Tuesday , October 23 2018
Home / Berita / Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama

Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama

Jokowi Akan Dijadikan Musuh BersamaDalam geliat politik menjelang dilaksanakannya pesta demokrasi pada tanggal 9 April 2014, mulai terlihat sebuah ajang persaingan diantara parpol, para pendukung maupun calon presiden. Disamping itu juga muncul rasa curiga terhadap KPU berkaitan dengan masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT). Gejala-gejala serangan black campaign serta upaya menjatuhkan popularitas dan elektabilitas capres ataupun yang diperkirakan berpeluang kuat akan menjadi capres mulai terlihat, baik tersamar maupun terang benderang.

Jokowi, yang kini masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi  salah seorang diluar calon presiden, tetapi para elit politik menilai bahwa dari hasil beberapa lembaga survei,  popularitas maupun elektabilitasnya berpeluang sangat besar akan didukung rakyat dan menang sebagai presiden. Elektabilitas yang tinggi ini jelas menakutkan calon lain serta pendukungnya yang juga berancang-ancang akan maju.

Gambaran Melambungnya Elektabilitas  Jokowi

Dari hasil survei Pusat Penelitian Politik LIPI, menurut Koordinator Survei Wawan Ichwanuddin di kantor LIPI, Jakarta, Kamis (27/6/2013), “Elektabilitas tokoh Joko Widodo masih berada di nomor pertama dengan persentase 22,6 persen,” katanya.  Survei ini dilakukan terhadap 1.799 responden, pada 10-31 Mei 2013 dengan margin erros 2,31 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Dilakukan terhadap responden usia 17 tahun di 31 provinsi.

Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Toto Izul Fatah menilai melesatnya elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden sangat terkait dengan faktor emosional publik pada dunia politik saat ini. Menurutnya, publik yang kecewa akhirnya mendorong masyarakat memilih calon presidennya secara emosional. Pada survei Juni 2013 tingkat keterpilihan Jokowi mencapai 32,5 persen. Proporsi itu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat keterpilihannya pada Desember 2012.

Di sisi lain, menurut Toto tingkat penolakan responden terhadap dirinya tampak minim dan semakin kecil. Dari seluruh responden, yang secara ekstrem tidak menghendaki dirinya menjadi presiden, angkanya  hanya di bawah 5 persen. Sebaliknya, saat ini basis dukungan terhadap Jokowi makin luas. Ia makin diminati oleh beragam kalangan, baik dari sisi demografi, sosial ekonomi, maupun latar belakang politik pemilih.

Dari survei IRC dilakukan pada 8 sampai 11 Juli 2013, sebanyak 32 persen resaponden memilih Jokowi sebagai capres.Yang menarik, menurut peneliti IRC, Natalia Christanto di Jakarta, Rabu (17/7),  konstituen Golkar pecah dalam memilih Ical. Sebanyak 26,4 persen konstituen Golkar memilih Jokowi, sedangkan 20,8 persen lainnya memilih Aburizal. Menurut Natalia, “Terbukti Jokowi mendapatkan  dukungan dengan prosentase yang relatif signifikan, yakni antara 17% hingga 37%, dari konstituen partai politik lain di luar PDIP,” katanya.

Menurut lembaga survei SSSG (Sugeng Sarjadi School of Government), Jokowi memuncaki survei elektabilitas capres dengan dukungan menembus 45,8%. Populasi dan sampel dilakukan kepada seluruh warga yang tinggal di 10 kota besar yang punya telepon. Waktu penelitian 25 Agustus-9 September 2013 di 10 kota besar Indonesia dengan jumlah 1.250 responden.

Serangan Elit Parpol Terhadap Jokowi

Amin Rais, Ketua Majelis Pertimbangan PAN :

Dari perkembangan politik, terlihat pernyataan beberapa elit, yang dapat dinilai bertendensi untuk menurunkan elektabilitas dan popularitas Jokowi. Sementara beberapa elit parpol lainnya berusaha menetralisir pernyataan tersebut yang disebutnya bukan pernyataan parpolnya tetapi pernyataan pribadi.

Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais terus mengkritik Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Dalam komentarnya, Amin menyamakan Jokowi dengan mantan Presiden Philipina Joseph Estrada yang terpilih karena popularitasnya. “Hati-hati terhadap para calon presiden, jangan itu (populer) dijadikan pertimbangan utama. Pertimbangan kemampuan juga penting,” katanya. “Dulu, Joseph Estrada juga dipilih mutlak. Dia kan bintang film Filipina. Setiap sore, masyarakat melihat filmnya, dikeroyok tujuh orang menang, ditembak tidak pernah kena,” kata Amien, Selasa (24/9).

Ditegaskannya, “Pernyataan saya yang mengundang caci maki itu hanya untuk mengingatkan masyarakat agar jangan terlena dengan popularitas seseorang,” kata Amien di Batam, Jumat (27/9). Amien juga mengingatkan Jokowi yang sudah disumpah jadi gubernur selama lima tahun. Menurutnya, Jokowi harus mengabdi selama 5 tahun kepada warga Jakarta sebelum menjadi capres.

Pernyataan Amin dibantah oleh Ketua DPP PAN, Bara Hasibuan, yang menyatakan, kata-kata Amien dianggap tidak merefleksikan posisi atau pandangan PAN terhadap Jokowi . Menurutnya, PAN mengakui Jokowiadalah salah satu politikus yang sangat populer sehingga membuat dirinya menjadi salah satu calon presiden yang diperhitungkan. “Itu merupakan pernyataan yang merefleksikan pandangan pribadi Pak Amien terhadap Jokowidan itu sama sekali tidak mencerminkan sikap PAN,” terang Bara Hasibuan, Jumat (27/9).

Nurhayati Ali Asegaf, Waketum Partai Demokrat :

Waketum Partai Demokrat tersebut menyatakan, “Apa yang dilakukan Pak Jokowi biarlah rakyat yang menilai, tetapi media dan semua harus obyektif, bagaimana Jokowi memimpin dan apa yang terjadi sekarang. Yang pokok itu kemacetan, kebakaran, dan 1.000 rumah terbakar. Belum pernah loh 1.000 rumah terbakar,” kata Nurhayati, Sabtu (19/10).

Serangan Nurhayati diperkuat dengan gempuran vulgar oleh Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, yang menyebutkan, bahwa Jokowi gagal mengatasi masalah kemacetan. Menurut Ruhut, prestasi mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo lebih baik ketimbang Jokowi. Ruhut juga menilai Jokowi tidak pantas menjadi presiden.   “Jokowi belajar dululah ngurus Jakarta, nggak usah mimpi jadi presiden,” kata Ruhut saat berbincang dengan wartawan, Selasa (22/10/2013).

Pendapat Ketua Harian PD Syarief Hasan mencoba menetralisir kritikan Nurhayari terhadap Jokowi, dan dia menyatakan bahwa kritikan tersebut tidak bermaksud menjatuhkan. “Perlu diingat bahwa pendapat Bu Nurhayati itu sebenarnya maksudnya baik, walaupun itu sebenarnya pendapat pribadi saja,” ujar Syarief di sela peluncuran buku Anggota Komisi V DPR RI Roestanto Wahidi di Hotel Intercontinental, Jl. Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2013). “Kita beri kesempatan lah kepada Jokowi itu, kan masih 5 tahun jabatannya, masih panjang waktunya,” katanya.

Fahri Hamzah, Politisi PKS :

Fahri Hamzah justru  justru mengomentari soal tidak masuknya nama Jokowi dalam survei yang diadakan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA.”Yah mungkin sengaja Jokowi dhilangkan dari dalam (survei). Ada kepentingan untuk itu,” kata Fahri di gedung DPR RI Jakarta, Selasa (22/10/2013).

Fahri menyatakan ada survei yang menghilangkan nama Jokowi dalam surveinya. “Misalnya tolong survei ini tapi jangan pakai nama Jokowi dong, kan gitu.  Kemudian surveinya ciptakan opini misalnya targetnya ke PDIP, Megawati didorong (Capres) biar berantem dengan Jokowi. Atau targetnya ke Golkar misalnya biar Ical didorong (Capres) dan kelihatan sukses.  Nah perseteruan ini kan bikin  netralitas survei jadi tidak ada,” kata Fahri.

