Tuesday , December 11 2018
Home / Budaya / Filsafat / Jejak Kapitalisme di Indonesia

Jejak Kapitalisme di Indonesia

capture-20130509-014258Kepentingan dasar yang melandasi lahirnya kepentingan-kepentingan lain yang dibawa manusia dalam kehidupan adalah ekonomi. Argumen konkrit yang dapat diuraikan adalah karena kepentingan ekonomi-lah, maka akan lahir kepentingan dalam hukum, politik, dan bahkan terwujudnya suatu peperangan. Kesemua itu akan bersumber pada kepentingan ekonomi.

Dalam tatanan kehidupan dan peradapan manusia, yakni di masa Yunani kuno, telah terdapat pemikiran-pemikiran yang walaupun digolongkan kepada ilmu filsafat sebenarnya mencerminkan sebuah pemikiran ekonomi yang hebat. Plato, Aristoteles, Xenophon adalah para filfasat yang sudah memasuki ranah pemikiran ekonomi yang bisa dinilai menggunakan segala kemampuan akal, pikiran dan “nurani”nya pada saat itu untuk merumuskan suatu filsafat yang menggambarkan secara normatif, bagaimana tatanan perekonomian sebenarnya.

Masa keemasan Islam juga sedikit banyak kurang dibedah tatanan perekonomiannya. Tatanan yang kompleks dalam bermasyarakat yang mengacu pada tatanan syariah mungkin tidak menonjolkan ke permukaan tatanan perekonomian Islam sebenarnya. Akibatnya adalah ekonomi Islam sedikit tenggelam dalam hamparan tatanan global syariah yang sangat kompleks dan sempurna dalam membangun masyakarat Islam pada saat itu.

Anehnya jauh ke depan, tepatnya abad ke ke 18, yakni setelah munculnya Adam Smith dalam percaturan ekonomi, ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri baru mendapatkan pengakuan. Sebagaimana dikenal mazhab yang diperkenalkan Adam smith adalah sebuah mazhab kebebasan yang seluas-luasnya dalam menjalankan ekonomi tanpa campur tangan siapapun. Mengenai argumen bahwa kebebasan  itu akan menimbulkan keserakahan, Adam Smith memberikah tanggapan yang sangat “logis”, bahwa keserakahan manusia yang dibiarkan tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat selama ada persaingan bebas.  Argumen itu disebabkan  karena dengan adanya persaingan bebas, maka seseorang yang menginginkan keuntungan jangka panjang tidak akan semena-mena menaikkan harga di atas tingkat harga pasar. Karena jika itu dilakukan, maka para pembelinya akan meninggalkannya dan dia akan terpuruk. Argumen inilah yang jika dikembangkan dan digambarkan dalam sebuah mekanisme grafis yang “sedikit rumit” memunculkan konsep koreksi harga agregat menuju sebuah keseimbangan pasar. Jadi intinya, ajaran Smith mengajarkan bahwa sebuah kebebasan yang seluas-luasnya justru akan meningkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Beberapa pengembangan teori dari mazhab klasik Adam Smith yang patut dicermati adalah pengembangan teori akumulasi kapital, teori nilai kerja dan upah alami, teori keuntungan komparatif dan perdagangan bebas (David Ricardo). Berbicara mengenai teori akumulasi kapital, maka teori inilah yang merupakan cikal bakal kapitalisme. Investasi yang dilakukan dari keuntungan tahun sebelumnya akan meningkatkan produktivitas dan menimbulkan akumulasi keuntungan yang berlipat di masa yang akan datang. Penekanan investasi di sini lebih mengarah pada investasi barang modal (Mesin atau barang modal lainnya yang bukan SDM). Dengan demikian, tujuan akan tercapainya efesiensi dan produktivitas yang semakin meningkat akan tercapai. Pelaksanaan dari teori akumulasi kapital ini menurut pandangan yang kontradiktif adalah bahwa akumulasi kapital ini akan meningkatkan secara pesat pertumbuhan ekonomi, namun dampaknya juga akan mengakibatkan semakin buruknya ketimpangan yang ditimbulkannya. Pemilik modal akan semakin kaya, sedangkan kaum buruh akan semakin miskin.

