Friday , May 25 2018
Home / Agama / JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)

JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)

JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)Artikel berikut ini ditujukan untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan kita masing-masing. Falsafah Agama ini tidak mungkin bisa dikembangkan di Indonesia yang berlandaskan Pancasila yang pada Sila Pertamanya jelas menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. karena  Jain adalah agama yang Atheis. Anda mungkin akan heran seperti juga halnya saya sendiri, bahwa disalah satu sudut dunia ini, masih bisa hidup tanpa pernah diusik oleh pemerintah atau penganut agama lain sebuah Agama yang Atheis. Dan ajarannya bukan hanya sekedar diucapkan saja tetapi “dilaksanakan”, seperti misalnya pendetanya melepaskan diri dari keterikatan keinginan fikiran, sehingga beliau hidup tanpa mengenakan busana. Dan untuk pengendalian fisik dan fikirannya mereka senantiasa melaksanakan pola hidup vegetarian, puasa dan tidak tanggung-tanggung, masih ada yang melaksanakan puasa selama satu tahun  pada tahun 1998 yang lalu. Adalah suatu kemuliaan bagi penganut Jain apabila  membiarkan dirinya mati kering-kerontang kelaparan. Semoga bermanfaat.

JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)1 Pendeta Jain menolak memakai barang-barang duniawi

Jainisme.

Jainisme adalah sebuah agama kuno di India yang mana dikatakan berasal dari keluarga Dharma. Walaupun pengikutnya adalah kelompok minoritas dengan lebih kurang 4,9 juta pengikut di India, pengaruh pengikut Jain pada agama, etika, politik, dan ekonomi cukup besar. Penyebaran luas konsep falsafah India seperti karma, ahimsa, mokhsa, dan reinkarnasi, dilaksanakan juga oleh penganut Jain atau dikembangkan dari sekolah gagasan Shramana, tempat asalnya Jainisme. Jainisme adalah agama tua di India yang asal-muasalnya bersisian dengan Hindu. Beberapa kemiripan ajaran Jainisme dan Hindu menimbulkan anggapan kalau agama ini salah satu sekte dari Hindu.

Perbedaan mendasar antara Jainisme dan Hindu terlihat pada Astika dan Nastika. Penganut agama di India dibedakan atas 2 prinsip tersebut. Yang memegang prinsip Astika  menerima otoritas Weda sebagai kitab suci serta melibatkan kepercayaan Brahmani. Nyaya, Mimamsa, dan Yoga termasuk ajaran-ajaran berdasar Astika, dan berarti golongan Hindu.

Sementara penganut agama  yang berprinsip Nastika menolak Weda dan kitab-kitab yang dipakai oleh pemeluk Hindu. Jainisme termasuk kelompok ini dan lebih mendasarkan kepercayaan mereka yang anti kekerasan.

Sebutan “Jain” menurut Sri Krisna Saksena, berasal dari kata “Jina” (Sansekerta.), yang berarti pemenang atau yang mengalahkan. Artinya, berhasil mengalahkan atau mengatasi secara tuntas kungkungan atau belenggu penyakit dan penderitaan dalam kehidupan nyata ini. Orang semacam ini boleh disebut sebagai Jain, atau pemenang.

Bagi Jainisme, kehidupan di dunia ini diabadikan atau dibuat kekal oleh peralihan Jiva yang secara esensial telah menyebabkan keburukan dan penderitaan. Oleh karena itu, tujuan hidup sebenarnya adalah untuk mengakhiri siklus kehidupan atau rangkaian kelahiran kembali itu, yang baru bisa tercapai apabila manusia berhasil memiliki pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar ini isinya adalah hal-hal yang mengandung kelepasan.

Pendiri dari komunitas Jain adalah Vardhamana. Dia memperoleh pencerahan pada 420 SM. Jainisme memiliki banyak kemiripan dengan  Hinduisme dan  Budhisme yang lahir di area yang sama.

 JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)2Patung Mahawira di Kuil Vimalsha di Rajasthan

Jainisme tidak mempermasalahkan keberadaan Tuhan  atau mahluk lain yang lebih tinggi dari manusia sempurna. Jiva adalah sesuatu tanpa permulaan dan tanpa akhir. Jiva dikategorikan dalam tiga kategori: Jiva yang belum mengalami perubahan; Jiva yang sedang mengalami perubahan dan Jiva yang sudah bebas dari kelahiran kembali.

