Thursday , May 23 2019
Home / Agama / JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)

JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)

JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (II)Kuil-Kuil Jainisme di India

Kuil Jain umumnya berisi gambaran mengenai Tirthankara, apakah dalam bentuk meditasi, yang sedang duduk atau berdiri. Pengikut Jain membuat persembahan kepada bentuk ini sebagai pemujaan. Kuil Jain  ada yang hanya merupakan kamar yang polos, berukir sederhana sampai yang dihiasi dengan ukiran yang indah.

Dua Sekte Jain yang besar, menghias kuilnya dengan cara yang berbeda. Kuil Digambara, terdapat patung Tirthankara yang tidak dihias dan tidak dicat. Sedangkan Kuil Svetambara patung Tirthankara selalu dihias, dengan cat atau kaca dan terkadang  dengan hiasan emas, perak dan permata  didahi. Hiasan seperti ini sangat lazim. JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)1

Jain Svetambara menghias patungnya dengan indah dan pada waktu upacara dihias dengan bunga, permata dan dibuatkan persembahan yang dekoratif  yang terbuat dari bunga, daun, cendana, sutra, lilin, daun emas dan perak, mutiara, batu mulia atau hiasan permata. Persembahan ini diperbaharui setiap hari sebagai wujud penghormatan dan pengabdian.

Mereka memiliki banyak kuil indah seperti  di bawah ini:

  1. Lal Mandir Shri Digambar Jain. Lal Mandir merupakan kuil tertua Jainisme di India. Dibangun tahun 1526, lalu mengalami banyak perkembangan terutama sejak abad 19. Kuil ini dari material batu pasir merah.
  2. Kuil Sonagiri, terletak di puncak bukit kota Sonagiri (arti: puncak emas). Para peziarah dan wisatawan yang berkunjung diwajibkan menaiki 300 anak tangga dengan kaki telanjang.
  3. Khajuraho Jain. Desa Khajuraho merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di India. Di desa ini banyak terdapat kuil untuk pemeluk Hindu dan Jainisme yang sudah berdiri sejak tahun 950 hingga 1.150 M.
  4. Gomateshwara. Di puncak bukit kota Shravanabelagola terdapat patung Gomateshwara, ia adalah anak kedua dari Dewa Adinatha, yang pertama dari 24 orang di bumi yang “dicerahkan” (Tirthankara). Tingginya 17,38 meter, dibuat sekitar tahun 983 M oleh Chavundaraya, menteri dari Kerajaan Gangga. Setiap 12 tahun sekali diselenggarakan Hari Raya Mahamastakabhisheka di tempat ini. Yakni memandikan patung Gomateshwara dengan susu, kunyit, dan koin emas.
  5. Dilwara. Kompleks kuil Dilwara begitu indah karena terbuat dari marmer. Ukirannya begitu detil dan terlihat di langit-langit, pintu, serta pilar kuil. Ada 5 kuil Jain di sini, masing-masing dengan identitas yang unik dan dinamai desa kecil di mana ia berada. Semua candi dibangun oleh dinasti Chalukya antara abad 11 dan 13.
  6. Palitana. Kota Palitana adalah pusat ziarah utama bagi pemeluk Jain. Candi-candi dari Palitana dianggap tempat ziarah paling suci dalam Jainisme. Ada ratusan candi Jain terletak di Gunung suci Shatrunjaya, indah terukir dengan marmer. Dibangun oleh generasi pemeluk Jain selama 900 tahun, sejak abad ke-11.
  7. Ranakpur. Didedikasikan untuk Adinatha, Kuil Jain di Ranakpur ini tampak megah berada di lereng bukit. Terdapat lebih dari 1.444 pilar marmer di kuil ini, dan semuanya diukir sangat indah. Pembangunan kuil ini melambangkan penaklukan Tirthankara dari empat arah mata angin. Masih banyak perdebatan soal waktu pembangunannya.

JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)5Kuil Adinath

Pendeta Jainisme

Mahavira terlahir dengan nama Vardhamana di timur laut  India ipada 599 SM (ini merupakan tahun yang disebutkan secara tradisional, tetapi beberapa pengikutnya yang modern lebih memilih  540 SM, atau bahkan tahun setelah itu). Beliau adalah seorang Pangeran, putra raja Siddhartha dan ratu  Trishala, yang merupakan keluarga kasta dan penganut ajaran Parshva. Mahavira dari keturunan golongan kesatria yang memegang kendalil pollitik dan ketentaraan. Keluarganya tinggal di Pisarah berdekatan dengan sebuah bandar yang sekarang dinamakan Patna di wilayah Bihar. Bapaknya, Sidartha adalah seorang anggota dalam majelis yang bertugas memerintah bandar atau kesatuan ketentaraaan. Sidartha telah kawin dengan anak perempuan ketua majelis ini Tris Sala. Kedudukan Sidartha semakin tinggi hingga sebagian riwayat menyifatkannya sebagai kepala bandar itu atau rajanya. Mahavira adalah anak laki-laki yang kedua. Oleh sebab itu, kekuasaan memerintah di serahkan kepada kakaknya sesudah wafat bapaknya kelak. Mahavira lahir pada tahun 599 SM. Pada hari kelahirannya yang ke-12, semua ahli keluarga berkumpul dalam majelis perayaan besar. Mahavira dibesarkan di rumahnya yang penuh dengan kebesaran, di tengah-tengah kemewahan dan kesenangan. Dari masa ke masa keluarganya menyambut kedatangan rombongan ahli agama  karena rombongnan-rombongan ini menempati rumah dan mereka menumpang dengan baik dan di sambut dengan tangan terbuka. Sejak kecilnya Mahavira gemar mengikuti pertemuan-pertemuan  mereka untuk mendengar falsafah serta ajaran-ajaran mereka. Mahavira terpengaruh dengan ajaran dan falsafah yang mereka bawakan. Lalu,dia meninggalkan kenikmatan  dunia dan melibatkan dirinya dengan hal-hal yang terkait dengan  ketuhanan, persemadian, dan spiritual. Tetapi, keadaan tidak mengijinkannya disebabkan kedudukan keluarganya yang mengurus hal ihwal politik dan peperangan serta hidup yang penuh dengan kehidupan penuh kemewahan dan kesenangan. Keadaan kehidupan  keluarganya mendorongnya kawin dengan seorang gadis yang bernama Yasuda  dan mereka telah dikaruniai  seorang anak perempuan yang diberi nama Anuja. Sepanjang hidup bapaknya, Mahavira terus menyembunyikan perasaan dan keinginan spiritualnya.  Pada lahirnya dia hidup seperti kieidupan orang-orang lain. Tatkala ibu bapaknya meninggal terbukalah kesempatan baginya untuk mewujudkan apa yang di cita-citakannya. Mahavira meminta saudaranya yang telah memegang kendali pemerintahan agar mengijinkannya melakukan kegiatan spiritual. Tetapi, pemimpin yang baru itu khawatir orang-orang akan menyangka sikap Mahavira itu adalah hasil dari kekerasannya terhadap Mahavira atau karena dia tidak dapat memenuhi permintaannya. Lalu pemimpin itu meminta kepada Mahavira agar menagguhkan kemauannya itu. Tatkala tiba saatnya yang telah ditetapkan, diadakanlah suatu pertemuan besar dibawah pohon asoka dengan dihadiri oleh semua anggota keluarga dan penduduk negeri. Mahavira pun mengumumkan cita-citanya untuk meninggalkan kerajaan, gelar kebangsawanan, dan kenikmatan dunia untuk menyendiri dalam persemadian. Inilah awal kehidupan spiritualnya secara nyata. Dia meninggalkan pakaiannya yang indah, meninggalkan perhiasannya, mencukur rambutnya dan memulai kehidupan baru. Umurnya kala itu baru 30 tahun.   Mahavira berpuasa dua setengah hari, mencabut semua rambut di badannya, dan memulai pengembaraan keseluruh pelosok negeri dengan bertelanjang kaki. Dia bersemadi, berlapar dan sangat berhemat. Dia tenggelam dalam pemikiran dan latihan berat dan perih serta perenungan diri yang dalam. Setelah 13 bulan, dia menanggalkan pakaiannya dengan tidak merasa malu karena dia membunuh segala kelaparan, perasaan, dan rasa malu yang ada di dalam dirinya. Kadang-kadangg di bersemadi di tanah-tanah pekuburan. Tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan dengan mengembara keseluruh penjuru negeri. Dia tenggelam dalam pengawasan diri hingga sampai ke tingkat yang  tidak dapat di merasakan apa-apa, apakah kedudukan atau kegembiraan, kepedihan atau kenyamanan. Dia hidup dengan menerima sedikit pemberian yang di berikan kepadanya. Mahavira (pahlawan besar), yang hidup pada abad 6 SM., mendapat kehormatan sebagai pendiri Jainisme.. Selama 12 tahun ia hidup dengan penyangkalan-diri yang esktrim dan meditasi, sehingga menurut cerita ia mencapai moksah. Ia menghabiskan sisa hidupnya selama 30 tahun sebagai makhluk mahatahu (kevali) dengan mengajar para pengikutnya.

JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)4Tirthankara

Seorang Tirthankara muncul di dunia, yang mengajarkan cara untuk mencapai moksha, atau kebebasan. Seorang  Tirthankara bukanlah reinkarnasi dari Tuhan. Dia adalah jiwa biasa, yang terlahir sebagai manusia, dan memperoleh sebutan seorang Tirthankara sebagai hasil dari usaha yang keras dari penebusan dosa, dan meditasi. Karena itu seorang  Tirthankara bukanlah seorang awatara (penjelmaan Tuhan), tetapi sebuah jiwa yang mencapai kesucian puncak. Tirthankara bukanlah pendiri sebuah agama, tetapi seorang guru yang maha tahu, yang hidup  beberapa kali dalam sejarah kehidupan manusia Mereka mencapai tujuan spiritual yang tertinggi dan kemudian mengajarkannya  dengan menyeberangkan ke pantai yang aman dari kesucian spiritual. Setiap  Tirthankara baru, mengajarkan dasar filosofi Jain yang sama, tetapi mereka memberikan penganut Jain  tata kehidupan  dalam bentuk yang berbeda agar sesuai dengan kebudayaan dimana filosofi tersebut diajarkan.

Diyakini terdapat  24 Tirthankara selama masa ini yaitu :

Adinatha, Ajita, Sambhava, Abhinandana, Sumati, Padmaprabha, Suparshva, Chandraprabha, Suvidhi, Shital, Shreyansa, Vasupujya, Vimala, Ananta, Dharma, Shanti, Kunthu, Ara, Malli, Muni Suvrata, Nami, Nemi, Parshva dan Mahavira.

JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)2Kuil Khajuharo

 KITAB SUCI

Setiap kelompok aliran tersebut memiliki kitab-kitab suci  yang berbeda. Nama umum untuk kumpulan kitab-suci Jainisme adalah Agama (aturan/ajaran/perintah). Jumlah buku-buku itu bervariasi dari 33 sampai 84 buku tergantung kepada masing-masing sekte. Sebuah Kitab Jainisme ditulis dalam waktu yang amat panjang dan kitab yang paling dikenal ialah Tattvartha Sutra, atau “Buku Kenyataan” yang ditulis oleh Umasvati (atau Umasvami), seorang cendikiawan dan pendeta yang hidup pada lebih dari  18 abad  yang lalu

Para penganut Jaina mengadakan pertemuan dibandar Patli putra, untuk mengumpulkan naskah-naskah suci untuk dijilid manjadi satu. Dan kemudian kitab suci ini diberi nama Siddhanta, yang menjadi ajaran pokok agama Jaina. Dan bahasa yang digunakan dalam kitab ini adalah bahasa Ardhamajdi atau prakit. Namun bahasa tersebut hanya digunakan pada abad-abad sebelum masehi, setelah masehi untuk menjaga isinya kitab tersebut diganti bahasanya menjadi bahasa sansekerta.

Sedangkan kitab Siddhanta sendiri terdiri dari 12 anggas sebelumnya, semua itu adalah himpunan yang terdiri dari wejangan-wejangan Mahavira. Namun anggas yang kedua belas telah lenyap sampai kini, tidak bisa diketemukan lagi. Namun tentang jumlah anggas seluruhnya, yang merupakan bagian dari kitab suci dijumpai perbedaan pendirian diantara sekte-sekte didalam agama Jaina itu. Seperti sekte Digambara mengakui ada 80 anggas dari bagian kitab suci agama Jaina sedangkan sekte Swetambara mengakui hanya 45 anggas saja. Sedangkan gerakan reformasi agama Jaina hanya 33 anggas saja.