Sementara Teori nilai kerja dan upah alami yang dibidani oleh David Ricardo menyatakan  bahwa nilai tukar suatu barang ditentukan oleh ongkos  yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut, yaitu biaya untuk bahan mentah dan upah buruh yang besarnya hanya cukup untuk bertahan hidup (subsisten) bagi buruh yang bersangkutan yang disebut upah alami (natural wage). Jika harga yang ditetapkan lebih besar dari biaya-biaya tersebut, maka perusahaan akan menikmati keuntungan dan akan menarik pelaku pasar/produsen yang baru. Oleh pihak-pihak yang kontra menuding pemberlakukan teori ini akan menimbulkan upah besi terhadap buruh atau karyawan, karena para pemodal akan berusaha untuk menekan biaya-biaya tersebut, dalam hal ini tentu saja upah terhadap buruh atau karyawannya demi untuk mendapatkan margin keuntungan. Dalam kajian manajemen sumber daya manusia juga dikaji, pemberlakuan teori ini dipandang bahwa sumber daya manusia akan dianggap sebagai cost, bukannya sebuah aset. Padahal dari ilmu manajemen sumber daya manusia modern menyarankan bahwa sumber daya manusia harus diperlakukan sebagai aset yang harus dipelihara (motivasi, skill, dan kesejahteraannya) dan akan memberikan keuntungan jangka panjang kepada perusahaan.

Satu lagi teori yang lahir dari David Ricardo adalah teori keuntungan komparatif yang intinya agar negara-negara mengidentifikasi apa keunggulannya, lalu melakukan spesialisasi produksinya. Semua kelebihan produksi tidak perlu ditakutkan over produksi, karena bisa di ekspor ke negara lain yang susah atau tidak efisien memproduksinya. Perkembangan selanjutnya mudah ditebak, yakni menganjurkan semangat liberalisme ke dunia global dan mencela adanya perlindungan pasar dalam negeri suatu. Banyak yang melakukan argumen bahwa jika suatu negara yang tidak mempunyai keunggulan komparatif apapun, maka negara itu akan tergilas dan mengalami chaos perekonomian dalam negerinya karena kalah bersaing dari produk luar negeri. Para pihak yang kontra menyatakan bahwa perdagangan bebas (free trade) sangatlah tidak manusiawi dan akan lebih baik menggantinya dengan perdagangan yang adil (fair trade)

Melongok Realitas yang Ada

Tidak bisa dipungkiri, bahwa Kapitalisme/liberalisme  pasti sangat dikehendaki oleh para pemilik modal (si kaya) atau bisa dibaca secara global “si kaya” itu dapat diartikan sebuah negara kaya. Dengan keadaan yang sangat menguntungkan itu, tentu upaya status quo akan selalu dipertahankan. Kerusakan demi kerusakan tatanan perekonomian serta krisis demi krisis yang dituding banyak pihak ditimbulkan oleh kapitalis/liberalis tidak serta merta membuatnya jera. Bahkan kapitalis/liberalis selalu datang dengan wajah/topeng yang baru.

Walaupun John Maynard keynes telah memberikan sumbangsih yang agak menetralisir membabi butanya liberalisme pasar bebas dan menarik peran pemerintah untuk melakukan intervensi dalam perekonomian, namun upaya status quo yang diupayakan para kapitalis yang tentu saja lebih besar kekuatannya karena didukung dengan sumber daya yang dimilikinya. Berbagai upaya penguasaan institusi perekonomian telah dilakukan untuk memuluskan penancapan bendera kapitalisme di dunia. Tak Pelak, langkah awal yang dilakukan adalah menguasai pemerintahan, kemudian melangkah kepada penguasaan organisasi dunia di bidang ekonomi dan moneter semacam IMF, World Bank, atau Organisasi Perdagangan.

(Gejala) Kapitalisme/Liberalisme di Indonesia

Jika kita menengok ke belakang, kita perlu menganalisis mulai jaman orde baru. Sebenarnya, perekonomian yang saat itu berslogan “ekonomi Pancasila” yang berketuhanan dan berkeadilan sosial hanya menjadi sekedar slogan. Dalam kenyataannya, penguasa sudah menabur benih-benih kapitalisme/liberalisme. Namun, kondisi perekonomian Indonesia saat itu belumlah terlalu terbuka dari serangan liberalisme dari luar. Para kapitalis di Indonesia memainkan perannya secara halus. Kenapa dikatakan secara “halus”? Ini dikarenakan walaupun sebagian besar modal dikuasai mereka yang biasa disebut kroni-kroni penguasa orde baru, namun gejolak inflasi dan murahnya pelbagai bahan kebutuhan masyarakat yang sangat rendah menjadikan gerak para kapitalisme itu itu tidak terasa (bahkan saat ini rakyat kecil banyak yang merindukan masa-masa itu).