Ãgama Jain mengajarkan penghormatan yang sangat tinggi untuk segala bentuk kehidupan, ajaran yang ketat mengenai vegetarian, samadi, tanpa kekerasan meski dalam pembelaan diri, dan menentang peperangan. Jainisme adalah agama kasih sayang. Cinta kasih terhadap semua kehidupan, baik manusia atau bukan, adalah hal yang utama dalam Jainisme. Pembunuhan manusia tanpa  alasan, meskipun dengan alasan bahwa orang itu telah melakukan kejahatan  tidak dapat dibenarkan

Menurut keyakinan Jain, alam semesta tidak pernah tercipta dan tidak pernah musnah. Ia abadi namun berubah, karena melalui siklus-siklus tanpa akhir. Masing-masing siklus ini terbagi dalam enam zaman (yuga). Masa kini adalah zaman kelima dari siklus ini, yang bergerak turun. Zaman disebut “Aaro” seperti zaman pertama disebut “Pehela Aara”, zaman kedua disebut “Doosra Aara” dan seterusnya. Zaman terakhir adalah Chhatha Aaro” atau zaman keenam. Semua zaman ini memiliki durasi tetap ribuan tahun.

Saat tingkat terendah tercapai, Jainisme juga akan lenyap seluruhnya. Maka, pada siklus selanjutnya, agama Jain akan ditemukan kembali dan di kenalkan kembali oleh para pemimpin baru yang disebut Tirthankara (pembuat lintasan), dan akan lenyap lagi pada akhir siklus, dan seterusnya.

Sekalipun pengikutnya sangat sedikit dibandingkan penduduk India, agama ini masih eksis dengan pengikut-pengikutnya yang terpencar diberbagai wilayah. Ajaran ini menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. Jain menegaskan bahwa ahimsa termasuk sikap tanpa kekerasan terhadap binatang dan manusia. Akibat dari kepercayaan ini, mereka mengikuti pola “vegetarian” alias cuma makan tetumbuhan, termasuk rumput dan alang-alang. Tapi, penganut yang taat kepada agama Jain ini berbuat lebih jauh lagi dari itu. Nyamuk yang menggigit kulit dibiarkan semau-maunya. Meski lapar, tidak bakalan mau makan di tempat gelap. Bukankah kalau gelap jangan-jangan bisa kemasukkan lalat atau tertelan nyamuk? Makanya, kalau penganut Jain mau menyapu  jalan atau pekarangan, dia akan rogoh kantong dan mengupah orang lain melakukannya, takut siapa tahu menginjak serangga atau cacing.

Menurut tradisi Jaina, garis perguruan yang sangat panjang sejak zaman pra-sejarah diturunkan dimana keyakinan ajaran ini diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Guru-guru yang telah meneruskan ajaran-ajaran Jaina ini berjumlah dua puluh empat orang, yang disebut Tirthankara atau penyebar keyakinan dan yang telah mendapat pencerahan.

Jaina percaya dengan pluralisme Jiva. Terdapat Jiva-Jiva sebanyak tubuh hidup yang ada. Tidak hanya Jiva dalam binatang, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan bahkan dalam debu. Hal ini juga diterima dalam ilmu pengetahuan modern. Tidak semua Jiva   memilki tingkat kesadaran yang sama, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Semaju apapun indra-indranya, Jiva terbelenggu dalam kesadaran yang terbatas. Tetapi setiap Jiva mampu mencapai kesadaran tak terbatas, kekuatan dan kebahagian. Mereka dihalangi oleh karma, seperti matahari dihalangi oleh awan. Karma dapat menyebabkan belenggu Jiva. Dengan menyingkirkan karma, Jiva dapat menyingkirkan belenggu dan mendapatkan kesempurnaan alamiah.

Jaina juga menghormati semua jenis pemikiran. Sistem ini menunjukkan bahwa setiap objek mempunyai aspek-aspek yang tak terbatas yang ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan dari luar dirinya sendiri atau dari pandangan yang berbeda. Mengingat keterbatasan pikiran, tidak ada satu pikiran berlaku benar bagi semua benda atau hal. Kita harus belajar menjaga dan memprtahankan pikiran kita masing-masing dengan cara menghormati kemungkinan kebenaran pendapat atau pemikiran orang lain.

