Monday , June 17 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Kebaikan dan Keburukan

Kebaikan dan Keburukan

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Guru kami tercinta Syaikh Waasi Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Tasawuf adalah penyucian diri.’

Penyucian diri adalah hijrah dari kehidupan yang buruk menuju kepada kehidupan yang baik. Kehidupan adalah perbuatan dan perbuatan tanpa niat akan sia-sia. Sebagaimana hadis yang mulia mengatakan bahwa seluruh perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Oleh karenanya sebelum memasuki alam kesucian harus dimulai dengan niat dan tekad yang kuat, sebagaimana mendaki gunung akan dijumpai beraneka ragam rintangan dalam perjalanannya, maka tanpa sebuah niat dan tekad yang kuat akan sia-sialah perjalanannya.

Orang yang berbuat tanpa diawali dengan penyucian diri maka akan sulit baginya untuk bisa berbuat kebaikan, karena adanya keburukan-keburukan yang tidak terlihat olehnya sebagai penghambat. Oleh karena itu, Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Meninggalkan keburukan lebih diutamakan, baru kemudian mengejar kebaikan.’ Memperoleh ilmu tentang keburukan atau seluk beluk hati tidak mungkin bisa diperoleh, kecuali pada salah satu organisasi tarekat yang mu’tabaroh. Gejala ini sudah terlihat sejak di zaman Rasulullah,saw., sahabat yang belajar tentang keburukan atau kemunafikan lebih sedikit jumlahnya dibanding dengan yang belajar tentang kebaikan.

Beberapa sahabat yang diketahui adalah Abu Bakar as Siddiq,ra., Sayyidina Ali bin Abu Thalib,ra., Huzaifah al Yamani,ra., dan Abu Darda,ra. Sehinggga setiap ada pertanyaan yang menyangkut tetang hal ini, maka akan dijawab ‘Tanyakan kepada Huzaifah’. Ada orang bertanya kepada Huzaifah: ‘Kami melihat tuan mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah kami dengar dari sahabat-sahabat Rasulullah,saw., yang lain. Dari mana tuan memperolehnya?’ Lalu jawabnya: ‘Rasulullah, saw., telah menentukannya kepadaku. Orang banyak bertanya kepada Rasulullah, saw., tentang hal yang baik-baik, tapi aku bertanya dari hal yang jahat-jahat agar aku mengetahuinya dan menjauhkan daripadanya. Sedang mengenai yang baik-baik aku tidak takut ketinggalan mengerjakannya. Sesungguhnya barang siapa yang tidak kenal kejahatan, ia tidak akan kenal kebaikan.’

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Darda,ra., bahwa Rasulullah, saw., bersabda : ‘Rasa cinta pada sesuatu bisa membutakan dan menulikanmu. Dunia itu lawan akhirat. Oleh karena itu, siapa saja yang mencintai dunia berarti telah buta dan tuli dari akhirat. Sebaliknya, siapa saja yang mencintai akhirat berarti telah buta dan tuli dari dunia. Nafsu itu lawan dari Tuhannya. Hawa nafsu mengajak manusia untuk menaatinya. Siapa saja yang mencintai hawa nafsu berarti telah buta dan tuli dari Allah SWT, Sebaliknya, siapa saja yang mencintai Allah SWT berarti telah buta dan tuli dari hawa nafsu.’

Dari ke dua hadis diatas, sangat jelas sekali maknanya, bahwa musuh dalam proses penyucian diri bukan berada diluar melainkan didalam diri, yaitu nafs, karena ia terus menerus menentangnya. Sifat dasar nafs adalah selalu menjauh dari perbuataan taat atau mengajak kepada keburukan-keburukan. Oleh karenanya mengetahui seluk beluk keburukan diri wajib diketahui dan setelah mengetahuinya baru dipelajari cara-cara memperanginya. Mengapa ini demikian penting? karena ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa ‘Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu, barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.’ Hadits ini sama maknanya sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Darda, ra. bahwa ‘Siapa saja yang mencintai hawa nafsu berarti telah buta dan tuli dari Allah SWT, sebaliknya, siapa saja yang mencintai Allah SWT berarti telah buta dan tuli dari hawa nafsu. Ujung dari pada penyucian diri adalah mengenal dan mencintai-Nya atau menjadi buta dan tuli terhadap hawa nafsu. Ketaatan merupakan bangunan dari pondasi Penyucian diri, maka tidaklah mungkin berbuat ketaatan tanpa penyucian diri. Hidayah dan inayah-Nya merupakan penggerak dari proses penyucian diri ini.