Sebuah pendapat pribadi dari saya: Mungkin, karena potensi dan kekayaan Indonesia yang berlimpah ruah, menjadikan para kapitalis dari luar “iri” dan tidak rela jika kekayaan Indonesia dikuasai para kapitalis lokal Indonesia. Moment serangan kapitalisme dari luar itu terjadi ketika krisis keuangan moneter 1998 di Asia dan Indonesia. Dan, institusi resmi yang menjembatani masuknya kapitalisme di Indonesia itu adalah IMF. Sudah kasat mata, uluran tangan berupa softloan dibarengi dengan penularan virus kapitalisme yang dipaket dengan rapi dan indah dalam sebuah resep obat yang bertajuk paket kebijakan reformasi ekonomi yang merupakan syarat yang harus dilakukan adalah sebuah jembatan kapitalis/liberalis untuk masuk di Indonesia. Sudah kasat mata pula isi-isi dari paket kebijakan reformasi ekonomi itu “memaksa” Indonesia untuk membuka pasar sebebas-bebasnya. Penyerahan mekanisme pasar, penghapusan restriksi perdagangan, pemberlakukan sistem floating exchange rate adalah bukti “konkrit” serangan kapitalisme/liberalisme tersebut.

Lalu tidaklah susah ditebak, virus kapitalisme telah merebak dalam tatanan negara. Negara menjadi “korporasi” dimana negara menjadi kepentingan bisnis dan keputusan politiknya mengabdi pada pemilik modal. Beberapa bukti konkrit kebijakan kapitalisme tersebut antara lain:

  • Penghapusan berbagai subsidi pemerintah pada komoditas strategis (bbm, listrik dsb) secara bertahap dan diserahkannya ke mekanisme pasar membuat harga-harga meningkat
  • Nilai kurs diambangkan secara bebas (floating rate) sesuai dengan LOI dengan IMF (dikembalikan pada mekanisme pasar)
  • Privatisasi BUMN yang membuat sektor kepemilikan umum (migas, tambang, kehutanan) dikuasai oleh swasta
  • Bobroknya lembaga keuangan dan masuknya Indonesia ke dalam jerat utang (Liberalisasi pasar berbasis bunga dan privatisasi bank- bank pemerintah)
  • BHMN dalam dunia pendidikan tinggi membuat biaya kuliah meningkat tajam
  • Privatisasi rumah sakit daerah membuat biaya pengobatan naik.
  • Liberalisasi pers membuat dunia pers mengabdi pada kepentingan bisnis semata sehinggat tidak mengindahkan misi pendidikan dan aspek moralitas
  • Makin banyaknya turn over karyawan di banyak perusahaan dan Indikasi makin meningkatkan popularitas bekerja sebagai PNS karena merasa jaminan dan perlakuan perusahaan swasta yang semakin semena-mena.

Kesemuanya itu mengakibatkan kesenjangan yang semakin parah. Sebagai indikator kecil saja, Jumlah penduduk miskin di Indonesia 36,17 juta jiwa(BPS 2003) Meningkat 40 juta jiwa (BPS 2005). Namun anehnya, dalam rilis orang-orang terkaya di dunia, jumlah orang terkaya dunia asal Indonesia juga meningkat (lihat di sini)

Kesenjangan inilah yang mengakibatkan orientasi materialistis pada berbagai lapisan masyarakat, dalam setiap profesi dan dalam berbagai keadaan. Bagi golongan non pengusaha,  korelasi  dari orientasi materialistis inilah yang mengakibatkan sifat korupsi juga susah untuk diberantas, bahkan cenderung semakin tersistematis. Begitu pula golongan masyarakat kecil, cerita tentang pengurangan kadar timbangan atau pengoplosan dengan bahan lain (kadang sangat berbahaya) pun dilakukan.

Yaa…Jika: “Terbitnya Matahari dari Barat” diartikan bahwa ilmu dan pemahaman Barat berupa Kapitalisme yang melahirkan pola kehidupan materialistik, kesenjangan dan dehumanisasi telah menjadi acuan; maka “kiamat” dalam tatanan hidup manusia sudah dekat. Dan tak ada cara yang lain kecuali mengadopsi sistem yang telah dibuatkan Sang Kholik yang tahu persis apa yang terbaik untuk makhluknya.

http://anung.sunan-ampel.ac.id/?p=519

About admin

Check Also

Ngalap Barokah dengan 313 Nama Rasul Allah

Telah sama-sama kita ketahui bahwa nama-nama rasul yang wajib kita hafal dan ketahui ada 25. ...