Sedangkan Karma adalah pengikat yang menggabungkan Jiva dengan tubuh. Keyakinan yang benar, perbuatan yang benar, pengetahuan yang benar membentuk jalan yang benar untuk mencapai pembebasan yang merupakan efek dari ketiganya tadi. Ketiganya ini merupakan triratna (tiga permata) bagi Jainisme. Bagi Jain setiap Jiva atau mahluk spiritual berhak disembah. Karena itu mereka tidak menyembah Tuhan

 JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)3

Ayagapatta pra-Kushana dari Mathura

Ringkasan

Didirikan sekitar 2,500 tahun yang lalu di  India.

Pendiri : Nataputta Vardhamana, dikenal dengan “Mahavîra” (Pahlawan Agung).

Penganut sekitar 4,9 juta Jiva terutama di India Tengah dan Selatan, terutama di Gujarat dan Mumbai.

Kebebasan Jiva dan kesamaan semua kehidupan dengan penekanan yang khusus dengan dasar tanpa kekerasan. Mengekang diri (vrata) merupakan cara bagi  penganut Jainisme untuk mencapai moksha. Falsafah Jainisme berdasarkan kebenaran-kebenaran yang abadi dan universal. Penganut Jainisme menolak makanan yang diperoleh dengan kekerasan. Penganut yang mematuhi ajaran Jainisme tidak makan, minum, atau membuat perjalanan setelah matahari terbenam  dan mereka selalu  bangun sebelum matahari terbit. Mahavira, mengajarkan kepada pengikutnya untuk memelihara tiga mustika  yaitu :

  1. Keyakinan yang benar
  2. Pengetahuan yang benar
  3. Perbuatan yang benar yang  dijabarkan dalam   lima “sumpah besar” (maha-vrta),  berupa:

a. Ahimsa (tanpa kekerasan) fisik, mental dan verbal

b. Satya (kebenaran, kejujuran)

c. Asteya (tidak mencuri)

d. Aparigraha  (tidak mengejar harta duniawi).

e. Brahmacarya  (kontrol pikiran).

Jain tidak mempercayai bahwa jagat raya ini diciptakan oleh Tuhan.

Sekte-Sekte Jainisme: Digambara, Shvetambara, Sthanakavasis.

Pada Kuil Digambara, terdapat patung Tirthankara yang tidak dihias dan tidak dicat. Sedangkan di Kuil Svetambara patung Tirthankara selalu dihias, dengan cat atau kaca dan terkadang  dengan hiasan emas, perak dan permata  didahi. Hiasan seperti ini sangat lazim. Seorang Tirthankara muncul di dunia, yang mengajarkan cara untuk mencapai moksha, atau kebebasan. Tirthankara bukanlah reinkarnasi dari Tuhan. Dia adalah Jiva biasa, yang terlahir sebagai manusia, dan memperoleh sebutan seorang Tirthankara sebagai hasil dari usaha yang keras dari penebusan dosa, dan meditasi. Karena itu seorang  Tirthankara bukanlah seorang awatara (penjelmaan Tuhan), tetapi Jiva yang mencapai kesucian puncak. Tirthankara bukanlah pendiri sebuah agama, tetapi seorang guru yang maha tahu, yang hidup  beberapa kali dalam sejarah kehidupan manusia

Buku Suci Utama :  Agamas Jain dan Siddhãnta; yang mengajarkan penghormatan yang sangat tinggi kepada bentuk kehidupan,  ajaran yang ketat mengenai vegetarian, samadi , tanpa kekerasan meski dalam pembelaan diri, dan menentang peperangan. Jumlah buku suci Jain  bervariasi dari 33 sampai 84 buku tergantung kepada masing-masing sekte. Kitab-kitab Jainisme ditulis dalam waktu yang amat panjang dan kitab yang paling dikenal ialah Tattvartha Sutra, atau “Buku Kenyataan” yang ditulis oleh Umasvati (atau Umasvami), seorang cendikiawan dan pendeta yang hidup pada lebih dari  18 abad  yang lalu.

