Monday , December 10 2018
Home / Budaya / Kearifan Klasik / Kajian Kitab Klasik Idhotun Nasyi’in: Nasionalisme

Kajian Kitab Klasik Idhotun Nasyi’in: Nasionalisme

Pada Jum’at, 1 Juni 2018 yang lalu adalah hari lahirnya Pancasila. Belumlah telat bila saat ini kita bicara apa itu nasionalisme.

Dituliskan dalam kitab Idhotun Nasyi’in yang dikarang oleh Syekh Musthafa Al-Ghalayani, bahwa nasionalisme yang sejati adalah kecintaan berusaha untuk kebaikan negara dan bekerja demi kepentingannya. Sedangkan orang yang nasionalis tulen adalah orang yang rela mati demi tegaknya negara dan rela sakit demi kebaikan rakyatnya.

Syekh Mustofa Al-Ghalayani juga berujar, beliau belum pernah merasa heran sama sekali, melebihi keheranan terhadap orang yang mengaku berjiwa nasionalisme dan mengklaim bahwa dia telah berkorban dengan darah dan hartanya demi negara. Namun, orang tersebut ternyata berupaya keras merusak benteng-benteng pertahanan negara dengan berbagai macam tindakan kesewenang-wenangan.

Tidak setiap orang yang menganjurkan semangat nasionalisme itu berjiwa nasionalisme sejati. Sebelum engkau melihatnya sendiri ia telah melakukan pekerjaan yang dapat menghidupkan negara dengan mengorbankan segala miliknya yang berharga dan yang tidak berarti demi kemajuan negara, serta mau berusaha bersama-sama orang lain untuk menjunjung tinggi martabat negara, dan bekerja keras bersama kawan-kawan senasib membela negaranya.

Adapun orang yang berusaha melakukan sesuatu yang dapat melemahkan kekuatan negara, dan mematahkan sendi-sendinya, maka dia masih jauh disebut orang nasionalis. Meskipun dia telah berteriak-teriak dengan suara yang dapat didengar ke seluruh penjuru negeri dan berulang-ulang menyatakan ‘saya adalah seorang nasionalis tulen’.

Perlu diingat, bahwa negara itu memiliki beberapa hak yang harus dipenuhi penduduknya. Seorang anak baru dianggap sebagai anak yang sebenarnya apabila dia telah melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap ayahnya.

Begitu pula putra bangsa tidak bisa disebut putra yang baik, kecuali jika dia mau bangkit, sanggup memikul beban, dan tanggung jawab untuk mengabdi pada negara. Mempertahankan negara dari rongrongan para provokator dan membendung usaha-usaha para pengkhianat atau pejuang-pejuang palsu.

Di antara kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap putra bangsa adalah meningkatkan jumlah orang orang terpelajar yang bermoral tinggi dan baik, yang telah tertanam kuat dalam badannya. Seperti kata mutiara yang amat terkenal yakni ‘Cinta Tanah Air Itu Bagian dari Keimanan’.

Upaya meningkatkan jumlah orang-orang terpelajar tersebut tidak akan terwujud, kecuali dengan mengorbankan harta dengan niat demi kemaslahatan umum. Mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang dapat menghembuskan jiwa nasionalisme pada jiwa para pelajar, yang dapat menumbuhkan gagasan-gagasan mulia dan amal shaleh dalam jiwa mereka.

Yang sanggup membangkitkan mereka, tatkala mereka menjadi dewasa, untuk berkhidmat demi kepentingan negara yang sedang berada di ambang kehancuran, akibat ulah putra-putra negara yang tidak bertanggung jawab, yang kejahatannya melebihi kejahatan musuh-musuh yang sebenarnya.

Dari orang-orang terpelajar yang sedang tumbuh itu, akan keluar gagasan dan upaya-upaya yang dapat menegakkan kehidupan bangsa ini. Yakni, bangsa yang hampir lenyap karena kebodohan dan kehinaannya masuk dalam catatan bangsa-bangsa yang telah punah.

Manakala kaum terpelajar yang telah dididik dengan pendidikan yang benar itu tumbuh, dan mulai melibatkan diri dalam kehidupan sosial, maka di antara mereka pasti ada yang membuat kejutan hebat, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga, bahkan belum pernah terbayangkan dalam benak pikiran manusia sebelumnya.

