda yang terjadi secara bersamaan. Agak susah membayangkannya, namun ada caranya. Caranya adalah dengan konsep Dilatasi Waktu. Sederhananya, konsep Dilatasi Waktu adalah suatu konsep dimana semakin cepat suatu benda melaju, semakin kecil interval waktu yang dialami benda tersebut. Rumus dari konsep Dilatasi Waktu adalah:

Equation 1

Dengan keterangan variabel t1 sebagai interval waktu yang malaikat alami, yakni 1 hari dan variabel t2 sebagai interval waktu yang manusia alami, yakni 50.000 tahun. Supaya satuan waktunya sama, maka 50.000 tahun adalah 50.000 x 365 hari dengan hasil 18.150.000 hari. Dan variabel v adalah kecepatan malaikat dan variabel c adalah konstanta kecepatan cahaya, yakni 299.792.459 m/s. Yang ditanyakan adalah berapa kecepatan Malaikat, oleh karena itu variabel v masih belum diketahui nilainya. Maka, kita masukkan nilai dari variabelnya.

Equation 2

Kemudian kita pindahkan nilai-nilainya ke sisi kanan dan variabelnya (v) ke sisi kiri untuk memudahkan perhitungan.

Equation 3

Hasilnya adalah v = 0,999995 x 299.792.459. Dan nilai terakhir yang didapat adalah v = 299.792.444,010377. Jadi, kesimpulannya adalah selisih kecepatan Malaikat (v) dengan kecepatan cahaya (c) adalah 14,989623 m/s atau kita bulatkan menjadi 15 m/s. Selisih ini sangatlah kecil jika kita bandingkan dengan kecepatan cahaya, jika kita bulatkan, 300.000.000 m/s atau 3 x 108 m/s. Jadi bisa kita abaikan selisihnya dan kita temukan bahwa kecepatan malaikat (v) nilainya sama dengan kecepatan cahaya (c).

Sebenarnya nilai dari variabel c bisa kita bulatkan dari awal menjadi 3 x 108 m/s dan juga bisa kita jadikan tetap sebagai variabel c. Hasilnya juga sama, yakni v = c . Penjabaran setiap variabel yang kita lakukan seperti langkah di atas mempunyai tujuan untuk memperjelas perhitungan.

Kesimpulannya, sesuatu yang mempunyai kecepatan cahaya pastilah terbuat dari cahaya. Contohnya adalah partikel Foton, yakni partikel cahaya. Berarti malaikat cepat dong? Bagaimana bisa berwujud manusia dan gerakannya seperti manusia, tidak secepat cahaya? Tentu kita harus membedakan Foton dengan Malaikat. Foton adalah paket-paket energi cahaya berupa gelombang elektromagnetik, dengan kata lain benda mati (Teori Dualisme Cahaya). Sedangkan Malaikat adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah Sang Maha Pencipta. Tentu saja, akan sangat mudah bagi Malaikat sebagai cahaya untuk mengimbangi kecepatan manusia. Namun, mustahil bagi manusia untuk mengimbangi kecepatan Malaikat, yakni kecepatan cahaya tanpa izin dari Allah Azza Wa Jalla.

Jelas sudah bahwa Al-Qur’an itu benar dan membenarkan. Dan Rasulullah SAW adalah orang yang jujur (Amanah) dan benar (Shiddiq). Tentu saja apa yang beliau SAW sampaikan, yakni Al-Qur’an, dan kebenaran beliau sebagai Rasulullah SAW adalah benar. Inilah sifat Rasulullah SAW yang mulia, yakni Tabligh atau menyampaikan. Dan juga terbukti bahwa Rasulullah SAW sangatlah cerdas dengan mengetahui bahwa Malaikat terbuat dari cahaya dan mampu memahami QS. Al-Maarij ayat 4 mendahului Albert Einstein.

Pembuktian kedua

Pembuktian kedua berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW mengenai kilat-petir dan Malaikat. Rasulullah SAW mengumpamakan bahwa petir adalah malaikat dengan cambuknya yang dari api untuk mengarahkan awan. Apakah benar? Mari kita pandang dari sudut ilmiah.