Hari Raya : Mahavira Jayanti, Paryushana. Diwali. Kartak Purnima, Mauna Agyaras. Puasa merupakan hal yang sangat lazim dalam spiritualitas Jain. Puasa dapat diklasifikasikan menjadi : Puasa penuh, Puasa sebagian, Vruti Sankshepa, Rasa Parityaga, Puasa Agung,

Tujuan penganut Jain untuk hidup sedemikian rupa sehingga  jiva tidak lagi terkena karma berikutnya, Jainisme berusaha keras untuk merealisasikan sebagai manusia sempurna yang tertinggi, yang intinya adalah bebas dari rasa sakit dan bebas dari kematian dan kelahiran. Menurut Jainisme, hanya ada satu jalan untuk mencapai hal itu: yaitu dengan jalan puasa sampai meninggal, yang disebut dengan santhara

KepercayaanJainisme

Kebebasan Jiva dan kesamaan semua kehidupan dengan penekanan yang khusus dengan dasar tanpa kekerasan. Mengekang diri (vrata) merupakan cara bagi  penganut Jainisme untuk mencapai moksha, atau kesadaran sifat Jiva yang sebenarnya. Jainisme mengistilahkan seorang penganut  biasa sebagai shravak / pendengar. Sangha Jainisme, terdiri dari empat bagian:

  1. Biarawan ,
  2. Biarawati (sadhvi)
  3. Penganut lelaki biasa
  4. Penganut perempuan biasa (shravika).

Masyarakat Jainisme terdiri atas pendeta, biarawan/biarawati dan orang kebanyakan. Hanya ada lima disiplin spiritual didalam jainisme. Bagi pendeta disiplin ini benar-benar ketat, kaku dan sangat fanatik untuk dilaksanakan. Sementara untuk umum hal itu bisa di modifikasi. Kelima sumpah disebut “sumpah besar” (maha-vrta), sementara bagi orang umum disebut ‘sumpah kecil’ (anu-vrta). Kelima sumpah tersebut adalah :

  1. Ahimsa (Non kekerasan),
  2. Satya (kebenaran di dalam pikiran),
  3. Asteya (Tidak mencuri),
  4. Aparigraha (ketakmelekatan dengan pikiran, perkataan dan prbuatan). Dalam hal penganut umum aturan ini bisa dimodifikasi dan disederhanakan
  5. Brahmacharya (berpantang dari pemenuhan nafsu baik pikiran, perkataan maupun perbuatan).

Jaina mengklasifikasikan pengetahuan menjadi :

  1. Pengetahuan langsung (aparoksa) yang terbagi menjadi
    1. Avadhi jnana adalah kemampuan melihat hal-hal yang tidak nampak oleh indra.
    2. Manahparyaya jnana adalah telepathi.
    3. Kevala-jnana adalah kemahatahuan.
  2. Pengetahuan antara (paroksa).; yang terbagi menjadi :
    1. Mati yang mencakup pengetahuan perseptual dan inferensial
    2. Sruta yang berarti pengetahuan yang diambil dari otoritas., dan merupakan tiga jenis pengetahuan langsung

Disamping kelima pengetahuan benar tersebut diatas, ada juga tiga pengetahuan salah, yaitu : Samshaya atau keragu-raguan,Viparyaya atau kesalahan Anandhyavasaya atau pengetahuan salah melalui kesamaan.

Pengetahuan  dibagi lagi  menjadi dua jenis,

  1. Pramana atau pengetahuan tentang suatu benda seperti apa adanya
  2. Naya atau pengetahuan tentang suatu benda didalam hubungannya dengan yang lainnya.  Naya berarti titik pandang atau pendapat dari mana kita membuat pernyataan tentang sesuatu .  Semua kebenaran adalah relatif terhadap pandangan kita. Pengetahuan parsial merupakan salah satu aspek yang tak terhitung banyaknya tentang suatu benda disebut “naya” . Terdapat tujuh naya yang empat pertama adalah artha-naya, kemudian tiga terakhir disebut sabda-naya.

Dalam beberapa hal doktrin Mahavira amat mirip dengan ajaran Buddha dan Hindu. Kaum Jain percaya bahwa apabila jasad manusia mati, sang Jiva tidaklah ikut-ikutan mati bersama sang jasad tapi beralih (reinkarnasi) ke badan lain (tak perlu badan manusia) Doktrin perpindahan Jiva ini adalah salah satu dasar pemikiran faham Jainis. Jainisme juga percaya kepada karma, doktrin tentang etika konsekuensi dari sesuatu perbuatan akan menimpanya pula di masa depan. Untuk mengurangi bertambahnya beban dosa pada Jiva, yakni dengan cara menyucikannya, yang merupakan tujuan utama dari ajaran agama Jain. Mahavira mengajarkan, hal ini bisa dicapai dengan cara menjauhi kesenangan. Khusus buat pendeta-pendeta Jain, dianjurkan melaksanakan hidup dengan kesederhanaan yang ketat. Adalah suatu kemuliaan apabila seseorang membiarkan dirinya mati kering-kerontang kelaparan.