Pendidikan yang baik dan benar merupakan jiwa kehidupan, dan ilmu pengetahuan merupakan darah segar suatu negara. Tidak mungkin kita hidup bahagia tanpa pendidikan yang benar. Dan ilmu pendidikan mendorong pada usaha dan bekerja. Sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan pada jalan kebahagiaan.

Kita sangat memerlukan industri-industri dan perusahaan perusahaan nasional, serta perdagangan yang dikelola secara nasional. Agar negara dapat mencapai kemerdekaan atau independency dalam bidang ekonomi, dan terbebas dari sikap menggantungkan diri kepada pihak asing.

Barangsiapa yang berusaha memerdekaan negara, dan membebaskannya dari meminta-minta bantuan kepada pihak asing, maka dia adalah seorang nasionalis tulen yang dihormati oleh setiap orang.

Setiap akhir dari usaha pasti ada pendahuluan-pendahuluannya. Sedangkan pendahuluan kemerdekaan adalah meningkatkan pendidikan dan pengajaran kepada generasi muda, agar mereka menjadi tangan-tangan atau pejabat negara yang mau bekerja. Menjadi rohnya yang kuat dan menjadi darah yang mengalir ke dalam seluruh bagian urat negara. Oleh karena itu, tingkatkanlah pendidikan anak-anak maka negara pasti berjaya.

Cinta tanah air merupakan tabiat atau naluri sifat yang melekat pada jiwa setiap orang. Tidak seorangpun mengingkarinya, kecuali orang-orang pembohong dan yang cemas jiwanya.

Hal yang memalingkan seseorang dari cinta tanah air, hanyalah pendidikan yang salah satu ketidakberesan dalam cara berpikir otaknya, atau adanya darah keturunan asing. Orang semacam inilah yang memprovokasi anak bangsa agar memasuki negara tempat ia dilahirkan, dibesarkan dan menikmati hasil-hasil buminya. Darah asing itulah yang membuatnya tiba-tiba merindukan tanah air yang sama sekali belum pernah dia kenal.

Tanah air kita tidak lain adalah tempat kelahiran ayah dan leluhurnya. Darah keturunan asing itulah yang menjadikan dia merindukan pada sekelompok bangsa yang belum pernah dia kenal adat istiadat, belum dia mengerti bahasanya, dan belum pernah sama sekali terjadi ikatan dengan mereka. Dia bersikap seperti itu hanya karena dia merasa bagian dari bangsa tersebut.

Orang yang demikian ini sebaiknya cukup dengan kerinduannya itu saja tidak perlu berusaha menjelekkan dan membuat kerusakan negara yang memberikan tempat tinggal dan perlindungan. Lebih-lebih sesudah negeri yang dirindukan itu tidak lagi menganggap penting leluhurnya, bahkan telah mencampakkannya bagaikan mencampakkan biji buah saja.

Dan orang berdarah asing itu tidak perlu berbuat menghalang-halangi atau menggagalkan setiap usaha anak bangsa membangkitkan negara.

Wahai generasi muda semua harapan bangsa ditumpahkan kepada kalian, maka bangkitlah engkau. Giatlah menuntut ilmu. Semoga Tuhan melindungimu dan berperangailah dengan akhlak orang-orang terdahulu. Karena negara telah memanggilmu dan engkau adalah orang yang ditunggu-tunggu.

Berhati-hatilah terhadap para pengkhianat perjuangan. Waspadalah terhadap jebakan- jebakan mereka. Sadarilah kejahatan- kejahatan atau perbuatan perbuatan makar mereka. Sebab mereka itu adalah penyakit negaramu yang sangat berbahaya dan beracun, yang mematikanmu.

Ingatlah bahwa tidak ada yang menyebabkan negara menjadi berantakan dan enggan melakukan usaha perbaikan, kecuali orang-orang penghianat dan pejuang-pejuang palsu tersebut. Mereka itulah musuh yang paling jahat dan penyakit yang paling berbahaya.

Jadilah engkau seperti bencana dahsyat, penyakit ganas, maut yang mengerikan, dan pengawas yang terus memata-matai terhadap mereka. Hati-hatilah jangan sampai terburu-buru tergiur oleh kedudukan, sebelum engkau siap melancarkan perjuangan pada sasaran. Dan janganlah engkau berhenti memantau orang-orang yang hendak berbuat kerusakan. [rof/ono]

 

About admin

Check Also

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (4)

Sifat Amanah Pada Rasulullah Saw Sebelum segalanya bermula, Rasulullah Saw. adalah sosok yang terpercaya. Beliau ...