Agamas terdiri dari 45 naskah berikut ini :

  1. Dua belas  Angā :
  1. Acaranga sutra,
  2. Sutrakrtanga,
  3. Sthananga,
  4. Samavayanga,
  5. Vyakhyaprajnapti
  6. Bhagawati Sutra,
  7. Jnatrdharmakathah,
  8. Upasakadasah,
  9. Antakrddaasah,
  10. Anuttaraupapātikadaśāh,
  11. Prasnavyakaranani,
  12. Vipakasruta Drstivada.
  13. Aupapātika,
  14. Rājapraśnīya,
  15. Jīvājīvābhigama,
  16. Prajñāpana,
  17. Suryaprajnapti,
  18. Jambūdvīpaprajñapt,
  19. Candraprajñapti,
  20. Nirayārvalī,
  21. Kalpāvatamsikāh,
  22. Puspikāh,
  23. Puspacūlikāh,
  24. Vrasnidaśāh
  25. Ācāradaśāh
  26. Brhatkalpa
  27. Vyavahara
  28. Niśītha
  29. Mahāniśītha
  30. Jītakalpa
  31. Daśavaikālika
  32. Uttarādhyayana
  33. Āvaśyaka
  34. Pindaniryukyti
  35. Catuhśarana
  36.  Āturapratyākhyanā
  37.  Bhaktaparijñā
  38.  Samstāraka
  39.  Tandulavaicarika
  40. Candravedhyāka
  41. Devendrastava
  42. Ganividyā
  43. Mahāpratyākhyanā
  44. Vīrastava
  1. Dua belas Upanga āgama (Naskah yang memuat  penjelasan mengenai Angā):
  1. Enam Chedasūtras  (Naskah menggenai prilaku dan sikap seorang pendeta)
  1. Empat Mūlasūtras (Naskah yang memuat dasar-dasar ditahap awal untuk kependetaan)
  1. Sepuluh sutra Prakīrnaka  (Naskah mengenai kebebasan atau macam=macam topik).

6.   Dua Cūlikasūtras (Naskah yang lebih memperjelas atau menghiasi makna Anga)

  1. Nandī-sūtra
  2. Anuyogadvāra-sūtra

Hari Raya

  1. Mahavira Jayanti, Hari Raya ini untuk merayakan hari kelahiran Mahavira. Penganut Jain akan berkumpul di Kuil untuk mendengarkan pembacaan dari ajaran Mahavira.
  2. Paryushana. Penganut Jin Digambra merayakannya di kuil Bulawadi, Mumbai.  Kata  ‘Paryushana’ berarti  ‘tinggal di satu tempat ‘, Awalnya inilah praktek yang utama biarawan. Upacara ini terdiri dari delapan hari puasa, pertobatan dan melaksanakan puja. Sering pendeta diundang untuk memberikan pencerahan dari naskah Jain.
  3. Diwali.  Hari Raya ini diperingati diseluruh India. Bagi penganut Jin memiliki arti yang khusus, karena pada hari itu tahun 527 SM (sesuai dengan tradisi Svetambara) dimana. Mahavira memberikan ajarannya yang terakhir dan memperoleh kebebasannya yang tertinggi. Pada  Diwali orang tua sering memberikan manisan kepada anak-anaknya, dan lampu dinyalakan diseluruh India. Beberapa Jain yang sangat religius akan melaksanakan dua hari puasa, mengikuti apa yang dilakuian oleh Mahavira.
  4. Kartak Purnima. Hari Raya Divali diikuti dengan Hari Raya Kartak Purnima. Ini diyakini sebagai waktu yang menguntungkan untuk melaksanakan tirtayatra ke tempat-tempat suci yang terkait dengan Agama Jain.
  5. Mauna Agyaras . Ini merupakan satu hari untuk melaksanakan puasa dan nyepi. Penganut Jain juga melaksanakan meditasi pada Hari Raya diatas.

JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)6Penganut Membersihkan Patung Tirthankara

Upacara  Jainisme

Pendeta tidak bisa memberikan berkah kepada orang yang didoakan, karena :

  1. Mahluk itu diluar hubungan dengan manusia
  2. Mahluk itu telah terbebas dari segala keinginan dan nafsu dan karenanya mereka tidak bisa dipuaskan dengan persembahan atau dengan hal yang lainnya
  3. Persembahyangan pemeluk Jain tidak sama dengan persembahyangan agama lain. Penganut Jain berdoa untuk mengenang perbuatan luhur para Tirthankara dan mengingatkan penganutnya kepada ajaran Mahavira.
  4. Penganut Jain bersembahyang sebagai media untuk meningkatkan spiritualitas; itu adalah sarana menuju akhir tetapi hal itu bekanlah sebuah akhir.
  5. Jain tidak berdoa untuk meminta berkah atau materi kepada Tirthankara, tetapi untuk meminta inspirasi dalam menjalani kehidupan.
  6. Penganut Jain berdoa dengan dialek kuno Ardha Magadhi

Perbedaan utama antara persembahyangan Jain dan Hindu , yang kelihatan sama dipermukaannya, meskipun penganut Jain kelihatannya bersembahyang kepada Tirthankara, tetapi mereka bukan sembahyang kepada perorangannya, tetapi dia sembahyang kepada kesempurnaan yang dicapainya, agar mereka dapat mengikuti jejaknya. Jainisme mengajarkan bahwa kita bisa mencapai kedamaian sejati dan kebahagiaan hanya dengan berfikir dan berbuat yang benar.

Ada tiga alasan untuk hal ini :

  1. Jainisme adalah berbuat, bukan penyembahan. Agama Jainisme mengharapkan agar pengikutnya menolong dirinya sendiri dari pengorbanan, melalui pikiran dan perbuatan seperti seharusnya. Banyak Jain di India sembahyang di kuilnya setiap hari, dan bersembah yang bersama pada Hari Raya.
  2. Tidak ada sesuatu yang diminta waktu sembahyang kecuali untuk peningkatan spiritual. Seorang Jain  yang berdoa untuk mendapatkan sesuatu, mereka tidak akan pernah untuk mendapatkan peningkatan spiritual. Jain memiliki sedikit alasan untuk berdoa kepada Deva, diluar keinginan pribadi, karena Dewa yang bisa memberi pertolongan, tapi tidak bisa memberikan siddha; dan seperti halnya cara kerja karma, yang mengatur kualitas kehidupan manusia secara otomatis dan tidak bisa dipengaruhi dengan doa
  3. Dalam doa utama, Jain tidak meminta bantuan apapun atau keuntungan material, mantra ini berfungsi sebagai isyarat sederhana respek yang dalam terhadap makhluk yang lebih maju secara spiritual. Mantra ini juga mengingatkan pengikutnya untuk mencapai tujuan akhir mencapai moksha. Penganut Jain bukanlah sembahyang untuk menyenangkan Deva-Deva, atau untuk mendapatkan sesuatu dari Deva-Deva.

Tapi Jain bersembahyang untuk :

  1. Meningkatkan  taraf spiritual penganut.
  2. Bersembahyang menyebabkan pembersihan spiritual.
  3. Sembahyang dapat menghancurkan karma buruk yang melekat pada jiva. Sembahyang agar bisa fokus untuk aktivitas spiritual.
  4. Sembahyang memberikan pengikut untuk mendekatkan diri kepada rasa ketuhanan.
  5. Sembahyang  akan menyisakan kepada penganutnya contoh kehidupan yang ingin diikutinya.

Kebiasaan

Puasa merupakan hal yang sangat lazim dalam spiritualitas Jain. Biasanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu, seperti hari Raya tertentu. Puasa lebih sering dilaksanakan oleh kaum wanita dibandingkan dengan prianya. Penganut Jain berpuasa sebagai penebusan dosa, terutama bagi para pendeta. Puasa juga membersihkan badan dan pikiran, seperti  Mahavira yang menggunakan banyak waktunya untuk melaksanakan puasa. Bagi penganut Jain tidaklah cukup hanya tidak makan saja dalam melaksanakan puasa mereka haruslah juga menghentikan keinginannya untuk makan. Bila dia menginginkan makan, maka puasa itu tidaklah ada manfaatnya.

Ada beberapa jenis puasa.