Kaum Jain menghormati kemerdekaan setiap makhluk hidup, dan juga memahami saling ketergantungan di antara semua makhluk dan ketergantungannya dengan lingkungan dimana mereka hidup. Perusakan yang tidak perlu akan ketiga hal ini berpengaruh negatif pada Jiva yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhinya. Dan sesungguhnya kita tahu bahwa ia berpengaruh jangka panjang pada ekologi.

Falsafah dan Keyakinan Jainisme.

Falsafah Jainisme berdasarkan kebenaran-kebenaran yang abadi dan universal.

  1. Jiva, semua kehidupan mempunyai Jiva yang abadi. Agama ini menegaskan bahwa kita harus hidup, berfikir, dan bertindak dengan penuh hormat, termasuk menghormati sifat Jivaniah semua kehidupan. Penganut Jainisme memandang Tuhan sebagai sifat-sifat yang tidak berubah-ubah bagi Jiva, terutama sebagai Pengetahuan Tak Terhingga, Persepsi, Kesadaran, dan Kebahagian (Anant Gyän, Anant Darshan, Anant Chäritra, dan Anant Sukh). Masing-masing Jiva  bebas tidak terikat.  Jiva bertanggung jawab atas perbuatannya.  Jiva bisa dijadikan bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Tapi tidak semua Jiva dapat mencapai kebebasan – ada beberapa Jiva yang selamanya tidak bisa mencapai kebebasan.  Masing-masing  jiva bebas dari Jiva yang lain (Ini berbeda dengan ajaran Hindu Vedanta yang meyakini setiap Jiva merupakan bagian dari paramaatman). Jains meyakini bahwa ada Jiva yang tak terbatas di alam semesta – setiap kehidupan , betapapun primitifnya, adalah juga sebuah Jiva. Bagi Jains, setiap Jiva terkait dengan sesuatu, dan terlibat dalam putaran kelahiran dan kematian sejak awal. Jiva tidaklah muncul dari sesuatu yang sempurna, yang kemudian terlibat dalam perputaran kelahiran dan kematian. Beberapa Jiva atas usaha mereka sendiri, terbebaskan dan bebas dari siklus. Jiva yang bebas ini disebut Siddha. Jiva yang telah mencapai kebebasan, tidak memiliki tubuh fisik, tapi mereka memiliki pengetahuan tanpa batas, visi tanpa batas, kekuatan, sehingga kemudian dia mencapai tingkat sebagai mahluk sempurna. Jiva yang terbebaskan seperi menjadi Deva, tapi menurut keyakinan Jain, sangat berbeda dengan ide Deva yang konvensional. Jiva yang terdiri dari substansi  :  dharma, adharma, akash, (merupakan media pergerakan).
  2. Ajiva: Ajiva merupakan kebalikan dari Jiva yang berupa  pudgala dan kala .( merupakan media tanpa bentuk dan tak nampak).
  3. Punya (baca: puniya): Punya merupakan perbuatan baik dan religius. Ada sembilan jalan untuk mewujudkan hal itu. Dalam kenyataannya ada berbagai cara untuk melaksanakan kedermawanan seperti, memberikan makan kepada mereka yang kelaparan, memberikan minuman kepada yang kehausan, memberikan pakaian kepada yang membutuhkan dan memberikan layanan kepada mahluk hidup.
  4. Papa: dosa atau kejahatan, faktor utama dari perbudakan Jiva. Menyakiti atau membunuh mahluk hidup merupakan dosa besar, yang mengakibatkan hukuman yang berat.
  5. Asrava: menyatakan masuknya  karma kedalam Jiva. Seperti halnya air masuk ke kapal melalui lubang, demikian juga karma memasuki Jiva melalui asrava. Sumber dari aktivitas menunjukkan masuknya punya (kebaikan) atau keburukan (papa), tergantung dari aktivitasnya apakah shubha (berjasa) atau ashubha (tidak berjasa). Prinsipnya  ’Perbuatan yang menyenangkan akan mengakibatkan hal yang menyenangkan’ diterima sebagai doktrin Jaina mengenai karma.
  6. Samvara: bermakna menghentikan, mengendalikan dan menahan masuknya karma ke dalam jiva, Samvara diakibatkan oleh pengendalian pribadi (gupti), mengendalikan pergerakan (samiti), sifat baik  (dharma), kontemplasi (anupreksha), penaklukan dari prilaku kekerasan.
  7. Bandha: merupakan  penyatuan dari  jiva dengan  pudgala, atau antara jiva dengan hal tanpa jiva. Jiva yang ,disertai dengan nafsu yang besar  yang berasimilasi dan membentuk karma. Hal itu diakibatkan oleh : keyakinan yang salah, keteledoran yang tak terkendali, nafsu yang besar.
  8. Nirjara: berarti menyembunyikan, mengeringkan atau penghancuran. Nirjara adalah menghancurkan dan membakar karma yang berakumulasi. Ambil contoh sebuah tabung. Dengan menghentikan mengalirinya air masuk ke tabung, kita menahan naiknya air didalam tabung. Inilah samvara, tetapi sudah ada sejumlah air di dalam tabung. Untuk mengeringkan air ini, hal itu mungkin dapat dilakukan dengan menjemurnya di matahari. Inilah nirjara.
  9. Moksha :adalah puncak dari pencapaian spiritual ketika semua hambatan dapat diatasi. Jiva terbebas dari pengaruh karma Itu merupakan suatu kedamaian, keyakinan yang sempurna, pengetahuan yang sempurna, dan suatu kondisi untuk tercapainya sidhi. Moksha dapat dicapai melalui pengetahuan yang benar, keyakinan yang benar dan perbuatan yang benar.