Petir terdiri dari dua, yakni Halilintar dan Kilat. Halilintar adalah suara yang dihasilkan petir, sedangkan Kilat adalah cahaya yang dihasilkan Petir. Petir sendiri merupakan gejala alam berupa lompatan listrik akibat adanya perbedaan potensial antara awan satu dengan awan lain. Awan mempunyai potensial listrik yang berbeda-beda. Semakin hitam awan, semakin besar kandungan uap airnya, semakin banyak gesekan yang timbul antar uap air, semakin besar listrik statis yang terkandung, semakin besar muatan listriknya.

Suhu dari petir dapat mencapai 50.000 Kelvin atau setara dengan 49.727 0C. Suhu ini akan menyebabkan perbedaan tekanan. Karena perbedaan tekanan dan suhu, timbullah angin. Maka, tidak heran jika ada fenomena badai angin disertai petir menyambar-nyambar. Dari penjelasan tersebut sudah jelas akan ada angin yang ditimbulkan oleh petir, yang kemudian angin tersebut akan menggiring awan.

Bagaimana dengan cambuk api yang dimaksud Rasulullah SAW? Cambuk api yang termaksud adalah Kilat atau lompatan listrik. Dari data yang bisa dikumpulkan melalui kajian pustaka, kecepatan lompatan listrik mencapai 1 x 108 m/s. Sekitar 1/3 dari kecepatan cahaya. Dan lompatan listrik atau yang dalam skala kecil disebut sebagai bunga api, tidak lain adalah reaksi Fisis. Sama seperti listrik, api merupakan salah satu bentuk reaksi Fisis. Reaksi Fisis dapat berupa api, percikan, dan ledakan. Jadi, Kilat bukanlah cahaya karena kecepatan Petir kurang dari kecepatan cahaya. Dan Kilat adalah sama seperti api, yakni reaksi Fisis dimana senyawa-senyawa di sekitar awan seperti Uap Air (H2O), gas Oksigen, Nitrogen, Karbon dioksida, terbakar atau terionisasi.

Nah, sekarang sudah kita ketahui sisi ilmiah dari kebenaran hadits Rasulullah SAW mengenai Petir dan Malaikat. Mengapa Rasulullah SAW tidak menjelaskannya secara langsung, mengapa melalui perumpamaan? Alasannya adalah untuk memudahkan penjelasan. Pada 14 abad yang lalu, ilmu Fisika masih belum bisa dipahami oleh Bangsa Arab. Jadi, untuk menjelaskan gejala alam harus menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami, namun demikian tidak melenceng dari kebenaran. Dan terlihat benar bahwasanya Rasulullah SAW adalah insan yang cerdas dengan mengumpamakan Petir dan Malaikat, karena kedua-duanya mempunyai karakteristik cahaya. Dan suara Halilintar sebagai cambuk. Apakah Petir bukan Malaikat? Allahu a’lam. Salah satu ayat dari Ar-Ra’d berikut akan menjelaskan Petir yang terdiri dari Kilat dan Halilintar sebagai ketakutan (adzab) dan harapan (tanda hujan).

Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 12-13).

-multatuli

Golde, R. H. 1977. Lightning: The Physics of Lightning. London: Academic Press

Rakov, Vladimir A dan Martin A. Uman. 2003. Lightning: The Physics and Effects. Cambridge: Cambridge University Press

Rachidi, Farhad dan Marcos Rubenstein. 2011.Lightning Physics and Effects. http://www.serec.ethz.ch/EVENTS%20WEF%202011/LIGHTNING_14OCT11/1_RUBINSTEIN.pdf

http://www.physicsclassroom.com/class/estatics/Lesson-4/Lightning

http://en.wikipedia.org/wiki/Lightning

http://www.qalamulloh.net/

 

 

About admin

Check Also

Haidar Bagir: Tasawuf Akal, Toleransi, dan Pembelaan Terhadap Syiah

Mizan—yang dalam bahasa Arab artinya “seimbang”—segera jadi buah bibir tatkala menerbitkan buku pertama sekaligus jadi ...