Analisis

Dari perkembangan hasil survei dari hari ke hari, nampaknya elektabilitas Jokowi sebagai salah satu kader PDIP terlihat semakin menguat. Jelas para tokoh, elit parpol lainnya merasa khawatir jago mereka akan langsung kalah apabila diadu head to head dengan Jokowi. Tanpa mengiklankan dirinya seperti capres lainnya, tokoh media darling ini menjadi sosok fenomenal yang disukai rakyat.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Toto Izul Fatah, melesatnya elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden sangat terkait dengan faktor emosional publik pada dunia politik saat ini. Dari penelitiannya, disebutkan hampir 80 persen masyarakat pemilih, khususnya lapisan menengah ke bawah yang menyukai Jokowi karena melihat gaya kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Publik menyukai sosok Jokowi yang tak elitis, lugu, polos, namun tetap tegas.

Oleh karena itu beberapa tokoh parpol yang tidak dapat menahan emosinya, beberapa mengeluarkan pendapat seperti Amin Rais, Nurhayati, ruhut dan Fahri Hamzah. Apabila kita teliti pendapat mereka, maka itu adalah sebuah serangan personal yang diharapkan akan membentuk opini publik agar citra Jokowi luntur. Selain itu nampak upaya untuk membenturkan Jokowi dengan Ketua Umum PDIP Megawati. Beberapa mengharapkan jangan sampai PDIP nanti mengajukan Jokowi sebagai capres PDIP, dengan segala cara masing-masing. Akan tetapi dilain sisi rekan politisi pengeritik menyatakan bahwa pernyataan elit dinilai sebagai pendapat pribadi. Ada nada segan terhadap Jokowi tetapi yang jelas memang Jokowi sudah masuk hitungan banyak pihak.

Penyerang Jokowi yang kini muncul baru beberapa elit politik, penulis perkirakan semakin dekat Pemilu 2014, maka gempuran akan semakin banyak dan berat. Bagi PDIP, langkah terbaiknya adalah Jokowi tetap disimpan, tidak dimunculkan ke permukaan, biarlah sementara dia menangani Jakarta dengan cara kepemimpinannya itu.

Ketua Umum PDIP, Megawati pada saat Rakernas III PDI Perjuangan yang diadakan pada 6-8 September 2013 lalu di Ancol memberi kesempatan setiap daerah menyampaikan aspirasi, termasuk mengenai calon presiden pada 2014. Salah satu nama yang beredar untuk dicalonkan adalah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Tetapi menurut Megawati, pendeklarasian calon Presiden dari PDIP tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Ditegaskannya, partainya baru akan mendeklarasikan calon Presiden dan wakilnya jika telah memenuhi syarat-syarat konstitusional.

Kesimpulan

Serangan citra baik terhadap personal maupun jabatan dari Jokowi mulai nampak. PDIP (Ibu Megawati) dengan cerdik tetap tidak menyatakan rencana selanjutnya dari posisi Jokowi. Menunggu perkembangan politik pastinya. Apabila kini Jokowi ditampilkan sebagai capres, maka gempuran terhadapnya akan semakin menggemuruh. Badai dan petir akan menyerang wilayah PDIP pastinya. Mencari kesalahan jauh lebih mudah dibandingkan mencari kebaikan serta sisi positif seseorang, terlebih Jokowi kini bertugas di Jakarta yang penuh dengan jeger-jeger menakutkan dan banyak nekatnya.

Semua ditangani Jokowi dengan santai serta senyum dan bahasa sederhana. Tetapi kuncinya, Jokowi adalah tetap bersih, dekat dengan rakyat dan dia akan tetap gagah karena dilindungi kekuatan Banteng Merah Moncong Putih, dan terlebih lagi perlindungan terkuatnya adalah simpati rakyat kepadanya. Para elit jelas takut kepada Jokowi, walaupun dia santai, merakyat, tetapi mampu menunjukkan sikap tegas sebagai seorang pemimpin.

Kalau misalnya dia jadi presiden, terus ada menteri yang seperti sekarang terindikasi miring-miring, KKN, korupsi, akan di babat habis pastinya. Mungkin juga pembantunya yang tidak berprestasi dan justru merugikan.  Ini dibuktikannya di Jakarta, fit and propper test, kejujuran, disiplin, berkerja untuk rakyat. Itulah yang dibutuhkan Indonesia dan justru  itulah yang ditakuti banyak elit politik itu. Begitu?

Oleh : Prayitno Ramelan,

Sumber: .ramalanintelijen.net

About admin

Check Also

Diplomasi Pertahanan Menhan Ryamizard ke AS, Sukses

Pada saat ini para pengamat intelijen di dunia mengamati dengan serius perkembangan geopolitik dan geoekonomi ...