Penganut Jainisme menolak makanan yang diperoleh dengan kekerasan. Penganut yang mematuhi ajaran Jainisme tidak makan, minum, atau membuat perjalanan setelah matahari terbenam  dan mereka selalu  bangun sebelum matarhari terbit. Penganut-penganut Jainisme amat ramah dan amat menghormati kepercayaan-kepercayaan yang lain. Banyak kuil yang bukan kuil Jainisme disucikan oleh penganut-penganut Jainisme. Keluarga Heggade adalah sebuah keluarga Jainisme yang telah menjalankan institusi-institusi Hindu di Dharmasthala, termasuk Kuil Sri Manjunath, selama delapan abad. Penganut-penganut Jainisme menyumbangkan uang kepada gereja dan masjid, dan biasanya membantu majelis antar agama. Pendeta Jainisme, seperti Acharya Tulsi dan Acharya Sushil Kumar, mempromosikan keharmonian antara agama-agama yang bersaing untuk meredakan ketegangan.

JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)4

Konsep Jainisme

Dalam Jainism mempunyai beberapa keyakinan,diantaranya:

  1. Meyakini adanya 24 garis perguruan spiritual dimana guru Mahâvîra adalah guru yang terakhir  yang harus dihormati diatas yang lainnya.
  2. Meyakini bahwa dalam menghormati semua kehidupan, seseorang harus tidak menyakiti mahluk lain, besar ataupun kecil dan bahkan pembunuhan yang tidak disengajapun akan mengakibatkan karma.
  3. Meyakini Tuhan bukanlah pencipta, Ayah atau teman. Konsep manusia seperti itu adalah keterbatasan.
  4. Meyakini Jiva   adalah abadi dan individual dan oleh karena itu orang harus menaklukkan  dirinya sendiri dengan usahanya sendiri, untuk mencapai moksah, atau kebebasan dari lahir dan kematian.
  5. Meyakini bahwa penaklukan diri sendiri bahya bisa dicapai  dengan disiplin samadi dan pengamatan religius yang ketat, dan bahwa tanpa samadi  akan memperoleh pahalanya dalam kehidupan mendatang.
  6. Meyakini prinsip  bahwa yang mengatur kehidupan yang selanjutnya adalah karma, bahwa perbuatan kita, baik yang baik maupun yang buruk membelenggu kita  dan karma ini dapat dilebur dengan penyucian, penebusan dosa
  7. Meyakini bahwa  Ågamas Jain dan  Siddhânta sebagai buku suci yang membimbing moral manusia dan kehidupan spiritual.
  8. Meyakini Tiga Mustika: pengetahuan yang benar, keyakinan yang benar dan perbuatan yang benar .
  9. Meyakini bahwa tujuan utama dari moksah  adalah kebebasan abadi dari saµsâra,  “roda kelahiran dan kematian,” dan komitmen untuk memperoleh Pengetahuan yang Agung.