  1. Puasa penuh : tidak makan dan minum secara penuh dalam jangka waktu tertentu.
  2. Puasa sebagian : makan lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk mencegah rasa lapar.
  3. Vruti Sankshepa: membatasi  jenis makanan yang dimakan .
  4. Rasa Parityaga: menghindari makanan yang disenangi
  5. Puasa Agung, beberapa pendeta Jain berbuasa berbulan-bulan dalam sekali puasa, mengikuti contoh Mahavira, yang dikatakan melaksanakan puasa sampai 6 bulan. Bahkan sekarangpun masih ada  yang berpuasa lebih dari 6 bulan seperti Hira Ratan Manek. Yang lainnya berpuasa sampai setahun penuh seperti Sri Sahaj Muni Maharaj yang mengakhiri puasa 365-hari pada 1 Mei, 1998.

Santhara atau Sallenkhana – Berpuasa sampai mati, seorang Jain berhenti makan  dengan maksud untuk menyiapkan kematian Ini berbeda dengan bunuh diri, karena tidak dilandasi dengan perasaan marah atau emosi, tetapi hal ini dilakukan bila tubuh  tidak mampu lagi melayani pemiliknya  sebagai alat spiritualitas. Tujuannya untuk membersihkan badan, dan menyingkirkan  semua keinginan   yang bersifat fisik dari pikiran. Seperti halnya menghentikan makan dan minum, sehingga bisa memusatkan fikiran kearah spiritual menyongsong kematian.

Tujuan Jainisme

Tujuan terakhir dari makhluk hidup, menurut filsafat Jain harus mencapai keadaan suci dalam Jiva, dengan menghilangkan semua karma yang sudah melekat pada kita hampir selamanya. Ini adalah keadaan yang sama dimana Tirthankara (Guru) dan jutaan Jiva lain sudah mencapainya. Kita menyebut keadaan ini keadaan Siddha.

Akan tetapi, tujuan pengikut Jain dalam lingkaran kehidupan mereka sekarang adalah mengikuti jalan untuk menaklukkan kemelekatan dan keengganan. Bagi orang awam sudah diberikan langkah sederhana untuk mengikutinya. Ia melibatkan kepercayaan dalam nilai kunci tertentu, ajaran kunci tertentu, melakukan meditasi, berdoa, dan kegiatan Jivani lainnya yang akan membantu Jiva membebaskan dirinya sendiri dari ikatan karma yang pada akhirnya membawa kita melalui beberapa lingkaran kehidupan menuju keadaan yang sama sucinya, Siddha.

Tujuan hidup juga adalah untuk membatalkan efek negatif dari karma melalui pemurnian mental dan fisik. Proses ini mengarah pada pembebasan disertai dengan kedamaian batin. jiwa adalah disebut ‘pemenang’ (dalam bahasa Sansekerta / bahasa Pali, Jina) karena telah mencapai pembebasan dengan upaya sendiri. Seorang Jain adalah pengikut Jina (“penakluk”). Jina maju secara Jivani sehingga manusia menemukan kembali dharma, dan bisa dibebaskan dari halangan karma, dan mengajarkan jalan spiritual agar bermanfaat untuk semua makhluk hidup. Jain mengikuti ajaran 24 jina khusus yang dikenal sebagai Tirthankara (“orang-orang yang telah menunjukkan jalan ke keselamatan bebas dari  kelahiran dan kematian”) sebuah upaya yang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Jain percaya bahwa pengetahuan tentang dharma adalah benar dan telah menurun   sepanjang sejarah. Tujuan dari Jainisme adalah juga untuk menyadari sifat sejati jiva. Mereka yang telah mencapai moksha disebut siddha (jiwa dibebaskan), dan mereka yang melekat pada dunia melalui karma mereka disebut samsarin (jiwa duniawi). Setiap jiwa harus mengikuti jalan, seperti yang dijelaskan oleh para jina (pemenang), untuk mencapai pembebasan total atau moksah. Sedangkan tujuan utama dari penganut Jain adalah untuk menjadi Paramâtman, jiwa yang sempurna. Hal ini bisa dicapai bila seluruh lapisan karma, yang dipandang sebagai substansi dapat ditiadakan, yang akan menuntun jiwa ke bagian atas alam semesta, bergerak dari kegelapan  menuju pencerahan, , jiwa tinggal selamanya didalam kebahagiaan moksha. Moksha dalam Jainisme sebagai kebebasan, penyatuan dan integrasi , bebas dari keinginan bebas dari karma dan kelahiran kembali. Moksha dapat dicapai di dunia ini  atau pada saat meninggal. Bila Moksah tercapai, maka manusia mencapai sebagai manusia  Tuhan. Bagi penganut  Jain tiak ada Tuhan pencipta  dan karena itu, tidak ada komunkasi denganNYA. Jiwa adalah kesadaran yang murni, berkekuatan, kebahagiaan, dan maha tahu.

