Thursday , November 15 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Kaum Demagog dan Tanda Zaman

Kaum Demagog dan Tanda Zaman

Siapakah penulis andal, pembentuk opini, penuntun masyarakat, para pembawa jalan kebenaran dalam dunia yang kita jalani saat ini?

Siapkah orang yang setiap hari selalu membuat tasir baru, menulis status, membagikan berita-berita, membuat cerita-cerita hiperbola, meyakinkan semua orang dengan opini, mengemas informasi dan mengumumkannya kepada semua media maya?

Kita saat ini berada pada ruang publik yang sangat dinamis. Era media sosial yang melintasi segala ruang dan waktu yang menjadi suatu tanda, dimana kita memasuki era dunia maya yang luar biasa. Ruang publik kita kini dikuasai oleh para buzzer, tim sukses, dan semua individu pemilik media dinding pribadi yang bebas mengumbar opini apa saja. Tiada hari tanpa berita dan opini abu-abu, yang ingin membentuk dan menjebak pembaca agar mengikuti selera penulis.

Para penulis “teks” dengan sangat lihai bak philosof, paham betul kondisi pembaca yang mirip kertas kosong “tabula rasa” yang bebas untuk diwarnai. Hanya dengan menyentuh sentimen-sentimen yang sensitif, para pembaca akan langsung “mencerap” apa yang disediakan penulis. Tak perlu lagi kaedah-kaedah moral digunakan sebagaimana yang selalu didakwahkan kaum moralis. Sebab dalam suasana yang dibangun seolah “perang suci”, semuanya dapat dijustifikasi bagian dari taktik maupun strategi.

Sejak Orde Baru hingga hari ini, para akademisi seperti Mahfud MD, Rocky Gerung, dan lainnya telah menjelaskan, khususnya dunia politik kita saat ini adalah dunianya para demagog. Dunia yang dikuasai oleh para pembual, penipu ulung, yang selalu membagikan cerita-cerita dan opini yang menyesatkan.

Menurut Gerung, demagog adalah mereka yang selalu “menyiram angin demi menuai bau”, yaitu mencari sensasi dalam psikologi massa untuk menikmati kebanggaan diri. Mengobarkan perang suci padahal demi menarik simpati menuai kepentingan pribadi.

Kita berada di ruang publik yang hampir-hampir tak menyisakan apa-apa tentang kebenaran. Kebenaran tidak hanya mahal melainkan sudah dihapus dan dilupakan. Mereka yang mencari kebenaran, hanyalah laksana orang gila yang menyalakan lentera disiang bolong mencari-cari di mana siang berada? Akankah kita dapat menemukan keberadaan semut hitam, yang berjalan di atas batu hitam pada malam yang gelap? Akankah WA, Line, FB, IG, medsos yang memuntahkan semuanya, menjadi pembawa risalah yang akan menuntun kita keluar dari kegelapan menuju tempat yang terang benderang?

Aristoteles, mengaitkan demagogi dengan tradisi retorika sofistik yang dia kritik hanya untuk menggapai suatu kemenangan tapi abai kebenaran (Kasijanto Sastrodinomo: Majalah Tempo, 28 Jul 2014). Ya… kaum demagog tidak hanya ada hari ini, tapi ia sudah ada sejak ribuan tahun silam. Mereka adalah fakta sejarah yang senantiasa ada, untuk ikut serta mewarnai jalannya pentas peradaban manusia dimuka bumi.

Kaum demagog, dengan demikian mestilah ada, sebab mereka adalah suatu tanda. Bukankah keberadaan malam itu penting, untuk membedakan bahwa ada yang dimaksud dengan siang? Artinya, jika kaum demagog tumbuh subur, ya.. itu pertanda, bahwa malam hari telah tiba.

Penulis: Dadang Darmawan, MSi, Dosen FISIP USU

 

About admin

Check Also

Sejarah Pejalanan Sunan Ampel

Di Rusia selatan ada sebuah daerah yang disebut Bukhara. Bukhara ini terletak di Samarqand. Sejak ...