Selain itu mereka juga meyakini :

  1. Menghormati setiap makhluk hidup seperti yang Anda lakukan untuk diri sendiri, tidak merugikan satu sama lain  dan bersikap baik kepada semua makhluk hidup.
  2. Setiap Jiva lahir sebagai surgawi, manusia, sub-manusia atau neraka  sesuai dengan karma mereka  sendiri sebelumnya.
  3. Setiap Jiva adalah arsitek kehidupannya  sendiri, di dunia atau akhirat.
  4. Ketika Jiva dibebaskan dari karma, ia menjadi bebas untuk  mencapai kesadaran tertinggi, mengalami pengetahuan tak terbatas, persepsi, kekuasaan, dan kebahagiaan.
  5. Tidak ada Tuhan  pencipta , pemilik, pemelihara, atau perusak. Alam semesta diatur sendiri, dan setiap Jiva memiliki potensi untuk mencapai kesadaran tertinggi  (siddha) melalui usaha sendiri.
  6. Non-kekerasan (berada di kesadaran Jiva bukan kesadaran tubuh), adalah dasar dari pandangan benar, kondisi pengetahuan yang benar dan  perilaku yang benar. Ini menyebabkan keadaan yang tidak terikat pada hal-hal duniawi dan non-kekerasan, ini termasuk belas kasih dan pengampunan dalam pikiran, kata-kata dan tindakan terhadap semua makhluk.
  7. Jainisme menekankan pentingnya mengendalikan indera termasuk pikiran
  8. Menjalani kehidupan yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Non-posesif (tanpa memiliki) adalah menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan untuk memiliki.

Jain Dharma dicirikan sebagai berikut :

  1. Sabar dan Pengampun
  2. Kerendahan hati
  3. Keterusterangan
  4. Kemurnian
  5. Kebenaran
  6. Pengendalian diri, pengendalian indera dan pikiran

Dalam refleksi ini, praktisi berpikir tentang kesulitan untuk mempraktekkan semua di dunia praktis dan bekerja melalui tantangan saat ini tergantung pada kemampuan seseorang dan keadaan.  Jain didorong untuk merefleksikan pikiran-pikiran ini dengan empat kebajikan berikut atau sistem nilai yang jelas yang berlaku. Mereka adalah:

  1. Perdamaian, cinta dan persahabatan untuk semua.
  2. Apresiasi, menghormati dan menyenangkan bagi prestasi orang lain
  3. Belas kasihan bagi Jiva yang menderita.
  4. Ketenangan dan toleransi dalam berurusan dengan, kata-kata,  pikiran dan tindakan

Jalur  Dharma (kebenaran), ajaran yang diajarkan  Mahavira, Dia mengajarkan kepada pengikutnya untuk memelihara tiga mustika  yaitu :

  1. Keyakinan yang benar.
  2. Pengetahuan yang benar.
  3. Perbuatan yang benar

Dari tiga mustika ini yang berhubungan dengan perbuatan yang benar, dijabarkan dalam lima “sumpah besar” (maha-vrta), lima janji yang harus diikuti oleh pendeta Jain yang merupakan sumpah berupa:

  1. Ahimsa (tanpa kekerasan) fisik, mental dan verbal
  2. Satya (kebenaran, kejujuran)
  3. Asteya (tidak mencuri)
  4. Aparigraha  (tidak mengejar harta duniawi).
  5. Brahmacarya  (kontrol pikiran).

Di dalam kasus kependetaan disiplin ini benar-baner ketat, kaku dan sangat fanatik.

Janji yang lebih kecil (Anuvrata), yang diikuti oleh masyarakat biasa. Ini merupakan janji yang kurang begitu ketat. Masyarakat Jainisme terdiri atas pendeta, biarawan (wati) dan orang kebanyakan. Sementara dalam kasus orang kebanyakan hal itu bisa di modifikasi. Seorang jain tidak akan makan kentang, wortel, bawang, dan sayuran lainnya

Konsep Ketuhanan

Jain tidak mempercayai bahwa jagat raya ini diciptakan oleh Tuhan.  Berikut ini pandangan Jain :