Bilamana penyucian diri merupakan proses yang utama sebelum perbuatan taat, maka menjadi wajib hukumnya untuk mengetahui ilmu tentang sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan serta hubungan yang kuat dengan Allah SWT., Syaikhuna (semoga Allah merhmatinya) menyebut sebagai ‘Tasawufan rojulu.’ Mungkin yang dimaksud dengan rojulu adalah berasal dari kata rijal atau pria, oleh sebab itu orang-orang yang berjalan dijalan penyucian diri ini disebut sebagai pria meskipun ia seorang wanita. Sebagaimana Imam Junaid,qs., menyebut syaidah Rabiyah,ra., sebagai ‘pria di zamannya’.

Barang siapa yang bertekad untuk menyucikan diri dan khawatir akan kerusakannya, ia akan mencari berbagai cara dan sarana dengan pikiran yang cerdas agar ia bisa sampai kepada pengetahuan tentang cara dan sarana itu. Kisah, dua orang bersaudara setelah selesai dari pendidikannya di pesantren mencari seorang guru guna membimbingnya untuk penyucian diri, karena mereka meyakini bahwa proses penyucian diri ini tidaklah mungkin dapat dilakukannya sendiri tanpa seorang pembimbing. Selama dua tahun mereka keluar masuk hutan dan naik turun gunung untuk mendapatinya, tetapi hasilnya nihil. Lalu mereka mendirikan pesantren didaerahnya dan menyebarkan ilmu syariah yang diperoleh selama sekolah. Akan tetapi semangat untuk menemukan seorang guru tetap mendominasi hatinya. Suatu saat salah seorang itu sedang membuka internet, dilihatnya tulisan tentang tasawuf dan terdapat informasi tentang pembimbing ruhaninya. Bergegas mereka menuju kesana dan akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari selama ini. Semoga Allah menyayangi kedua orang ini dan selalu menuntunnya kejalan yang lurus. Inilah sebuah bukti bahwa Hidayah dan inayah-Nya merupakan penggerak dari proses penyucian diri ini.

Bila sudah menemukan, maka wajib hukumnya untuk mempertahankan dengan sekuat tenaga. Kemudian seluruh perberbuatan didasarkan kepada ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari seorang pembimbing ruhani atau mursyid atau syaikh. Sebelum berbuat harus diketahui terlebih dahulu tentang penyakit-penyakit perbuatan. Jika dianalogikan mendaki gunung, maka pengetahuan tentang jalan pendakian yang benar harus lebih diutamakan daripada proses pendakiannya. Kebutuhan seseorang akan pengetahuan tentang jiwanya, atau musuh utama dalam proses penyucian diri, khususnya keburukan-keburukannya jauh lebih mendesak, daripada kebaikannya, agar jiwanya menjadi sehat, menjadi tenang (nafsul muthmainnah).

Perbuatan baik itu banyak jenisnya, maka tidak semua perbuatan baik harus dilakukan, kita boleh memilih dan memilah yang sesuai dengan kemampuan, tetapi semua perbuatan buruk wajib ditinggalkan. Salah satu cara meninggalkan perbuatan buruk adalah tenggelam dalam perbuatan baik.

Sebuah keniscayaan bahwa pengetahuan tentang keburukan mengandung dua pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang keburukan dan kebaikan. Namun, pengetahuan tentang kebaikan belum tentu mengandung pengetahuan tentang keburukan. Bilamana seseorang mampu memisahkan kebaikan dari pada keburukan, maka ia akan meninggalkan keburukan dan yang tersisa hanyalah kebaikan. Sedangkan bilamana seseorang yang sangat mengerti tentang kebaikan, tetapi ia tidak mampu mendeteksi keburukan yang terkandung didalamnya, maka akan rusaklah kebaikan itu. Oleh sebab itu Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu berkata : ‘Kerjakanlah terlebih dahulu larangan-larangan dari Allah SWT kemudian baru mengerjakan perintah-perintah-Nya.’

Jika syaithon menyesatkan dengan jalan keburukan adalah hal yang biasa dan mudah diketahui, tetapi jika menyesatkan dengan jalan kebaikan adalah hal yang luar biasa, karena bisa jadi kita belum memiliki pengetahuan tentang keburukan yang bercampur dalam kebaikan. Sehingga kita mengira telah berada di atas kebenaran padahal tersesat dari jalan Allah. Semua itu bisa terjadi karena banyaknya penyakit didalam perbuatan dan sedikitnya pengetahuan tentang berbagai penyakit itu. Kita berlindung kepada Allah SWT dari godaan syaithon yang terkutuk.

Demikian para sahabat, semoga Allah mengkarunia kita kearifan dan kebjikasanaan dalam melakukan proses penyucian diri ini.

About admin

Check Also

Cinta Tuhan

Pada hari-hari suram dan kurang menguntungkan ini, ketika hati kita dipenuhi dengan permusuhan, ketika ruh ...