Tujuan tertingi ajaran-ajaran agama Jain pada hakekatnya adalah untuk mencapai kesempurnaan absolute dari kehakikian manusia, yakni pembebasan diri dari segala macam penderitaan dan kungkungan atau belenggu. Tiga cara menyingkirkan belenggu, yaitu :

  1. Pengetahuan benar dalam ajaran-ajaran tersebut
  2. Keyakinan yang sempurna dalam ajaran-ajaran guru-guru Jaina.  dan
  3. Perilaku yang benar. Perilaku benar terdiri atas praktek tidak menyakiti atau melukai seluruh makhluk hidup, menghidari kesalahan, mencuri, sensualitas, dan kemelakatan objek-objek indriya, mengkombinasikan ketiganya di atas, perasaan akan dikendalikan dan karma yang membelenggu Jiva akan disingkirkan. Lalu, Jiva mencapai kesempurnaan alamiahnya yang tak terbatas, pengetahuan tak terbatas, dan kebahagian yang tak terbatas. Inilah keadaan moksa menurut ajaran Jaina. Hal ini telah dibukatikan oleh guru-guru dalam tradisi Jaina atau Tirthankara. Mereka memperlihatkan jalan menuju moksa. Ada tindakan tertentu yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan unsur karma. Tindakan-tindakan ini adalah meditasi, kegiatan Jivaani, mengendalikan emosi negatif kita, dan sebagainya. Jadi pada dasarnya menurut Jainisme, Jiva bertanggung jawab penuh atas tindakan-tindakannya

Oleh karena itu, untuk mencapai kesempurnaan tersebut, agama Jain mendorong semua pengikutnya untuk hidup dengan penuh kesederhanaan, yang diwujudkan dalam bentuk praktek-praktek aksetik atau pertapaan. Hidup semacam ini merupakan usaha untuk mencapai kehidupan yang abadi.

 JAINISME AGAMA YANG ATHEIS (II)7Patung Svetambara Jain yang penuh Hiasan  

Jalan Untuk Mencapai Tujuan

Jiwa melalui beberapa tahap peningkatan spiritual, yang disebut gunasthâna, manifestasi yang progresif dengan menurunkan dosa dan meningkatkan kesucian. Jiwa  akan memperoleh kehidupan yang lebih baik  sesuai dengan  karma individu yang bisa ditiadakan selama hidupnya. Diantara kelahiran-kelahiran , jiwa bertempat disalah satu tujuh neraka, enam belas sorga atau di empat belas area angkasa. Jiwa yang telah bebas tinggal di alam semesta yang paling tinggi. Semua penganut  Jain memiliki lima janji, tapi para pendeta yang melaksanakan kehidupan dengan tidak menikah dan hidup dalam kesederhanaan. Jainisme menempatkan penekanan yang besar  pada  ahiµsâ, samadi dan sebagai biarawan sebagai alat untuk mencapai tujuan Melaksanakan  pûjâ di kuil merupakan bentuk dari duapulluh empat Tîrthankara atau aturan spiritual, mereka yang mengambil yang lainnya mengarungi samudera samsâra.

Menurut Jainisme, hanya ada satu jalan untuk mencapai moksah: yaitu dengan jalan puasa sampai meninggal, yang disebut dengan santhara Ini merupakan bentuk  tertinggi dari “tak tersentuh”, meskipun hal ini jelas merupakan kekerasan kepada diri sendiri penganut, tapi hal itu merupakan sesuatu yang paling sedikit menghancurkan bentuk kehidupan yang lain. Metoda ini dipilih oleh pendiri Jainisme : Mahawira, ketika beliau dilaporkan mencapai moksah pada hari raya Diwali.

Compiled By: I Dewa Putu Sedana, Drs, MBA.

(Dari Berbagai Sumber) prabukalianget.wordpress.com

About admin

Check Also

Wacana Martabat Tujuh dalam Kesusasteraan Jawa-Islam (5)

“Seperti ungkapan Ibnu ‘Arabi, penyaksian Tuhan dalam diri seorang wanita adalah bentuk penyaksian paling sempurna. ...