  1. Bila Tuhan menciptakan jagat raya, dimanakah Dia sebelum dunia diciptakan, dan dimanakan Dia sekarang.
  2. Tidak ada mahluk apapun yang memiliki kemampuan untuk menciptakan dunia ini. Bagaimana mungkin Tuhan yang tidak material mampu menciptakan sesuatu yang material?.
  3. Tidak ada Tuhan yang memelihara dunia. Bukan Tuhan yang memutuskan kehidupan kita. Kehidupan yang baik bagi seseorang ditentukan oleh karmanya.. Karma adalah proses fisik dan tak ada kaitannya dengan mahluk spiritual.
  4. Tidak ada Tuhan sebagai penguasa yang harus ditaati.
  5. Tidak ada Tuhan yang bisa menolong seseorang.
  6. Tidak ada Tuhan yang mampu mempengaruhi kehidupan didunia. Sesuatu yang disembah oleh Jain tidak memiliki keinginan sebagai mahluk hidup.
  7. Tidak ada Tuhan yang minta disembah. Mahluk sempurna yang disembah para  Jains tidak memiliki kepentingan terhadap mahluk hidup. Mahluk apapun yang menginginkan sesuatu, tidak akan pernah sempurna dan demikian jugalah Tuhan
  8. Tidak ada Tuhan yang bila dibandingkan dengan siapapun diantara kita, yang posisinya lebih rendah. Setiap Jiva memiliki potensi untuk menjadi sempurna. Semua Jiva yang sempurna adalah sama. Mahluk sorga bukanlah Tuhan, karena mereka masih harus menjalani karma dan reinkarnasi.  Mahluk-mahluk ini disebut deva / malaikat. JAINISME, AGAMA YANG ATHEIS (I)5Relief Jainisme

Sekte-Sekte Jainisme

  1. Digambara, sekte ini berpegang bahwa seorang pendeta hendaknya tidak memiliki sesuatu, bahkan juga pakaian, jadi mereka hanya memakai pakaian dagingnya sendiri. Mereka meyakini bahwa pengorbanan seperti ini tidklah mungkin untuk seorang wanita. Sekte ini percaya bahwa wanita tidak dapat mencapai kebebasan, sebelum dia terlahir  kembali sebagai pria, karena wanita tidak diperkenankan untuk bertelanjang didepan publik, sehingga seolah-olah mereka sebagai warga negara klas dua. Bila wanita diperkenankan telanjang, hal ini akan bisa menimbulkan keinginan seksual bagi pria dan hal ini akan menghambat kemajuan pria untuk mencapai kebebasan.  Bila wanita telanjang mereka juga akan merasa malu dan perasaan ini akan menghambat kemajuan untuk mencapai kebebasan. Mahavira sendiri, menunjukkan dalam kehidupannya cara untuk mencapai kebebasan,  seperti contohnya bertelanjang penuh, dimana para pendeta Digambara seharusnya mengikutinya. Dirgambara lebih keras dan sangat fanatik Aturan agar berpakaian putih atau telanjang bulat hanya berlaku bagi pendeta tertinggi dan bukan untuk orang kebanyakan; tidak juga bagi pendeta yang rendah. mereka harus tidak mengenakan kain secarikpun. Menurut sekte Digambara mereka harus mempertahankan hidup pertapa yang sempurna, tidur hanya tiga jam sehari, makan dari meminta-minta. Kehidupan kependetaan Digambara sangat keras dan ketat didalam hal disiplin. Karenanya pengikutnya sangat kecil jumlahnya.
  2. Shvetambara, sekte yang tidak menyetujui cara seperti diatas dan  lebih akomodatif. Pendeta tertinggi harus mengenakan jubah putih.  Sekte ini memperkenankan Pendeta dan yang bukan pendeta untuk menggunakan mangkok untuk mengumpulkan sumbangan makanan.
  3. Sthanakavasis, muncul sebagai kelompok reformasi yang menentang penyembahan berhala di dalam Jainisme dan mereka mulai sembahyang kepada image dari  Tirthankara di kuil mereka.

 Compiled By; I Dewa Putu Sedana, Drs, MBA.

(Dari Berbagai Sumber): prabukalianget.wordpress.com

About admin

Check Also

Al-Qur’an dan Tafsir Sufi

أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ لِلْقُرْآنِ بَاطِنٌ وَلِلْبَاطِنِ بَاطِنٌ إِلَى سَبْعَةِ أَبْطُنٍ Sesungguhnya Al-Qur’an itu ada [makna] ...